Keturunan Terakhir

Keturunan Terakhir
Obrolan hangat Antara Sang Ayah dan Putra nya.


Sudah ada satu Minggu Zha menjadi istri sang pewaris tunggal Keluarga Samudra, dan selama satu Minggu itu juga Zha masih berada di dalam Rumah Utama. Hari hari yang ia lalui terasa berwarna. Siang ia akan bersama sang ibu mertua yang sangat menyayangi nya. Belajar memasak dan berdandan.


Dengan telaten Azkayra mengajari Zha memasak. Terkadang tawa pun menggelegar di antara menantu dan mertua itu ketika Zha salah dalam menaruh bumbu di masakan nya.


Zha tersipu malu, selama hidup nya Zha sama sekali tidak pernah yang namanya memegang sayuran atau bahan makanan jenis apapun itu. Saat ibu nya masih ada, Zha hanya tau nya bekerja mencari uang , urusan rumah apapun itu Zha terima beres.


Azkayra yang menjadi Mertua berhati emas itu begitu memaklumi Zha, seolah paham jika menantu nya itu memang bukanlah wanita biasa yang mengenal dapur dan alat makeup. Azka dengan sabar mengajari dan memberitahu Zha guna nya memasak dan berdandan untuk sang suami.


"Kau harus selalu ingat pesan Mama Kanzha, sehebat apapun wanita tugas nya melayani suami. Di dapur, di sumur dan di kasur. Itu istilah orang tua dulu Khanza." ucap Azka membelai lembut rambut Zha yang kini sudah mulai memanjang sedikit, biasa nya Zha sudah akan memotong rambut nya tiap dua tiga hari sekali.


"Untuk zaman sekarang , kita hanya perlu bisa memasak untuk sesekali menghidangkan makanan hasil tangan kita sendiri pada suami kita. Dan berdandan agar kita selalu tampil cantik di depan suami kita." lanjut Azka.


Zha mendongak menatap sang ibu mertua.


"Zha malu Tante..!"


"Tuh kan.. Kanzha lupa lagi ya..?"


"Ah, Maaf. Maksud Zha.. Mama.! Zha malu mama, tidak bisa memasak dan berdandan." ucap Zha segera menyadari jika ia lupa memanggil Azka dengan sebutan Tante.


"Tidak perlu malu sayang..! Kau bisa belajar sedikit demi sedikit." jawab Azka kini mengajak Zha ke kamar nya untuk memulai mengajari Zha cara berdandan.


Begitu lah, waktu siang Zha yang di lewati nya dengan warna indah bersama sang ibu mertua. Jika malam telah tiba Zha akan menunggu sang suami pulang untuk menunjuk kan hasil belajar makeup nya pada sang suami nya. Zha mulai sedikit demi sedikit lupa akan siapa dia dan dari mana dia berasal.


Poison Of Death nya yang kini sedikit sudah ia lupakan , Elang lah yang sibuk mengambil alih. Elang hanya tersenyum saja jika sesaat setelah Zha menghubungi nya dan bercerita tentang kehidupan baru nya. Elang bersyukur ketika ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengalihkan dunia kejam Zha.


Ia patut bersyukur akan kehadiran Halilintar yang sanggup dengan kilat membawa Zha keluar dari dunia gelap nya meskipun belum sepenuhnya. Setidak nya keinginan Tuan Poso agar Zha tidak terlalu lama berada di dunia mafia akan segera terwujud.


****


"Selamat malam sayang..? Istri ku tercinta Nyonya Halilintar.?" pria itu merengkuh Zha dari belakang.


"Hall.! Sudah pulang.?" Zha segera menoleh. Halilintar terbelalak menatap wajah Zha yang hampir tidak ia kenali itu.


"Zha..! Kau.."


"Kenapa.? Ini jelek ya.? Aku akan segera menghapus nya Hall.!" ucap Zha yang langsung berdiri melangkah.


"Tunggu." Halilintar segera menahan tangan Zha.


"Kau cantik sekali. Aku hampir tidak bisa mengenali mu. Sungguh Zha." Halilintar menarik tubuh Zha dan mendekap nya.


"Kau bohong.!"


"Benar Zha.. Kau cantik sekali melebihi Nyonya Azkayra sewaktu muda nya dulu."


"Memang kau mengenal Nyonya Azkayra sewaktu muda dulu hah..!!"


"Tidak sih, tapi kan melihat foto nya."


"Kau hanya ingin menyenangkan hati ku saja kan..?"


"Tidak Zha.. kau sungguh cantik sekali. Pasti Mama yang sudah mengajari mu berdandan begini.?"


Zha mengangguk dengan wajah tersipu nya membuat Halilintar semakin gemas melihat nya.


"Terus lah seperti ini Zha.. Aku menyukai nya." bisik Halilintar.


"Berarti kau tidak suka jika aku tidak seperti ini ya.?" Zha memasang wajah cemberut.


"Suka Zha. Ya Tuhan.. !! Kenapa sensitif amat sih..? Suka Zha .. suka. Apapun itu yang ada di dirimu aku suka..!!" Halilintar kembali membawa Zha dalam pelukan nya.


***


Malam tiba , ketika kedua pasangan pengantin baru itu selesai menikmati makan malam nya, Zha nampak mendekati sang suami yang saat ini sedang sibuk di depan layar laptop nya.


"Hall,..!"


"Jika kau tidak keberatan aku ingin kita tinggal di Mansion ku saja. Sudah saat nya kita mandiri Hall." ucapan Zha membuat Halilintar sedikit terkejut.


"Apa kau tidak betah tinggal disini.?" tanya Halilintar kini menutup Laptop nya dan mendekati Zha.


