
Masih di kediaman rumah utama, namun kali ini tepat nya di dapur milik keluarga Samudra setelah acara makan malam usai, Riana dan Azkayra terlihat duduk berhadapan, kedua nya melempar pandangan dan sama sama tersenyum simpul.
"Kau senang Nyonya.?" tanya Riana meneguk air mineral dingin yang ada di genggaman.
"Jangan panggil aku Nyonya. Bukan kah sekarang kita sudah menjadi besan.?"
"Ah ya,.. Em Besan ah. Seperti sangat kaku. Biar lah, Saya akan tetap manggil mu Nyonya. Tidak perlu keberatan dengan panggilan ku karena itu terasa lebih nyaman." ucap Riana.
"Terserah ibu saja kalau begitu." kembali kedua wanita itu tersenyum.
"Bagaimana._"
"Aku senang sekali. Terimakasih atas kerja sama nya. Percaya lah. Kami akan menjaga Kanzha dengan nyawa kami." Azkayra segera memotong pertanyaan dari Riana.
"Saya yang seharusnya berterimakasih Nyonya, ini adalah harapan ibu nya, Kanzha menikah dan bisa hidup bahagia , tidak seperti kami." mata Riana mulai berkaca kaca hingga kristal bening lolos ke pipi nya lalu segera mengusap tanpa ada isakan dari mulut nya.
"Amin... semoga." ucap Azka.
"Apa ibu sangat mengenal menantu ku dengan baik.? Em maksud ku dari dia bayi.?"tanya Azka setelah melihat Riana sudah mulai tenang kembali.
"Tidak, kami bertemu sekitar Zha berumur tujuh atau sepuluh tahun, begitu. Saat kami bertemu dan saling dekat , Aisyah memang sudah tidak bersuami." jawab Riana.
Azka hanya tersenyum saja mendengar penjelasan dari Riana, padahal di dalam hati nya ia merasa kecewa, keinginan nya untuk mengorek lebih dalam lagi tentang kehidupan masa lalu Zha dari Riana sia sia karena wanita di hadapan nya itu ternyata tidak mengetahui apa apa tentang masa bayi Zha.
"Tinggallah beberapa hari di sini Bu.? Aku senang bisa ada teman mengobrol." Azka menawarkan Riana untuk tinggal beberapa hari di Rumah Utama.
"Maaf Nyonya, tapi saya tidak bisa. Nyonya tau sendiri kan jika ada adik Zha yang masih sekolah. Saya harus menemani nya. Saya titip Zha pada Nyonya. Jangan sungkan untuk memarahi nya jika Zha tidak menurut. Anggap saja anak Nyonya sendiri karena saya yakin Nyonya sudah mengenal menantu Nyonya itu dengan baik. Zha itu gadis yang sangat lain dari pada yang lain."
jawab Riana.
"Tidak perlu khawatir. Kau sudah tau alasan ku kenapa aku sangat ingin menjadikan nya menantu ku." ucap Azka.
"Ya Nyonya, saya mengerti sekali. Di zaman sekarang memang susah menilai mana wanita baik atau hanya pura pura baik. Apalagi untuk pendamping seorang pewaris keluarga Samudra. Semoga Nyonya tidak kecewa dengan pilihan Nyonya sendiri."
"Kau tenang saja. Sudah ku katanya berkali kali padamu, pilihan ku tidak akan salah. Aku tau hati Kanzha itu seperti apa, bahkan aku menyukai nya sejak pertama kali aku mengenal nya." jawab Azka.
Kedua nya kembali tersenyum.
"Kalau begitu , saya pamit Nyonya. Jemputan sudah datang, saya harus segera pulang. Sampai kan salam saya pada Tuan Hanzero." ucap Riana ketika melirik hp milik nya dan membaca pesan singkat dari Zha tentang Elang yang sudah berada diluar Rumah Utama, menjemput Riana untuk mengantar nya pulang.
"Apa kau tidak mau berpamitan dengan Kanzha.?"
"Tidak perlu, tadi saya sudah berpamitan."
"Baik lah, mari ku antar keluar." ucap Azka berdiri dan mendahului Riana.
Begitu lah kedua wanita itu yang seperti nya mereka sudah pernah bertemu dan berbicara serius sebelum pertemuan kali ini dan sebelum obrolan malam ini.
****
Kanzha masih dengan perasaan gelisah nya membanting tubuh nya di ranjang milik Halilintar sambil terus menenggelamkan wajahnya di bantal. Ia lupa ,jika dirinya kini sudah berstatus istri Halilintar yang saat ini tengah duduk di tepi ranjang di mana Tubuh nya tengkurap di sana.
Halilintar sendiri masih merasa jika ini seperti mimpi. Menikah secepat itu dengan kekasih pujaan hatinya, wanita pembunuh yang sudah menguasai hati nya itu.
Ia memang menginginkan hal itu, tapi tidak juga ingin pernikahan terjadi dengan mendadak dan dengan Alasan yang memalukan seperti itu.
Tapi lagi lagi pria itu bersyukur, jika bukan karena Bibi Zha, mungkin Halilintar akan butuh waktu yang tidak sebentar untuk menaklukkan hati Zha agar bersedia menikah dengan nya.
Halilintar seperti nya perlu berterimakasih pada Bibi nya Zha dan juga pada kejadian yang menimpa nya dan Zha yang akhirnya membawa nya pada status yang spesial ini.
