
___
Sekarang ini Halilintar sudah membawa Zha kembali ke Mansion mereka , dan Zha sudah di baringkan di ranjang dalam kamar mereka.
Sementara Elang dan Alexa masih berada di mansion itu dan saat ini berada di ruangan milik Elang, sengaja membiarkan Halilintar sendirian menemani istrinya.
Setelah Halilintar berkali kali mengoleskan minyak angin di pelipis istrinya, Zha terlihat mulai membuka matanya.
"Zha,.. kau sudah sadar?" Halilintar mengusap wajah Zha dengan tisu.
"Hall, kita di mana?" tanya Zha terlihat bingung.
"Kita sudah pulang. Bagaimana perasaan mu? Apa sudah lebih baik?"
"Ayah! Kenapa kau membawa ku pulang Hall, aku masih ingin bersama Ayahku." Zha kembali mengingat ayahnya dan mulai terisak lagi.
Halilintar meraih tubuh Zha dan membawa nya dalam pelukan nya.
"Berhenti lah Zha, kau jangan menangis terus, kasian Ayah dan Ibu mu di sana. Mereka pasti sedih melihat mu seperti ini. Kau harus bisa mengikhlaskan semua ini."
"Berat sekali Hall, baru saja aku mengetahui fakta jika ayah ku masih hidup, aku bahagia sekali Hall. Dan tiba tiba aku harus kehilangan dia lagi, dan kali ini untuk selama nya."
Halilintar melepaskan pelukan nya, mengangkat wajah istri nya.
"Jika kau saja sangat sedih, bagaimana dengan Elang? Semenjak dia lahir, dia tidak pernah tau siapa orang tua nya. Dan baru saja dia tau , dia harus kehilangan juga. Ku rasa dia lebih dari pada itu." ucap Halilintar.
Zha terdiam mencerna ucapan suami nya. Lalu sebersit bayangan Elang melintasi pikirnya. Sejak ia tau jika Elang adalah kakak kandung nya, Zha belum pernah lagi membahasnya karena sibuk dengan suami nya yang terluka. Baru saja suami nya sembuh Zha sudah harus menelan kesedihan karena kehilangan ayah nya. Hingga tidak sempat untuk memikirkan Elang.
"Kau benar Hall, Elang pasti sangat sedih sekali." membenarkan ucapan suaminya.
"Oleh sebab itu, kau harus kuat agar bisa menguatkan Elang . Karena hanya kau lah, satu satu nya yang ia punya sekarang." ucap Halilintar.
Zha mengangguk, menghapus sisa air matanya dan mencoba untuk kembali tegar. Ia berpikir, jika ia masih lah beruntung. Mempunyai Suami, Ayah dan ibu mertua yang sangat menyayangi nya, dan sekarang Zha juga mempunyai seorang kakak kandung. Lalu Elang, siapa yang ia punya sekarang? Hanya dia lah, satu satu nya keluarga Elang.
"Dimana Elang sekarang Hall?"
"Ada, sedang bersama Alexa. Mungkin di ruangannya." jawab Halilintar.
"Makan lah dulu Zha, baru kau menemui Elang." ucap Halilintar beranjak mengambil makanan untuk istrinya.
******
Di ruangan lain, Elang tengah berada di sana duduk di sebuah sofa dan tentunya bersama Alexa yang duduk tidak jauh darinya.
Sekilas, Elang menangkap wajah Alexa yang cantik itu namun ia segera menarik pandangannya untuk kembali menatap ke depan ketika tanpa sengaja Alexa menoleh padanya.
"Apa rencana mu selanjutnya?" tanya Alexa memecah keheningan diantara mereka yang terjadi sejak tadi.
"Entah lah. Mungkin setelah kita berhasil memecah kode kode itu baru aku akan mengajak Zha berbicara untuk menyusun rencana kedepannya ." jawab Elang.
"Kau benar Tuan. Kalian harus segera memecahkan kode itu agar tuan Ardogama tenang di sana." ucap Alexa.
Elang mengangguk. " Lalu kau sendiri bagaimana? Apa kau akan pulang ke markas Klan Selatan lagi?" tanya Elang menoleh pada Alexa.
"Begitu lah, karena di sana lah aku tinggal selama ini. Dan aku tidak mempunyai tempat pulang selain di sana." jawab Alexa dengan tatapan mata hampa.
"Jangan bicara seperti itu Tuan. Kami sebagai pengikut setia Klan, apa pun yang terjadi tetap akan memperjuangkan klan kami dengan sepenuh hati. Tidak peduli dengan penderitaan atau pun kesedihan." jawab Alexa.
"Tapi benarkan? Karena perebutan kekuasaan itu banyak nyawa yang tak bersalah menjadi korbannya."
"Kehidupan dunia mafia memang begitu, dari awal aku hidup, aku sudah di ajari hal seperti itu. Jadi aku tidak kaget lagi. Bukan kah Tuan juga sama, Hidup di dunia mafia yang penuh kekejaman?"
