
Kelopak mata Keisha bergerak secara perlahan saat cahaya matari menerpa wajah cantiknya. Dia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Alih-alih marah seseorang membuka tirai kamarnya tanpa izin, gadis itu malah tersenyum. Bagaimana tidak, orang yang membuka tirai adalah suami yang selama ini sering kali mambuat Keisha uring-uringan setiap harinya.
Gadis itu bergerak secara perlahan, menyentuhkan kakinya pada lantai dingin. "Pak Ricky kok udah rapi aja?" tanya Keisha dengan suara lirihnya.
"Sudah setengah 7, kalau nggak rapi mau ngapain? Ayo bangun dan siap-siap ke sekolah!" sahut Ricky yang masih berdiri di pintu balkon kamar istrinya.
Sementara Keisha telah masuk ke kamar mandi seperti yang telah diperintahkan sang suami. Tidak lupa dia membawa seragam sekolah dan beberapa keperluan lainnya. Entahlah, tetapi akhir-akhir ini Keisha menjadi sangat penurut, terlebih jika moodnya dijaga agar tetap baik.
Setelah siap dan rapi, dia kembali menghampiri pak Ricky yang tampak sibuk memandangi layar ponsel.
"Ayo!" ajaknya.
Ricky lantas berdiri, langsung mengenggam tangan istrinya tanpa meminta izin terlebih dahulu, hal itu membuat mood Keisha membaik di pagi hari. Bahkan tanpa sarapan gadis itu akan kenyang karena baper.
"Pulang sekolah nanti, kita ke rumah sakit ya?" ajak Ricky setelah berada di perjalanan menuju sekolah. Sejak menemui Keenan dan Glora di rumah sakit kemarin malam, dia belum sempat berkunjung kembali, karena terlalu asik menikmati hari libur bersama Keisha.
"Ngapain? Siapa yang sakit, Pak?"
"Istri teman saya."
Keisha mengangguk setuju, senang diajak bepergian oleh Ricky, terlebih bertemu teman-teman pria itu. Keisah adalah gadis yang gampang baper, dan pikirannya tentang cinta sedikit berbeda dari gadis pada umumnya. Jika gadis itu diajak bertemu dengan seseorang, maka dia sudah menganggap dirinya penting. Aneh bukan? Tidak masalah, suka-suka Keisha.
***
Kantin adalah tempat yang selalu menjadi persinggahan para siswa setelah jenuh menghadapi pelajaran di kelas. Ruangan yang di penuhi akan menu makan di dalamnya mulai didatangi siswa beberapa saat setelah bel istirahat berbunyi.
Keisha dan Aurin adalah salah satu siswa yang hampir tidak pernah absen mengujungi kantin. Bagi keduanya, sekolah tanpa jajan adalah kebodohan yang harus disingkirkan.
"Gimana hubungan kalian? Gue harap jauh lebih baik dan lo bisa lupain cowok nggak modal itu," celetuk Aurin. Menyedot jus jeruknya secara kasar.
"Jauh lebih baik dan ada perkembangan. Pulang sekolah gue sama pak Iky mau kerumah sakit. Kayaknya pak Iky udah suka deh sama gue."
Aurin tertawa mengejek. "Segampang itu? Gue curiga malah sebaliknya."
"Ish lo raguin kecantikan dan pesona gue hah?" Keisha berkacak pinggang, kesal jika ada seseorang yang mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada pak Ricky. Aturannya, guru olahraga itulah yang harus jatuh cinta padanya.
Keisha membulatkan matanya secara tiba-tiba saat benda dingin menyentuh pipinya. Senyuman bangga yang sempat terlihat berubah menjadi kesal mengetahui siapa pelaku tersebut.
"Apaan sih kak Mahesa!" Menyingkirkan tangan Mahesa di pipinya. "Sokap banget dah," cibir Keisha.
Aurin mengulum senyum mendengar gerutuann sahabatnya, dia suka Keisha yang tidak lagi bucin pada Mahesa.
"Gue yakin lo nggak serius benci sama gue kan? Apa lagi lo suka sama gue hampir dua tahun," ucap Mahesa dengan pedenya. Entah kali ini pria itu mendekati Keisha karena apa.
"Dih, geer banget cowok nggak modal satu ini. Cowok di dunia banyak, bahkan lebih tampan dan mapan dari lo. Jadi jauh-jauh sana," sinis Aurin, membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Mahesa.
