
Elang bergerak maju mendekati Zha yang menarik mundur kakinya menjauhi pria yang ia anggap sudah mengkhianatinya itu sambil tetap menodongkan moncong pistol miliknya kearah dua pria di hadapan nya itu, dan matanya menatap waspada pada Elang, sementara tangannya mungkin akan segera siap menarik pelatuknya jika saja ia menangkap pergerakan tangan sedikitpun dari Elang.
"Zha, ini tidak seperti yang kau pikirkan." ucap Elang.
"Lalu apa hah? Kau memanggilnya Ayah. Berarti kau anaknya dan bodohnya aku selama ini telah kau permainkan!"
"Aku tidak pernah mempermainkan mu atau membohongi mu. Selama ini aku juga tidak tau Zha, aku baru saja mengetahui kenyataan ini beberapa hari yang lalu. Aku ingin memberi tahu mu tapi Ayah mencegahku." jawab Elang penuh hati hati.
"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan Elang? Aku bertanya sekali lagi. Apa maksud kalian. Atau aku akan memecahkan kepala tua Bangka itu!" Zha mengarahkan pistolnya pada Ardogama yang hanya terdiam tak bergerak dari tempatnya.
"Jangan Nona Zha! Dia Ayah ku. Ayah mu juga. Ayah kita..!" Elang sudah tidak mampu lagi menyimpan kenyataan yang baru ia ketahui beberapa hari yang lalu. Di mana ketika Ardogama datang menemuinya dan menceritakan yang sebenarnya. Lalu hari ini juga Ardogama lah yang mengirim pesan pada Elang agar membawa Zha menemui nya di sini, di markas milik Gustavo. Ardogama berpikir hari ini adalah waktu yang tepat untuk nya membuka semua nya. Di markas bekas milik kakek dan nenek Putra dan Putri nya yang di rebut oleh Gustavo. Dan Ardogama juga sudah memperhitungkan semuanya dengan matang, jika hari ini juga Menantunya yaitu Halilintar sedang berada disini berjuang untuk hidup Putrinya.
Zha terperangah mendengar ucapan Elang dan membuatnya begitu terkejut,. Rasa tak percaya, namun hatinya seperti tersengat aliran listrik dengan tegangan tinggi. Tangannya gemetaran dan badannya terasa lemas.
"Bualan apa lagi ini?"
"Zha,.!"
"Elang, biar aku saja yang akan menjelaskannya pada adik mu." potong Ardogama.
"Gadis manis, apa kau masih bisa mengenali foto sepasang suami istri ini?" Ardogama mengeluarkan sebuah foto dan menyerahkannya pada Zha.
Tanpa menurunkan kewaspadaannya Zha menyambar foto itu dengan tangan kirinya sementara tangan kanan nya masih setia mengarahkan pistolnya.
"Ayah, Ibu!" Zha sangat mengenali foto sepasang suami istri itu namun ia heran dengan siapa yang sedang digendong sang ayah, seorang anak laki laki berusia sekitar tiga tahun dan sang ibu menggendong seorang bayi.
"Dari mana kau mendapatkan foto ini? Dan apa hubunganmu dengan kedua orang tuaku!" Zha kembali menatap tajam kearah Ardogama.
"Sekarang ikutlah dengan ku, karena di sini tidak aman untuk kita berbicara serius." ucap Ardogama melangkah diikuti Elang dan Zha mau tidak mau mengikuti langkah mereka.
Ardogama membawa mereka kesebuah ruangan yang memang terlihat aman. Pria itu menarik sebuah kursi lalu duduk di sana. Menarik nafas berat sebelum akhirnya kembali menoleh pada Zha dan Elang yang masih berdiri di belakangnya.
"Ayah mu yang bernama Sean Abraham adalah yang saat ini kau kenal sebagai Ardogama." ucapnya membuat Zha semakin terperangah dan tidak mengerti.
