
Hari pertama di rumah baru dan hari pertama untuk Keisha berpisah dengan papahnya setelah hidup di dunia. Andai saja dia menikah bukan karena paksaan, mungkin dia akan tinggal di rumah papahnya bersama suami yang dia cintai. Namun, apa daya. Nasib Keisha sudah hancur sejak menikah dengan pria yang kini sedang duduk di sampingnya.
Dia melirik suaminya yang tengah fokus menyetir. Keduanya berangkat ke sekolah bersama untuk pertama kalinya setelah menikah. Kalian harus tahu bahwa yang menawarkan tumpangan adan Ricky. Ingat, pak Ricky.
"Saya tau, saya tampan," celetuk Ricky yang fokus menyetir.
Seketika Keisha memutar bola mata malas, selalu saja Ricky mencari keributan setiap harinya. Apa pria itu tidak lelah membuatnya kesal? Keisha sebagai istri ingin rasanya menceraikan pemuda di sampingnya.
"Lebih tampan kak Mahesa di mana-mana."
"Kalian pacaran?" tanya Ricky, melirik Keisha sekilas.
"Kalau iya kenapa, kalau nggak kenapa? Bapak mau ngelarang? Bapak cemburu?" Hanya satu pertanyaan yang Ricky lontarkan, tapi Keisha membalasnya berbagai pertanyaan. Jadi intinya, siap sebenarnya biang dari pertengkaran yang terjadi antara keduanya?
"Nggak papa sih, kalau kamu punya pacar, berarti nggak masalah dong kalau saya pacaran juga."
"Maksudnya?" Mata Keisha membola, sepertinya tidak terima jika Ricky mempunyai pacar.
"Dekat sama cewek."
"Bapak mau poligami gitu? Idih kok jadi suami nggak ada setia-setianya sih? Nggak bertanggung jawab dan nggak ... Hhmmmmpppp." Cerocosan Keisha terpaksa terhenti karena bekapan tangan besar Ricky di mulut gadis itu.
"Diam dan turun!" perintahnya.
Selain Ricky tidak ingin mendengar ocehan istri kecilnya. Dia dan Keisha harus berpisah di perpatan jalan menuju sekolah, demi menghindari gosip tentang hubungan mereka. Terlebih keduanya telah sepakat untuk menyembunyikan pernikahan, apalagi Keisha masih siswanya.
"Dasar jelek!" ledek Keisha dan turun dari mobil Ricky. Menutup pintu cukup keras tanpa peduli akan rusak.
Gadis itu berjalan dengan langkah sengaja dihentak-hentakkan, sementara Ricky melajukan mobil tanpa memperdulikan Keisha. Namun, sepertinya pria itu membuat kesalahan dengan menurunkan Keisha di perpatan jalan. Terbukti sampai sekarang Keisha belum sampai ke sekolah padahal bel pelajaran telah berbunyi.
"Di mana dua teman perempuan kalian?" tanya Ricky yang tengah berdiri di depan papan tulis.
Pria itu ada jam pertama di kelas Keisha. Dia tentu menghafal siapa yang tidak datang. Selain karena Keisha istrinya, di kelas tersebut hanya terdapat dua perempuan saja.
"Paling di warung dekat sekolah, Pak. Kei sama Aurin kan nggak suka olahraga," celetuk sang ketua.
"Baiklah, nggak perlu peduliin mereka. Kita sekarang masuk ke materi terakhir sebelum belajar di lapangan," ucap Ricky.
Pria itu mulai menerankan apa-apa saja yang dia tahu tentang basket. Mulai dari tehnik bertahan, serangan cepat dan pelanggaran-pelanggaran apa yang saja yang ada di lapangan. Guru olahraga itu baru keluar dari kelas XI IPS 1 setelah 2 jam mengajar, dan selama itu pula Keisha dan Aurin belum memperlihatkan batang hidungnya.
***
Jika pelajaran sedang berlangsung di kelas, maka berbeda di tempat lain. Yakni warung samping sekolah yang selalu menjadi tempatnya tongkrongan anak-anak bebal seperti Keisha dan jajarannya. Dua gadis yang tengah dicari oleh Ricky, sedang menonton hal yang tidak seharusnya mereka tonton. Terlebih ramai-ramai bersama teman sekolah lainnya.
