Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Kembali menemukan ruangan rahasia.


Setelah bermalam semalam saja di Rumah Utama, mengingat rencana mereka yang harus pergi menemui Pemimpin perusahaan JP Group, pagi ini Halilintar kembali mengajak Zha untuk pulang ke Mansion milik istrinya, di mana di sana Elang dan Alexa sudah menunggu mereka.


Akhirnya mobil milik Halilintar keluar juga dari pagar besi milik keluarga Samudra setelah melewati berbagai ceramah panjang lebar dari Nyonya Azkayra tentu nya seputar nasehat untuk mereka menjaga calon Cucu Azkayra.


Sepanjang perjalanan , Halilintar tak hentinya tersenyum dan melirik Zha yang hanya memasang wajah biasa saja itu. Entah kenapa Zha pagi ini seperti itu, tidak seperti kemarin dan semalam yang begitu terlihat bahagia akan kabar adanya calon bayi kembar di rahim nya.


"Zha, kau kenapa?" Halilintar mengelus rambut Zha.


"Memang kenapa?" Zha malah balik bertanya.


"Seperti nya kau sedang tidak senang?" Halilintar mencoba menebak.


"Aku senang Hall. Tapi tidak harus lonjak lonjak juga kan? Cukup di sini saja." Zha menunjuk dada nya.


Halilintar tergelak lepas. " Kau memang hebat. Jika di luar rumah saja, semua ekspresi mu bisa sedatar itu. Lain jika di dalam kamar saat bersama ku." ucap Halilintar sengaja menggoda Zha.


Bukkkk...!!! Satu pukulan mendarat di bahu Halilintar.


"Jangan meledekku Hall!" jerit Zha kini raut wajah nya berubah merah merona menahan malu. Benar saja apa yang di katakan Halilintar, semua ekspresi dan perasaan Zha akan berubah total jika sudah bersama Halilintar di dalam kamar. Wajah datar dan tatapan yang sulit di tebak dari Zha akan sirna terganti rengekan dan senyuman manja nya.


Membayangkan itu, Halilintar semakin bergelak lepas.


"Hall.!" jerit Zha.


"Ah, baik baiklah. Maafkan aku. Aku hanya ingin bercanda." ucap Halilintar mengusap wajah istrinya yang seketika manyun itu, dan kini Halilintar kembali fokus menyetir.


Setelah beberapa saat melaju, mobil mereka pun sampai juga di Mansion Zha. Elang dan Alexa sudah ada di depan pintu menyambut kedatangan mereka.


Tidak seperti biasanya, Alexa langsung menghampiri Zha dan meraba perut Zha.


"Nona Zha, benarkah calon bayi kalian kembar?"


"Dari mana kau tau?" Zha balik bertanya karena merasa belum memberi kabar apapun pada mereka.


"Elang." jawab Alexa.


Zha bukannya menoleh pada Elang malah menoleh pada Halilintar yang langsung tersenyum nyengir seakan mengakui jika memang dialah yang sudah memberitahu Kakaknya.


"Pamer sekali!"


"Itu karena aku bahagia Zha, tidak bisa terbendung kan." jawab Halilintar menggaruk rambut nya padahal tidak gatal.


"Aku ikut senang mendengarnya. Akhirnya aku akan mendapatkan keponakan dua sekaligus." ucap Elang.


Mereka melangkah masuk dengan penuh bahagia. Dan kali ini terpaksa mereka harus memendam dulu rasa kebahagiaan itu karena harus terfokus pada pemimpin perusahaan JP Group akan segera mereka temui hari ini juga.


Hanya duduk sebentar untuk menyusun rencana , mereka akhirnya kembali melangkah keluar dan menaiki satu mobil yang sama. Masih saja Elang yang selalu berlaku menjadi sang sopir , ia melajukan mobil itu dan hari ini juga mereka tidak membawa satu pun anak buah demi keamanan niat mereka.


Niat mereka kali ini datang dengan baik baik dan tidak ingin ada nya perdebatan apalagi perkelahian. Mereka hanya perlu sebuah informasi mengenai penjelasan siapa sebenarnya yang ada di balik perusahaan JP Group itu.


Tak lama setelah menempuh perjalanan, mobil mereka sudah memasuki sebuah parkiran gedung yang mereka tuju itu. Elang melangkah duluan bersama Alexa, sementara Halilintar mengikuti dari belakang dengan menggenggam erat tangan istrinya.


