Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Percaya kan padaku.


Sore ini,


Zha sudah di perbolehkan pulang oleh Sang Dokter, karena memang tidak ada yang perlu di khawatirkan pada Zha maupun kandungan nya. Halilintar pun segera membawa Zha pulang ke Mansion mereka. Dan kali ini bukan hanya Elang serta Alexa saja yang menguntit di belakang mereka melainkan Aisyah turut serta ke Mansion Putrinya itu.


Sampai di Mansion , mereka telah di sambut oleh Azkayra tentunya bersama Hanzero yang sudah tiba di Mansion itu lima menit yang lalu sebelum kepulangan mereka. Azkayra sempat di beri kabar Halilintar tentang Zha yang pingsan dan masuk ruang sakit. Belum sempat mereka ke rumah sakit, Putra mereka sudah memberitahu jika Zha sudah di perbolehkan pulang, Lalu Azkayra sengaja mengajak Hanzero untuk ke Mansion menantu nya saja, menunggu Zha di sana.


Melihat kedua orang tua nya sudah berada di depan pintu dengan memasang wajah khawatir plus murka , Halilintar sedikit bingung untuk menjelaskan kenapa menantu mereka bisa sampai pingsan dan harus masuk rumah sakit. Tapi kenyataannya memang orang tuanya seharusnya mengetahui kebenaran tentang Ibu Zha yang ternyata masih hidup.


Azkayra segera menyambut menantunya dengan pelukan penuh kekhawatiran tanpa mempedulikan ada nya orang asing di sisi Zha.


Azkayra hanya sempat melirik sedikit dan tersenyum tipis lalu membawa Zha masuk ke dalam tanpa pernah berpikir jika Wanita yang sempat ia lirik itu adalah ibu menantunya. Azkayra hanya berpikir jika wanita itu hanyalah salah satu dari orang perusahaan saja.


Setelah mereka semua masuk dan duduk di ruangan tengah Mansion itu, baru lah Azkayra membuka suara.


"Bagaimana keadaan mu sayang ..? Apa masih ada yang di rasakan?" tanya Azka pada Zha, membuat Aisyah menoleh pada mereka dan merasa terharu sekaligus merasa bahagia melihat kedekatan sepasang menantu dan mertua itu. Ternyata bukan hanya Halilintar saja yang tulus pada putrinya, tapi kedua orang tua Halilintar juga.


"Kanzha baik baik saja ma.. Jangan terlalu khawatir." jawab Zha.


"Baik baik saja bagaimana? Wanita sedang hamil, tiba tiba pingsan sampai masuk rumah sakit kau bilang baik-baik saja?" Azkayra melotot dan kini beralih menoleh pada Putra nya.


"Dasar teledor!! Apa yang terjadi pada istri mu Azze? Jelaskan pada Mama!"


"Ma.." Zha berusaha menenangkan hati Mertuanya.


"Diam! Aku sedang bertanya pada suami teledor mu ini! Azze...!!" Azka kembali menoleh pada Halilintar.


"Ma.. Zha tidak apa apa. Hanya.. Tadi itu.. Zha hanya kecapean saja." jawab Halilintar.


"Ya Tuhan... Azze.!! Istri mu sedang Hamil! Kenapa bisa sampai kecapean??? Kau ajak kemana dia hah!" Azka sudah bangun dari duduk nya untuk menghampiri Halilintar dengan kemurkaan nya.


"Nyonya!" Aisyah yang sedari tadi diam segera membuka mulut setelah sadar jika Mama nya Halilintar sedang kecewa pada Menantunya itu.


Azka menoleh pada Aisyah. Sedikit terkejut ketika Azka tanpa sengaja menangkap kemiripan wajah wanita itu dengan Zha.


"Maafkan saya. Sebenarnya semua ini bukan salah Putramu melainkan kesalahan ku. Aku lah penyebab Menantu Anda masuk Rumah Sakit." ucap Aisyah menjelaskan.


"Apa?" Azka nampak terkejut Mendengar pengakuan wanita di depan nya itu.


"Bu.. Jangan menyalahkan dirimu. Ini kesalahan ku yang tidak bisa menjaga istriku dengan baik." ucap Halilintar.


"Tidak Halilintar. Bagaimana pun juga Ibu lah yang patut di salah kan." tegas Aisyah.


"Ibu, sudah lah. Zha baik baik saja. Jadi tidak perlu ada yang merasa bersalah." kini Zha meraih tangan Aisyah lalu menoleh pada Azka.


