Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 8 ~ Jadian


Makan malam bersama berlalu begitu cepat, tapi baik Ricky ataupun Keisha belum ada yang pulang kerumah pak Wilson.


Mamah Ricky meninta untuk keduanya bermalam, tapi sepertinya Keisha kurang setuju akan hal itu. Terbukti saat ini Keisha banyak diam dan memperlihatkan wajah masamnya. Sama sekali tidak memberikan kesan baik pada mamahnya, padahal Ricky selalu bersikap sopan kepada pak Wilson.


"Ayo pulang!" ajak Keisha.


"Kamu nggak dengar mamah bilang apa? Apa nggak bisa kamu nginap semalam aja? Saya tahu kamu ataupun saya sama-sama terpaksa menerima pernikahan ini, bukan cuma kamu yang nggak nyaman, tapi saya juga!" cetus Ricky dengan nada kesal.


Berdiri dari duduknya dan meninggalkan kamar. Sudah dikatakann, Ricky adalah pria yang mempunyai kesabaran setipis tisu, tapi malah dipertemukan dengan gadis keras kepala seperti Keisha.


"Pak Ricky mau kemana?" tanyanya menarik tangan Ricky yang hendak keluar rumah.


"Bukan urusan kamu, kalau mau pergi silahkan!"


"Oke kalau gitu."


Tanpa bicara lagi, Keisha mengambil tas ranselnya dan meninggalkan rumah mamah Ricky tanpa pamit pada siapapun. Itu semakin membuat Ricki emosi, tapi berusaha meredam amarahnya secepat mungkin.


"Iky, istri kamu mau kemana?" tanya Ratna yang tidak sengaja melihat menantunya pergi dari rumah.


"Pulang Mah, Iky yang ngajak. Nanti lain kali Iky bermalam di rumah, sekarang Kei lagi datang bulan, jadinya agak sensitif," ucapnya.


Pria itu mengecup kening mamahnya sebelum meninggalkan rumah. Meski Keisha baru saja membuatnya emosi, bukan berarti Ricky harus menjelek-jelekkan gadis itu di hadapan mamahnya. Ayolah Ricky bukan tipe pria demikian.


Lagi pula sekarang Keisha tanggung jawabnya. Dia harus menjaga gadis itu selama status mereka masih suami istri.


Ricky melajukan mobilnya membelah padatnya jalan raya. Mata tajamnya menatap kiri dan kanan untuk mencari di mana Keisha sebenarnya berada.


Tepat di dekat warung makan tidak jauh dari rumah, Ricky melihat Keisha turun dari motor bersama pria yang dia kenal bernama Mahesa.


"Oh ternyata ini alasannya nggak mau bermalam di rumah?" gumam Ricky.


***


Senyuman Keisha tidak henti-hentinya mengembang, memperhatikan tangannya yang sejak tadi digenggam oleh Mahesa. Pria yang kebetulan Keisha temui saat akan memesan taksi untuk pulang kerumah.


Pria itu tiba-tiba mengajak Keisha jalan-jalan sebelum pulang, karena terlalu mencintai Mahesa, Keisha mengiyakan semuanya. Bahkan gadis itu rela kembali membiayai Mahesa.


"Ke Karaoke mau nggak?" tanya Mahesa.


"Mau asal sama kakak."


"Cakep dah."


Mahesa lantas menarik tangan Keisha memasuki tempat karaoke, tempat yang memang ingin dia tuju sejak awal.


Kapten basket itu membuka pintu dan memperlihatkan 5 temannya yang sedang nongkrong di dalam sana.


Sungguh Keisha tidak pernah menyangka Mahesa membawanya ke tempat yang dihuni para lelaki.


"Di sini?" tanya Keisha.


"Hm, kita di sini aja ya? Bahaya kalau di tempat sepi."


Keisha mengangguk, ikut duduk di samping Mahesa.


"Gais, pacar gue. Belum pernah ketemu kan? Dia gadis yang sering gue ceritain."


"Jadi ini? Cantik njir, bisa-bisanya mau sama lo ... hahahahha." Tawa mereka mengelegar di ruang tertutup tersebut.


Keisha hanya bisa tersenyum canggung, memainkan tangannya yang terus di genggam oleh Mahesa. Jika boleh jujur, Keisha sangat senang karena Mahesa memperkenalkannya sebagai pacar pada teman-temannya.


