
Elang tergelak saja melihat wajah memerah milik Alexa yang kini sudah Elang lepaskan di sofa.
Umpatan kasar terus terlepas dari mulut wanita itu sampai melupakan jika pria yang ia umpat itu adalah putra dari ketua nya.
"Maaf, aku hanya ingin sekali kali bercanda." ucap Elang.
"Bercanda mu sungguh buruk Elang!!"
"Aku sudah meminta maaf,.. Baiklah , bagaimana jika aku mentraktir mu makan malam sebagai permintaan maaf ku?" ucap Elang sedikit ingin merayu wanita yang saat ini sedang duduk di hadapan nya itu dengan raut wajah yang sangat masam.
Mendengar traktiran makan malam, sepertinya Alexa sedikit tergiur. Matanya melirik Elang.
"Hanya makan malam?"
"Jika kau ingin lebih? Kita bisa pergi ke Mall untuk shoping." jawab Elang.
Mendengar kata Mall, jiwa wanita Alexa langsung menggelora. Seperti apapun kehidupan dunia mafia nya, Alexa tetap lah seorang wanita yang akan luluh jika sudah berkaitan dengan Mall dan shoping. Alexa langsung mengangguk penuh semangat.
"Dasar wanita!" ucap Elang melangkah.
"Kau mau kemana?" jerit Alexa.
"Katanya ke Mall, tidak jadi nih?"
"Ah, jadi jadi.. Baik lah,. Ayo." Alexa langsung berdiri dan ikut melangkah di belakang Elang.
******
Ini sudah hari ketiga setelah pemecahan kode pada chip yang pernah berada di dalam tubuh Zha itu.
Dan hari ini mereka sepakat untuk pergi ke Mansion yang menurut Alexa adalah milik Tuan Glendale yang tak lain adalah Kakek Zha dan Elang.
Sebelum mereka benar benar berangkat, Elang sudah menyiapkan beberapa anak buah nya guna menjaga kemungkinan yang bisa saja terjadi di luar dugaan selama perjalanan mereka nanti.
"Di sana nanti , kau jangan menjauh dari ku sedikit pun. Ingat itu!" ucap Halilintar berpesan pada Zha.
"Kenapa? Kau meragukan kemampuan ku karena ini?" tanya Zha memegang perutnya.
"Bukan begitu, tapi setidak nya untuk saat ini , biarkan aku menjaga kalian dengan kemampuan ku." jawab Halilintar.
"Baiklah Suami ku, aku akan menurut dengan mu."
"Nah, begitu donk... Istri yang baik harus mematuhi suaminya." ucap Halilintar menepuk nepuk ringan kepala Zha.
Mereka berempat berada di satu mobil dengan Elang yang mengemudi dan Alexa tepat berada di sebelahnya. Sementara Halilintar dan Zha duduk di jok belakang dengan setiap saat tangan Halilintar mengusap perut istri nya yang masih saja rata itu.
Dibelakang mereka beberapa mobil milik anak buah andalan Elang pun siap mengikuti mereka.
Mobil mobil mereka pun segera melaju dengan cepat di jalanan mulus ke arah yang sesuai dengan petunjuk Alexa.
Memakan waktu yang cukup lama juga, akhirnya mobil mobil itu berhenti di sebuah bangunan Mansion. Bangunan yang terlihat sepi dan kotor dengan rerumputan tinggi dan dedaunan kering menandakan jika Mansion itu sama sekali tidak terawat dan seperti nya sudah sangat lama di tinggalkan.
Setelah menuruni mobil, mereka melangkah masuk dengan tetap menjaga kewaspadaan.
Berhenti di depan pintu mansion itu, Alexa merogoh kantong nya untuk mengeluarkan kunci yang pernah Ardogama berikan padanya.
Alexa menoleh pada Elang yang segera mengangguk, menandakan jika Elang siap untuk Alexa membuka pintu.
Alexa mencoba kunci itu dan ternyata pintu itu benar benar terbuka.
Mereka melangkah masuk dengan anak buah mereka tetap berada di luar Mansion guna menjaga keadaan luar Mansion.
Pandangan mereka beredar , tidak ada apapun yang istimewa di sana . Hingga mereka memeriksa semua lantai dan ruangan yang ada, tapi tidak ada apapun yang bisa mereka temukan untuk menjadi sebuah petunjuk, sampai pada akhirnya Alexa seperti mengingat sesuatu ketika Elang sudah mengajak mereka pergi karena merasa tidak menemukan apa apa di sana.
"Tunggu. Aku mengingat sesuatu!" ucap Alexa.
"Apa yang kau ingat?" tanya Zha.