"Maafkan Ayah Putri ku! Tapi ketahui lah , apapun yang ku lakukan pada kalian berdua adalah demi melindungi kalian. Dan ini adalah Amanat dari Kakek kalian dan juga permintaan Aisyah istri ku, ibu kalian."
"Mana mungkin?" ucapan lirih terlontar dari mulut Zha.
Masih dengan rasa yang belum percaya , Zha mencoba mencerna ucapan Ardogama yang ia anggap tidak masuk akal itu. Hingga Ardogama mulai menceritakan awal mulanya. Zha memilih untuk mencoba mendengarkannya.
Semua itu berawal dari penghianatan Gustavo, dia lah yang sebenarnya membunuh Tuan Glendale mertua Sean Abraham demi merebut harta dan kekuasaannya. Namun sebelum Tuan Glendale tewas ia sempat memberitahu Sean sesuatu dan memintanya untuk menjaga Putrinya agar tetap melahirkan keturunan mereka dan memintanya untuk menjaga seluruh harta kekayaan miliknya agar tidak pernah jatuh ke tangan Gustavo atau kerabatnya yang lain yang telah mengkhianatinya.
Saat itu istri Sean sudah mengandung anak pertama mereka, dan Sean tau jika Aisyah sudah di racuni keluarganya agar bayi yang di kandung Aisyah tidak selamat. Tapi Sean berusaha mengikuti permainan mereka. Ketika kehamilan istrinya sudah memasuki bulan ke enam, dan Aisyah sudah mulai merasakan efek dari racun mereka, Sean sudah berhasil menciptakan anti racun untuk istrinya. Sean kemudian meminta dokter setianya untuk mengangkat bayi pertamanya dari rahim istrinya, lalu merawat bayi prematur itu di dalam rumah sakit sampai sang bayi di nyatakan sudah bisa di keluarkan dari rumah sakit. Sean lalu membawa bayi itu pergi dan menitipkannya pada sahabatnya. Bayi laki laki yang di beri nama Elang itu di didik dan di besarkan oleh sahabat Sean yang tidak lain adalah Tuan Poso. Tidak ada satu pun yang mengetahui rencana Sean ini dan pada saat itu semua orang mengira jika Aisyah keguguran dalam kehamilan pertamanya.
Setelah kejadian itu,
Sean masih bertahan di dalam rumah klan Jangkar perak demi istrinya, namun ketika kehamilan kedua sang istri yang juga sudah di racuni itu, Sean gagal untuk menciptakan anti racun yang berbeda itu dan memilih membawa istrinya pergi secara diam diam.
Dokter yang menangani Aisyah pun menyerah dengan kondisi Aisyah, dan memberi pilihan yang sulit. Aisyah harus bersedia menggugurkan kandungannya agar terbebas dari racun yang siap menggerogoti hidupnya atau tetap memilih melahirkannya tapi akan menderita sakit sampai batas tubuhnya sanggup menahan racun itu.
Aisyah memilih melahirkan bayinya dan berjanji akan menjadikan bayinya sebagai keturunan terakhir dari klan mereka.
Setelah kejadian itu Sean melakukan oprasi plastik, merubah wajahnya dan mengganti seluruh identitasnya dengan nama barunya yaitu Ardogama. Ardogama mulai mencari satu persatu anak buah setia Klan Jangkar perak yang berhasil selamat dari pembantaian Gustavo dan membangun kembali Klan mafia yang saat ini di kenal dunia sebagai Klan Selatan.
Ardogama terus mengawasi tumbuh kembang putra dan putrinya dari jauh, mengawasi mereka serta melindungi mereka dengan caranya. Namun kecerdasan Gustavo tidak bisa di remehkan hingga keberadaan sang putri mulai tercium oleh Gustavo. Bahkan mengenai chip kecil ciptaan Glendale yang di sembunyikan Ardogama pada tubuh sang putrinya dan juga guna menutupi Tatto jangkar yang akan terus muncul pada setiap keturunan perempuan dari mereka.
