Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Jago kena Jalu itu wajar!


Saat ini Elang dan Zha sudah berada di sebuah rumah sakit di mana Halilintar sedang di tangani oleh dokter Bram di sana.


Zha masih terisak di sudut sebuah bangku panjang bersama Elang yang terus menepuk nepuk halus punggung Zha untuk sekedar memberi sedikit kekuatan hati sang adik yang sedang di landa kekhawatiran itu.


Di ujung sana , Hanzero bersama Azkayra terlihat berjalan setengah berlari menghampiri Zha yang langsung menoleh dan segera memeluk Azkayra dengan tangisan nya yang pecah di bahu sang ibu mertuanya.


"Zha! Apa yang terjadi?" tanya Hanzero.


"Hall Pa, Halilintar tertembak." jawab Zha.


"Bagaimana keadaan nya sekarang?" tanya Azkayra.


"Tidak tau Ma, tapi Zha takut. Takut sekali?"


"Kau harus tenang, kau harus percaya jika Halilintar sangat menyayangi mu. Dia tidak mungkin meninggalkan mu dalam keadaan kamu sedang hamil seperti ini." ucap Azka sekedar ingin menguatkan hati menantu nya, padahal di dalam hatinya sendiri ia sudah menangis sejak pertama mendengar kabar tentang putra nya. Tidak bisa di bohongi jika ia pun takut, takut Halilintar tidak selamat.


"Maafkan Zha Ma, semua terjadi karena Zha. Halilintar terluka demi Zha." ucap Zha.


"Jangan menyalahkan diri mu sayang. Mama juga tidak menyalahkan Halilintar. Apa yang di lakukan nya benar. Ia melakukan semua itu demi wanita yang ia cintai." jawab Azka mengelus rambut Zha yang semakin kuat menangis.


"Berhenti lah menangis Zha, itu akan berpengaruh pada janin mu yang masih rentan. Apa kau tidak memikirkan nya?" kini Hanzero ikut menenangkan Zha dengan menepuk halus bahu nya.


Zha mengangguk dan mengangkat wajahnya. Azkayra segera menghapus air mata Zha dengan sapu tangan nya.


"Kau harus kuat." ucap nya.


Hanzero kini mendekati Elang dan mengajak nya menjauh. Hanzero ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dari Elang, dan Elang pun menceritakan semua nya dari awal dan akhir tanpa terlewatkan . Bahkan Elang menceritakan tentang Ardogama dan status Elang jika ia adalah Kakak kandung Zha.


Hanzero terlihat menarik nafas, ia pernah mempunyai pikiran jika Zha adalah Putri dari seorang mafia, tapi Hanzero belum yakin seratus persen. Namun hari ini ketika Elang sudah menceritakan semua nya baru Hanzero percaya jika firasat nya selama ini adalah benar. Hanzero sempat menggelengkan kepalanya saat mengetahui kenyataan jika ternyata Menantu nya adalah keturunan seorang ketua mafia kelas dunia yang pernah tenar pada masa nya itu. Hanzero sendiri sempat ragu dengan perbedaan dunia mereka yang terlalu jauh.


Tapi mau bagaimana pun Zha sudah menjadi bagian dari keluarga nya dan kini telah mengandung calon cucu nya.


Hanzero tetap akan menerima apapun status Zha dan berjanji pada dirinya sendiri akan melindungi Zha.


Detik detik penantian penuh was was mereka berakhir ketika dokter Bram muncul dari balik pintu.


Zha yang pertama kali langsung berlari menghampiri Dokter Bram kemudian disusul oleh mereka.


"Bagaimana keadaan suami ku Dokter!" tanya Zha.


"Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru itu. Dan pisau yang melukai Tuan muda ternyata beracun."


"Lalu?" tanya Zha semakin tidak sabar.


"Beruntung kalian membawa Tuan muda tepat waktu. Jadi Tuan muda masih bisa selamat.Dia sudah sadar, Silahkan jika Nona ingin menemuinya." jawab Dokter Bram.


Tanpa bertanya lagi, Zha langsung menyeruak masuk ke dalam ruangan.


"Hall!" Zha memanggil suaminya yang masih berbaring itu.


"Hall!!" Zha mengguncang tubuh Halilintar yang tidak bergerak dan masih menutup matanya.


Zha berkali kali memanggil nama nya namun Halilintar masih saja tidak bergerak. Zha mengguncang guncang tubuh suami nya, tetap saja tidak ada reaksi.


Air mata Zha disertai isak tangis kembali pecah.


"Hall, ku mohon bangunlah. Jangan tinggalkan aku Hall. Dokter bilang kau sudah sadar tadi. Ada apa ini Hall?" seru Zha semakin panik melihat keadaan suami nya.


"Hall, jangan menakuti ku." Zha memeluk suaminya.


"Ternyata istriku bisa cengeng juga ya?" Suara Halilintar sedikit terkekeh dengan kedua tangan nya yang membalas pelukan istrinya.


Zha langsung mengangkat wajahnya dan reflek menampar pipi Halilintar.


