
Halilintar masih mendekap istrinya yang terus meronta dan menangis itu.
Sementara Hanzero ,Dokter Bram dan Profesor William, mereka memilih untuk meninggalkan sepasang suami istri itu untuk sengaja memberi waktu mereka agar bisa berbicara baik baik mencari jalan yang terbaik bagi mereka.
"Hall, ku mohon.. Perintahkan dokter Bram untuk mengeluarkan partikel itu. Aku tidak mungkin mengorbankan darah daging ku sendiri hanya untuk kepentingan pribadi ku. Lalu apa beda nya aku dengan mereka yang sudah menaruh partikel itu pada diri ku yang tidak tau apa apa ini.?" ucap Zha dengan isakan tangis nya.
"Aku mengerti Zha, aku pun tidak ingin kehilangan Calon bayi ku."
"Kalau begitu cepat Hall, sebelum semua nya terlambat dan kita akan menyesal.!"
Halilintar melepaskan pelukan nya, memutar tubuh Zha dan menatap dalam wajah itu. Setelah sekian lama mereka saling memandang, Halilintar akhirnya mengangguk.
Dengan hati yang hancur dan diliputi rasa yang tak karuan Halilintar melangkah keluar. Mereka yang ada langsung melempar pandangan padanya.
"Lakukan saja sesuai dengan keinginan Nona Zha. Aku tidak kuasa lagi mencegah nya." ucap Halilintar pada Dokter Bram yang mengangguk dan segera menghubungi tim medisnya yang memang sudah berada di luar mansion.
Lalu setelah tim medis datang, mereka kembali melangkah masuk ke kamar Zha.
"Kau harus kuat Hall, ini adalah salah satu bukti pengorbanan orang tua untuk anak nya." ucap Hanzero menepuk bahu sang Putranya.
Halilintar pun melangkah menyusul dokter Bram bersama sang Ayah.
"Apa Nona yakin..?" tanya dokter Bram.
Zha hanya mengangguk.
"Silahkan Nona, anda hanya perlu berbaring." ucap Dokter Bram.
Zha menuruti perintah Dokter Bram untuk berbaring di atas ranjang.
Tenang sayang... Mama akan melakukan apapun untuk mu.!
Zha kini sudah siap dengan berbaring di atas ranjang. Sementara Halilintar sudah duduk menopang kepala istri nya di pangkuannya.
"Baik baik di dalam nak.. kami berjuang untuk mu.!" ucap lirih Halilintar nyaris tak terdengar.
"Kita akan mulai dari bagian punggung dahulu." ucap Dokter Bram , mulai menyibakkan kaos yang di kena kan Zha.
"Menjerit lah Nona , jika Nona ingin menjerit." ucap dokter Bram mulai menekan kan pisau nya.
"Arrgghhh....!!!!" teriakan Zha melengking terdengar begitu pilu ketika sayatan pertama melukai kulit nya.
"Brengsek..!!! Tidak bisakah kau memberi obat apapun untuk mengurangi rasa sakit nya Dokter..!!" umpat Halilintar ikut merasakan sakit istri nya yang mencengkeram kuat lengan nya.
"Maaf Tuan muda , tidak ada obat apapun yang bisa kami berikan."
"Zha..!!" Halilintar membenahi rambut Zha.
"Aku tidak apa apa Hall.. Cepat lanjutkan Dokter.!!"
Dokter Bram kembali fokus , dan kembali menggoreskan pisau nya hingga sedikit dalam mengenai daging Zha.
Lengkingan kedua dari mulut Zha semakin panjang dan memilukan, sampai membuat Hanzero memalingkan wajah nya, ia tidak tega melihat keadaan menantu nya itu.
"Aku mendapat nya.!" ucap Dokter Bram.
"Hah..! Apa ini.?" pekik Dokter Bram melihat sesuatu yang lain membuat Halilintar menoleh cepat.
"Ada apa.?"
"Partikel itu ternyata tersimpan dalam chip ini." Dokter Bram menunjuk kan sebuah chip kecil yang berhasil ia ambil dari tubuh Zha tadi.
"Cepat periksa.!"
"Baik, Profesor William akan segera memeriksa nya Tuan Muda."
"Hall..!!" suara lemah Zha menarik lengan Halilintar.
