
Sudah hampir dua Minggu lamanya pasangan Zha dan Halilintar tinggal di Mansion Zha. Wanita ketua Mafia dari klan Poison Of Death itu sudah mengurangi waktu nya untuk bisnis gelapnya. Zha hanya sesekali pergi bersama Elang. Dan waktunya banyak di habiskannya bersama Halilintar sang Suami yang saat ini sudah membuat Zha merasa di cintai dan mencintai itu.
Azkayra dan Riana juga sesekali datang untuk menengok Zha, sekedar untuk mengobrol santai dan menemani waktu siang Zha. Dengan senyum bahagia mereka menatap Zha dan berharap agar Zha cepat hamil dan memberi mereka seorang cucu.
Sementara Halilintar satu Mingguan kemarin sudah kembali sibuk mengurus perusahaannya dan melupakan kerja sama nya dengan detektif Victor.
Dengan bantuan Hanzero tentunya, Victor tidak lagi menuntut Halilintar untuk menyerahkan Zha sebagai salah satu yang di curigai terkait kasus pembunuhan segelintir Para Pengusaha besar di tanah air ini . Namun mereka tidak mengetahui jika sebenarnya Victor masih berusaha keras untuk mengungkap kasus ini dan tetap menaruh kecurigaan nya pada wanita yang kini menjadi Istri sahabatnya itu.
Kita kembali lagi bersama sepasang suami yang sedang di mabuk asmara itu.
Pagi ini pertama kali nya Zha berhasil membuat satu piring nasi goreng yang langsung Zha bawa ke kamar nya untuk di berikan pada suami tercinta.
"Bagaimana rasanya Hall.?" tanya Zha sedikit ragu dengan nasi goreng hasil tangan nya itu.
Halilintar tersenyum kepada istri nya ketika suapan pertama nya.
"Lumayan sayang...! Hanya._"
"Apa..?" Zha yang penasaran pun menyendok nasi tersebut dan mencicip nya.
"Cih...!" Zha meludah.
"Apanya yang lumayan.. ini Asin Hall..!!" teriak Zha.
Halilintar terkekeh melihat Zha yang langsung bermuram durja itu.
"Hanya sedikit asin kok, aku Suka. Biar ku habis kan jika kau tidak mau." ucap Halilintar cepat memakan nasi goreng buatan istri nya itu.
"Jangan di paksakan Hall, nanti kau sakit perut." ucap Zha merasa gagal dengan usaha nya untuk membuatkan sarapan sang suami.
"Terlambat, ini sudah habis. Lihat lah." Halilintar menunjuk kan piring yang sudah kosong itu.
Zha hanya tersenyum melihat itu, ia yakin jika Halilintar hanya ingin menyenangkan hati nya dan terpaksa menghabiskan nasi goreng asin buatan nya.
"Kau tidak perlu bersedih, nanti aku akan mengajari mu memasak. Kau pasti akan segera pintar memasak seperti Mama. Ya..!" Halilintar meraih tengkuk Zha dan mendaratkan kecupan nya.
"Aku pergi sebentar membeli sarapan untuk mu. Kau belum sarapan kan..? Nasi nya malah ku habiskan." ucap Halilintar.
"Aku sudah makan roti Hall, tidak perlu."
"Hanya roti, itu tidak akan membuat mu kenyang." sahut Halilintar melangkah pergi. Zha hanya diam melihat Halilintar keluar dari kamar nya.
Sepeninggal Halilintar Zha nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya.
"Aku harus memastikan nya." ucap nya menggenggam testpack di tangan nya dan melangkah ke kamar mandi.
Akhir akhir ini Zha merasa ada yang lain dengan tubuhnya. Meskipun ia tidak merasakan tanda tanda apapun dari kebanyakan wanita hamil pada umumnya tapi telat nya datang bulan nya kali ini membuat Zha berpikir jika bisa jadi dia hamil. Terbukti ketika Zha selesai melakukan tes urine nya, nampak sudut bibir Zha tertarik berbentuk senyuman tipis. Namun hati nya diliputi rasa bahagia yang penuh ketika ia mendapati dua garis merah muda di alat yang masih ia genggam itu.
Zha kembali ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Rasa tak sabar menunggu kepulangan Halilintar untuk menunjuk kan hasil Testpack nya.
Zha segera menoleh ketika terdengar pintu di buka seseorang.
"Hall.!"
"Zha, ada Papa bersama dokter Bram dan profesor William di depan." ucap Halilintar.
"Ada apa Hall.?" tanya Zha.
"Mereka ingin membicarakan tentang penemuan profesor William mengenai partikel yang ada di tubuh mu. Bisakah kau menemui nya sebentar.?"
"Baik lah.!" Zha beranjak sesaat setelah menyimpan benda yang dari tadi di genggam nya itu di bawal bantal nya.
Mereka melangkah keruang tengah di mana di sana sudah ada Hanzero dan Dokter Bram serta Profesor William yang sedang menunggu mereka.
"Katakan saja profesor. Kami siap mendengarnya." ucap Halilintar sesaat setelah semua duduk dengan tenang.
"Tapi apa..?"
"Sebenarnya, partikel itu tidak berbahaya bagi Nona Zha, tapi selain untuk menutupi sesuatu partikel itu di ciptakan untuk mencegah Nona agar tidak mendapatkan keturunan. Dalam arti lain, jika Nona hamil maka janinnya tidak akan pernah selamat."
