
"Maaf Duke, nama saya Alvina asisten Yang Mulia Riccardo" ucap Aldora menyangkal perkataan Duke itu.
Lagian darimana pria di depannya ini tahu namanya. Tadi Riccardo tidak ada memperkenalkannya.
Sansone sedikit merutuki kebodohannya yang memanggil nama Aldora di depan umum.
"Bisakah kita berbicara di tempat yang lebih sepi?" Tanya Sansone.
"Tentu saja, Duke" jawab Aldora.
Aldora mengikuti langkah Duke Sansone yang membawanya menuju taman mini privat di rumahnya.
"Aldora Gloretha," setelah sampai Duke Sansone langsung menyebutkan nama Aldora dengan lengkap.
"Duke-"
"Tidak Yang Mulia, hanya Sansone. Jangan hukum saya dengan memanggil saya seperti itu," ucap Sansone.
"Maaf?" Aldora tetap tidak mau mengatakan identitasnya yang sebenarnya.
Dia merasa heran kenapa Sansone bisa mengenalinya. Dan kenapa Sansone masih bisa hidup mewah di pemerintahan Raja Heren. Ya walaupun dia merasa bersyukur akan hal itu. Dia juga belum dapat memutuskan apa pria dihadapannya ini adalah Sansone yang dia kenal atau tidak.
"Liontin di leher anda," ucap Sansone menunjuk liontin di leher Aldora.
"Liontin itu diberikan oleh Raja dan Permaisuri sebagai hadiah kelahiran anda. Tidak ada seharipun anda tidak menggunakan liontin itu. Liontin yang diukir berbentuk hati untuk menunjukkan kasih sayang dari raja dan Permaisuri kepada putrinya. A G, Aldora Gloretha. Pewaris tahta sah setelah Raja Jarrel. Pemimpin satu satunya negara ini," ucap Sansone.
"Dan saya, saya adalah pengawal pribadi pewaris tahta, Putri Mahkota, Aldora Gloretha. Saya putra dari Knight Penrod, Sansone Martinez," sambung Sansone.
"Selamat datang Yang Mulia, selamat berjuang. Hukumlah semua pemberontak dan pimpinan negara ini dengan baik," ucap Sansone dengan berlutut dengan sikap hormat kepada Aldora.
"Kak, bangunlah. Jangan seperti ini. Ingatlah aku adalah Aldora. Bukan hanya seorang yang kamu harus hormati, tapi aku juga adalah adik dan temanmu. Jangan bersikap seperti ini. Panggil aku Alvina. Jika ada yang mengetahui kebenaran kita berdua, kita bisa dihukum tanpa ada kesempatan menghukum mereka semua," ucap Aldora dengan lembut seraya memegang bahu Sansone memberinya tanda untuk berdiri.
"Tapi kalau kita sedang berdua tidak bolehkah saya memanggil anda Yang Mulia Aldora?" Tanya Sansone.
"Tidak," jawab Aldora tegas.
"Baik Yang Mulia," Sansone membalas dengan sikap hormat.
Walau ada sedikit kekecewaan karena Aldora menolak permintaannya.
"Kamu hanya bisa memanggilku Aldora tanpa kata kata Yang Mulia atau semacamnya. Bicara denganku tidak boleh formal harus santai. Tapi itu hanya dilakukan saat sedang berdua, mengerti Kakak?" Tanya Aldora dengan nada memerintah dan tak bisa dibantah dalam kata katanya.
"Mengerti, Putri" jawab Sansone dengan tersenyum seraya tangannya menepuk pelan bahu Aldora.
Merasa bahagia ternyata adik kecilnya masih hidup sampai sekarang dan selamat dari pemberontakan.
"Kak, ayo kita kembali ke pesta," ajak Aldora.
"Sebaiknya kamu pergi duluan, Al. Agar tidak ada yang curiga karena kita keluar bersama sama," ucap Sansone yang diangguki Aldora.
Aldora keluar dari taman mini. Selang beberapa menit Sansone juga keluar.
"Darimana saja kamu Nona Alvina?" Tanya Leon mewakili Riccardo.
"Tadi saya ada urusan sebentar dan lupa meminta izin," jawab Aldora berdiri disamping kursi yang hendak didudukinya. Aldora berdiri di sebelah kiri kursi.
Bruk...
