
Dengan kantong makanan di tangannya Aldora berjalan kembali ketempat kumuh.
Semua para penghuni tempat itu langsung mendekat ke arah Aldora ketika melihat barang di tangan Aldora.
"Tolong kasihani kami, beri kami makan. Kami lapar sekali," ucap seseorang.
"I-iya, ini saya beli untuk kalian" ucap Aldora seraya mulai membagi bagikan kotak makanan beserta jus dan air mineral. Dia juga memberikan mereka buah jeruk.
"Terima kasih, nak. Kamu sangat baik. Semoga Tuhan selalu memberkatimu," ucap seorang wanita.
"Amin," ucap Aldora.
Lalu mereka semua makan dengan lahap.
Aldora berjalan kearah tempat Reski berada.
"Bu, ini ada obat demam. Diminum 3 kali sehari setelah makan," ucap Aldora seraya mengulurkan obat demam yang ia beli tadi.
"Ah, terima kasih nak. Apa tidak bisa minum obat tanpa makan?" Tanya Mama Reski.
"Tidak bisa, Bu. Nanti itu malah membuat perut Ibu rusak," jawab Aldora.
"Ibu tenang saja, saya akan memberi makan 3 kali sehari untuk semua orang disini. Kebetulan saya hanya tinggal sendiri sementara waktu ini. Uang saya juga memang ingin saya sumbangkan," ucap Aldora memberi alasan agar orang orang di sana tidak merasa nyaman karena dinafkahi olehnya.
"Kamu baik sekali nak. Andai Raja Jarrel masih hidup mungkin saat ini hidup kami tidak akan semenyedihkan ini," ucap seorang bapak bapak.
Papa!?
"Betul, Pangeran Heren bukanlah pemimpin yang baik. Dia bahkan membuat semua pendukung setia Yang Mulia Jarrel hidup menderita," sahut seorang wanita lainnya.
"Countess Erni," celetuk Aldora saat melihat wajah wanita yang berbicara tadi.
Countess Erni dan suaminya adalah salah satu pendukung setia Raja Jarrel. Mereka bahkan rela memberikan nyawa demi Raja Jarrel, istrinya, juga anaknya.
Untung saja suara Aldora tidak ada yang mendengar kalau tidak ia tidak tahu harus berkata apa jika mereka bertanya darimana ia tahu.
Aldora mengamati wajah wajah dari semua penghuni tempat ini. Dan dia baru sadar bahwa dia mengenal beberapa diantara mereka.
Karena dulu dia pernah menemui mereka di rumah mereka. Atau terkadang orang orang itu yang datang untuk menemui Papanya.
Keinginanku semakin kuat setelah melihat semua ini. Apapun yang terjadi aku akan membuat semua kembali seperti semula. Membuat negara ini kembali sejahtera seperti dulu kala.
Ucap Aldora dalam hati dengan yakin.
"Seandainya putri Aldora masih hidup dan merebut tahta kembali. Pasti semuanya akan menjadi normal," ucap salah satu dari mereka.
"Semua keturunan Gloretha sudah terbunuh. Kita tidak punya harapan lagi. Kita juga sudah bersumpah akan mati dengan tetap mendukung Raja Jarrel dan keturunannya. Kita harus memegang sumpah kita," ucap salah satu dari mereka.
"Ya, pemimpin kita hanya satu. Raja Jarrel bukan Pangeran Heren," ucap seorang dari mereka.
Mata Aldora berkaca kaca melihat itu semua. Setelah sekian lamanya Raja Jarrel tiada ternyata masih banyak rakyat yang menjadi pendukung setia Raja Jarrel. Bahkan mereka rela sampai hidup gelandang hanya untuk tetap mendukung Raja Jarrel.
Papa, kamu pasti bahagia melihat ini. Semua pendukungmu masih setia denganmu. Walau ada sebagian yang melenceng. Tapi pendukung setiamu ini bahkan tidak ada tandingannya dengan semua orang diluar sana yang mendukung perebut tahta itu. Papa, aku janji. Aku akan melindungi semua pendukungmu sebisaku.
ucap Aldora dalam hati dengan senyum bahagia di bibirnya karena semua orang itu masih setia kepada Papanya.