"Ma, tidak terjadi apa apa pada Zha. Jadi Mama jangan menyalahkan Halilintar dan Ibu Zha ya?"


"Ibu! Maksud Kanzha.. Dia! Dia siapa sebenarnya sayang?" Azka terlihat bingung ,terlebih melihat tangan Zha yang menggenggam erat tangan wanita itu.


"Ma..!" Halilintar segera meraih tubuh Mama nya dan mendudukkan nya kembali di sofa. Halilintar bermaksud untuk menjelaskan, namun Aisyah segera mencegah nya.


"Biar ibu saja yang menjelaskan nya Nak.." ucap Aisyah.


"Nyonya Azkayra dan Tuan Hanzero. Maafkan saya sebelum nya. Sebenarnya saya adalah Ibu kandung Elang dan juga Zha. Maafkan saya, jika selama ini setahu kalian Ibu mereka sudah meninggal dunia. Semua itu bukan rencana kami yang sesungguhnya, melainkan ada kesalahan yang akhirnya malah kami manfaatkan." ucap Aisyah sambil merengkuh pindah Zha membawanya ke pelukan nya.


Azkayra begitu terkejut dengan pengakuan Aisyah , begitu juga dengan Hanzero yang sedari tadi masih diam di tempat itu pun tak kalah terkejutnya.


"Jadi?? Maksudnya?" sontak Hanzero dan Azka bertanya dengan bersamaan.


Aisyah menarik nafas, kemudian menceritakan pertemuannya dengan Zha yang mengakibatkan Zha syok dan masuk rumah sakit. Lalu menceritakan semua nya dengan gamblang tanpa jeda. Mendengar penjelasan Aisyah, baik Azkayra maupun Hanzero sama sama bengong seperti tidak masuk akal. Namun pada akhirnya mereka memaklumi nya dan bernafas lega. Ikut merasa bahagia karena Zha ternyata masih mempunyai orang tua kandung walau pun tinggal sebelah.


"Saya, mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada kalian yang sudah mau menerima dengan baik Putri saya di dalam keluarga Samudra yang begitu terhormat." ucap Aisyah.


"Nyonya tidak perlu berterima kasih. Kami menyayangi Putri Nyonya bahkan melebihi putra kami sendiri. Apalagi saat ini, Zha sudah menjadi menantu kami dan sedang mengandung calon penerus keluarga kami." jawab Hanzero.


"Benar yang dikatakan suami ku Nyonya Aisyah. Saya sendiri sudah menganggap Kanzha anak saya sendiri, bahkan jauh sebelum dia menikah dengan Putra ku." Azkayra pun ikut berbicara.


Akhirnya obrolan hangat kini terjadi di antara keluarga Samudra dan keluarga Glendale. Kedua keluarga hebat yang kini sudah bersatu itu, dan semakin memperlengkap kebahagiaan mereka.


********


Tiga bulan sudah , semua berlalu begitu cepat.


Mengeluarkan mereka dari bisnis bisnis gelap dunia mafia dan membubarkan semua Klan yang berkaitan dengan mereka termasuk Klan Poison Of Death milik Zha. Sementara Klan Selatan milik Ardogama yang merupakan sisa sisa dari Klan Jangkar Perak yang setia kini di pekerjakan di sebuah perusahaan baru yang di kelola oleh Elang dan Alexa dengan bantuan Halilintar tentunya serta di rangkul oleh Perusahaan Samudra.


Tentu saja , perusahaan baru yang di beri nama Elang Perak itu bisa berkembang dengan pesat nya. Bagaimana tidak, jika yang merangkul mereka adalah Perusahaan besar ternama seperti Perusahaan Samudra tentu saja sangat berpengaruh oleh dunia yang melirik mereka sebagai perusahaan baru yang beruntung.


Beralih ke kediaman pasangan Halilintar dan Zha.


Petang itu, Halilintar melangkah dengan wajah penatnya, memasuki kamar.


Di lirik nya Zha yang tengah berbaring di ranjang dengan perut yang sudah mulai membesar itu seperti sedang terlelap.Halilintar tidak langsung mendekati istrinya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera keluar meraih ganti.


"Hall..! Kau sudah pulang?" Zha membuka mata nya, melihat suami nya yang sedang berganti pakaian.


"Iya sayang.."


"Kenapa tidak membangunkan aku?"


"Aku tidak tega melihat mu sangat pulas." jawab Halilintar, tetap tidak mendekati Zha.


Zha mulai beranjak.


"Kau tidak perlu bangun Zha. Tetap lah di situ. Lanjut kan saja tidur mu, sebentar lagi aku akan menemanimu." ucap Halilintar mencegah istrinya bangun.