Apakah ini artinya dia dan Mahesa resmi pacaran? Bolehkan Keisha berteriak untuk mengutarakan rasa bahagianya?


Malam ini Keisha semakin jatuh pada pesona Mahesa, melupakan statusnya yang telah menikah dengan Ricky. Melupakan waktu yang ternyata sudah jam 12 malam. Tidak ada telpon masuk di ponsel Keisha, sebab ponsel gadis itu mati.


"Makasih udah nemenin gue malam ini," ucap Mahesa setelah mereka keluar dari ruang Karaoke, menuju kasir untuk membayar semua pesanan teman-temannya.


"Berapa semua?"


"1 juta 600 ribu kak. Pembayarannya cash atau debit?" tanya sang kasir.


Mahesa lantas meraba-raba celanya bergantian dengan jaket yang dia kenakan.


"Kenapa, kak?"


"Kayaknya gue lupa dompet di ruangan tadi."


"Oh iya udah, pakai uang gue aja. Kakak ambil dompetnya di ruangan, biar gue yang selesain pembayaran."


"Makasih Kei."


Mahesa tersenyum lebar, berlari menuju ruangan tertutup tadi, setelahnya menyusul Keisha yang ternyata sudah berdiri di sisi motornya. Dia mengantar gadis itu pulang tanpa rasa bersalah padahal sudah larut malam.


"Kak Mahesa!" panggil Keisha dengan suara sedikit lantang, guna suaranya tidak hilang ditelan angin.


"Kenapa?"


"Kakak tadi ngenalin gue sebagai pacar, memangnya kita pacaran?" tanya Keisha, tanpa diperintah melingkarkan tangannya di pinggang Mahesa karena udara terasa sangat dingin.


"Memangnya lo mau pacaran sama gue?"


"Mau banget kak, malam ini kita pacaran?"


"Boleh."


"Yei akhirnya gue bisa dapatin kak Mahesa," pekik Keisha tanpa tahu malu.


Gadis itu melambaikan tangannya setelah sampai di rumah. Mengantar kepergian Mahesa. Dia berjalan santai memasuki rumahnya, terkejut ketika lampu tiba-tiba menyala dan mendapati papahnya berdiri di tengah-tengah tangga.


"Pa-papah!"


"Dari mana? Nggak punya jam? Gunanya ponsel kamu apa?" tanya Wilson dengan suara tegasnya.


"Aduh papah kayak nggak tau aja urusan anak remaja, ya jalan sama temanlah. Lagian ini ...."


"Keisha! Apa kamu lupa sekarang punya suami hah? Harusnya kamu patuh pada suami kamu, bukan malah seperti ini!" bentak pak Wilson memegangi dadanya.


Sedangkan Keisha terkejut karena mendapat bentakan dari papahnya, ini pertama kalinya hanya karena statusnya yang sudah menikah.


"Papah bentak Kei karena pak Ricky? Kei kan dari awal memang nggak mau nikah, tapi papah maksa karena penyakit papa itu," balasnya dan berlari melewati papahnya begitu saja, menutup kamar cukup keras, membuat Ricky yang sedang berada di dapur hanya bisa memejamkan mata.


Awalnya pria itu juga ingin marah, tapi sepertinya urung karena sudah mendengar bentakan pak Wilson. Ricky keluar dari dapur membawa dua gelas kopi yang sengaja dia buat tadi untuk menunggu kedatangan Keisha yang tidak kunjung pulang.


"Pak Wilson baik-baik aja?" tanya Ricky membantu papah mertuanya berjalan menuju sofa, pria tua itu masih memegangi dadanya.


"Papah baik-baik aja. Ke kamarlah dan beri pelajaran pada istrimu, dia sudah keterlaluan, Nak. Maafin papah karena harus memaksa kamu menikah dengannya."


"Nggak papa, Pak."


Ricky kembali ke kamarnya setelah mengantar pak Wilson ke kamar. Dua gelas kopi yang dia buat tidak disentuh baik olehnya ataupun pak Wilson. Dia membuka pintu dan mendapati kamar yang terang. Gemircik air terdengar, tapi Ricky masih bisa mendengar isakan Keisha di dalam kamar mandi.


"Keisha benci papah! Keisha benci pak Ricky!" pekik gadis itu di dalam kamar mandi. "Keisha kangen mamah."


"Emosinya terlalu labil," gumam Ricky. Merebahkan tubuhnya tanpa ingin menganggu Keisha yang berteriak seperti orang gila.