
Ricky senyum simpul melihat istrinya yang berjalan menuju kamar tanpa menoleh sedikit saja. Dia melihat dengan jelas bagaimana pipi Keisha memerah ketika dia berusaha menggoda gadis itu. Merasa mulai mendapatkan lampu hijau untuk mengambil kembali hati yang telah beku tersebut, Ricky semakin semangat.
Pria itu menyusul sang istri ke kamar, ikut berbaring di samping Keisha yang telah memejamkan mata. Tangan pria itu bergerak dan menempel di perut Keisha.
"Sayang?" panggil Ricky. "Boleh nggak saya cium?"
"Nggak!"
"Dosa loh nolak kemauan suami."
"Bentak istri dan nuduh orang juga dosa."
"Ck." Ricky berdecak, perkataanya selalu saja dibalas dengan hal yang lebih menusuk hati. Pria itu beranjak dari tidurnya dan tidak lagi menganggu Keisha, bukan karena marah, melainkan ponselnya berdering. Dia menjawab panggilan itu sambil berjalan ke balkon.
"Iky, tolongin aku! Ad-ada yang mau lecehan aku." Suara tangisan di seberang telpon berhasil mengambil simpati Ricky.
"Ak-aku nggak tau ada di mana sekarang, ak-aku aaahhhhhkkkk!" Tepat setelah teriakan terdengar, sambungan telpon terputus. Ricky yang merasa khawatir hendak menemui Amelia, tetapi saat berbalik istri yang berusaha dia gapai hatinya, tengah berdiri sambil bersedekap dada.
"Dari siapa?" tanya Keisha dengan tatapan penuh curiga.
"Amelia dia butuh bantuan, saya harus pergi ...."
"Kalau pak Ricky lewatin pintu kamar meski selangkah aja, hubungan kita berakhir."
"Keisha?"
"Kenapa? Kalian balikan? Kalian selingkuh? Ah apa jangan-jangan kalian berdua udah ngelakuin hal yang nggak seharusnya. Pak Ricky bukan pria yang setia, kamu bukan suami yang bisa ...."
"Cukup Keisha!" ucap Ricky tegas. "Atas dasar apa kamu nuduh saya? Dekat sama mantan bukan berarti ....."
"Lalu atas dasar apa pak Ricky nuduh saya malam itu? Dekat sama mantan bukan berarti selingkuh kan?" bentak Keisha, berhasil membuat Ricky terdiam seketika. "Gimana rasanya dituduh padahal kita nggak pernah lakuin itu?"
"M-maaf," ucap Ricky setelah sadar Keisha sedang membalas apa yang telah dia perbuat dulu.
"Saya pendedam, apa yang saya alami bakal saya lakuin hal yang sama. Termasuk selingkuh."
"Sayang?" Ricky langsung duduk di sofa dan memeluk pinggang istrinya yang tampak marah. "Sekarang saya tau kenapa kamu cuekin saya cukup lama. Ternyata rasanya dituduh itu nggak enak, terlebih ada di posisi kamu yang harusnya butuh perlindungan," ucap Ricky. Menyembunyikan kepalanya di perut Keisha.
"Amel bohong sama pak Iky. Sekarang dia ada di tempat karaoke, Aurin dan Tommy ngikutin sejak pulang sekolah." Suara Keisha mulai lembut, mengelus rambut Ricky yang berada di perutnya. "Jangan hina saya lagi ya, Pak? Hati saya nggak bakal tenang sebelum balas semuanya."
"Janji, saya nggak bakal buat kesalahan, apalagi sampai nyakitin hati kamu." Ricky mendongak. "Kita baikan?"
"Ada syaratnya."
"Apa?" Tatapan Ricky semakin dalam, apalagi melihat wajah Keisha dari bawah sangatlah indah.
Keisha mengigit bibir bawahnya, dia malu jika harus mengatakan hal menjijikkan tersebut.
"Keisha?"
"K-kita udah nikah, kenapa harus panggil pak, dan saya? Nggak ada gitu yang lebih romantis?"
"Maunya apa?" Ricky mengulum senyum, senang karena syaratnya tidak terlalu berat. Hanya mengganti nama panggilan, itu tidak masalah.
"Bubu?"
"Pak Iky!"