Di sambut beberapa penjaga yang langsung memeriksa mereka dengan teliti di sana.


Setelah mengutarakan maksud tujuan mereka pada para penjaga itu, mereka hanya mendapatkan penolakan mentah mentah oleh penjaga itu.


"Pemimpin kami tidak bisa sembarang bertemu dengan siapa pun. Apalagi kalian tidak mempunyai janji dengan beliau. Jadi maaf, sebaik nya kalian pulang saja. Karena semua itu hanya akan percuma." ucap Penjaga itu.


"Tolong lah pak, sebentar saja. Kami hanya ingin bertemu dengan pemimpin kalian,tolong ijinkan." kembali Halilintar mencoba meminta pengertian penjaga.


"Maaf, ini sudah menjadi peraturan kantor ini." kembali penjaga itu menolak mereka.


Halilintar menoleh pada Zha dan Elang , seperti mengatakan apa yang harus di lakukan untuk meyakinkan penjaga itu.


Zha terlihat menarik nafas geram. Lalu menghampiri penjaga itu.


"Cepat panggil pemimpin kalian atau kepalamu akan putus saat ini juga. Dan ku ledak kan gedung ini beserta seluruh isinya!" Zha tiba tiba menekuk tangan penjaga itu ke belakang dan menaruh belati tepat dileher nya.


Membuat penjaga itu kaget dan bergetar.


Entah bagaimana cara Zha menyembunyikan belati dan sebuah bom hingga bisa lulus sensor itu yang kini sudah di genggam nya di tangan kiri nya sementara tangan kanan nya masih setia menempelkan belati nya pada leher sang penjaga.


"Zha!" jerit Halilintar melihat kenekatan istrinya.


"Diam! Aku paling tidak bisa bertoleransi. Kita datang baik baik tapi mereka tidak bisa di ajak baik baik." jawab Zha.


"Cepat panggil atau?"


"Baik Nona, tolong turun kan senjata anda." jawab penjaga satu nya tak kalah bergetar tubuhnya menyaksikan ancaman Zha yang seperti nya tidak lah main main itu.


"Bawa dulu pimpinan kalian kehadapan kami, sekarang! " ancam Zha mengangkat benda yang ada di genggaman nya.


Zha melepaskan penjaga yang ia sandera tadi dengan mendorong kasar tubuh nya.


"Jangan berani macam macam , atau aku akan meledak kan benda ini!" ancam Zha.


Sementara mata Alexa terus mengawasi sekeliling mencari cari keberadaan Cctv.


"Apa yang kau cari?" tanya Elang.


"Kita harus bisa menghancurkan Cctv nya segera. Tapi aneh, kenapa gedung semewah ini tidak ada Cctv nya?" Alexa keheranan karena memang tidak ditemukan Cctv di sekitar mereka.


Halilintar pun menangkap keganjilan tersebut. Namun tak lama mereka tenggelam dalam keanehan ruangan itu penjaga tadi sudah muncul bersama seorang laki laki paruh baya yang langsung menatap tajam Zha dan Elang secara bergantian.


"Sepertinya ada tamu penting yang tidak kami undang datang kemari?" tanya pria itu.


"Apa Anda pemimpin Perusahaan ini?" tanya Elang juga menatap tajam ke arah pria itu.


"Perkenalkan, saya Mr,Ferdan."


"Kami bertanya, apakah kau benar pemimpin perusahaan ini?" kini Zha yang beralih bertanya pada pria yang mengaku bernama Mr.Ferdan itu tanpa menghiraukan perkenalan diri dari pria tersebut.


Mr.Ferdan tidak menjawab, malah menatap tajam pada Zha dan kemudian menatap perut Zha yang sudah mulai membuncit itu, lalu beralih menatap Halilintar yang kini menggenggam erat tangan Zha.


"Putra dari Tuan Hanzero! Apa kalian sepasang suami istri?" tanya Mr.Ferdan pada Halilintar yang seperti nya mengenali Halilintar sebagai putra Hanzero.


"Ya, kau benar Tuan. Jadi, tolong jawab pertanyaan istri ku." jawab Halilintar.


Pria itu hanya tersenyum, dan memutar tubuhnya untuk melangkah.


"Tunggu!" ucap Elang.