"Bodoh! Kau hampir membuat ku gila dengan candaan konyol mu itu Halilintar!!" teriak Zha , rasa sedih nya seketika berubah rasa kesal mendapati sandiwara sang Suami yang hampir saja membuat jantung nya berhenti berdetak.


"Maaf Zha, aku suka jika melihat wanita iblis sepertimu bisa menangis juga." jawab Halilintar mengusap pipi nya yang terasa panas.


"Ngomong ngomong, ini sakit sayang! Aku baru saja sadar, sudah kau tampar sekuat ini." sambung Halilintar.


"Kau keterlaluan, kau membuatku takut."


"Maaf, aku terlambat menemukan mu!" ucap Zha masih melanjutkan isakan nya.


"Kau tidak terlambat Zha, terimakasih sudah datang tepat waktu." jawab Halilintar menarik wajah Zha dan kini menatap nya.


"Aku sudah membunuh pria yang bernama Gustavo itu, dan aku berhasil mendapatkan chip induk nya. Apa kau sudah menyimpan nya?"


"Iya Hall, aku sudah menyimpan nya." jawab Zha.


"Terimakasih sudah melakukan semua ini untuk ku dan kau hampir kehilangan nyawa mu." sambung Zha.


"Tidak harus ada ucapan terimakasih padaku, Kau istriku dan aku suami mu. Sudah seharusnya kita menghadapi apapun bersama sama." jawab Halilintar kembali memeluk istrinya.


"Setelah aku pulih nanti, kita akan memeriksa isi chip itu dan memecahkan nya." ucap Halilintar kembali.


"Kau jangan memikirkan itu. Pikirkan dulu kesehatan mu." jawab Zha.


Halilintar mengangguk sambil tersenyum pada Zha.


"Zha, apa sudah ada seseorang yang memberitahu mu tentang siapa Ardogama?" tanya Halilintar.


"Ya,, apa kau juga sudah mendengar nya dari seseorang?" Zha balik bertanya.


"Wanita yang bernama Alexa Abraham itu. Dia ternyata Anak angkat Ardogama dan dia lah bisa membawa ku masuk ke markas Gustavo dan dia juga lah yang menceritakan semua nya tentang keluarga mu." ucap Halilintar.


"Alexa juga yang sudah melindungi kami ketika membawa mu keluar dari sarang Gustavo. Dan saat ini wanita itu sedang membantu Ayah ku menghadapi anak buah Gustavo. Sampai sekarang aku belum menerima kabar tentang mereka. Apa Ayah ku baik baik saja atau._"


"Tidak akan terjadi apa apa pada Ayah mu. Kau harus yakin jika Ayah mu dan Alexa serta anak buah nya bisa mengatasi mereka." jawab Halilintar.


"Semoga saja. Setidak nya aku masih ingin bertemu dan bersama ayah ku." ucap Zha.


Mereka menoleh berbarengan ke arah pintu ketika mendengar suara langkah kaki. Hanzero dan Azkayra terlihat memasuki ruangan dengan Elang yang mengikuti di belakang mereka.


Azkayra dan Hanzero tersenyum kearah Halilintar.


"Jagoan ku, tidak mungkin selemah yang ku pikirkan." ucap Hanzero.


"Kau sama sekali tidak khawatir dengan Putra ku Hanz!" Azkayra menepuk lengan Hanzero.


Hanzero malah terkekeh.


"Istilah orang tua zaman dulu. Jago kena Jalu itu wajar." jawab Hanzero.


Semua yang ada ikut tertawa mendengar istilah yang di ucapkan Hanzero.


Zha yang ikut tertawa namun tidak mengerti itu akhirnya berbisik pada Halilintar karena penasaran.


"Apa itu Jalu Hall?"


"Taji yang ada di kaki Ayam jago. Apa kau tidak mengerti? Papa mengibaratkan aku seorang ayam jago yang sewajarnya jika bertarung terkena Jali musuh nya." mendengar penjelasan Halilintar Zha tertawa kencang.


"Tuan!" tiba tiba seorang wanita muncul di tengah tengah suasana riuh rendah mereka.


"Alexa!" ucap Halilintar mengenali wanita itu yang langsung mendekati Elang.


"Bisakah Tuan ikut dengan ku? Tuan Ardogama ingin bertemu dengan mu." bisik Alexa pada Elang.


Elang mengangguk. "Bagaimana dengan Adik ku?" tanya Elang sebelum melangkah.


"Tuan Ardogama hanya memintaku untuk membawa Tuan, tidak dengan Nona." jawab Alexa.


"Apa yang terjadi pada Ayah ku?" Zha berusaha bertanya pada Alexa yang sudah melangkah.


"Tidak terjadi apa apa Nona. Nona tidak perlu khawatir. Tetap lah di sini sebelum kami menjemput anda untuk menemui Tuan Ardogama." jawab Alexa.


Zha tidak bisa lagi melanjutkan pertanyaan karena Alexa sudah melangkah bersama Elang sesaat setelah Elang menepuk bahu nya guna meyakinkan Zha jika Ayah mereka pasti baik baik saja.


Namun entahlah, Zha merasa ada sesuatu yang terjadi. Ia menangkap gelagat Alexa seperti sedang menutupi sesuatu.


_______________________________