Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Menghela nafas lega.


Dokter itu terlihat sangat gelisah, tubuh nya mulai bersimbah keringat dengan berkali kali melirik jam dinding yang bergantung di sisi kirinya. Tinggal 25 menit lagi sisa waktu saat ini.


Sempat mengusap dahinya yang basah karena keringat dinginnya itu dengan lengan baju lalu menoleh segera ketika seorang asisten Lab memanggilnya.


Perasaan lega bercampur panik seketika di rasakan nya saat sang asisten itu mengatakan jika trombosit darah itu benar benar masih berfungsi.


Tanpa berbicara sepatah kata pun sang dokter menyambar kantong-kantong darah itu dan berlari ke ruangan di mana Zha berbaring , di susul tim medis nya yang memang sudah siap siaga sejak tadi dengan menunggu nya di luar ruangan laboratorium itu.


Melihat dokter berlari masuk ke ruangan Zha bersama tim medis nya, semua yang ada berdiri. Halilintar sendiri langsung menyusul mereka, namun pintu segera ditutup sebelum Halilintar berhasil masuk.


"Dokter..! Dokter.! Apa yang terjadi pada istri ku! Buka .!!!" Halilintar menggedor gedor pintu.


"Hall, tenang lah Hall, istri mu pasti baik baik saja." Hanzero berusaha menenangkan hati Putra nya dengan menarik nya kembali ke bangku.


"Pa , pasti terjadi sesuatu pada Zha Pa.! Mereka semua terlihat panik!"


"Tidak Hall, mereka sedang mengejar sisa waktu yang di miliki Zha. Bisa kah kau berpikir jernih dulu dan jangan selalu berprasangka buruk?!!" tegas Hanzero membuat Halilintar mendongak menatap wajah Ayahnya.


"Maafkan aku Pa, aku sungguh panik." jawab Halilintar mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Pria muda itu kemudian menarik nafas panjang dan dengan perlahan membuang nya, mengulang nya berkali kali sekedar untuk menenangkan diri nya. Namun tetap saja, pikiran Halilintar tidak berhasil tenang. Rasa gelisah, khawatir dan ketakutan terus menghantuinya. Apalagi ketika mengingat waktu yang tersisa untuk istrinya.


"Dokter keparatt..!!! Jika dia gagal lihat saja, aku tidak akan pernah mengampuni nya!" makian kasar keluar dari mulutnya karena emosi.


"Halilintar, lawan emosi mu. Ayo lah.. Kau pasti bisa demi wanita yang kau cintai. Mulai lah berdoa dengan khusyuk untuk nya." kini Elang yang mengambil alih menenangkan adik ipar nya itu, dengan menepuk lembut bahu nya berkali kali. Kendati hatinya sendiri terasa teriris, kesal dan marah pada Dokter yang tidak mempercayai omongan mereka, jika darah yang mereka temukan itu benar benar masih berfungsi.


Halilintar mengangguk pelan, dan sesaat semua terdiam.


Hening , tidak ada yang bersuara sedikit pun. Semua tenggelam dalam doa khusyuk untuk Zha yang sedang berbaring melawan maut di dalam sana.


Kilasan masa masa kebersamaan nya dengan Zha terlintas dan menari di benak Halilintar membuat tubuh nya terlihat gemetaran menahan sesak. Dari pertemuan pertama nya dengan gadis aneh di sebuah Club' malam itu, lalu perkenalan pertama nya, saat seorang gadis gila sudah menodai bibir perjaka nya. Siapa yang menyangka jika dia akan mengenal lebih jauh gadis se'iblis Zha itu dan parah nya Halilintar akan jatuh cinta padanya.


Menjadikan kekasih nya walau dengan paksaan dan membohongi Zha tentang apa itu sepasang kekasih, demi bisa dianggap Zha sebagai seorang kekasih sedang Zha adalah gadis yang bodoh dalam hal cinta.


Lalu menikahi Zha dengan , sekali lagi karena sebuah paksaan. Ya, terpaksa karena di paksa oleh Riana Bibi Zha, sampai detik ini Halilintar tidak sadar jika semua itu sudah menjadi rencana Azkayra yang sekongkol dengan bibi nya Zha, yang hanya berharap Zha dan Putra nya cepat menikah.


Senyum terulas di bibir Halilintar, tipis dan terlihat pahit di iringi air mata nya yang kembali menetes.


"Maafkan aku Zha! Aku belum bisa membahagiakan mu. Aku berjanji Zha.. jika kau mau kembali bersama ku. Aku akan membuat mu bahagia. Kita akan mengadakan resepsi termegah untuk pernikahan kita yang tertunda , bersama putri kembar kita." ucap nya lirih tak terdengar oleh yang lain nya.


Sementara di sudut sana, Elang pun terlihat lesu. Duduk dilantai begitu saja dengan kaki berselonjor nyaris terlihat tanpa beban, padahal dada nya di penuhi kekhawatiran yang cukup dalam. Menyandarkan punggung nya di dinding dengan kedua mata terpejam. Apa lagi yang ada di benak nya? Sekali lagi, masa masa nya bersama Zha. Dari pertama masih sama sama ingusan. Elang mengakui , jika dialah yang mengajari Zha nakal untuk pertama kali nya. Bolos sekolah, mengajak Zha berlari , meloncat bahkan mencopet. Lalu sering mengajarkan cara menusuk, menembak dan membunuh lawan. Hingga kebersamaan mereka ketika Zha sudah resmi menjadi anggota mafia Klan Poso.