"Perlu kalian ketahui , sudah menjadi tradisi keluarga kalian jika seorang anak perempuan akan membawa harta kekayaan keluarga dan tugas anak laki-laki adalah sebagai pelindungnya." Ucap Ardogama mengakhiri ceritanya.
"Apa kalian mengerti, jika aku dan Kakek kalian sudah merencanakan ini dengan sebaik baiknya. Jika kalian tetap bersama orang tua kalian tidak memungkinkan jika kalian akan tetap hidup sampai saat ini. Dan keinginan kakek serta ibu kalian tidak akan pernah terwujud." ucap Ardogama.
"Dan aku sengaja memberitahu Elang terlebih dahulu karena berharap jika dia akan bisa melindungi adiknya yang saat ini tengah mengandung calon cucu ku."
Zha yang mendengar seluruh cerita Ardogama seketika melemas, tubuhnya hampir saja tumpang jika Elang tidak segera menahannya.
"Zha, .. Apa kau baik baik saja?"
"Kau.. berati kau kakak ku?" mata Zha berkaca kaca ketika menatap wajah pria yang kini mendekapnya itu.
Elang mengangguk.
"Ya, dan gadis iblis ini ternyata adalah adik ku." jawab Elang memeluk erat tubuh Zha.
"Kita akan bersama menghadapi ini. Kau percaya padaku?" ucap Elang yang hanya di balas anggukan berat dari Zha.
Sesaat semua larut dalam keheningan, bahkan Ardogama sendiri mulai berkaca kaca dan perlahan menghampiri mereka.
"Kami sangat mencintai kalian, bahkan kami berkorban apapun demi kelangsungan hidup kalian. Begitu juga seluruh Klan Jangkar Perak yang setia menjadi penjaga kalian dari jauh." ucap Ardogama merentangkan kedua tangannya untuk memeluk kedua anaknya.
Kini Zha mulai mengerti, sifat liar dan mafianya terwaris dari keluarga Ibunya. Sementara keahliannya dalam meretas adalah dari kakeknya. Lalu keahliannya dalam membuat racun? Buku yang ia dapat dari tuan Poso? Tidak lain dari Ayahnya sendiri. Ia selalu selamat dari kejaran musuh, selalu menang dalam persaingan bisnis dan selalu menang dalam menaklukkan Klan lain, semua tidak luput dari ikut campur Klan Jangkar perak yang setia yang saat ini di pimpin oleh Ayahnya. Zha pun teringat mendiang ibunya yang tidak pernah mau melihatnya nakal dan selalu ingin Zha menjadi wanita baik baik. Ibu nya juga selalu menutup rapat rapat tentang identitas keluarganya sendiri dan tidak pernah menceritakan sedikit pun tentang asal usul keluarganya.
"Kanzha, sekarang kau mengerti kan? Jangan kecewakan pengorbanan ibu mu sayang?" Ardogama mencium kening putrinya.
Zha mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan Halilintar? Dimana dia?" tanya Zha yang tiba tiba teringat suaminya.
"Dia ada di markas ini juga, semoga dia berhasil mengambil kembali chip induk itu. Kita akan segera membantunya." jawab Ardogama.
Baru saja beberapa saat mereka saling berpelukan melempar pandangan penuh kerinduan, suara rentetan tembakan dari arah luar terdengar memecah telinga.
"Mereka menemukan kita!" ucap elang.
"Cepat lindungi adik mu, Ayah akan menghadapi mereka." ucap Ardogama.
"Tidak, kita akan menghadapi mereka bersama sama!" jawab Zha.
"Tidak Kanzha, kau dan kakakmu harus segera menemukan Halilintar. Saat ini suami mu sedang berhadapan dengan Gustavo. Cepat temukan dia sebelum terlambat. Elang.. bawa Adik mu pergi!" teriak Ardogama segera beranjak.
____________________