"Bukan begitu. Hanya saja , aku masih merasa belum saat nya berada di rumah ini. Kau pasti tau permasalahan nya apa."


"Baiklah, aku akan mencoba berbicara pada Papa dan Mama. Jika mereka menyetujui nya kita akan tinggal di sana." ucap Halilintar.


"Jika kau tidak mau, jangan di paksakan Hall, biar aku saja. Kau tetap di sini. Aku juga tidak mau Mama dan Papamu sedih karena merasa kehilangan Putra nya."


"Apa..? Zha, kita ini suami istri. Jadi aku akan bersama mu selalu , di mana pun itu. Tidak bisa sendiri sendiri lagi. Ah, Zha kau jangan membuat ku sedih.!" rengek Halilintar menatap sayu pada Zha.


"Siapa tau kau tidak rela keluar dari rumah mewah mu ini." jawab Zha menutup kedua mata Halilintar yang terlihat memelas itu dengan tangan nya.


"Akan aku buktikan padamu." Halilintar menyambar tangan Zha dan menarik nya hingga tubuh Zha jatuh tepat di atas ranjang. Halilintar segera menindih nya.


"Aku mencintai mu Zha, dan akan terus bersama mu. Apa pun yang terjadi dan kemana pun kau pergi." ucap Halilintar menatap Zha.


Tak ada lagi suara dari kedua nya kecuali hanya bahasa mata mereka yang seolah saling paham dengan tatapan mereka yang saling menyelami hingga bibir keduanya saling bertemu dan menyatu.


Kedua tangan mereka terkait untuk saling menggenggam erat dan kemudian saling meremas.


Hening sejenak, berganti desahhan manja penuh gairah dari kedua nya, hingga mereka saling hanyut bertukar kenikmatan dan erangan panjang dari kedua nya mengakhiri pergulatan mereka. Dengan cucuran keringat yang menjadi bukti curahan rasa dan cinta mereka, kini mereka melemas dan terlelap hingga pagi menjemput.


****


"Apa keputusan mu sudah bulat Hall.?" tanya Hanzero menatap putra nya pagi ini, ketika Halilintar mengatakan niat nya untuk tinggal di Mansion Zha.


"Iya Pa. Seperti Zha belum sepenuh nya bisa bertahan di rumah ini. Aku hanya tidak mau ini menjadi beban batin nya. Aku takut Zha berontak. Papa pasti paham bagaimana Zha." jawab Halilintar.


"Ya, Papa mengerti maksud mu.


Baik lah, Jika itu mau kalian. Pergilah.. Jika kau perlu Papa jangan sungkan untuk menghubungi Papa. Aku akan selalu ada waktu untuk Putra ku." ucap Hanzero.


"Pagi ini kami akan berangkat."


Hanzero sekali lagi mengangguk. Ia tidak merasa keberatan dengan keputusan putranya. Ia bahkan membenarkan alasan putra nya itu , jika Zha tidak harus tertekan batin. Cepat atau lambat Hanzero yakin jika Zha seutuh nya akan berubah dan bisa keluar dari dunia nya.


"Bagaimana tentang penyelidikan mengenai partikel di tubuh Zha Pa.? Apakah sudah ada hasil yang di temukan.?" tanya Halilintar.


"Profesor teman dokter Bram itu bernama Wiliam. Dia meminta waktu satu Minggu lagi. Jika sudah ada hasil nanti, Papa akan memberi mu kabar. Kau tidak perlu khawatir." jawab Hanz.


Halilintar mengangguk.


"Kau hanya perlu menjaga istri mu dengan baik Hall, kau harus bisa bertanggung jawab sepenuh nya dan menjadi pria sejati. Kau harus ingat , jika Zha adalah pilihan mu sendiri sebelum kami pun memilih nya." sambung Hanz.


"Pasti Pa, Aku tidak mungkin mengecewakan Kalian. Aku putra mu Tuan Hanzero, sudah pasti mewarisi sifat mu bukan.?" ucap Halilintar.


Hanzero terkekeh mendengar ucapan Putra nya.


"Kau benar. Kau putra ku satu satu nya. Putra kebanggaan keluarga Samudra. Tidak mungkin akan mengecewakan kami. Dulu aku sangat menunggu kelahiran mu tanpa peduli penderitaan yang kau beri kan padaku saat pertama kau di dalam perut Mama mu, sampai waktu kau akan lahir ke dunia ini kau masih memberi ku penderitaan.." jawab Hanzero mengingat bagaimana tersiksa nya ia dulu saat Azka mengandung Halilintar dengan banyak nya permintaan Azka dan kelakuan nya ketika ngidam, belum lagi saat Azka hendak melahirkan putra nya. Hanzero lah yang harus menanggung semua rasa sakit kontraksi Azkayra.


Halilintar pun ikut terkekeh, ia sudah tau semua nya karena baik Azka mau pun Hanzero sudah pernah bercerita tentang kisah mereka semua nya tanpa ada yang terlewat kan.


"Kau harus selalu ingat Hall, cinta itu butuh perjuangan dan juga pengorbanan.! Jika kau bisa melakukan itu dan berhasil melewati nya, maka kau akan mendapatkan cinta sejati yang akan kau bawa sampai kau mati."


Itulah, sepintas obrolan bermakna antara seorang ayah dan putra nya, terdengar begitu hangat dan terlihat begitu romantis.


Akan kah.. pengorbanan dan perjuangan Halilintar kali ini akan sama dengan kisah Ayah nya..? Atau justru akan lebih berat dan sulit..?


Simak part selanjutnya yang akan menceritakan tentang bagaimana perjuangan Halilintar demi sang istri Mafia nya.!


____________________


Yang ringan dulu ya kakak .. Setelah ini part berikut nya akan sedikit menegang.