
Mereka menuju pintu istana menggunakan mobil. Dikarenakan jarak dari gerbang istana menuju pintu utama istana sangatlah jauh.
Istana memiliki luas 720.000 meter persegi. Memiliki halaman yang luas dengan sebuah air mancur yang megah di tengah halaman. Di sebelah kanan dan kiri halaman terdapat taman bunga dengan berbagai jenis bunga yang di tanam. Ada jalan yang berbentuk seperti lingkaran dikhususkan untuk kendaraan lewat.
Mobil yang ditumpangi Aldora bergerak menuju pintu utama.
Aldora memperhatikan taman yang sedikit berubah. Tanamannya tampak berganti. Ya, tentu saja itu sudah belasan tahun yang lalu.
Tampak para pengawal kerajaan berlalu lalang di sekitar halaman istana.
Untuk pertama kalinya setelah hampir 18 tahun Aldora menginjakkan kakinya di tanah halaman istana.
Setelah 18 belas tahun, akhirnya aku kembali ketempat ini. Tempat dimana aku dilahirkan. Tempat pertama yang kulihat saat membuka mata. Di tempat ini aku menangis dengan lepas untuk pertama dan terakhir kalinya. Tempat yang menjadi saksi bisu tangisan terakhir seorang anak berusia 6 tahun yang kehilangan seluruh anggota keluarganya. Tempat ini tidak akan pernah kulupakan walau setelah aku tiada. Karena disinilah kehidupanku dimulai dan berakhir. Hidupku sudah berakhir saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Papa dan Mamaku dibunuh.
Aldora berkata dalam hati dengan kebencian yang teramat besar ketika mengingat pemberontakan yang terjadi hampir 18 tahun yang lalu.
Kaki Aldora berjalan memasuki istana dengan pelayan yang membimbing jalannya.
Pelayan itu membimbing Aldora menuju kerajaan bagian selatan tempat tinggal dan tempat kekuasan pewaris tahta.
Kerajaan terbagi menjadi empat bagian tempat tinggal. Bagian pertama yaitu bagian timur kerajaan untuk tempat tinggal tamu kerajaan. Bagian timur terletak di dekat pintu utama istana.
Bagian utara adalah tempat tinggal para anggota kerajaan. Jika dari pintu masuk utama untuk pergi ke bagian utara maka berbelok ke arah kanan.
Bagian selatan adalah tempat tinggal pewaris tahta. Hanya pewaris tahta yang memiliki akses untuk masuk ke istana bagian selatan. Dan hanya orang yang diizinkan oleh pewaris tahta yang bisa masuk terkecuali Raja atau Ratu.
Dan yang terakhir bagian barat yang terletak paling jauh dari pintu utama. Disinilah pemimpin negara tinggal bersama dengan pendampingnya.
Tanpa sadar Aldora berjalan menuju kerajaan bagian barat. Tempat dimana dulu orang tuanya tinggal. Dan terkadang dia juga tinggal disana karena merasa rindu pada orang tuanya atau hanya sekedar ingin saja. Tapi kebanyakan dia lebih sering tinggal di istana bagian selatan. Katanya agar dia bisa hidup mandiri tanpa butuh pertolongan siapapun.
Aldora menatap lorong yang adalah wilayah kerajaan bagian barat.
"Papa Mama, hari ini Al tidur sama Papa Mama," ucap Aldora kepada Papa Mamanya.
"Tapi kan Al harus belajar hidup mandiri dan harus tinggal di istana selatan," ucap Mama Aldora.
"Al bosan disana Ma, Disana hanya ada pelayan dan pengawal. Kakak Sansone juga tidak boleh tinggal disana bersama Al. Kakak Sansone selalu pulang saat sore dan tidak bisa menemani Al tidur," ucap Aldora kecil.
Papa dan Mama Aldora tertawa kecil mendengar kata kata terakhir putri mereka.
"Tapi tetap saja Al itu seorang pewaris tahta dan harus hidup mandiri," ucap Mama Aldora menasehati.
"Ya, Al memang pewaris tahta. Dan sebagai pewaris tahta Al memerintahkan agar Papa dan Mama mengizinkan Aldora tidur disini," ucap Aldora dengan tegas.