Walau tidak di pungkiri rasa bersalah karena harus melihat Zha terpaksa menikah dengan nya apalagi dengan tidak ada nya pesta sedikit pun. Halilintar berjanji kelak jika waktu nya sudah tepat, ia akan mengada kan pesta meriah untuk resepsi pernikahan nya yang pasti nya akan tertunda dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Halilintar sadar, jika istri nya bukan lah orang biasa yang bisa semudah itu berada di sebuah pesta apalagi bersanding dengan nya. Apalagi jika Halilintar mengingat kalau Zha adalah buronan detektif Victor yang saat ini sudah mengetahui siapa sebenarnya orang yang ia cari selama ini.
"Zha,." ucap lirih Halilintar dengan tangan nya yang membelai lembut rambut gadis itu.
Zha menoleh dan langsung duduk ketika menyadari jika Halilintar sudah duduk di samping tubuhnya berbaring.
"Berganti lah, pelayan sudah menyiapkan baju tidur mu di lemari itu." ucap Halilintar menunjuk sebuah lemari besar.
"Kenapa harus ganti.?"
"Tidak apa lah, hanya saja .. apa kau nyaman tidur dengan pakaian seperti itu.?"
Zha melirik baju nya, benar saja. Ia sampai lupa jika ia masih mengenakan kebaya.
Zha pun bangun dan menghampiri lemari untuk mengambil sepasang piyama dan bergegas ke kamar mandi.
Lama berada di sana Zha kini sudah keluar dengan baju piyama melekat di tubuh nya.
"Aku mau tidur, menyingkir lah.!" ucap Zha pada Halilintar yang masih duduk di sisi ranjang.
"Lalu aku.?"
"Hah.. maksud mu apa.? Terserah kau mau tidur di mana. Yang jelas jangan di sini.!"
"Zha, ini kamar ku kan.? Dan ini ranjang milik ku. Kau mengusir pemilik nya.?" Halilintar mendekat kan wajah nya.
"Oh iya,benar katamu. Ini kamar mu. Maaf, Baiklah aku akan keluar dan tidur di luar." ucap Zha .
"Ah, Zha.. baik lah baik lah, Aku tidur di sofa." ucap Halilintar. Untung Halilintar segera sadar akan kesalahannya. Jika Zha benar benar keluar dan tidur di luar, apa kata seisi Rumah. Dan Nyonya Azkayra pasti akan murka padanya.
Halilintar masih belum juga beranjak dari sisi ranjang malah menatap dalam mata gadis itu membuat Zha geram.
"Hei, apa yang sedang kau pikirkan mesum.?"
"Mesum.? Kau lupa atau pura pura lupa Zha, kau sekarang istri ku dan aku berhak menatap mu tanpa boleh ada yang melarang lagi." sambar Halilintar.
"Oh ya kau benar. Tapi apa kau lupa jika pernikahan kita terjadi hanya._.."
"Hanya apa? Terpaksa.? Karena salah paham.? Tidak Zha.. Aku menikahi mu karena aku mencintai mu,jika tidak aku tidak mungkin mau melakukan nya apapun alasan nya." jelas Halilintar membuat Zha kini memundurkan wajah nya karena pria itu makin mendekatkan wajah nya.
"Tapi, tidak ada perjanjian apapun dalam pernikahan kita selain hanya untuk menyelamatkan nama baik keluarga mu. Bukan kah hanya itu tujuan awal kita.?"
"Kalau begitu, mulai malam ini akan ada perjanjian yang akan kita sepakati bersama." ucap Halilintar kini sudah memegang kedua pipi Zha yang memerah.
"Apa Hall,? Kau jangan macam macam." jantung Zha sudah berdebar tak karuan saat menangkap tatapan pria itu yang seolah menggenggam hati nya.
"Hanya satu macam saja." jawab Halilintar menarik tubuh Zha dan mendekap nya.
"Tetap lah bersamaku apapun yang terjadi." lanjut pria itu.
"Apa kau bisa di percaya.?"
"Tentu."
"Tapi, aku .. Aku dan kau itu berbeda jalan Hall.? Kita tidak mungkin bisa seiring."
"Kalau begitu aku akan membuat kita sama dan seiring. Agar kau tidak punya alasan lagi untuk menjauhi ku." Halilintar kini menyambar bibir Zha dan mulai mellumatt dengan rakus namun lembut membuat Zha sontak mendorong tubuh Halilintar , namun tangan kekar Halilintar yang sudah menguasai Zha terus mendekapnya dengan kuat. Zha berusaha menenangkan jantung nya yang terus berdegup, ia sadar jika selama Halilintar masuk ke dalam hidup nya ia merasakan sesuatu yang lain. Tidak bisa di pungkiri jika apapun yang dilakukan pria itu diam diam mafia kejam seperti Zha itu menyukai nya.
Halilintar terus meneruskan aksi nya, mengobrak ambrik pikiran gadis itu yang kini mulai menyerah dan tanpa Zha sadari Tubuhnya mulai berkhianat dengan pikiran nya. Tubuh nya bergerak dengan sendiri nya mengikuti pergerakan Halilintar bahkan semakin liar.
Kini Zha fokus pada tangan kekar Halilintar yang mulai menjamah tubuh nya dan sudah bergerilya ke setiap lekuk tubuhnya, Zha pun bahkan tak habis pikir jika kini ia sudah berbaring di bawah tubuh Halilintar dan semua berjalan begitu saja.
bersambung..