"Zha.. Apa kau baik baik saja.?"
"Aku Mencintai mu Hall.." ucapan terakhir dari mulut Zha sesaat setelah itu Zha menutup matanya.
"Zha..!!!"
"Nona hanya pingsan Tuan Muda. Mungkin Nona kelelahan saat harus mengeluarkan banyak tenaga untuk menahan sakitnya." ucap Dokter Bram langsung mengobati luka Zha dan segera menjahit nya lalu melapisi nya dengan perban.
Beberapa saat setelah Zha pingsan terlihat tubuh Zha bergetar.
"Ini tidak mungkin..?" Dokter Bram memekik ketika menyadari wajah dan lengan Zha yang nampak membiru.
"Kenapa ini.?" Halilintar pun terlihat panik.
"Chip itu ternyata mengandung racun yang pecah saat kita berhasil mengeluarkan nya ."
"Apa..?? Dan kau terlambat menyadari nya.??" Halilintar begitu marah dan langsung menodongkan pistol nya ke tepat ke kepala Dokter Bram.
"Selamat kan nyawa istri ku atau aku akan memecahkan kepala mu."
"Tuan muda, kami akan mencoba menyuntik kan anti racun level 10 yang berhasil Frofesor William ciptakan. Tapi._!"
"Tapi apa.?"
"Aku tidak peduli. Cepat suntik kan atau._!
"Baik Tuan Muda.!" Dokter Bram yang sudah ketakutan melirik moncong pistol milik Halilintar langsung mengambil cairan anti racun level 10 itu pada sebuah suntikan dan siap menyuntik kan nya pada Zha.
"Kau tidak perlu melakukan itu Bram.!" cegah Hanzero yang sedari tadi terdiam namun ternyata sedang berpikir keras itu.
"Pa.. Nyawa Zha terancam.!"
"Kau harus tenang dulu Hall.." Hanzero kini mendekati mereka.
"Tapi Tuan.?" Dokter Bram yang terlihat bingung itu pun menatap Hanzero yang mencegah nya untuk memberikan suntikan anti racun itu pada Zha.
"Apa kau tidak ingat siapa istri mu Hall.?" Hanzero menatap Halilintar.
"Setahu ku, Zha adalah ahli racun. Dan aku bisa memastikan jika Zha sudah melindungi dirinya sendiri dengan anti racun. Kalau kau tidak percaya lihat lah." Hanzero menunjuk ke arah Menantu nya berbaring. Dan benar saja, warna biru di wajah dan lengan Zha berangsur menghilang dengan sendiri nya membuat dokter Bram dan Halilintar tercengang.
"Bagaimana Papa bisa tau hal ini.?"
"Zha pernah menyuruh Papa untuk meminum Pil Anti racun milik nya saat ia menyelamatkan Papa ketika Papa di dekap oleh Alex waktu itu sebelum Zha menyebarkan racun nya di sepanjang lorong yang kami lewati. Aku yakin jika Zha pun telah meminum nya karena ia seorang ahli racun. Tidak mungkin ia tidak melapisi dirinya dengan anti racun." jelas Hanzero dan semua ucapan nya terdengar masuk akal.
"Benar yang di katakan Tuan Hanzero. Racun nya hilang tak tersisa dari tubuh Nona Zha." ucap dokter Bram memeriksa keadaan Zha, kulit Zha yang tadi nya membiru sudah kembali normal. Dokter Bram sempat menggeleng kan kepala nya dan berdecak kagum.
****
Sebelum lanjut cerita nya Author akan menulis sedikit tentang apa itu Partikel dan DNA menurut ilmu fisika.
Dalam ilmu fisika, partikel (atau korpuskula dalam teks yang lebih tua) adalah objek terlokalisasi kecil yang dapat memiliki beberapa sifat fisik atau kimia seperti volume atau massa.
Sementara DNA.
Setiap sel di tubuh kita tersusun dari DNA. Apa itu DNA? DNA adalah singkatan dari deoxyribonucleic acid. DNA merupakan rantai molekul yang berisi materi genetik yang khas pada setiap orang.
Tidak hanya pada manusia, tapi pada semua makhluk hidup memiliki DNA. DNA bisa bermanfaat untuk menunjukkan perbedaan satu organisme dengan organisme lainnya. Sehingga, DNA sangat penting peranannya dalam ilmu taksonomi untuk mengklasifikasikan organisme tertentu.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua.!