Lagi lagi Papa dan Mama Aldora dibuat tertawa dengan tingkah anak kecil mereka
Papa Jarrel menggendong tubuh kecil Aldora.
"Baiklah, Putri Mahkota. Pewaris tahta Raja. Hambamu ini akan menuruti perintah Yang Mulia," ucap Papa Jarrel membuat Aldora tertawa geli bersama Mamanya.
Aldora mengangguk. Sekilas diliriknya tempat tinggal yang dulunya ditempati oleh Papa dan Mamanya. Sebelum akhirnya dia mengikuti pelayan menuju ruang kerja Pangeran Riccardo.
"Selamat sore Yang Mulia, Nona Alvina sudah datang," ucap pelayan setelah memberikan salam penghormatan dan diterima oleh Riccardo.
"Persilahkan masuk," ucap Riccardo.
Pelayan itu mengangguk dan membuka pintu untuk Aldora. Setelah Aldora masuk, Pelayan itu pamit mengundurkan diri.
Aldora menunduk berusaha menghentikan gejolak di dadanya dan berusaha untuk menenangkan diri.
Setelah merasa lebih baik, Aldora mulai memberikan salam penghormatan.
"Selamat sore Yang Mulia," ucap Aldora langsung menghentikan salah penghormatannya bahkan tanpa Riccardo yang meminta.
Tindakan Aldora membuatnya mendapat hadiah tatapan tajam dari Leon.
"Leon, pergi ke istana barat dan ambil surat dari Raja Heren," ucap Riccardo memberikan perintah kepada Leon.
"Baik Yang Mulia," ucap Leon lalu memberikan salam penghormatan sebelum pergi.
Saat berpapasan dengan Aldora, Leon memberikannya tatapan tajam yang malah ditanggapi acuh tak acuh oleh Aldora.
"Yang Mulia, ini berkas yang anda minta," ucap Aldora seraya menyerahkan berkas yang ada di tangannya.
Riccardo mengambil berkas itu dan membacanya.
"Kalau begitu saya pergi dulu Yang Mulia," ucap Aldora seperti seseorang yang sedang sesak nafas.
Saat ini Aldora ingin segera meninggalkan istana, terutama istana bagian selatan. Ternyata persiapannya selama ini tidak membuahkan hasil. Dia sudah mempersiapkan diri untuk kembali ke istana. Dan dia pikir dia pasti bisa untuk menghadapi kerajaan yang menyimpan banyak duka baginya. Namun ternyata perkiraannya itu salah.
Setelah Aldora dapat menenangkan diri dari ingatan tentang orang tuanya. Dirinya tersadar telah berada di istana selatan. Tempat dimana orang tuanya terbunuh. Mengingat itu membuat kaki Aldora gemetaran dengan keringat dingin membasahi wajahnya.
Aldora sudah membalikkan badannya dam bersiap untuk pergi ketika suara Riccardo menghentikannya.
"Tunggu dulu. Nona Alvina ada yang perlu kita bicarakan. Anda duduklah dulu," ucap Riccardo.
Aldora memejamkan matanya dan memegang dadanya yang disana jantungnya sedang berdegup dengan kencang akibat ketakutannya.
Kejadian 18 tahun lalu menyisakan trauma besar untuk anak berusia 6 tahun itu. Aldora berpikir seiring berjalannya waktu dia sudah melupakan traumanya itu namun ternyata traumanya masih tersimpan dengan sangat pekat didalam dirinya.
Al kamu harus kuat. Jangan terlihat lemah dihadapan siapapun, terutama dihadapan musuhmu. Jangan ingat tentang kematian itu, ingat saja tentang keinginan Papa. Kamu harus mengambil alih semua yang telah direbut. Kamu harus kuat Al, jangan lemah!
Aldora berbalik dan berjalan dengan langkah yang dia usahakan agar terlihat elegan seperti biasanya menuju kursi yang ada di depan Riccardo.
Aldora duduk dengan perlahan dengan tetap menunduk berusaha menyembunyikan ketakutannya.
"Nona Alvina, untuk pertemuan yang akan diadakan untuk menandatangani perjanjian dengan perusahaan Jerman saya berharap Nona Alvina dapat menjadi utusan perusahaan. Karena mungkin dalam beberapa hari ini saya akan sibuk dengan urusan kerajaan," ucap Riccardo.