
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.27 saat Aldora meninggalkan rumah kayu.
Aldora pergi setelah selesai membersihkan rumah, beristirahat sebentar, dan membersihkan diri. Aldora memakai pakaian bekas Mamanya yang ternyata pas ditubuhnya. Dengan masker di wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya saat keluar dari hutan
Aldora keluar dari hutan dan menaiki taksi untuk kembali ke apartemen.
"Nona, di depan ada kerumunan orang. Mereka tidak mau meminggir," ucap supir taksi kepada Aldora setelah dia mengklakson beberapa kali dan kerumunan orang tetap tidak mau bergeser dari tempatnya.
"Saya akan turun sebentar untuk mengecek apa yang terjadi," ucap supir taksi itu lagi.
"Tidak perlu, saya saja yang turun," ucap Aldora seraya membuka pintu.
"Kasihan sekali anak itu."
"Untuk apa kasihan kepada pencuri, dia memang pantas mendapatkannya."
"Pukul lagi, pukul"
"Pukul"
Terdengar suara sorak sorak yang mengatakan pukul.
Dengan kasar Aldora menembus kerumunan itu.
"Hentikan," teriaknya dengan lantang.
Suara teriakan Aldora membuat semua orang berhenti bersorak. Dan seorang wanita yang ingin kembali melayangkan kayu di tangannya kepada seorang anak kecil berhenti sehingga kayu di tangan wanita itu melayang di udara.
Di depan wanita itu ada seorang anak laki laki yang sedang berjongkok sambil menangis ketakutan. Tangan, kaki, dan beberapa anggota tubuh anak itu terlihat membiru akibat memar.
"Siapa kau? Beraninya kau menghentikan ku," tanya wanita itu.
Tanpa meladeni pertanyaan wanita itu, Aldora berjalan mendekati anak laki laki yang sedang menangis itu.
"A...aku min...ta ma...maaf. Mama... sedang sa...kit, dan adik belum makan... sejak pagi," ucap anak laki laki itu terisak isak.
"Kamu mencuri apa?" Tanya Aldora.
Anak laki laki itu menunjukkan sepotong roti di tangannya.
"Dia mencuri rotiku. Jika kau membelanya aku akan ikut memukulmu," ucap wanita itu.
"Hanya sepotong roti, bukan? Lihatlah anak ini dia memiliki Mama yang sedang sakit dan adiknya kelaparan. Apa anda tidak punya hati nurani? Anda punya kekayaan yang melimpah, bukan? Lalu kenapa hanya sepotong roti anda mempermasalahkan nya sampai dengan teganya anda memukul anak malang ini," ucap Aldora dengan dingin.
"Apa maksud perkataanmu? Kau mencoba mengajariku, seorang Marchioness?" Tanya wanita itu yang ternyata bergelar Marchioness.
"Bukan Marchioness, tapi saya mengajari seorang wanita rendahan," jawab Aldora.
"Wah, gadis itu berani sekali."
"Iya, kira kira siapa gadis itu. Kenapa dia berani sekali melawan seorang Marchioness?"
"Habislah gadis itu. Dia pasti akan kenak masalah,"
"Beraninya kau menyebutku wanita murahan, dasar gila," tangan Marchioness itu melayang untuk menampar Aldora.
Namun dengan sigap Aldora menahan tangan wanita itu sekaligus memelintirnya.
"Hey, apa yang kalian lihat. Serang dia," ucap Marchioness itu kepada pengawal pengawalnya.
Aldora mendorong tubuh Marchioness itu sehingga terjatuh ke tanah. Dia mulai melawan 5 pengawal Marchioness itu sekaligus dengan tetap berusaha melindungi anak laki laki itu.
Tidak sampai 5 menit semua pengawal itu sudah jatuh terkapar di tanah.
Aldora membersihkan tangannya dari debu lalu berjalan ke arah wanita itu yang mulai ketakutan.
"Dengar ini, Nyonya. Jangan berpikir karena status sosialmu berada di atas kamu bisa seenaknya. Jika aku melihatmu memukul atau menyiksa seseorang lagi. Ucapkan selamat tinggal dengan hartamu," ucap Aldora lalu berbalik ke arah anak itu.
