
Elang yang mengemudi setir melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Perusahaan JP Group milik Ibunya.
Halilintar yang berada di samping nya duduk dengan sangat tidak tenang. Sesekali menghela nafas sambil mengacak rambut nya yang sudah berantakan itu hingga terlihat semakin semrawut dengan matanya yang tak lepas melirik jam tangan milik nya.
Saat Elang menghentikan mobilnya di parkiran Perusahaan yang mereka tuju itu, pintu mobil di buka dengan cepat dan kedua nya melompat turun. Tanpa menjawab sapaan petugas keamanan di sana mereka melangkah dengan setengah berlari menuju ruangan rahasia milik Ardogama.
Melihat itu, petugas keamanan yang sudah mengenal baik mereka hanya bisa menatap langkah kedua pria gagah itu dengan pertanyaan hebat di otak nya.
Setiba di depan pintu ruangan mereka berhenti. Halilintar yang sudah siap membuka pintu, menoleh pada Elang.
"Pintu ini hanya bisa di buka dengan simpel darah mu dan darah Zha! Bagaimana kita bisa masuk ?" ucap Halilintar, mengingat kesalahan besar yang tidak ia sadari.
"Coba dulu, seingat ku Zha sudah menonaktifkan kode itu beberapa Minggu yang lalu." jawab Elang , memang pada saat itu Zha dan Elang pernah kembali lagi kesitu tanpa bersama Halilintar, untuk menyelesaikan video yang belum sempat mereka tonton sampai akhir tempo lalu. Dan Zha sengaja sudah menonaktifkan kode pintu ruangan itu , entah pada saat itu Zha sengaja perlu melakukan nya atau memang sudah seperti ada firasat buruk.
"Benarkah?" Halilintar memegang gagang pintu dan mencoba untuk membuka nya. Dan ternyata apa yang diucap kan Elang benar adanya. Pintu itu terbuka.
Dua pria itu kemudian masuk , memeriksa satu persatu lemari dan tempat tempat yang di curigai Mereka untuk menemukan sesuatu yang sedang mereka cari.
Waktu terus berputar, sudah 45 menit mereka meninggalkan Rumah sakit, dan sampai detik ini belum ada tanda tanda mereka menemukan sesuatu yang mereka cari.
"Arggghhh...!! Tidak ada apapun di sini yang bisa menunjukkan apa yang kita butuhkan!" teriak frustrasi milik Halilintar.
Elang tidak bersuara melainkan terus melanjutkan pencariannya. Di dalam hatinya , Elang pun sama frustrasi nya dengan Halilintar.
Di tengah ke putus asaan mereka, Halilintar terduduk lemas di sudut tepi ranjang yang ada di ruangan itu. Menundukkan kepalanya , tangan nya meraba tengkuknya sendiri yang terasa berat untuk memijat ringan berharap agar bisa meringankan rasa berat nya.
Namun mata Halilintar menangkap sesuatu yang aneh pada salah satu lantai keramik di dekat kaki nya berpijak. Jika di amati dengan teliti, bentuk keramik itu lain dari pada yang lain.
"Elang , kemari lah!" seru Halilintar. Elang yang masih setia mengobrak abrik apa saja yang ada di ruangan itu, menoleh dan cepat menghampiri Halilintar.
"Lihat ini?" Halilintar yang sudah duduk berjongkok menunjuk dengan jarinya kearah keramik yang di maksudnya.
"Seperti gambar... Biar ku coba." Elang langsung menaruh telapak tangan nya para keramik bercorak putih itu yang jika di perhatikan secara seksama , nampak sebuah gambar telapak tangan berjari lima dengan samar di sana.
Ketika Elang sudah mendaratkan tangan nya, tiba tiba saja terdengar oleh mereka suara yang muncul dari dinding di balik meja rias kecil yang terletak di samping ranjang. Mereka menoleh bersamaan.
Dinding di sana benar benar terbuka sekitar 60cm. Mereka langsung menghampiri nya untuk memeriksa.
Setelah memastikan apa yang ada di sana, Halilintar menarik sebuah kotak baja dari dalam sana. Lalu mengangkat nya keluar dan menaruh nya di atas ranjang.
Mereka saling melempar pandangan, kemudian kembali mengamati kotak yang bergembok dengan anak kunci yang seperti nya sengaja di taruh di atas nya.
Tangan Halilintar secepatnya menyambar anak kunci itu dan membuka gemboknya.