"Tuan Ardogama pernah bercerita jika di Mansion ini dibangun sebuah ruangan rahasia yang berada di ruang bawah tanah."
"Benarkah? Kalau begitu kita harus menemukan nya." jawab Zha di balas anggukan serempak mereka.
"Sepertinya kita harus memeriksa bagian halaman belakang." ucap Alexa , dan mereka setuju karena halaman belakang memang belum di periksa oleh mereka. Akhirnya mereka melangkah kesana.
Sampai di halaman belakang yang begitu luas mereka segera memeriksa setiap sudut dengan teliti.
Elang seperti menemukan sesuatu yang mencurigakan di sebuah lantai yang ada di sudut dinding. Ia menyibak sampah dedaunan kering yang menumpuk di situ.
Ia terperangah ketika melihat sebuah simbol di sana.
"Zha..!!" Elang memanggil adik nya yang segera menghampirinya.
"Lihat lah, simbol ini mirip dengan Tatto milik mu." ucap Elang.
Mereka segera memperhatikan nya dengan seksama. Memang benar apa yang di katakan Elang, di sana terdapat sebuah simbol Jangkar yang serupa dengan tatto di lengan Zha.
"Coba kau dekatkan tangan mu Zha." ucap Halilintar pada istrinya.
Dengan sedikit ragu Zha menurut, ia mendekatkan tangan nya dan menaruh tatto milik nya tepat di atas simbol itu.
Mereka semua seketika terkejut dengan suara dekrit seperti suara pintu terbuka dan bersamaan menoleh kearah munculnya suara itu. Mata mereka terbelalak ketika melihat dinding di sebelah mereka terbuka membentuk sebuah pintu.
"Benar benar menakjubkan!" ucap kagum Elang segera menghampiri dinding yang kini sudah menjelma sebuah pintu masuk ke lorong bawah tanah.
"Ternyata ini yang dinamakan scan retina. Atau lebih tepat nya scan kulit." ucap Halilintar.
"Jadi maksudmu tatto ku ini..?"
"Ya, bukan hanya sebagai tanda, tapi di ciptakan untuk membuka pintu rahasia ini." jawab Halilintar meraih tangan Zha dan menggenggam nya dengan erat.
"Ayo kita masuk!" ajak Halilintar.
Zha mencoba membuka pintu itu dengan menggenggam gagang pintu. Namun tiba tiba terdengar sebuah suara dari sebuah komputer yang terletak di atas meja di sudut ruangan. Suara instruksi dengan bahasa asing.
"Harap memasukkan kode!"
"Sial! Pintu ini di lindungi dengan kode." ucap Zha.
"Kalau begitu kita harus bisa menemukan kode nya." jawab Elang.
Mereka menghampiri komputer itu, dan Zha mulai menyentuh nya.
Lagi lagi terdengar suara instruksi lagi.
"Harap masukan scan DNA tanda pengenal identitas!"
"Apa maksudnya?" tanya Zha.
"Entah lah.!" jawab Halilintar.
Mereka nampak kebingungan, karena tidak dapat menemukan di mana mereka harus memasukkan kode.
Zha kembali menghampiri komputer itu.
"Kami tidak mengerti maksudmu. Bisakah kau menjelaskan nya?" Zha bertanya pada benda mati itu, sebenarnya Zha hanya sekedar iseng untuk sekedar menghibur ketegangan mereka. Namun betapa terkejutnya mereka , ketika komputer di depan mereka menjawab pertanyaan Zha.
"Silahkan memasukan darah anda pada simbol yang ada di atas meja baja itu, guna mengidentifikasi DNA keturunan!"
"Darah siapa?"
"Campuran!" kembali komputer itu menjawab.
"Campuran?" Zha menoleh pada mereka.
Mereka yang masih terlihat bingung itupun segera melangkah mendekati meja yang terbuat dari baja yang memang berada tepat di samping pintu baja itu.
Benar saja, di sana terdapat sebuah simbol. Tapi kali ini simbol itu tidak seperti tatto jangkar milik Zha, tapi lebih seperti sebuah gambar burung Elang.
Elang yang juga sudah berdiri di sana pun ikut merasa heran. Ia mengangkat tangan nya untuk menyentuh simbol itu. Namun betapa terkejutnya Elang ketika simbol itu tiba tiba mengeluarkan sinar hijau yang berkedip kedip dan bersuara mirip seperti bunyi alarm, namun ketika Elang menarik tangan nya sinar dan suara itu berhenti.
Makin membingungkan ketika Zha mencoba nya begitu juga dengan Halilintar dan Alexa, tapi simbol itu sama sekali tidak bereaksi dan hanya bereaksi pada tangan Elang.