"Silver anchor son and daughter! Apa kau mengerti dengan kode itu?" sambung Elang mengucapkan kata sandi yang ia peroleh dari Mansion Glendale dan menunjukan sebuah kertas tulisan tangan Ardogama pada pria itu.


Mendengar ucapan Elang ,pria itu tidak terkejut hanya menoleh saja, dan menghentikan langkah nya, lalu memeriksa tulisan tangan itu yang lengkap dengan stempel resmi milik Klan Jangkar perak.


"Kau boleh meragukan kami. Tapi stempel itu. Ku rasa kau mengenalinya dan tidak akan sanggup untuk tidak mempercayai nya." ucap Elang lagi.


Mr.Ferdan terlihat menarik nafas.


"Pemimpin perusahaan ini masih ada urusan. Dan aku adalah orang kepercayaannya." jawab nya.


"Temukan kami dengan nya!" ucap Zha.


"Pemimpin perusahaan ini sudah mempercayakan urusan ini pada ku, sebaiknya sekarang kalian ikut masuk dengan ku." jawab Mr.Ferdan.


"Apa kau bisa di percaya untuk memberi kami informasi yang akurat?" tanya Elang.


"Kita lihat saja nanti. Karena semua nya harus melalui proses." jawab Mr.Ferdan.


Sebenarnya saat ini juga, ketika menatap wajah Zha dan Elang, Mr.Ferdan sudah bisa mengenali mereka karena kemiripan wajah mereka dengan wajah Sean Abraham dan Aishe Glendale. Namun untuk memastikan nya Mr.Ferdan tidak ingin gegabah sedikitpun.


Akhirnya mereka melangkah mengikuti Mr.Ferdan menuju ruangan nya.


"Saya hanya meminta simpel darah kalian untuk membuka pintu ini." ucap Mr.Ferdan setelah tiba di dalam ruangannya.


"Jika kau berani memberi informasi yang tidak benar, maka aku akan mengupas seluruh kulit mu. Dengar itu!" ancam Zha pada pria yang masih saja terlihat tenang itu.


"Zha, turunkan emosi mu. Itu tidak baik untuk baby kita." bisik Halilintar mencoba menenangkan emosi istrinya yang sudah mulai tidak terkontrol.


"Silahkan Nona dan Tuan. Darah kalian lah yang akan memastikan apakah kalian bisa mendapat kan semua informasi yang ingin kalian dapatkan." ucap Mr.Ferdan pada Zha dan Elang.


Zha dan Elang kini melangkah perlahan mendekati pintu besi di hadapan mereka. Lalu menggores kembali telunjuk mereka seperti saat di Mansion Glendale tempo lalu secara bergantian dan menempelkan darah mereka di sana. Tak lama kemudian, pintu itu benar benar terbuka dengan sendiri nya.


"Sudah ku duga, hari yang kami nantikan ini akan segera datang." ucap Mr.Ferdan pada Zha dan Elang yang masih terpaku di depan pintu itu.


"Apa maksudmu?" tanya Zha.


"Tidak ada satupun yang bisa membuka pintu buatan Tuan Sean Abraham ini. Bahkan kami tidak ada satu pun yang pernah memasuki ruangan ini. Menurut beliau hanya darah keturunan Tuan Glendale lah yang bisa membuka nya." jawab Mr.Ferdan kini mempersilahkan mereka untuk memasuki ruangan itu.


"Cari lah apa yang kalian ingin ketahui. Setelah itu, Kami akan membawa kalian untuk menemui Pimpinan perusahaan ini." ucap Mr.Ferdan melangkah mundur meninggalkan mereka yang kini melangkah masuk ,mereka kembali melihat sebuah ruangan rahasia buatan Ardogama alias Sean Abraham dan kembali menemukan satu fakta yang membuat mereka sekali lagi harus menahan nafas.


*****


Ikuti kisah mereka selanjutnya, yang mungkin sedikit beralur lambat karena author nya masih belum fokus.


Apa fakta yang akan mereka ketahui kali ini? Baik atau buruk lah? Dan siapa sebenarnya sosok yang menjadi Pemimpin perusahaan JP Group sebenarnya? Apakah mereka mengenal nya..??? Atau orang asing bagi mereka?


Tetap ikuti part selanjutnya untuk sebuah kejutan besar yang diluar dugaan mereka dan mungkin juga diluar dugaan kita!!


_______________________