Brakkk...!!
Kotak itu terbuka, mereka menatap isinya dan kembali saling menatap.
"Kantong darah milik Tuan Ardogama!" ucap Halilintar memekik tak percaya.
*****************
Entah secepat apa Elang menginjak pedal gas nya, karena hanya 10 menit waktu yang mereka butuh kan untuk kembali berada di Rumah sakit di mana di sana Mereka sudah di tunggu semua orang yang ada di satu ruangan itu dengan perasaan harap harap cemas.
Kedua pria itu berlari kencang ke dalam ruang sakit, tanpa menghiraukan orang orang yang menatap heran mereka.
"Dokter! Dokter! Aku mendapat kan nya!" teriak Halilintar ketika sudah berada di ruangan di mana Zha di rawat.
Seketika semua orang berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Dokter...!! Putra ku mendapat kan nya." Hanzero pun tak kalah heboh nya berlari menyambut dokter yang juga sudah bergegas menghampiri mereka.
"Kami akan memeriksa nya dulu ke ruang lab untuk memastikan jika darah ini masih berfungsi." ucap sang dokter menerima kantong darah dari tangan Halilintar.
"Kita tidak punya waktu lagi. Cepat lakukan transfusi pada istriku sekarang juga." jawab Halilintar melirik jam yang sudah menunjukkan jika waktu mereka hanya masih tersisa 45 menit saja.
"Tapi Tuan, jika trombosit darah ini tidak berfungsi lagi. Bukan hanya sia sia usaha kita, namun bisa berakibat fatal pada nona Zha." jawab sang dokter.
"Kau tidak mengerti dokter! Percayalah, tuan Ardogama sudah memberi pengawet ampuh pada kantong darah ini. Aku yakin darah ini masih berfungsi dengan baik." tegas Halilintar.
"Kami tidak bisa mengambil resiko tuan muda. Maaf! Kami harus melakukan pemeriksaan dulu. Kita masih punya waktu 43 menit. 13 menit untuk pemeriksaan darah ini. 30 menit bisa untuk di gunakan melakukan transfusi." jawab sang dokter bergegas setengah berlari meninggalkan mereka untuk membawa kantung darah itu ke ruang lab.
"Bedebah kau dokter! Jangan mengulur waktu! Istri ku tidak bisa bertahan lama lagi. Kembali dokter!!!" teriak Halilintar hendak mengejar sang dokter.
"Hall, tenang kan dirimu. Percayakan semua nya pada dokter. Mereka pasti akan melakukan yang terbaik untuk istrimu!" Hanzero segera mencegah Halilintar dan memeluk erat putra nya yang terus meronta.
"Pa.. Zha pasti sangat menderita di dalam sana. Aku tidak kuat membayangkan nya!" rintih Hanzero dalam dekapan Ayah nya.
"Kuat kan hati mu. Jika kau kuat. Istri mu juga pasti akan kuat!" Hanzero terus mengelus punggung Halilintar , mencoba menenangkan Putranya bak anak kecil yang sedang menangis.
Sementara di ruangan Lab sang dokter berjalan mondar mandir dengan rasa tak sabarnya menunggu pihak tim Lab yang sedang melakukan pemeriksaan darah yang baru saja ia serahkan tadi.
"Percepat kerja kalian! Kita tidak punya banyak waktu!!" Dokter itu berteriak pada mereka.
"Tenang lah dok. Kami sedang berusaha secepat mungkin."
"Butuh berapa lama?"
"Lima belas menit lagi."
"Brengsekk!!" umpat sang dokter itu melirik jam di dinding. 40 menit sisa waktu saat ini. Jika di ambil 15 menit, maka hanya tersisa 25 menit lagi. Cukup kah waktu itu untuk melakukan transfusi.. Ah... benar benar sangat mustahil.
Dokter itu menghela nafas beratnya, dan menepuk nepuk kepalanya.
Rasa takut pun menjalari tubuhnya, jika saja darah itu benar benar masih berfungsi dan ia terlambat dalam melakukan transfusi, maka ia harus bersiap ditendang oleh keluarga Samudra yang ketahui oleh nya mempunyai kuasa penuh. Kalau hanya sekedar menendang seorang dokter sepertinya , semudah membalik kan telapak tangan pikirnya. Bahkan jika keluarga samudra mau , menggulingkan rumah sakit ini pun akan sangat mudah bagi mereka.
____________________________________