Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
ADA MASALAH DI ISTANA


"Pagi ini jam 8 Yang Mulia ada rapat rutin bulanan. Jam 12 ada jadwal makan siang dengan klien di restoran xx. Jam 2 sore Yang Mulia harus mengecek proyek pembangunan hotel di daerah xx," ucap Aldora memberitahukan jadwal Riccardo hari ini.


"Apa bahan rapat sudah disiapkan?" Tanya Riccardo.


Aldora mengangguk.


"Persiapkan dirimu untuk rapat nanti," ucap Riccardo.


Lagi lagi Aldora hanya mengangguk lalu memberi hormat dan pergi keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


***


"Bawa laporan hasil rapat kekantor ku sebelum jam makan siang," ucap Riccardo.


Aldora mengangguk dan langsung berjalan kearah kantornya.


Dia menyelesaikan tugas yang Riccardo beri namun bukannya langsung mengantar hasil rapat itu Aldora malah melamun memikirkan orang orang yang setia pada Papanya.


Tidak mungkin aku menafkahi ratusan orang itu. Bisa bisa mereka malah tergantung denganku. Sebenarnya tidak masalah jika aku menafkahi mereka. Aku tidak akan bangkrut hanya karena menafkahi mereka. Namun itu bisa membuat mereka menjadi tidak mandiri.


Aldora berkata dengan menyanggah kan dagunya di meja dengan tangan kanannya mengetuk ngetuk pena ke meja.


Tapi jika mereka bekerja dan menghasilkan uang. Itu juga tidak mungkin. Perebut tahta itu pasti akan langsung membunuh mereka. Papaku saja yang seorang Raja dia bunuh apalagi bangsawan yang sudah bangkrut.


"Nona Alvina,"


Tentang perebut tahta itu aku penasaran dengan wajahnya. Selama tinggal di istana aku tidak pernah melihatnya karena dia sudah diusir oleh Granpa Yardan. Apa dia memang sejahat itu?


"Nona Alvina,"


"Nona Alvina," seseorang memukul pelan meja kerja Aldora.


Aldora mendongakkan kepalanya menatap Leon. Sesungguhnya dia sudah tahu akan kehadiran Leon namun dia sedang malas meladeni Leon.


"Nona, apa tugas yang diberikan Yang Mulia sudah selesai?" Tanya Leon.


Aldora mengangguk dan menyodorkan hasil kerjanya.


"Sebaiknya Nona sendiri yang memberikan kepada Yang Mulia," ucap Leon.


Aldora mengangguk.


Leon membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruangan Aldora.


Aldora melirik jam didinding yang sudah menunjukkan pukul 11.30.


"Makan siang," gumam Aldora lirih.


Aldora mengambil ponselnya bersiap untuk memesan makanan untuk semua pengikut Papanya.


"Tuan Leon, saya akan menyusul sebentar lagi," ucap Aldora dengan tangannya yang lincah mulai bergerak di layar ponsel.


Namun Leon tidak mendengar karena sudah berada diluar ruangan.


Aldora mendongakkan kepalanya dan menghembuskan nafas kasar karena Leon tidak mendengarnya.


Sambil berjalan Aldora memainkan ponselnya menuju ruangan Riccardo. Setelah sampai di depan pintu, Aldora langsung memasukkan ponsel karena urusannya sudah selesai. Lalu tangannya bergerak untuk membuka pintu.


Aldora memberikan salam penghormatan kepada Riccardo lalu meletakkan hasil rapat diatas meja kerja Riccardo.


"Nona Alvina, kita harus pergi ke restoran sekarang. Jika tidak ingin terlambat," ucap Riccardo.


Aldora sedikit mengerutkan dahinya lalu mengubah ekspresinya menjadi datar.


"Maaf Yang Mulia, makan siang kali ini hanya sebuah makan siang biasa. Jadi saya rasa saya tidak pantas untuk ikut," ucap Aldora.


"Nona Alvina, menentang Yang Mulia Pangeran sama artinya menentang Raja. Anda dapat ditahan dengan alasan memberontak pada kerajaan," ucap Leon memperingati Aldora dengan hukum aturan di Negara Gloretha.