"Coba kulihat!" Zha langsung meraih tangan Elang dan membalik nya. Zha terperangah ketika menyadari sebuah tanda berwarna coklat yang ada di pergelangan tangan Elang. Tanda yang sebenarnya tidak berbentuk itu lebih mirip seperti tanda lahir biasa.
"Apa ini juga berupa tanda ciptaan Glendale?" tanya Zha.
"Bisa jadi!" jawab Halilintar.
"Tapi ini sama sekali tidak mirip tatto pada Zha dan juga tidak mirip simbol itu. Ini hanya tanda lahir biasa." jawab Elang.
"Kita tidak tau ada rencana mereka, siapa tau mereka sengaja membuat tatto lain padamu guna mempersulit kode itu." jawab Halilintar.
"Apa yang harus kita perbuat sekarang? Tanda ini juga tidak membuat pintu itu terbuka." ucap Elang .
"Darah noda Zha. Seperti yang pernah di katakan Tuan Ardogama , kode yang kelima adalah darah milik Nona Zha, dan seperti petunjuk komputer itu tadi. Ku rasa tidak ada salah nya untuk mencobanya." ucap Alexa.
Sejenak mereka terdiam. Zha terlihat mencabut pisau milik nya dan sedikit menyayat jari nya untuk meneteskan darah nya pada simbol yang mirip seperti gambar burung Elang itu. Setelah beberapa detik, bunyi alarm peringatan kembali terdengar dan sinar hijau itu kembali muncul , namun tidak ada tanda tanda jika pintu itu akan terbuka.
"Mohon untuk melengkapi kode identifikasi!" kembali terdengar suara perintah dari komputer.
"Darah campuran!" ucap Halilintar.
"Kau harus melakukan nya juga Elang!" ucap Zha pada Elang.
"Baiklah." Elang pun tanpa ragu meraih pisau yang diulurkan Zha dan segera melukai jarinya untuk meneteskan darah nya pada simbol itu. Beberapa detik kemudian, saat mereka berempat benar benar sudah dalam keadaan menenggang kembali terdengar suara dari komputer itu bersamaan dengan berhentinya bunyi alarm dan juga sinar hijau itu berhenti berkedip.
"Scan DNA berhasil di kenali!"
"Kode sudah terbuka!"
Mereka serempak menatap pintu baja itu yang mulai bergerak perlahan dan terbuka.
"Sungguh luar biasa sekali. Bisa seperti itu ciptaan Tuan Glendale." ucap kagum Halilintar.
"Bukan ciptaan nya. Tapi kode terakhir dan ruangan ini adalah ciptaan Tuan Ardogama." bantah Alexa.
"Kau benar Alexa, kalau kode terakhir ini adalah ciptaan Ayah. Karena menggunakan darah kami. Jika Kakek tidak mungkin. Karena kami belum lahir ketika dia tewas." jawab Zha.
"Siapapun itu, ini sungguh menakjubkan dan di luar akal. Bahkan kurasa , pengetahuan kita yang sudah modern seperti saat ini ,tidak akan sampai di situ." decak kagum milik Halilintar terlontar mengagumi alat ciptaan keluarga Zha yang sedemikian rupa dan sangat luas biasa hingga di luar dugaan.
"Sekarang kita masuk." ucap Zha melangkah memasuki ruangan itu diikuti mereka.
Di dalam sana terdapat beberapa lemari yang terbuat dari baja. Dan sebuah lemari besar dengan kaca yang tebal.
Zha menghentikan langkah nya ketika menatap dua bingkai foto besar yang terpampang di dinding. Mata Zha nampak berkaca kaca dan meneteskan air mata.
"Itu pasti foto Kakek dan Nenek kita Elang? Dan yang itu adalah foto Ibu dan Ayah saat Ayah masih dengan wajah Sean Abraham nya."ucap Zha.
Elang segera mendekap tubuh Zha dari belakang, pria itu pun menangis tersedu. Bagaimana tidak, Elang tidak pernah melihat wajah wanita yang telah melahirkan nya. Dan belum pernah melihat wajah Ayah nya yang asli.
Zha pun semakin terisak di pelukan Kakaknya.
"Kalian harus kuat demi perjuangan mereka." ucap Halilintar mengelus kepala Zha yang masih di dada Elang.
Sesaat mereka menenangkan diri , dan kini mulai mendekati lemari lemari baja itu untuk membukanya.
Brak.....!!! Pintu lemari yang memang tidak terkunci itu terbuka, dan isi nya sungguh membuat mereka benar benar tercengang!!!
__________________________