
Hanzero maupun Halilintar sama sama menatap Victor yang sudah berdiri di depan pintu, kali ini Victor datang tidak sendiri melainkan ada tiga polisi di belakangnya.
"Selamat siang Tuan Hanz dan Halilintar. Maaf jika kami mengganggu waktu kalian." ucap Victor.
"Selamat siang juga. Silahkan masuk." sahut Hanzero.
Victor melangkah masuk dan duduk bersama Hanzero dan Halilintar yang juga kemudian ikut duduk. Sementara tiga polisi teman Victor tadi tetap berada di luar.
"Bagaimana kabar mu Hall, lama kita tidak bertemu?" tanya Victor.
"Kabarku baik baik saja." sahut Halilintar datar.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sering mengkhawatirkan mu." ucap Victor.
Sejenak suasana canggung terjadi di antara mereka. Hingga akhirnya Halilintar menatap tajam Victor dan membuka suara.
"Sebenarnya, ada kepentingan apa sampai kau datang kemari dengan membawa polisi?"
"Hall, Tuan Hanz. Sebelumnya aku minta maaf. Sebenarnya ini adalah suatu yang berat untuk aku sampai kan. Tapi karena tugas ku, ini menjadi sebuah keharusan." ujar Victor. Sejenak menghela nafas dan kemudian kembali menatap Halilintar.
"Aku datang kemari untuk menangkap istri mu. Pihak kepolisian sudah menemukan bukti jika Nona Zha lah yang sudah membunuh Mr.Frankyn dan Nona Cecilia serta beberapa Pengusaha lain nya."
Baik Halilintar maupun Hanzero sama sama tersentak dan cepat berdiri dari duduk nya.
Halilintar langsung menyambar kerah baju Victor.
"Kau bahkan tidak menghargai ku sebagai sahabatmu lagi?"
"Maafkan aku Hall, tapi ini sudah menjadi tugas ku. Dan semua bukti yang ada terarah pada Nona Zha. Aku sendiri tidak bisa menghindari nya lagi." jawab Victor.
"Aku tidak mengijinkan siapapun menangkap istri ku. Jika kau tetap melakukan itu. Maka kau mengobar kan api perang dengan ku!" bentak Halilintar melepaskan kerah Victor dan kembali duduk.
Sementara Hanzero kini mendekati Victor.
"Aku tau menantuku salah, semua itu ia lakukan ketika ia berada di dunia nya. Tapi sekarang dia sudah menjadi bagian keluarga ini. Dan ku pastikan kejadian itu tidak mungkin terulang lagi. Jadi, demi keluarga Samudra seharusnya kau bisa berbuat sesuatu untuk membantu kami melindungi nya. Bukan malah hendak menangkap nya." .
"Sekali lagi maafkan Aku Tuan Hanz, bukan aku tidak memandang keluarga Samudra. Tapi ini sudah menjadi keputusan Pemerintah. Dan aku tidak bisa menentang nya." Tukas Victor.
"Meski kau tau , yang kau hadapi adalah keluarga Samudra. Dan saat ini bukan hanya Keluarga Samudra yang akan melindungi Zha , tapi Keluarga Jangkar Perak?" tegas Hanzero menatap tajam Victor.
"Aku tau itu Tuan. Tapi aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat ini."
"Kau takut kehilangan pekerjaan mu? Aku akan memberikan apapun untuk mu Vic, asal kau mau melepaskan Menantu ku!"
"Tuan. Bukan masalah pekerjaan. Melainkan suatu kebenaran yang sudah seharusnya diungkapkan. Kita hidup di negara hukum. Dan hukum di negara ini harus di tegakkan."
"Aku tidak peduli. Sekali lagi ku tegas kan. Apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh istriku!" teriak Halilintar.
"Hall.!!" suara Zha memanggilnya suaminya. Zha sudah berdiri di belakang mereka. Menatap ketiga pria yang sedang bernegosiasi itu. Zha yang sudah mendengar semua pembicaraan mereka melangkah menghampiri mereka.
"Zha! Kenapa kemari. Kembali lah keatas." Halilintar mendekati istrinya.
"Hall, aku memang harus menebus semua kesalahanku. Biar kan kali ini Victor menangkap ku, aku akan menjalani hukuman ku." ucap Zha membuat Halilintar seketika tercengang.
"Tidak Zha , aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Halilintar mengguncang bahu Istrinya.
"Dengarkan aku kali ini Hall. Dengan demikian nama baik keluarga Samudra tidak akan tercemar. Apa kau tidak memikirkan nama baik keluarga mu yang kan tercemar karena melindungi seorang buronan.?"
"Zha, Jangan mempedulikan nama baik. Saat ini itu tidak lah penting . Kau sudah menjadi bagian keluarga ini. Tugas kami melindungi mu!" sahut Hanzero.
"Tapi Pa, yang kalian lindungi adalah seorang pembunuh yang sudah menghilangkan banyak nyawa." jawab Zha.
"Aku tidak peduli. Victor! Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi sebelum aku benar benar marah!" ucap Hanzero menunjuk kasar ke arah Victor.
"Tuan, mohon kerja sama nya."
"Brengsekk!! Kau tidak mendengar kan kami." Halilintar kini maju menghampiri Victor yang sudah berdiri.
Buggg...!!
Satu tinjuan Halilintar mendarat di wajah Victor, membuat pria itu terjungkal. Victor kembali berdiri, mengusap ujung bibirnya yang sudah berdarah.
Halilintar kembali mengangkat tinjunya.
"Hall. Hentikan!" Zha segera melerai suaminya.