Aldora tertawa kecil dan dengan sinis mendengus meremehkan ucapan Leon.


Leon baru saja akan mulai berargumen namun Riccardo sudah menghentikannya. Karena dia baru saja dapat pesan dari istana.


"Nona Alvina batalkan jadwal hari ini. Saya ada urusan mendadak di istana. Leon ayo kita segera kembali ke istana," ucap Riccardo yang tampak tergesa gesa.


Pergilah! Selesaikan masalah di istana jika kau bisa.


Gumam Aldora dalam hati karena dia sudah tahu apa masalah yang sedang mereka hadapi.


Setelah Riccardo dan Leon pergi, Aldora juga pergi menuju apotek tempat kemarin dengan menggunakan masker dan mengganti jas kerjanya menjadi sebuah jaket.


Setelah menerima pesanan makan siang, Aldora langsung berjalan ke tempat kumuh.


Setibanya di sana, Aldora langsung membagi bagikan makan siang dengan para rakyat disitu.


Eh, itu...?


Saat sedang membagi bagikan makanan, tanpa sengaja mata Aldora melihat sejumlah uang yang tampak dari tas kecil.


"Terima kasih, Nona" ucap orang itu seraya berusaha menutupi uang yang sempat dilihat Aldora tadi.


Aldora hanya mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya.


Setelah selesai dia kembali ke kantor.


Itu betul adalah uang bukan. Ya, aku tidak mungkin salah! Tapi bagaimana mungkin dia memiliki uang? Hidupnya saja terlantar, jadi bagaimana mungkin dia memiliki begitu banyak uang? Apa jangan jangan.... Ini tidak beres. Aku harus mencari cara untuk mengecek siapa pria itu.


ucap Aldora dalam hati seraya menyusun beberapa rencana di otaknya.


Tangannya bergerak menyendokkan nasi dari kotak makan yang sengaja ia sisakan satu untuknya kemulutnya.


***


Jam sudah menunjukkan angka 5 yang artinya sudah waktunya pulang kerja.


Dengan tangan kanannya memegang tas kerjanya dan tangan kirinya memegang setumpuk kertas dan beberapa berkas untuk dia bawa pulang, Aldora bejalan dengan anggun menggunakan lift karyawan untuk turun kelantai dasar


"Nona Alvina," bagian front office memanggil Aldora.


Aldora yang sudah akan melewati front office, berbelok untuk mampir kemeja front office.


"Nona, Tuan Leon memberi pesan agar nona membawa berkas berkas yang harus ditandatangani untuk kerja sama dengan perusahaan Jerman," ucap Resepsionis.


Aldora mengangguk mengerti.


Dalam hati dia sangat bahagia karena akhirnya dia bisa pergi ke istana. Kebetulan dia juga membawa berkas yang diminta oleh Riccardo.


Sebelum ke istana, Aldora menyempatkan diri ke apartemen untuk membersihkan diri.


Bangunan istana masih tampak kokoh sama seperti dulu. Bangunan yang terlihat mewah, elegan, sederhana dan bergaya Eropa klasik itu menyimpan banyak kenangan indah juga sedih dalam hidup Aldora.


Taksi yang ditumpangi Aldora berhenti tetap di depan gerbang istana.


"Anda siapa?" Tanya penjaga yang ada di depan gerbang istana.


"Al...vina, asisten pribadi Yang Mulia Riccardo" jawab Aldora yang hampir keceplosan mengatakan bahwa dirinya adalah Aldora.


Salah satu pengawal tampak berbicara dengan Riccardo yang Aldora tahu itu dilakukan untuk memastikan jawaban Aldora.


Setelah selesai melakukan pembicaraan dengan Riccardo, pengawal itu berbisik kepada pengawal yang bertanya kepada Aldora tadi.


"Maaf Nona Alvina telah menghambat anda. Saya akan mengantar anda menuju pintu utama istana," ucap pengawal itu menawarkan diri untuk mengantar Aldora ke depan pintu utama istana bagian depan.


Aldora mengangguk menyetujui tawaran pengawal pria itu untuk mengantarnya menuju pintu utama istana.