Halilintar tercengang mendengar penjelasan Profesor William. Ia berpikir, jika benar Zha lah keturunan terakhir jangkar perak, ternyata inilah alasannya kenapa di sebut sebagai keturunan terakhir. Karena alat itu sudah di ciptakan khusus untuk menghalangi adanya keturunan mereka lagi. Lalu..? Bagaimana dengan penemuannya dengan wanita yang bertato Jangkar di bahu nya itu.? Siapa dia..? Halilintar kembali di buat bingung.
Lain dengan Zha yang sangat terkejut dengan ucapan profesor William.
"Apa benar benar akan mengganggu janin ku jika tidak di keluar kan.?" tanya Zha menatap Profesor William dengan tatapan membunuhnya membuat profesor William bergidik dengan tatapan Zha mengingat jika ia sudah tau siapa wanita yang di hadapannya itu dari Hanzero langsung yang memberi tahunya.
"Benar Nona, jika tidak Janin nona tidak akan pernah selamat."
"Kalau begitu keluar kan .!"
"Tapi ini akan sangat menyakitkan Nona. Kami harus melakukan penyayatan kulit nona tanpa boleh memberikan suntikan bius atau obat penahan rasa sakit apapun karena itu akan mempengaruhi fungsi dari partikel itu." jelas Profesor William.
"Aku tidak peduli. Lakukan saja."
"Tidak Zha.! Tetap biarkan partikel itu di dalam tubuh mu, jika itu tidak membahayakan nyawa mu. Aku tidak sanggup melihat mu harus di sayat tanpa obat bius." potong Halilintar langsung mendekap tubuh istrinya. Ia sudah membayangkan betapa sakit nya kulit tersayat pisau tanpa panahan rasa sakit sedikit pun, itu pasti akan sangat menyakitkan.
"Demi apapun jangan lakukan itu Zha. Sungguh aku tidak memaksa mu untuk mendapatkan keturunan. Kita bisa mengadopsi anak jika kau mau. Kau tidak perlu menyakiti dirimu. Biarkan partikel itu tetap ditubuh mu.!" Halilintar mengeratkan pelukan nya.
Tapi Zha segera berontak dari pelukan Halilintar dan berdiri menjauh.
"Dokter Bram, cepat lakukan operasi itu sekarang juga.!" teriak Zha.
"Zha, ku mohon jangan lakukan itu." Halilintar melangkah mendekati Zha.
"Itu tidak akan membuat ku mati Hall.!!"
"Kau tidak mengerti Zha, kau segala bagiku di atas segalanya . Kalau hanya seorang anak, aku tidak peduli Zha. Tapi melihat mu di sayat dalam keadaan sadar aku tidak akan sanggup.!"
"Meskipun di dalam perut ku saat ini ada calon anak mu Hall.?"
"Apa maksud mu Zha.?"
"Aku hamil..! Dan aku akan melakukan apapun untuk anakku. Bahkan jika harus bertaruh nyawaku sekali pun.!!" teriak Zha membuat semua yang ada terkejut dan panik ketika mendengar pengakuan tentang kehamilan Zha.
"Zha, kau tidak sedang bercanda kan.?" Halilintar meraih tangan Zha yang langsung menepisnya dan melangkah ke dalam kamar di ikuti oleh semua.
Zha mengambil testpack miliknya dari bawah bantal dan melemparnya begitu saja pada Halilintar yang langsung menangkapnya dan memperhatikannya dengan seksama.
Seketika tangan Halilintar bergetar, tubuhnya terasa melemas. Antara sedih bahagia dan bingung dengan kenyataan yang sangat menjadi dilema baginya. Ia harus memilih antara melihat istrinya tersiksa atau kehilangan calon bayinya.
Di sayat dalam keadaan sesadar mungkin dan di beberapa bagian kulitnya ,itu sungguh menyakitkan.
"Jangan lakukan itu Zha.. Ku mohon.!! Aku lebih memilih dirimu dari pada calon anak ku.!"
Mendengar ucapan Halilintar Zha langsung menarik lacinya dan mengeluarkan pisau miliknya dan menekan lengannya dengan mata pisau itu hingga mengeluarkan darah.
"Perintahkan Dokter Bram untuk melakukannya atau aku akan melakukannya sendiri.!" ucap Zha.
"Berhenti Zha..!!" Halilintar panik dan mencoba mencegah perbuatan Zha.
"Cepat..!! Atau aku akan melakukan nya lebih dalam lagi.!" Ancam Zha, Halilintar yang kini sudah berhasil menarik tangan Zha dan merebut pisau itu lalu membuang nya jauh ke sudut dinding , Halilintar langsung memeluk istrinya.
"Apa yang kau lakukan Zha..!" Halilintar mengusap darah yang mengalir dari lengan Zha. Air mata pria itu mengalir begitu saja.
Membuat mereka yang menyaksikan ikut terharu.
"Ku mohon Hall,.. Aku juga ingin merasakan menjadi seorang Ibu. Biarkan Partikel terkutuk itu keluar dari Tubuhku. Kau tidak mengerti Hall.. Aku pun ingin berkorban demi anak ku seperti apa yang pernah Aisyah lakukan untuk anaknya ini.!!" ucap Zha menepuk dadanya, mengingat bagaimana saat ibunya dulu harus memilih menanggung sakit seumur hidupnya demi melahirkannya.
Bersambung..!!!