***
Jarum jam sudah menunjukkan angka 10 saat Aldora tiba di apartemen.
Setelah selesai makan, Aldora menyelesaikan tugas kantornya. Dikarenakan langsung tidur makan tidaklah sehat bagi kesehatan.
Karena terlalu mengantuk, akhirnya Aldora tidur di kursi kerjanya.
Sinar matahari menembus tirai jendela ruang kerja Aldora. Membuat Aldora mengucek kedua matanya dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu bersiap kekantor.
Aldora membereskan meja kerjanya lalu pergi untuk mandi dan bersiap siap kekantor.
Sebelum berangkat kekantor dengan menggunakan masker Aldora berdiri di depan apotek menunggu sarapan yang dipesannya untuk para pendukung Raja Jarrel.
Setelah sarapan sampai, Aldora langsung berjalan ke arah tempat kumuh setelah membayar. Ia mulai membagi bagikan sarapan pagi hari itu.
Barulah setelah itu Aldora berangkat ke kantor dengan menggunakan angkutan umum.
"Halo Al, apa kabar?" Suara Uncle Penrod menyapa Aldora dari telepon.
"Al, baik Uncle. Uncle apa kabar disana?" Tanya Aldora seraya berjalan menuju ruangannya karena di baru keluar dari lift.
"Uncle baik Al. Kami jaga diri baik baik ya selama Uncle tidak ada. Jangan lupa makan teratur. Ingat kesehatanmu adalah harapan bagi banyak rakyat Gloretha. Jangan sampai mengecewakan mereka," ucap Uncle Penrod.
"Ya Uncle, Al akan berusaha dengan giat untuk mencapai tujuan kita. Al akan sangat sungguh sungguh untuk mencapai tujuan kita," ucap Al.
"Tujuan apa?" suara seseorang dari belakang Aldora membuat Uncle Penrod menghentikan niatnya yang ingin berbicara.
"Em, tujuan bekerja dengan giat dan membantu anak anak miskin," jawab Aldora dengan dingin lalu memberikan salam penghormatan dan langsung masuk ke dalam kantornya.
"Uncle, kita lanjutkan pembicaraan kita setelah Al pulang" ucap Aldora.
"Baik, kamu yang semangat Al," ucap Uncle Penrod
"Ya," balas Aldora lalu mematikan sambungan telepon.
Masih ada 2 menit sebelum waktu kerja dimulai.
Aldora meletakkan tas kerjanya dikantor dan mengambil tablet yang di dalamnya sudah ia atur jadwal satu hari ini untuk Yang Mulia Riccardo.
Setelah itu dengan berjalan santai nan elegan Aldora berjalan menuju ruangan Riccardo.
***
Aldora Gloretha, berusia 23 tahun. Putri tunggal dari Raja Jarrel dan Permaisuri Evoleth. Satu satunya keturunan Gloretha terakhir.
Alvina adalah nama samaran yang diberikan oleh Permaisuri Evoleth saat mereka berlibur menjadi rakyat biasa.
Aldora tinggal bersama Uncle Penrod yang adalah sahabat, asisten pribadi, juga pengawal pribadi Raja Jarrel.
Raja Heren adalah Kakak kandung dari Raja Jarrel yang dianggap tidak layak menjadi seorang Raja oleh Papa mereka, Raja Yardan.
Dikarenakan tangan kanan Raja Heren yang memiliki masalah.
Nama Gloretha dari Raja Heren telah dicabut oleh Yang Mulia Yardan karena Raja Heren telah berusaha membunuh pewaris tahta kerjaan Gloretha. Raja Heren juga telah mempermalukan nama keluarga kerajaan.
Namun setelah semua keturunan Gloretha habis, Raja Heren mengambil alih tahta dengan alasan dia adalah anak Raja Yardan.
Dan ya, semua rakyat tidak mengetahui tentang pencabutan marga Raja Heren. Dikarenakan Raja Jarrel yang meminta dengan alasan hal itu bisa mencemari nama baik keluarga kerajaan.