Dengan hati hati Aldora menggendong tubuh anak itu dan berjalan pergi ke arah taksi.
"Siapa kau?" Tanya wanita itu.
"Aldora G," jawab Aldora langsung berlari menaiki taksi.
"Pak, kita ke apotek" ucap Aldora.
"Baik, Nona" balas supir taksi.
"Nanti Kakak akan mengantarmu pulang dan memberikanmu makanan. Tapi kamu harus nurut sama Kakak," ucap Aldora lembut.
Anak laki laki itu mengangguk.
"Ini, Pak" Aldora memberikan uang kepada supir taksi yang langsung menerima dan pergi setelah mengantar Aldora ke apotek.
"Kamu duduk disini sebentar ya," ucap Aldora mendudukkan anak laki laki itu di bangku yang ada di depan apotek.
Anak laki-laki itu mengangguk.
Aldora masuk ke apotek dan membeli salep untuk luka memar yang mengandung arnica. Aldora juga membeli kotak P3K.
Setelah itu Aldora keluar dari apotek dan mulai mengobatiku luka anak laki laki itu. Termasuk luka lebam dan luka yang mengeluarkan darah.
"Apa kamu bisa berjalan, dik?" Tanya Aldora khawatir.
"Bisa, Kak" jawab anak laki laki itu.
"Kita tunggu sebentar di sini ya, Kakak udah pesan makanan tadi," ucap Aldora.
Tepat saat itu seorang pengantar makanan datang.
"Nona Alvina?" Tanya kurir pengantar makanan.
Aldora mengangguk dan mengambil pesanannya juga membayar harga makanannya itu.
"Kamu tinggal dimana? Apa jauh dari sini?" Tanya Aldora setelah pengantar jasa makanan itu pergi.
"Tidak jauh kok, Kak. Ada di dekat sini," jawab anak laki laki itu.
Dengan menarik tangan Aldora anak laki laki itu memimpin jalan menuju tempat tinggalnya.
Deg!
"Mama, Reny" anak laki laki itu berlari kearah Mama dan sosok anak perempuan yang dipanggil Reny.
"Reski kamu dipukul lagi nak?" suara lemah Mama anak laki laki bernama Reski itu bertanya.
"Reski gak apa apa kok, Ma" ucap Reski.
"Apa demam Mama sudah turun?" Tanya Reski seraya memegang dahi Ibundanya.
"Mama gak papa, asal kalian sehat Mama tidak akan apa apa," jawab Mama Reski.
"Kamu tinggal disini, dik?" Tanya Aldora seraya memandang sekitar merasa sedih.
Di sekitarnya terdapat beberapa orang yang senasib dengan Reski. Berpakaian kumuh dengan sebuah kardus sebagai alas. Tampak usang dan lesu.
Bahkan mereka tinggal ditempat yang tidak layak, sebuah tempat kumuh yang beraroma busuk.
"Iya, Kak" jawab Reski.
"Bu, ini ada sedikit makanan dari saya" ucap Aldora seraya meletakkan kantong plastik berisi makanan.
Mendengar kata makanan orang orang di sekitar langsung memperhatikan dan memusatkan perhatiannya kepada kantong makanan itu dengan tatapan menginginkan.
Aldora hanya membeli 3 kotak makanan dengan satu kilogram jeruk dan 3 jus jeruk hangat. Tidak lupa ia membeli 3 botol mineral.
Orang orang yang tinggal di tempat ini berjumlah ratusan orang.
"Terima kasih, nak" ucap Mama Reski.
"Sama sama, Bu" balas Aldora kembali mengamati sekeliling.
"Dik, apa mereka semua juga belum makan?" Tanya Aldora.
Reski mengangguk.
"Sebentar ya," Aldora mulai memainkan ponselnya memesan kembali makanan sebanyak 267 kotak untuk orang orang yang lain.
"Dik, Kakak kedepan sebentar ya" ucap Aldora kepada Reski.
"Iya Kak," balas Reski.
Aldora kembali ke apotek membeli obat demam untuk Mama Reski sambil menunggu pesanannya datang.