Terdengar suara benda bertabrakan disusul dengan suara pecah gelas. Aldora memegang lengan kirinya berusaha menutupi lukanya yang kembali mengeluarkan darah.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja. Maaf, saya benar benar tidak sengaja. Tolong jangan hukum saya," jawab pelayan wanita itu ketakutan.
"Tidak apa apa, tidak masalah. Saya baik baik saja. Tidak perlu merasa bersalah. Kamu juga tidak akan dihukum. Jika kamu dihukum panggil saja saya. Suruh orang yang menghukummu berhadapan dengan saya. Saya permisi dulu," ucap Aldora.
"Terima kasih dan maaf," ucap pelayan itu yang menerima anggukan dari Aldora.
Aldora dengan sedikit berlari pergi keluar dari ruangan pesta menuju rumah bagian belakang yang tempatnya sepi karena gelap.
"Astaga Al, kamu ceroboh sekali. Jika Uncle tahu, dia tidak akan memaafkanmu. Setelah ini aku harus siap dengan kemarahan Uncle. Ini juga lukanya kenapa perih sekali?" Aldora menggerutu seraya mengangkat lengan beku kirinya dan membuka perban lukanya. Benar saja ternyata lukanya kembali berdarah.
"Al, kamu baik baik saja?"
Suara seseorang membuat Aldora segera mengurungkan niatnya untuk membuka tas dan mengambil alkohol.
"Kak Sansone? Ada apa?" Tanya Aldora.
"Lenganmu berdarah? Kenapa bisa separah ini?" Tanya Sansone dengan khawatir dan menarik lengan kiri Aldora dengan perlahan.
"Ini bukan karena nampan. Lukanya memang sudah ada," jawab Aldora.
"Terkena apa Al?" Tanya Sansone.
"Pedang," jawab Aldora dengan sedikit mendramatiskan ucapannya.
"Dari dulu gak berubah! Pedang itu tajam Al, jangan dibuat main" ucap Sansone menasehati.
"Siapa juga yang mainin. Senjata asli tidak digunakan untuk melukai diri sendiri," ucap Aldora.
"Sudah, ayo kita obati lukamu" ucap Sansone berniat berdiri untuk mengajak Aldora masuk ke rumah dan mengobati luka gadis itu.
"Tidak perlu, Al sudah bawa obat yang diperlukan. Kakak masuk saja. Jika para tamu menyadari ketidak hadiran mu mereka akan merasa bingung," ucap Aldora.
"Tapi Al kamu benar tidak apa apa?" Tanya Sansone merasa ragu untuk kembali.
"Ya, Kakak pergilah. Al sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri," jawab Aldora.
"Baiklah, kalau ada masalah panggil saja aku. Aku akan berada di dekat pintu," ucap Sansone.
"Baiklah," balas Aldora.
Dengan setengah hati Sansone pergi meninggalkan Aldora.
Setelah kepergian Sansone Aldora segera mengeluarkan semua obat obatnya dari tas yang dia bawa.
"Nona," kini seseorang kembali mengacaukan aktivitasnya.
"Hm?" Aldora berkata tanpa melirik karena dia mengenal pemilik suara itu, Riccardo.
"Sini, aku akan membantumu," Riccardo mengambil obat dan berusaha meraih lengan Aldora.
"Saya bisa sendiri Yang Mulia," ucap Aldora menjauhkan lengannya dari jangkauan Riccardo.
"Baiklah," balas Riccardo tak ingin memaksa.
Aldora mulai mengobati lukanya dengan telaten. Seperti seorang dokter atau perawat profesional.
"Apa sebelumnya lengan anda sudah terluka, nona?" Tanya Riccardo.
"Ya," balas Aldora singkat tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap fokus menatap lukanya itu.
"Karena?"
Aldora merasa pertanyaan itu mirip dengan pertanyaan Sansone. Pertanyaan yang menunjukkan kepedulian, betulkan?
"Bukan urusan anda, Yang Mulia" balas Aldora seraya merapikan perbannya dan mengikatnya.
Setelah itu Aldora merapikan dan memasukkan kembali semua obat obat yang dia gunakan tadi kedalam tas yang dia bawa.
Aldora berdiri berniat meninggalkan Riccardo. Namun Riccardo berusaha meraih tangan Aldora untuk menghentikannya.