Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 7 ~ Cerai tanpa jadi Janda


Jam kosong di pagi hari adalah hal yang sangat menguntungkan bagi Keisha dan Aurin. Gadis itu tidak menggunakan waktu untuk belajar, melainkan duduk di pinggir lapangan memperhatikan XII IPA 2 olahraga.


Tatapan Keisha tidak pernah lepas dari Mahesa yang terus berlari di lapangan, melakukan lay up dan melompat bola hingga mencetak angka 3.


"Semangat kak Mahesa, Kei selalu mendukung kakak!" pekiknya tanpa memperdulikan perhatian teman-temannya yang lain, terutama Ricky yang sejak tadi melatih anggota basket tersebut.


"Caper," gumam Ricky yang hanya bisa dia dengarnya sendiri.


Berbeda dengan Mahesa yang mengacungkan jempolnya pada Keisha. Entahlah, tapi tiba-tiba Ricky hilang respek dengan siswa kesayangannya tersebut.


Jam olahraga terus berlangsung cukup lama, hingga akhirnya bel istirahat berbunyi. Kelas IPA 2 lantas berbari ke kantin, begitupun dengan Keisha yang mengikuti langkah Mahesa.


"Makan siang bareng?" tanya Keisha setelah mengusir Aurin agar tidak mengukutinya. Keisha ingin berduaan dengan Mehesa saja.


"Boleh, tapi Tr ya?"


"Siap!" seru Keisha.


Keduanya akhirnya berada di kantin, dengan sigap Keisha memesan dua menu, tidak lupa membayarnya.


Memang sering kali Keisha mengeluarkan uang untuk Mahesa dan teman-temannya. Entah gadis itu royal atau bodoh sehingga ingin menghabiskan uang untuk seorang pria.


Keduanya makan siang bersama, berbeda dengan Aurin yang berkeliaran di pinggir lapangan. Membantu pak Ricky membereskan bola-bola yang berserakan.


"Terimakasih," ucap Ricky tanpa menoleh.


"Nggak gratis, Pak. Liat saya keringetan." Menunjuk keningnya tanpa dosa.


Ricky menghela nafas panjang. "Berapa?"


"Traktir makan di kantin!" serunya.


Tanpa meminta persetujuan dari gurunya, Aurin menarik tangan pria itu menuju kantin sekolah. Duduk tepat di samping Keisha yang tengah memperhatikan Mehesa makan dengan lahap.


"Asyek makan bareng, sekalian double date dong," celetuk Aurin tersenyum genit pada Ricky.


Pria itu bergidik ngeri melihat tingkah ajaib siswanya, tatapannya berpindah pada Keisha yang seakan tidak terganggu dengan kehadirannya bersama Aurin.


Sungguh, Ricky sedikit kesal Keisha begitu genit pada seorang pria padahal sudah memiliki suami.


"Sepertinya semua perempuan sama aja. Tukang selingkuh," batinnya.


***


Jam terakhir tiba, baik Keisha maupun Aurin mulai gelisah menatap keluar kelas. Keduanya bosan mendengarkan sejerah yang tengah pak Adnan bahas di depan kelas.


Kedua gadis itu ingin pulang, terlebih bel pulang sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Sayangnya, pak Adnan adalah salah satu guru yang tidak kenal waktu.


Kadang-kadang mengambil jam kosong, atau jam pulang.


"Ada pertanyaan?" tanya pak Adnan usai menjelaskan materinya.


Dengan sigap Keisha melambaikan tangannya.


"Silahkan, Keisha!"


"Bel pulang udah bunyi, Pak."


"Saya tau, tapi saya minta waktunya sedikit lagi," sahutnya tanpa dosa.


Keisha memutar bola mata malas, bepikir keras agar bisa segera pulang. Gadis itu ada jadwal penting hari ini. Drama india kesukaanya sudah tayang dan dia tidak ingin melewatkan apapun.


"Pak Adnan."


"Apalagi Kei?"


"Izin ke ruang guru, Pak. Saya lupa disuruh menghadap sama pak Ricky."


"Baiklah."


"Yes!" pekiknya tertahan, membereskan barang bawaanya. "Pak saya ajak Aurin ya? Soalnya takut dilecehkan!"


Setelah meminta izin, Keisha berlari keluar kelas tanpa mencium punggung tangan pak Adnan.


Bersorak ria di koridor karena terbebas dari jeratan pak Adan.


"Pintar juga lo, Kei!"


"Ekhem!"


