Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 16 ~ Mahesa dan Teman-temannya


"Biar gue tebak, pasti kali ini Keisha datang kan?" ucap Tommy yang menyadari raut wajah Mahesa yang berseri-seri.


"Wait-wait, ini ceritanya gimana njir? Lo suka beneran sama tuh cewek atau uangnya doang?" tanya teman yang lainnya.


Dari yang mereka dengar, Mahesa sudah putus dengan Keisha karena dua kali melanggar janji. Akan tetapi hari ini tiba-tiba Mahesa mengatakan Keisha akan datang dan seperti biasa, membayar semua menu yang telah mereka habiskan.


"Uangnya lah! Ya kali gue suka sama Keisha! Dia tuh bodoh, masih aja ngemis cinta. Kalau bukan uangnya, dah gue cuekin kali dari dulu. Itung-itung ngirit," sahut Mehesa.


Pria itu begitu bangga menceritakan apa yang selama ini dia lakukan pada Keisha. Seakan-akan dia melakukan prestasi yang sangat membanggakan. Namun, sepertinya hal menjijikkan Mahesa akan berakhir malam ini, karena Keisha mendengar semuanya.


Darah gadis itu mendidih, kepalanya ingin meledak mendengar pembicaraan tidak berfaedah dari mantan pacarnya.


"Andai dia nggak tepos, dah gue garap tuh cewek murah! Gue yakin dia bakal nyerahin tubuhnya." Mahesa bersandar sambil bersedekap dada, terlebih saat teman-temannya memuji pria itu.


"Ayolah buktiin, gimana kalau malam ini? Itung-itung ngeluarin sper*ma," ujar Tommy menas-manasi.


Seketika gembrakan meja terdengar nyaring tepat di depan mereka. "An*jing lo pada! Dasar cowok nggak modal. Pulang lo sana anj*ing, pakai daster mak lo!" bentak Aurin berapi-api. Nafas gadis itu tidak beraturan. Dia sampai lupa sedang menjaga lisannya, hanya karena rasa marah sahabatnya dijadikan mainan oleh Mahesa.


Aurin mendekati Mahesa, menarik kerah baju pria itu. "Ngomong apa lo barusan, Hah? Yakin Keisha mau tidur sama lo? Wait-wait, emang pedang lo sepanjang dan sebesar apa hm?" tantang Aurin tanpa rasa takut.


"Rin, sadar woi!" ucap Tommy.


"Udah Aurin, nggak guna juga marahin dia. Intinya gue udah tau apa yang ...."


"Diam lo Kei! Nih cowok banci perlu disentil dikit biar sadar!" Aurin menatap penampilan Mahesa dari atas sampai bawah.


"Lepasin anj*ing, lo apa-apaan hah?" Mahesa dengan sigap menyentak tangan Aurin. Mungkin jika bukan tempat umum, dia sudah memukul gadis itu.


"Hodie ini punya teman gue!" Mengambil hodie coksu di sandaran kursi. "Dia beli di Mall, harganya 2 jt, lo nggak bakal mampu balikin uangnya." Aurin melempar hodie itu pada Keisha yang sejak tadi terdiam.


Aksi Aurin langsung menjadi perhatian para pengunjung yang ada di warkop tersebut. Teman-teman Mahesa pergi satu-persatu karena merasa malu, yang tersisa hanya Tommy saja.


"Mana bar-bar lo itu? Ini waktu yang tepat!" bentak Aurin pada Keisha.


"G-gue?" Keisha yang hatinya sedikit teriris tidak tahu harus melakukan apa. Melangkah mendekati Mahesa setelah mengusai rasa kecewa yang bersemayang di hatinya.


"Sapatu, topi, baju, jam tangan dan celana yang lo punya itu dari gue, Mahesa!" ucap Keisha dengan nada sedikit tenang. "Balikin semuanya, gue mau sedekahin sama yang lebih butuh."


"Kei?" panggil Mahesa tidak percaya. "Lo cintakan sama gue? Kenapa jadi gini sih?"


Keisha mengangguk cepat. "Iya, gue cinta banget sama kakak. Sampai bodoh dan nggak percaya ucapan orang di dekat gue. Makasih." Melayangkan tamparan keras tepat di pipi kanan Mahesa.