"Anjir gila tuh cewek main nyosor aja!" seru Keisha. Gadis itu berada di posisi paling depan. Menonton adengan peperangan lawan jenis agar menghasilkan bibit-bibit yang akan menjadi penerus bangsa nantinya.
"Suka nih gue cewek badas kek gini," seru cowok yang ikut menonton. Keisha dan Aurin tengah dikepung oleh siswa dari sekolah lain.
"Woy-woy guru BK SMA Angkasa datang, kabur buruan!" teriak pria yang kebetulan berada di luar warung.
Naasnya, setelah mendarat dengan aman di dalam lingkungan sekolah. Tubuh Keisha malah menabrak dada kekar yang entah siapa pemiliknya.
"Anjir, lo ngalangin jalan gue!" bentak Keisha tanpa mendongak. Sibuk mengusap hidungnya yang baru terbentur.
"Kei, pak Iky." Ringis Aurin.
Seketika Keisha mendongak, membelalakkan matanya melihat guru sekaligus suaminya tengah bersedekap dada dengan tatapan mengintimidasi.
"Bapak kok hari ini tampan banget ya?"
"Kalian berdua, ikut saya sekarang!" ucap Ricky tegas dan berlalu begitu saja.
Sebenarnya Ricky sengaja berjaga di belakang sekolah sebab menunggu siswa-siswa nakal yang tengah digrebek di warung depan. Namun, siapa yang menyangka dia bertemu istrinya sebagai salah satu siswa yang digrebek.
Bisa jadi ini adalah karma semasa mudanya dulu. Sering bolos sekolah, nongkrong di warung dan akan masuk lewat pintu belakang jika guru BK datang. Semua itu terjadi pada Keisha saat ini.
"Aduh-aduh perut saya sakit banget, Pak. Saya ke toilet dulu ya." Izin Keisha.
"Oh sekalian saja, kalian berdua bersihkan toilet hingga bersih. Sekarang!"
"Yah, Pak?" protes Aurin dan Keisha, meski begitu tetap melaksanakan hukuman dari guru yang galaknya minta ampun jika menyangkut siswa nakal. Bahkan galaknya Ricky mengalahkan guru Bk.
Kedua gadis cantik itu berlari menuju toilet untuk membersihkannya seperti permintaan pak Ricky. Keluhan demi keluhan mulai keluar dari mulut keduanya. Belum lagi saling menyalahkan satu sama lain.
"Ini semua gara-gara kamu, Kei!" omel Aurin melempar pel ke arah pintu.
"Lah kok gue? Lo juga pas diajak iya-iya aja. Lagian lo nikmatin filmnya tadi."
"Ya tapi kan ...."
"Sssttt, kuy beresin seadanys aja terus kita kabur!" ajak Keisha, tapi dijawab gelengan oleh Aurin. Gadis itu tidak mau membuat masalah lagi dan membuat pak Ricky marah, karena dia dalam misi mengambil hati guru mudanya.
"Kei?" panggil Aurin.
"Hm."
"Tobat yuk! Gue cape nakal gini mulu. Kita perbaiki dikit demi dikit nilai kita."
"Ya udah sih lo tobat duluan aja. Sekarang gue belum nemu tujuan hidup sebenarnya. Gua nggak tau kedepannya mau jadi apa dan ngapain aja, gue mau nikmatin masa muda gue dulu," sahut Keisha tampak acuh. Dia membersihkan sapatunya yang terdapat sedikit noda tanah.
Memang benar adanya, sampai sekarang Keisha belum menemukan tujuan hidupnya. Bahkan mencintai Mahesa dan memilikinya hanyalah angan sesaat. Gadis itu tidak bernah berpikir jauh kedepan.
"Jadi baik nggak harus punya tujuan loh," celetuk Aurin lagi.
"Iya sih, tapi ntar deh gue pikirin dulu. Mau tobat apa nggak. Makasih dah ngajak dan ingetin, Rin. Lo memang beban hidup gue."