Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 46 ~ Slogan Avegas


Setelah mengalami guncangan hebat karena kejutan yang diberikan Mahesa untuknya. Hari ini Keisha jauh lebih baik, meski senyumnya masih tidak kembali secerah sebelum kejadian. Mahesa memang tidak sampai menjamah tubuhnya, tetapi mengingat bagaimana pria itu membuka paksa pakaiannya dan menyiksa dia habis-habisan, membuat Keisha bisa gila.


Gadis itu telah siap dengan seragam sekolahnya. Berdiri di depan cermin meneliti penampilannya yang kini sedikit tertutup. Seragam dan rok yang biasa terlalu pas di tubuh, kini mulai melonggar. Ketika Keisha hendak tersenyum, sekelebat bayangan Ricky lewat di belakangnya, membuat gadis itu urung.


"Cantik banget istri saya," puji Ricky memeluk Keisha dari belakang, tetapi gadis itu langsung mendorong tubuh Ricky. Mengambil tasnya di atas tempat tidur kemudian berlalu.


"Sabar, dia wajar marah," gumam Ricky. Pria itu mengikuti Keisha dari belakang. Senyumnya mengembang ketika gadis itu masuk ke mobil. Ini artinya dia masih punya kesempatan untuk berbaikan dengan sang istri. Dia segera menyusul, melajukan mobil secara perlahan meninggalkan rumah pak Wilson.


"Saya tadi nyiapin sarapan buat kamu. Jangan lupa dimakan! Oh iya, kamu nggak keberatan kalau saya nganter sampai ke sekolah? Ngaku aja sebagai keponakan saya," ucap Ricky meminta izin.


"Terserah," sahut Keisha.


"Pulang sekolah nanti, kita mampir beli ponsel dan power bank. Soalnya kamu sering lupa cas hap di malam hari." Ricky terus berbicara di dalam mobil, tetapi Keisha seakan acuh, bahkan sibuk sendiri meremas tas yang ada di pangkuan gadis itu.


Setelah mobil berhenti dengan aman di parkiran sekolah, Keisha langsung turun tanpa mengatakan apapun. Ricky marah? Ayolah pria itu tidak mungkin marah, tetapi memikirkan cara cepat untuk berbaikan dengan Keisha yang tampak dingin. Padahal selama 3 hari di rumah, pria itu telah melakukan yang terbaik untuk istrinya. Membuat sarapan dan mengantarkannya ke kamar. Membeli beberapa cemilan dan berusaha bersikap manis. Namun, tetap saja tidak bisa meluluhkan hati Keisha.


Saat pria itu hendak turun dari mobil, ponsel yang ada di saku celananya berdering.


"Lo sibuk?" tanya Azka di seberang telpon.


"Kenapa?"


"Mahesa, lo mau apapin dia?"


"Bunuh, dosa nggak sih?" tanya Ricky.


"Ide bagus, gue tunggu di markas!"


***


"Nah akhirnya teman sesat gue masuk sekolah!" seru Aurin ketika Keisha melintasi pintu kelas mereka. Tiga hari Keisha absen, membuat Aurin ke sepian, terlebih di dalam kelas hanya dia yang perempuan. Selebihnya manusia jadi-jadian, terutama ketua kelas.


"Sepi ya nggak ada gue?"


"Nggak tuh, soalnya ada tuh orang." Aurin menunjuk pria yang berdiri di ambang pintu dengan bibirnya. Keisha lantas mengikuti arah bibir manyun tersebut. Matanya terbelalak mengetahui yang dimaksud Aurin adalah Tommy.


"Lo balikan?" Mata Keisha membola. "Bisa-bisanya lo balikan sama sahabat baji*ngan itu. Lo nggak tau, Rin, kalau gara-gara sahabat dia. Gue jadi benci sama pak Ricky!" pekiknya.


"Hei-hei tenang dulu dong! Gue nggak ada sangkut pautnya sama Mahesa. Gue udah cegah dia tapi ...."


"Dia juga udah berusaha beritahu gue, Kei. Tapi gue nggak percaya karena dia suka bohong," potong Aurin cepat.


Keisha memutar bola mata malas. "Makasih udah baik, tapi gue nggak bisa lupain dua hal dari lo." Menunjuk wajah tampan Tommy. "Pertama, lo sahabat anj*ing itu! Kedua, lo tukang selingkuh dan gue nggak bakal biarin sahabat gue dapat buaya kayak lo," ucap Keisha penuh tekanan.