Elang pun tidak pernah menduga, jika gadis yang selalu ia sebut sebagai Dewi iblis itu adalah adik kandung nya. Betapa bahagia hatinya ketika mengetahui itu, tapi saat ini, semua seperti di ambang kehancuran, ia harus siap dengan segala kemungkinan. Tapi hatinya tidak rela, ia tidak ikhlas jika harus kehilangan satu satunya saudara yang ia punya itu.


Ketika semua ratapan hati mereka yang tak sanggup lagi terlontar oleh kata kata, tiba tiba pintu terbuka.


"Bagaimana dokter??" tanya Hanzero dengan suara sangat kuat penuh penekanan , menyentak lamunan semua orang yang cepat menoleh ke arah sang dokter yang sudah berdiri tepat di hadapan Hanzero.


Dokter itu tersenyum, walau hanya senyuman kecil namun mampu membuat semua yang sedang menatap tajam padanya bernafas lega.


"Transfusi darah Nona Zha berhasil." selanjutnya sang dokter menjawab dengan nada penuh riang.


"Jika kau sampai gagal, nyawa mu yang akan menjadi taruhan nya!" ucap Halilintar membuat sang dokter kembali gemetaran.


"Tuan muda. Percayalah, Nona Zha akan baik baik saja. Setelah dua jam ke depan, ia akan sadar. Bersabar lah dengan waktu itu." jawab sang dokter meyakinkan Halilintar.


"Benarkah?" tanya Hanzero.


Kembali sang dokter mengangguk, kali ini dengan anggukan terkuat nya.


"Saya yakin Tuan Hanz. Tidak ada yang di khawatirkan kecuali kehabisan darah. Dan Transfusi berjalan lancar sesuai harapan kita. Tepat waktu walau hampir terlambat beberapa menit." jelas sang dokter.


"Terimakasih dokter. Sekali lagi terimakasih atas usaha nya. Kau benar benar bisa di andalkan dan dapat di percaya." ucap Hanzero menepuk bahu sang dokter membuat pria berpakaian putih itu merasa melambung mendapatkan setidak nya sedikit pujian dari Tuan Hanzero.


"Bukan hanya saya Tuan. Tapi putra Anda. Dia lah yang hebat dan patut diacungkan jempol. Usaha nya sungguh membuat saya mampu terkesima."


"Kau benar. Putra ku dan Kakak iparnya memang hebat." sahut Hanzero memuji kedua pria muda di belakang nya itu.


Sekarang semua tersenyum, dan menghela nafas lega. Begitu pun Halilintar sudah nampak tenang, tinggal rasa tidak sabar nya menunggu waktu 120 menit lagi.


Semua kembali duduk di bangku panjang bercat putih itu. Dokter pun mulai meminta diri untuk kembali ke ruangan nya. Sekali lagi Hanzero yang menjawab dengan senyum dan anggukan, dan dokter pun melangkah.


"Dokter!!" pekikan seorang perawat membuat sang dokter menghentikan langkahnya dan menoleh pada Suster yang sudah ada di depan pintu. Semua pun ikut menoleh dengan tatapan yang berganti cepat dengan kekhawatiran kembali.


"Ada apa?"


"Pasien sudah sadar!"


"Apa?" bukan nya senang, tapi panik. Sang dokter melangkah cepat memasuki ruangan itu kembali setelah melirik jam tangan nya.


"Meleset jauh dari perkiraan. Apa ada kesalahan?" gumam nya namun terdengar oleh Halilintar yang memang sudah berada di belakang sang dokter, dan ikut memasuki keruangan Zha begitu juga semua orang, Elang , Alexa , Aisyah, Azkayra dan Hanzero. Mereka memaksa masuk tanpa persetujuan dari sang dokter.


"Hall...!" suara lirih Zha terdengar dengan kedua matanya yang masih tertutup.


"Zha.. Aku di sini sayang. Buka matamu. Lihat aku Zha.. Lihat aku. Aku di sini untuk mu!!" ucap Halilintar langsung memegang erat tangan istrinya sesaat setelah mendorong Dokter yang hendak mencegah nya mendekati Zha.


Terpandang oleh Halilintar kedua mata Zha bergerak, dan terbuka perlahan.


Gelap, kemudian remang. Lalu secara perlahan nampak bayangan hitam di pandangan mata Zha , semakin lama semakin jelas oleh nya.


"Hall..? Kau sudah datang?" ucap lirih Zha, menatap wajah tampan suaminya yang terlihat sangat berantakan itu.


"Huh!!" hembusan nafas keras dari sang dokter, yang tadi nya panik dari awal sontak berganti wajah yang lega seketika dan merasa lepas dari sebuah beban yang mencengkeram kuat bahunya.


___________________________________


terima kasih masih setia dengan Keturunan Terakhir...


Tetap dukung mereka kak ya..! Jangan bosen, apalagi karya ini sudah di masukkan lomba update tim. Dan masuk tim A . Dan saat ini masih memegan poin lebih tinggi dari tim B.


by..by...!!