Keduanya serempak berbalik dan terkejut melihat pak Ricky berdiri sambil bersedekap dada.


"Kalian bolos?"


"Hello pak Ricky, bel udah bunyi sejak tadi, ya kali kita bolos. Kita anak baik-baik, polos nan manja."


Aurin mengulum senyum mendengar pernuturan sahabatnya, berbeda dengan Ricky yang menatap penuh selidik. Pria itu mendengar apa yang dikatakan Keisha saat izin pada Pak Adnan, sebab Ricky kebetulan melintas.


"Kamu ada urusan sama saya kan? Ayo kalau begitu!" Menarik tas ransel Keisha, sehingga tubuh mungil itu mau tidak mau harus ikut.


"Hiyyaaa pak Iky!"


"Diam dan masuk ke mobil!" Mendorong tubuh Keisha tanpa perasaan, tidak memperdulikan Aurin yang menatap keduanya binggung.


Dia melajukan mobil hitam tersebut meninggalkan lingkungan sekolah. Hari ini Ricky mendapat undangan dari mamahnya untuk makan malam bersama di rumah, itulah mengapa menunggu Keisha keluar dari kelas.


Namun, siapa yang menyangka Keisha keluar dari pelajaran pak Adnan dengan membawa-bawa namanya.


"Jangan natap saya terus!" tegur Ricky.


"Yang natap bapak siapa? Dih kepedean, noh saya natap pintu mobil!" ujarnya berbohong.


Tentu sejak tadi Keisha menatap suaminya, tapi bukan memuja melainkan mengumpat tiada henti.


"Saya tau kamu terpesona sama ...."


"Amit-amit ... saya lebih baik jadi perawan tua daripada harus suka sama bapak." Mengetuk-ngetuk kaca mobil bergantian dengan kepalanya.


Keisha memilih diam seribu bahasa, menikmati perjalanan yang entah kemana. Semoga om-om tua itu tidak membawanya ke gubuk lalu memperkos*anya tiada ampun.


"Mikirin apa kamu? Kok ekspresinya gitu?"


"Kepo banget, dih dasar om-om." Mendelik tidak suka.


"Keisha!"


"Lagi mikirin gimana caranya bisa cerai sama bapak tanpa jadi janda, kenapa? Ada saran yang pas?"


"Wah bakal jadi janda tapi perawan dong?" ledek Ricky sambil tertawa, membuatnya mendapat pukulan berkali-kali dari Keisha.


Pertengkaran kecil antara keduanya membuat perjalanan tidak terasa. Ricky dan Keisha telah sampai di rumah mamah Ratna.


"Rumah siapa?"


"Rumah mamah saya!"


Keisha mengangguk-angguk mengerti. "Wait-wait, jangan turun dulu!" Mencegah Ricky turun dari mobil.


"Apa?"


"Rumah."


"Kenapa sama rumah?" Kening Ricky mengerut.


"Saya ada ide biar nggak tidur satu kamar. Gimana kalau bapak beli rumah aja, kita tinggal berdua dan bebas ngelakuin apa aja, bisa pisah kamar juga. Cemerlang kan ide saya?"


"Nggak."


"Oh saya tau, bapak miskin ya? Nggak punya uang buat beli rumah? Aduh kasian banget nasib kamu Kei, udah nikah sama om-om tua, miskin pula. Dahlah."


Turun lebih dulu dari mobil tapi urung untuk masuk ke rumah. Lagipula tidak mungkin kan Keisha masuk begitu saja ke rumah yang tidak pernah dia kunjungi sebelumnya?


"Ayo!" ucap Ricky tanpa melihat.


Pria itu lumayan kesal dengan perkataan Keisha yang menghinanya miskin, lihat saja apa yang bisa Ricky lakukan dengan uang. Pria itu akan membuktikan bahwa Keisha beruntung menikah dengannya, dialah yang rugi karena menikah dengan gadis bar-bar penuh akan drama.


"Akhirnya kalian datang juga, ayo masuk Nak," sambut Ratna. "Iky, bawa istri kamu ke kamar biar dia bisa ganti baju dulu, kebetulan mamah udah beliin baju kemarin pas belanja."


"Makasih tante bajunya, kalau gitu Kei ke kamar dulu." Berlalu tanpa mencium punggung tangan Ratna, padahal wanita paruh baya itu menunggu momen tersebut.


"Karena aku, putraku dapat istri yang nggak punya sopan-santun." Menatap sinis Keisha yang menapaki anak tangga.