Lanjut...!
**
"Bagaimana hasil nya.?" Tanya Halilintar kini beralih pada Profesor William yang telah selesai melakukan pemeriksaan.
"Tuan.. Partikel di dalam chip ini benar benar memanipulasi keadaan sekitarnya. Sebenar nya partikel ini hanya ada satu. Tapi ia bisa mengelabuhi kita seolah terdapat banyak partikel di tubuh Nona Zha. Beruntung kita bisa mendapatkan nya dalam satu kali sayatan." jelas Profesor William.
"Jadi partikel itu hanya ada satu.?"
"Benar Tuan, tapi setelah saya menyelidiki nya lebih lanjut, ternyata chip ini di kendali kan oleh sebuah Sistem DNA. Sayang nya saya tidak bisa memecah kode yang terdapat di dalam chip ini. Kecuali kita mendapatkan chip induk nya yang kemungkinan di simpan seseorang disuatu tempat." kembali Profesor William menjelaskan.
Dalam keadaan yang sedikit menegang , tiba tiba terdengar rintihan dari mulut Zha.
"Hall..!!"
"Zha, kau sudah sadar.? Apa yang kau rasakan sekarang.?" Halilintar segera menghampiri Zha yang sudah duduk.
"Pusing Hall, dan panas. Punggung ku dan juga lengan ku." Zha menunjuk kan lengan kirinya.
"Hah..!!" Halilintar terperangah ketika melihat lengan kiri Istrinya , nampak terlihat dengan samar sebuah Tatto Jangkar di sana dan semakin menjelas.
"Berbalik Zha.. aku ingin melihat punggung mu.!" Halilintar segera memutar tubuh Zha dan menyibak kan kaosnya.
"Brengsek..!!" umpatan Halilintar terdengar dari mulut nya ketika ia melihat Tatto Jangkar yang sangat jelas muncul memanjang di punggung istrinya.
"Zha,.. Sudah ku duga sebelum nya. Kau.. !! Kau lah keturunan Jangkar perak itu." ucap Halilintar.
"Tapi Hall, menurut Ardogama tatto itu berada di bahu. Tapi ini.?" Zha menatap Halilintar. Wajah wanita itu penuh keringat seperti menahan sesuatu.
"Kita tidak harus mempercayai ucapan nya seratus persen Zha.. Bisa jadi dia hanya ingin menjebak mu.!" jawab Halilintar , kembali menatap kelainan pada istri nya yang makin mengeluarkan banyak keringat.
"Zha..!!" Halilintar langsung menahan tubuh Zha yang seketika ambruk kembali tak sadarkan diri.
"Dokter.!"
Dokter Bram segera menghampiri dan memeriksa keadaan Zha.
"Nona Zha dan janin nya baik baik saja. Ini hanya lah efek dari kemunculan tatto ini yang harus menguras habis tenaga Nona Zha. Dia akan sadar dengan sendiri nya jika tenaga nya sudah pulih kembali." jelas Dokter Bram.
Halilintar langsung meraih laptop nya dan nampak begitu sangat serius mencari sesuatu.
Jangkar perak, Zha , Gustavo dan juga Ardogama. Ini pasti ada kaitannya. Halilintar berpikir demikian, meskipun istri dan calon anak nya sudah selamat dan tidak terjadi apa-apa dengan mereka tapi Halilintar merasa harus perlu menyelidikinya lebih lanjut. Terkait dengan kode yang terdapat pada chip yang baru saja diambil dari tubuh istrinya. Sebenarnya kode apa itu.? Kenapa harus di kendali kan oleh sistem DNA dan di mana mereka menyimpan Chip induk nya.?
Halilintar terus mengulik tombol keyboard laptop nya . Kali ini ia berusaha untuk mendapatkan informasi atau Askes lokasi Markas Jangkar Perak berada.
Setelah sekian lama berada di depan laptop nya dengan mengandalkan IT dan keahlian nya dalam meretas sistem software yang kemampuan nya hampir sejajar dengan istri nya
, Senyum pun akhirnya berkembang di bibir pria itu.
"Tunggu aku Zha.. Aku akan mendapatkan nya untuk mu.!"
Bersambung. .!!