"Ok-oke, Bubu Sayang." Ricky menyengir meski aneh jika harus memanggil Keisha dengan sebutan Bubu.
Keisha tersenyum lebar, pipi gadis itu kembali memerah karena panggilan Bubu yang keluar dari mulut Ricky. Jika dipanggil bubu dia merasa dibutuhkan, karena kesannya Ricky manja padanya.
"Terus buat saya apa dong?"
"Sayang?"
"Boleh, ayo kita ngadon baby!" seru Ricky antusias karena sudah berhasil berbaikan dengan kekasihnya.
"Ak-aku datang bulan."
"Cie-cie udah aku-aku aja." Ledek Ricky, menjawil hidung mancung istrinya.
Pria itu memeluk erat Keisha, mengecup seluruh wajah gadis itu hingga benar-benar puas. "Maafin aku udah nyakitin hati kamu. Maaf-maaf dan maaf, Bubu."
***
Jika Ricky dan Keisha sedang berbahagia setelah berhasil mengurai benang kusut dalam rumah tangganya, maka berbeda dengan Amelia yang melempar ponselnya ke lantai. Wanita itu kesal karena Ricky tidak kunjung datang, atau sekedar menelpon untuk menanyakan kabarnya apa baik-baik saja.
"Ah sial, aku kira hubungan mereka lagi nggak baik, kenapa dia masih peduli? Harusnya Ricky benci sama Keisha karena udah disentuh pria lain!" teriak Amelia di dalam ruangan tertutup itu. Dia belum menyadari jika sejak tadi ada yang mengawasi pergerakannya.
"Kemana anak itu? Kenapa nggak ada kabar?" gerutu Amelia karena sudah tiga hari tidak mendapatkan kabar dari Mahesa. "Semoga dia nggak buka mulut."
Amelia beranjak dari duduknya, tidak lupa memungut ponsel yang tadi dia lempar. Ketika wanita itu membuka pintu ruangan karaoke, dua orang yang sejak tadi menguping segera menyingkir ke sudut yang tidak bisa dilihat oleh siapapun. Tubuh Aurin terhimpit ke dinding karena pergerakan Tommy yang terlalu cepat. Napas mereka bahkan terasa di wajah masing-masing sakin dekatnya.
"So-sorry gue nggak ada maksud buat meluk lo," ucap Tommy, segera menjauhkan tubuhnya dari Aurin setelah Amelia tidak terlihat lagi.
"Ng-nggak papa," sahut Aurin yang tiba-tiba merasa gugup. Sulit gadis itu pungkiri bahwa di hatinya paling dalam masih ada Tommy, tetapi kini dia tidak ingin menjalin hubungan haram dengan ikatan pacaran.
"L-lo dengar apa yang kuntilakan itu bicarain di dalam?" tanya Aurin.
"Nggak, ruangannya kedap suara. Dahlah, kita pulang aja udah jam 11 malam. Ntar orang tua lo nyariin lagi."
Tommy berjalan lebih dulu meninggalkan tempat kedap suara tersebut, di belakangnya Aurin mengekor layaknya anaknya kecil. Jantung gadis itu masih berpacu sangat hebat setelah berhadapan dengan Tommy.
"Awwwh," ringis Aurin ketika kepalanya membentur punggung Tommy yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Makanya kalau jalan jangan ngelamun bae. Pegang ini! Di luar makin banyak cowok." Tommy menyerahkan dasi yang kebetulan ada di saku hodienya.
Aurin dengan sigap mengambil ujung dasi tersebut, sementara ujung dasi lainnya digenggam oleh Tommy. Aksi keduanya seakan-akan perpegangan tangan tanpa bersentuhan. Aurin yang menyadari hal itu senyum-senyum sendiri. Senang Tommy sudah tidak seperti dulu lagi, pria itu tahu bahwa dia sedang berusaha berada di jalan yang benar.
"Cie elah senyum mulu deh dari tadi, baper ya?" Goda Tommy setelah sampai di parkiran.
"Apa sih, ngapain gue baper sama lo! Kita cuma temanan kali." Elak Aurin, lebih dulu masuk ke mobil papahnya yang dibawa oleh Tommy.
"Teman tapi menikah, boleh nggak sih? Ntar gue lamar lo secera tiba-tiba."
"Gaje banget, buruan jalan!"
"Siap Ukhti."