Tommy menghela napas panjang, hendak menjawab tetapi mendapatkan kode dari Aurin yang menyuruhya agar segera pergi. Tidak ingin memperburuk suasana, Tommy memilih pergi dari hadapan Keisha.


"Sial! Ini semua gara-gara Mahesa tolol. Andai aja dia nggak bego, gue udah dapat restu dari Keisha!" gerutu Tommy sepanjang koridor sekolah.


Sejak kejadian pelec*ahan yang berusaha Mahesa lakukam pada Keisha. Pria itu seakan menghilang dari bumi. Tidak ada kabar tentang penangkapan seorang pemuda pelaku pemerko*saan. Tidak ada pula berita kematian akibat dikeroyok oleh geng motor. Kemana sebenarnya Mahesa pergi? Lebih mengherankannya lagi, kedua orang tua Mahesa tampak biasa-biasa saja.


Tommy terus memikirkan sangkut paut kasus Keisha dengan geng motor yang masih menguasai jalanan hingga saat ini.


***


Beberapa siswa mulai berlarian keluar kelas setelah bel pulang terdengar, tetapi berbeda dengan kelas XI IPS 1 yang tampak gusar tatkala pak Adnan masih ceramah panjang lebar di depan papan tulis. Keisha dan Aurin mulai gelisah, melirik pintu sesekali dan melihat siswa berbondong-bondong meninggalkan sekolah.


"Pingsan buruan!" bisik Aurin menyenggol lengan Keisha.


"Nggak, gue mau jadi lebih baik lagi biar pak Ricky nyesal udah ngatain gue. Dia nggak tau apa gimana takutnya gue malam itu, malah dibentak habis-habisan dan hina. Lo tau?"


"Hm?" Aurin hanya menaikkan alisnya sebagai respon. Jika bercerita seperti ini, Keisha hanya perlu didengarkan, dengan begitu gadis itu akan mengeluarkan semua isi hatinya tanpa tersisa. Itulah Keisha, tidak terlalu larut dalam kesedihan karena tidak pernah memendam rasa sakit di hatinya.


Namun, gadis seperti Keisha sebisa mungkin harus dihindari, terlebih jika menyangkut pertengkaran. Keisha tidak mudah melupakan hal menyakitkan dan akan puas setelah membalasnya pada orang yang berani menyakitinya. Ini berlaku untuk Mahesa dan pak Ricky.


"Gue dibanding-bandingin dong sama kuntilanak itu. Katanya gue nggak jauh beda sama dia. Padahal gue lebih cantik dan masih muda." Keisha terus mengoceh tanpa menyadari tatapan pak Adnan yang telah tertuju pada mereka.


"Kalian berdua!" bentak pak Adnan, membuat dua pria yang bersandar di depan kelas lantas mengintip. Dua pria itu tidak lain pak Ricky dan Tommy yang setia menunggu Keisha dan Aurin.


"Kayaknya mereka gibah lagi, Pak," celetuk Tommy.


"Benar, mereka pasti ngomongin saya," sahut Ricky tanpa sadar.


Tommy mengulum senyum, tidak menyangka pria yang sangat tegas saat melatih basket ternyata bisa bucin. Lebih mengejutkannya lagi karena bucin pada siswa nakal seperti Keisha.


"Kenapa kamu senyum-senyum?"


"Ah nggak, Pak. Saya cuma olahraga wajah aja." Tommy mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Keduanya kembali menghadap jendela koridor setelah memastikan apa yang terjadi di dalam kelas.


"Bapak tau di mana Mahesa?"


"Kamu kaki tangannya?" Ricky melirik sinis Tommy.


"B-bukan, Pak. Saya udah berusaha cegah kok."


"Benarkah?"


"Dua rius, Pak." Tommy menaikkan dua jarinya. "Saya cuma pengen tau dia kemana. Jangan sampai lolos tanpa dapat hukuman."


"Nggak semudah itu." Ricky senyum meremehkan. Orang yang berani mengusik inti Avegas, jika pria, mereka tidak akan mendapatkan ampun.


Berani mengusik, pulang tinggal nama. Itulah slogan Avegas dan tidak pernah berubah sejak dulu.