
"Tolong berhenti, kami akan ikut. Kemana pun terserah..!!" teriak Zha saat beberapa warga itu sudah menarik paksa Halilintar dan siap menghajarnya.
"Baik kalau begitu.!" jawab Seorang pria itu menarik kasar tangan Zha.
"He, jangan menyentuh kekasih ku atau ku habisi kalian..!!" Halilintar yang panas melihat Zha di tarik langsung menarik kerah pria itu dan melayangkan tinju nya.
Melihat itu Zha langsung menepis tinju Halilintar sebelum mendarat ke wajah pria itu.
"Hall, tenanglah. Kita tidak boleh gegabah menghadapi warga." bisik Zha berusaha meredakan emosi Halilintar.
"Jangan main kasar, kami sudah menuruti mau kalian..!!" ucap Halilintar.
Akhirnya para warga menggiring Halilintar dan Zha menuju rumah kepala desa mereka.
Sepanjang melangkah Halilintar menggandeng tangan Zha dan sesekali melirik wajah Zha dengan penuh penyesalan dengan apa yang terjadi.
Hingga mereka sampai di rumah kepala desa, Halilintar tidak mempedulikan mereka ketika salah satu dari mereka berbicara menjelaskan apa yang terjadi pada sang kepala desa.
Kepala desa menyuruh Zha dan Halilintar untuk masuk dan duduk di hadapan nya sementara beberapa warga yang menangkap Halilintar dan Zha tadi ikut masuk berdiri di belakang mereka.
"Apa masih sakit..?" bisik Halilintar pada Zha yang masih mengkhawatirkan keadaan punggung Zha tanpa peduli dengan keadaan. Gadis itu mengangguk ringan.
"Ah, maafkan aku Zha.. Aku tidak bisa melindungi mu." ucap Halilintar yang hanya di balas senyuman oleh Zha membuat Halilintar semakin merasa bersalah.
Rasanya Halilintar ingin berdiri dan menghajar mereka semua jika saja Zha tidak terus menggenggam tangan nya dan terus menekan tangan nya agar Halilintar tidak memberi perlawanan.
"Kalian tau apa hukuman bagi yang sudah berani mengotori kampung kami hah.!!" tanya sang kades itu membuat Halilintar semakin geram.
"Brengsek...!!! Sudah ku katakan berkali kali , Kami tidak mengotori kampung kalian. Kalian saja yang salah paham dan menuduh kami yang bukan bukan." jawab Halilintar dengan nada tinggi.
"Apa bukti nya jika kau merasa benar anak muda. Ayo bukti kan." pak kades pun kesal dengan Halilintar yang terus saja emosi.
"Pak, gadis ini memang kekasih ku. Tapi kami tidak melakukan apapun , sumpah.!! Kami tadi tersesat dan kekasih ku jatuh di parit. Aku hanya ingin mengganti bajunya yang basah tapi mereka datang dan menuduh kami berbuat mesum. Kalau hanya ingin melakukan mesum untuk apa di gubug itu. Aku bisa menyewa hotel bahkan membeli sepuluh hotel sekaligus." ucap Halilintar.
"Sombong sekali kamu, sudah salah membual lagi. Memang nya kau siapa, anak pengusaha , sampai mau membeli sepuluh hotel. Melihat gadis ini saja seperti gelandangan, jangan jangan kalian memang gelandangan ya.?" Pak kades itu malah mengejek.
"Jaga mulut mu, berani kau mengatakan jika kekasih ku gelandangan. Akan ku buat kalian semua menyesal dengan perbuatan kalian ini..!!" Halilintar menggebrak meja di depan nya membuat semua yang ada kesal dan hampir saja menarik Halilintar untuk menghajar nya.
"Cukup..!!" Zha berteriak menghalangi mereka.
"Mau kalian apa kami akan turuti, tapi tolong biarkan kami pergi dari sini." ucap Zha.
"Zha.. jangan mau menuruti mereka. Kita tidak salah." ucap Halilintar.
"Sudah lah Hall, kita tidak bisa pakai emosi dan otot untuk menghadapi mereka." bisik Zha.
"Kalian harus bertanggung jawab..!!" seru mereka.
"Tanggung jawab seperti apa maksudnya.??" tanya Halilintar semakin geram.
"Panggil orang tua kalian kemari. Ayo cepat..!!" ucap pak Kades.
"Ooh, baik lah. Kalau cuma itu. Aku akan panggil orang tua ku sekarang juga. Dan kalian akan menanggung resiko nya. Lihat saja..!!" jawab Halilintar segera merogoh Ponsel nya dan menghubungi Nomor Ayah nya.
Terdengar Halilintar bercakap cakap cukup lama dengan Hanzero , menjelaskan apa yang terjadi dan masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.
Halilintar kembali duduk setelah selesai menghubungi Ayah nya, menatap tajam ke arah Pak Kades yang masih memasang wajah sangar nya itu.
Hingga beberapa waktu lama nya menunggu.
"Katanya oranga tua mu akan datang kemari.. mana..??" tanya pak kades sudah tidak sabar menunggu.
"Rumah kami di kota jauh dari kampung ini Pak, mereka sedang di perjalanan. Sabarlah." jawab Halilintar ketus.