"Kau tidak perlu melakukan ini Hall. Aku sudah memutuskan untuk menyerahkan diri ke polisi. Semua ini demi kebaikan kita. Aku tidak mau selama nya hidup dalam bayangan rasa bersalah yang terus menghantui ku!" ucap Zha.
"Kasus ku kali ini lain Hall? Yang ku bunuh adalah para pengusaha bukan para mafia.!"
"Tidak Zha. Apapun itu. Jangan lakukan ini. Bagaimana dengan putri kita? Mereka masih membutuhkan mu Zha. Aku akan melindungi mu. Aku tidak peduli jika harus menentang pemerintah sekalipun. Tetap lah di sini untuk kami. Kasian Putri kembar mu jika harus hidup tanpa mu Zha. ku mohon!" ucap Halilintar memeluk Zha dengan kuat.
"Apa! Putri??" Victor sempat terkejut mendengar ucapan Halilintar.
"Ya. Putri kembar. Apa kau tidak tau, jika Zha baru saja melahirkan putri kembar Halilintar. Cucu ku! Penerus kami Vic. Ku mohon berpikirlah kembali untuk menangkap Zha. Setidak nya lakukan ini untuk kedua putri Halilintar. Mereka masih terlalu bayi untuk di tinggalkan ibu nya." ucap Hanzero.
Victor mengusap kasar wajahnya.
"Hall, dengarkan aku! Kau bisa menjaga mereka dengan baik. Sementara aku menjalani hukuman ku. Aku akan kembali pada kalian setelah aku menebus semua kesalahanku!" ucap Zha ,kini menoleh pada Victor.
"Bawalah aku!" ucap Zha menghampiri Victor dan mengulurkan kedua tangan nya.
Sejenak Victor menatap wajah datar Zha, setelah kemudian ia mengeluarkan sebuah borgol dan menempatkan pada kedua pergelangan tangan Zha.
"Maafkan aku." ucap lirih Victor.
"Tidak Zha. Kau tidak boleh pergi!" Halilintar menarik Zha dan berusaha membuka borgolnya.
"Vic. Lepas kan istri ku Vic. Ku mohon! Apapun akan ku lakukan jika kau mau melepaskan nya." kini Halilintar bersimpuh memegang lutut Victor. Memohon pada laki laki itu.
Melihat itu , mata Zha berkaca kaca.
"Aku akan baik baik saja Hall. Jangan merendahkan dirimu hanya untuk melindungi ku."
"Tidak Zha. Kau tidak boleh pergi meninggalkan kami." kini Halilintar beralih memegang kedua lutut istrinya.
"Maafkan aku Hall. Aku hanya ingin melepaskan semua beban kita." Zha melangkah di ikuti oleh Victor.
"Victor! Kau benar-benar tidak memandang Keluarga kami!" kini Hanzero memekik.
"Sudah lah Pa! Ini yang terbaik untuk kita semua."ucap Zha pada mertua nya.
"Tidak Zha. Kau harus tetap bersama anak dan cucu ku. Disini di rumah ini. Kau tidak boleh kemana mana." jawab Hanzero.
Zha menoleh pada Victor dan mengangguk samar, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Zha!!" pekikan Elang yang berlari ke arah Zha.
"Elang!" Zha tersenyum kearah Elang yang kini sudah memegang kedua tangannya.
"Titip Zhellin dan Zhillan. Kau pasti bisa membantu Halilintar untuk menjaga mereka." ucap Zha.
"Kau tidak boleh pergi. Jika kau memang harus pergi, aku akan menemanimu. Bukan kah aku juga terlibat dengan semua tindakan mu?"
"Kau hanya membantu ku Elang. Semua perbuatan ku sendiri. Jadi, biarkan aku sendiri yang bertanggung jawab."
"Tidak. Kau! Jika kau membawa adik ku. Maka kau harus membawa serta aku. Karena aku juga terlibat dengan kasus pembunuhan yang di lakukan nya." ucap Elang pada Victor.
"Semua bukti hanya terarah pada Nona Zha. Saya tidak bisa membawa orang lain." sahut Victor.
"Aku juga terlibat. Tangkap aku. Jika perlu, aku yang akan menggantikan semua hukuman untuk Zha!"
"Elang! Cukup! Kau jangan bodoh. Aku yang bersalah, dan aku yang harus bertanggung jawab. Victor jangan hiraukan dia." Zha kembali melangkah bersama Victor dan langsung di sambut oleh tiga polisi yang sudah menunggu mereka di depan, meninggal kan mereka yang tidak bisa berbuat apa apa.
Mereka hanya bisa menatap langkah kaki Zha dengan perasaan yang penuh sesak, kesedihan dan Amarah menyelimuti ketiga pria hebat itu.
Sementara Azkayra , Aisyah dan Alexa yang baru saja turun dan menyadari apa yang terjadi langsung histeris. Terlebih Aisyah.
Wanita itu memukul mukul dada Elang yang berusaha menenangkan nya.
"Kenapa kau bisa membiarkan mereka membawa Adik mu!"
"Maaf kan Elang Bu, ini kemauan Zha sendiri. Kami tidak bisa mencegahnya."
"Tidak Elang. Ibu tidak rela. Bagaimana dengan kedua ponakan mu yang masih merah itu? Kau bodoh Elang , kau bodoh. Lakukan apapun untuk membawa Zha kembali. Bawa Zha pulang ,Elang! Bila perlu bentuk kembali Klan Jangkar perak.!" teriak Aisyah.
"Ibu , apa yang kau katakan?"
" Elang. Dengar ibu. Lakukan perintah ku sekarang! Kumpulan seluruh anak buah Poison Of Death dan anak buah Klan Selatan. Ibu tidak peduli, meskipun harus melawan Pemerintah sekali pun!"
___________________________