"Tidak juga. Sebenarnya jika di suruh memilih , dulu aku memilih jadi anak jalanan saja. Tapi aku tidak punya pilihan lain kecuali bertahan dan menurut pada orang yang telah merawat ku dari bayi. Dan aku tidak pernah tau jika semua itu sudah di rencana kan oleh ayah ku sendiri." jawab Elang, kembali mengingat masa kecilnya ketika ia harus selalu mendapat didikan keras dari Ayah angkat nya yaitu Tuan Poso.
Setiap hari, Elang di paksa untuk belajar cara menembak, menusuk dan cara membunuh musuh. Bela diri dan olahraga. Ia bahkan tidak tau rasa nya bermain seperti kebanyakan anak anak seusianya. Karena itu lah Elang sering sekali kabur dari markas dan pergi ke jalanan sampai ia mengenal Zha, gadis kecil yang sangat ia sukai. Lalu ia berteman dengan Zha dan sering mencuri waktu hanya untuk bertemu dan bermain dengan Zha.
Zha adalah satu satunya teman Elang.
Hingga mereka tumbuh dewasa, mereka tetap bersahabat dengan baik sampai di suatu ketika Elang mengajak Zha untuk bergabung dengan Klan mereka dan mengenalkan Zha pada Ayah angkatnya.
Elang merasa nyaman dan bahagia jika bisa bersama dengan Zha melalui apapun itu. Jika di bilang jatuh cinta pada Zha, tidak. Tapi Elang sangat sayang dan peduli pada Zha. Bahkan sampai Zha sudah bertemu dengan Halilintar dan menikah dengan pria itu, Elang masih saja ingin dekat dengan Zha. Sebab itu lah, kemana pun Zha , Elang pasti mengikutinya. Lalu saat ini setelah semuanya terbongkar dengan jelas Elang baru mengerti, semua itu karena hubungan darah mereka. Ikatan batin tidak bisa berdusta.
"Kau benar Tuan, ikatan batin tidak bisa di bohongi. Itu sebab nya Tuan merasa ingin selalu dekat dengan Nona Zha." ucap Alexa.
Elang tersenyum, membayangkan betapa ia mengangumi sosok Zha karena kehebatan gadis pecinta Asap yang doyan merokok itu, sahabatnya dari kecil hingga menjadi Tuannya. Karena Zha sudah menjadi ketua mafia dan menggabungkan Klan Milik Tuan Poso dengan Klan bentukan Zha sendiri yang diberi nama Klan Poison Of Death itu. Elang bukan hanya kagum, tapi sangat menghormati dan segan pada Zha sang Dewi iblis nya, siapa sangka jika sosok yang ia hormati dan sering memarahinya bahkan sering memukul kepalanya itu adalah adik kandungnya sendiri. Membayangkan itu, rasanya Elang ingin sekali mencubit pipi Zha dan mengatakan. "Jangan nakal lagi adik ku!"
Elang masih tersenyum dan menoleh kembali pada Alexa.
"Kenapa kau selalu memanggilku Tuan, Aku tidak nyaman mendengarnya." ucap Elang mengalihkan pembicaraan.
"Aku harus memanggil apa?" Alexa menoleh kembali.
"Elang, panggil saja begitu. Kita sudah menjadi teman kan?"
"Ah, baik lah. Jika kau tidak keberatan ku panggil Nama." jawab Alexa.
"Kenapa harus keberatan?"
"Walau bagaimana pun juga, kau adalah Putra dari ketua kami. Dan cucu dari ketua Klan Kami."
"Sekarang, semua itu tinggal kenangan. Dan aku tidak ingin mengungkit nya lagi. Jadi mulai detik ini, lupakan klan terlebih Klan Jangkar Perak. Setelah ini, semua itu harus musnah dari muka bumi ini."
"Kau serius akan memusnahkan nya?" Alexa nampak bertanya penuh ketidak percayaan.
"Ya, sesuai keinginan Ayah ku. Aku harus membubarkan semua Klan yang ada." jawab Elang.
"Lalu, bagaimana nasib kami?" Alexa merasa seperti tidak ikhlas jika Klan Selatan sampai di bubarkan juga.
"Kita akan mencari jalan lain. Merubahnya menjadi yang lebih baik."
"Apa itu akan berhasil?" lagi-lagi Alexa bertanya penuh keraguan.
"Kenapa tidak. Jika benar kekayaan Keluarga Glendale banyak. Kita bisa menggunakan nya untuk bisnis yang baik. Membangun sebuah perusahaan, swalayan mungkin, atau apapun itu yang tidak ada sangkut pautnya dengan Dunia gelap. Semua itu bisa untuk melanjutkan hidup kita bukan? Dan pastinya hidup kita akan tenang. Jauh dari kata kekejaman dan pembunuhan." ucap Elang yang di sambut senyuman dari Alexa.
"Kau benar, dan aku bisa bekerja di sana. Lalu mencari seorang suami dan menikah. Ahh... itu impian ku dari dulu. Jika benar begitu. Terimakasih sekali. Akhirnya impian ku akan segera terwujud." jawab Alexa semakin melebarkan senyumannya. Alexa tidak menyadari jika ketika mendengar ucapannya, Elang langsung menatapnya penuh hangat dan berpikir jika impian Alexa ternyata sama dengan impiannya juga.
_________________________