"Diam lo ukhti setengah kunti! Gue nggak bicara sama lo!" bentak Mahesa.
"Kak Mahesa mending pergi sebelum gue marah. Kakak nggak suka sama Aurin, artinya nggak suka sama gue juga!" ucap Keisha, kali ini gadis itu benar-benar kesal. Dia berdiri, tidak lupa mengambil cemilan dan minumannya di atas meja. Hendak berlalu, tetapi tubuhnya malah dipeluk secara tiba-tiba oleh Mahesa, membuatnya langsung menjadi pusat perhatiaan.
"Lepasin, Kak!" pekik Keisha, berusaha melepaskan diri dibantu oleh Aurin, tetapi tenaganya terlalu lemah.
"Apa-apaan ini? Apa sopan bagi kalian berpelukan di sekeolah?" tegur suara yang sangat Keisha kenal.
"P-pak Ricky?" Mahesa langsung melepaskan pelukanya dan berlalu pergi, berbeda dengan Keisha yang jantungnya berdetak tidak karuan, takut kalau saja pak Ricky marah dan salah paham padanya.
"Mampus dah, ATM gue marah," gumam Keisha setelah pak Ricky meninggalkan kantin tanpa menyapa istri kecilnya.
"Ayo buruan kejar, ntar beneran marah lagi! Bisa-bisa gue nggak jadi dibayarin selama sebulan." Aurin mendorong Keisha agar menyusul pak Ricky.
***
Terjadi kecanggungan di dalam mobil menuju rumah sakit. Keisha tadi sudah berusaha semaksimal mungkin mengejar suaminya, tetapi pria itu malah sibuk mengajar di kelas Mahesa.
Keisha meremas jari-jari tangganya, sesekali melirik pak Ricky yang tengah fokus menyetir.
"Pak Ricky?"
"Keisha?" ucapnya secara bersamaan.
"Duluan aja!" lanjut Ricky.
"Umm jadi gini, saya mau jelasin yang di kantin tadi, apa yang Bapak liat nggak seperti yang ada di pikiran, Bapak," ucap Keisha dengan susunan kata tidak beraturan.
"Memangnya apa yang saya pikirkan dan apa yang saya liat?" tanya Ricky masih fokus menyetir.
"Bapak liat saya dipeluk sama kak Mahesa, pasti di pikiran pak Ricky, saya balikan sama dia. Saya tahu pasti pak Ricky cemburu," jawab Keisha dengan raut wajah seriusnya.
Tetapi itu tidak bisa mencegah Ricky untuk tertawa. Sungguh pikiran Keisha sangat pendek dan konyol. Sejak tadi dia diam bukan karena cemburu apalagi marah, melainkan mimikirkan tentang Amelia yang terus membuat masalah di sekitar teman-temannya.
"Kok ketawa, apanya yang lucu? Saya benar kan, Bapak cemburu liat saya sama Mahesa."
Masih dengan siswa tawa, Ricky menganggukkan kepalanya cepat. "Benar, saya cemburu liat kamu pelukan sama Mahesa. Jangan sampai saya melihatnya lagi," ucap Ricky berbohong.
Tidak masalah bukan jika berbohong demi kebaikan? Terlebih Ricky melakukannya agar hubungan mereka baik-baik saja. Toh Ricky tidak memberi Keisha harapan palsu, dia sudah berusaha untuk mencintai istrinya.
Ricky memutar setir kemudi setelah sampai di kawasan rumah sakit. Memarkirkan mobilnya dengan aman, kemudian turun, membukakan pintu untuk Keisha. Tidak lupa pria itu mengenggam tangan istrinya seakan takut Keisha hilang di basemen bawah tanah.
Ada berbagai alasan kenapa Ricky mengajak Keisha menjenguk Glora, pria itu ingin Keisha ataupun sahabatnya mengenal satu sama lain, ini salah satu cara agar Keisha merasa dianggap dan tidak minder jika suatu hari nanti bertemu Amelia, dimana wanita itu sangat mengenal inti Avegas.
"Ricky!"
Langkah Ricky memelan di lobi rumah sakit, begitupun dengan Keisha. Bedanya, gadis itu membalik tubuhnya, sementara Ricky enggan untuk berbalik, sebab tahu siapa pemilik suara tersebut. Ini bukan waktu yang tepat, tetapi orang itu menemukannya, lebih parahnya lagi karena dia sedang bersama Keisha.