"Apa yang terjadi Hall?" pekik Zha ketika matanya menangkap darah yang mengalir di lengan suaminya.


"Hanya luka biasa Zha. Kau tidak perlu khawatir." jawab Halilintar , lalu segera menghampiri sang istri, mengusap wajah khawatir istrinya.


"Biar aku obati." ucap Zha melangkah mengambil kotak obat. Dan Halilintar tidak lagi mencegah nya.


"Apa yang terjadi?" tanya Zha menatap kedua bola mata suaminya.


"Bukan apa apa Zha. Tenang lah. Kau tidak boleh banyak pikiran. Fokuslah pada Calon Putri kembar kita." jawab Halilintar. Ya, sudah di ketahui jika kedua bayi yang sedang di kandung Zha berjenis kelamin perempuan semua.


"Kau tidak mau bercerita padaku?" tanya Zha lagi.


"Baiklah, tapi berjanji lah untuk tidak memikirkan nya. Percaya kan semua nya padaku. Aku hanya tidak ingin di salahkan oleh Nyonya Azkayra jika kau harus terus terlibat urusan di luar rumah. Apalagi sekarang bukan cuma Mama ku yang harus ku hadapi. Tapi sudah ada ibu mu yang juga akan menuntut ku untuk menjaga mu dengan baik." ucap Halilintar.


Zha mengangguk setuju.


"Kau tau Alya?" tanya Halilintar.


Zha mengangguk, sudah pasti Zha mengenal wanita yang di sebut Halilintar itu. Alya adalah sekretaris suaminya. Orang kepercayaan Hanzero yang ditugaskan oleh Hanzero sendiri untuk menemani Putranya mengelola perusahaan milik Halilintar.


"Kenapa dengan nya?"


"Dia mengkhianati ku. Aku sama sekali tidak menduga nya. Dia hampir saja menusuk ku ketika kami akan menuruni mobil saat hendak mengadakan pertemuan dengan klien. Beruntung aku menyadarinya dan bisa mengelak nya. Namun sial, ia berhasil melukai tangan ku ketika aku hendak menembak nya. Dan pisau yang ia gunakan beracun. Aku jadi tidak bisa mengejar nya." ucap Halilintar menjelaskan.


Zha malah terkekeh mendengar cerita Suaminya. "Kau sungguh teledor. Pantas saja Mama suka memaki mu begitu." balas Zha. Wanita itu melangkah meraih sebuah botol kecil dan mengeluarkan pil dari sana.


"Aku lupa memberi mu anti racun." ucap Zha mengulurkan pil itu yang langsung di terima Halilintar dan segera menelan nya tanpa bertanya.


"Sebenarnya aku sudah berobat." ucap Halilintar.


"Tidak mengapa. Pil itu hanya untuk berjaga jaga."


"Zha.. Sepertinya, Alya mengkhianati ku karena ada seseorang yang membayarnya dengan tinggi. Dan Aku mencurigai sisa anak buah Gustavo yang berhasil melarikan diri dari penyerangan Ardogama tempo lalu." ucap Halilintar.


"Kenapa kau berpikir demikian?"


"Aku melihat saat Alya melarikan diri dari kejaran ku. Sekelompok pria menjemputnya dan membawa nya lari. Dan aku seperti tidak asing dengan sekelompok orang orang tersebut."


"Apa kau perlu bantuan ku untuk menyelidikinya?" tanya Zha, juga merasa penasaran dengan kabar sisa dari para pengkhianat itu. Kemana mereka? Banyak kemungkinan jika mereka akan menuntut balas atas kekalahan mereka kemarin, apalagi di antara mereka yang selamat masih ada kerabat Gustavo.


"Tidak perlu Zha. Untuk saat ini aku tidak mengijinkan mu bertindak apapun. Percaya kan padaku. Aku akan segera menyelidiki nya. Ada Elang dan juga Alexa yang akan membantu ku. Kau mengerti?"


Zha hanya mengangguk saja. Mungkin saat ini Zha memang harus menurut karena mengingat perut nya yang sudah mulai membesar. Tapi di dalam hatinya, jika keadaan mendesak mungkin saja ia akan memutuskan untuk turun tangan juga.


bersambung....


Mohon maaf jika alur nya sangat melambat. Mulai hari ini , novel ini akan kembali update dengan rutin. Karena Author nya sudah menyelesaikan kesibukan di real life dan insya Allah akan konsentrasi melanjutkan kisah mereka.