Tak lama dari itu para warga terkejut dengan datang nya beberapa mobil mewah dan beberapa mobil polisi yang nampak mengawal mobil mobil mewah tersebut.
Para polisi dan beberapa pengawal yang sudah lebih dulu menuruni mobil segera mengawal Pasangan terhormat dari kota itu.
Mereka melangkah memasuki rumah Sang kades. Para warga segera menggeser kaki mereka menyadari jika yang datang bukan lah orang biasa di lihat dari penampilan dan para pengawal serta polisi yang mengiringi mereka.
"Selamat siang pak kades." Hanzero menyapa sang kades.
Sementara Azkayra langsung memeluk Zha.
"Siang Tuan, maaf .. Apa Tuan orang tua mereka.?" tanya pak Kades bergetar ketika menyadari sedang berhadapan dengan bukan orang sembarangan seperti Hanzero.
"Benar sekali, saya ayah dari Pemuda ini. Dan benar jika gadis ini adalah kekasih ya." jawab Hanzero.
***
Pak Kades dan para warga mengangguk ketika seorang polisi selesai menjelaskan sesuatu pada mereka. Terlihat raut ketakutan yang mendalam pada wajah mereka dan tidak berani sedikit pun menatap wajah Hanzero maupun wajah Halilintar lagi. Siapa yang tidak bergetar dan takut ketika mendengar nama Hanzero dan Perusahaan Samudra yang terkenal di seluruh pelosok negri ini bahkan di kampung kampung sekali pun nama Perusahaan Samudra dan pemilik nya yang terkenal sebagai seorang yang bijak dan bahkan tidak jarang memberi bantuan warga berupa sembako ,uang bahkan perbaikan jalan dan pembangunan pendidikan.
Mereka meminta maaf yang sebesar besarnya atas kelancangan mereka menuduh Putra mahkota Perusahaan Samudra tersebut, mereka sangat menyesal dan serasa ingin berlutut di kaki Hanzero jika saja Hanzero tidak langsung berdiri lalu menepuk bahu Pak kades dan berucap.
"Lupakan saja kejadian ini. Dan Lain kali berhati hati lah dalam menuduh Seseorang jika tidak ada bukti yang akurat. Atau kalian akan menyesal sendiri nanti nya." ucap Hanzero melangkah menghampiri putra nya untuk mengajak nya Pulang. Sementara Azkayra sudah dari tadi membawa Zha keluar.
Halilintar sedikit berlari menghampiri Zha dan Mama nya.
"Zha, bagaimana keadaan punggung mu, apa sudah baikan..?" Halilintar masih saja mengkhawatirkan punggung Zha.
"Tinggal sedikit saja sakit nya." jawab Zha.
"Kau sakit Nak.? Kenapa dengan punggung nya Azze..?" Azka cepat menoleh pada Zha dengan tatapan khawatir.
"Zha jatuh dari tebing Mam, punggung nya sakit."
"Ya Tuhan, kita harus cepat pulang kalau begitu." ucap Azka panik begitu saja.
"Tante, ini sudah lebih baik. Tidak perlu khawatir." jawab Zha.
"Tapi kalau terjadi sesuatu pada tulang belakang mu bagaimana .? Kita harus segera memeriksakan nya." ucap Azka lagi.
"Benar kata Mama Zha, ayo kita pulang sekarang." ucap Halilintar membuka kan pintu mobil untuk Zha yang akhirnya mengangguk pasrah.
Baru saja Halilintar meraih tangan Zha untuk melangkah memasuki mobil.
"Kanzha...!!!" suara lengkingan seorang wanita di barengi langkah yang berlari cepat ke arah mereka.
Semua menoleh kearah wanita itu yang tiba tiba saja menarik kasar Halilintar.
Plak....!!!
Tamparan bertubi tubi mendarat di wajah dan tubuh Halilintar sontak membuat Para pengawal Hanzero menyergah perbuatan wanita itu namun Hanzero langsung melarang mereka dan memberi perintah agar mereka tidak melakukan apapun pada wanita yang tengah dilanda emosi itu.
"Kurang ajar kau ya.. Berani sekali kau melecehkan keponakan ku hah..!!" teriak wanita itu terus memukul mukul Halilintar yang diam tidak melawan sedikit pun.
"Bibi.. Berhenti bi.. jangan bi , ini tidak seperti yang bibi pikirkan..!!" Zha yang melihat itu berusaha mencegah.
"Diam kau gadis bodoh..!!" bentak wanita itu pada Zha dan kembali menyerang Halilintar.
"Kau pikir aku takut padamu hah..!! Siapa pun kau aku tidak takut.. Mau anak jendral atau anak presiden sekali pun aku tidak peduli Hah.. Kau sudah berani melecehkan Keponakan ku. Dasar laki laki kurang ajar. Aku akan menghajar mu." Wanita itu terus memukul dan memaki Halilintar yang kini meminta ampun itu.
"Ampun Tante.. ampun...!! Saya salah Tante... Ampun..!!!" Halilintar terus mengiba.
Sedang kan Azkayra memalingkan wajahnya , dan menutup mulutnya dengan tangan nya . Azka hampir tidak bisa menahan tawa nya ketika melihat tingkah Putranya yang kewalahan menghadapi amukan wanita tersebut.
__________________________