Rahang pria itu seketika mengeras, tangannya mengepal hebat karena mendapat pukulan dari gadis bodoh seperti Keisha. Dengan sigap Mahesa mengangkat tangannya dan melayangkan tepat di pipi gadis itu, hingga suara tamparan kembali terdengar.


"Aaaaaa!" pekik Keisha karena terkekut. Begitupun dengan Aurin dan Tommy saat menyadari seseorang yang baru saja menampar Mahesa.


"Kalian berdua ikut saya!" ucap Ricky tanpa ada keinginan meminta maaf pada Mahesa, setelah malayangkan telapak tangannya. Untung saja dia datang tepat waktu, atau pipi Keisha akan mendapatkan cap tangan.


"Tunggu dulu, Pak! Kak Mahesa belum ngasih apa yang saya minta."


Mahesa mendengus kesal, tanpa banyak bicara, langsung melepas baju, jam tangan, topi dan celananya di dalam warung kopi tersebut. Barulah setelah itu Keisha pergi membawa semua barang-barang yang dia beli sendiri.


Kedua gadis cantik nan bar-bar itu mengikuti langkah lebar pak Ricky menuju parkiran. Langsung masuk ke mobil padahal belum dipersilahkan oleh pemiliknya.


"Ish-ish, gue belum puas maki tuh cowok, Kei. Nggak rela banget dia ngomongin tubuh lo, apalagi sampai ke ranah pelec*ehan," omel Aurin bersedekap dada. "Kei?" panggilnya saat tidak ada respon apapun.


Sementara yang dipanggil menundukkan kepalanya tanpa banyak bicara, terlebih tadi berpapasan dengan mata tajam pak Ricky yang melirik dari jok belakang. Malam ini, Keisha merasa bersalah karena tidak mempercayai ucapan suaminya, bahkan memaki siang tadi. Namun, harus kalian tahu, Keisha gengsi jika harus meminta maaf.


"Pak Ricky kok taku kita ada di sini?" tanya Aurin.


"Kebetulan lewat."


"Oh gitu." Mengangguk mengerti. "Makasih ya pak udah datang nyelamatin, Keisha. Kalau perlu bapak hukum aja si Keisha. Oh iya, btw bapak sama Kei dekat banget ya? Tadi Keisha ngomong terus mau buktiin ucapan, Pak Ricky." Aurin terus bicara, tanpa memberi siapapun kesempatan untuk menjawab.


"Bisa diam nggak sih?" tegur Keisha.


"Saya suami nya," ucap Ricky secara tiba-tiba.


Hal itu berhasil mengambil atensi Keisha dan Aurin yang berada di jok belakang. Keduanya sama-sama membulatkan matanya karena terkejut. Keisha tidak menyangka akan pengakuan suaminya, sementara Aurin terkejut mengetahui bahwa Keisha adalah istri dari pak Ricky


"Demi apa?" pekik Aurin. Gadis itu beralih pada Keisha. "Kei, jawab gue!" desaknya.


"Iy-iya, pak Ricky suami gue," lirihnya tidak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Amaygot! Kenapa nggak bilang dari awal Kei. Untung aja gue belum suka sama pak Iky sedalam itu. Lo benar-benar sahabat non akhlak!"


Omelan-omelan terus saja keluar dari mulut Aurin. Menemani perjalanan mereka sehingga tidak terasa begitu lama. Sebelum pulang kerumah, Ricky mengantar sahabat istrinya, barulah kembali ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada pembicaraan antara Ricky dan Keisha. Keduanya terdiam seolah-olah orang asing.


Bahkan, saat mereka telah sampai di rumah, keduanya belum membuka suara. Berjalan ke kamar masing-masing dan menutup pintu rapat-rapat.


Keisha menghempaskan tubuhnya ke ranjang, memejamkan mata untuk menetralisir rasa kecewanya pada Mahesa.


"Benar kata pak Rikcy, gue bodoh. Dimanfaatin aja nggak sadar," gumam Keisha. "Emang paling benar dah jomblo aja. Suka sama orang cuma bikin sakit hati."


Keisha mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Kegelapan menghampiri gadis itu karena telah menutup mata. Anehnya, kegelapan masih saja terjadi saat dia membuka mata.


"Pa-papah?" panggil Keisha meraba tempat tidurnya untuk mencari ponsel. Akan tetapi yang dia pegang adalah benda kenyal yang dingin. "Aaaaaaaaaa, Pak Ricky!" pekiknya sekencang mungkin.