
"Pak Ricky?" panggila Keisha, gadis itu langsung duduk di samping suaminya yang sedang mengerjakan sesutau melalui laptop. Pria itu terlihat tampan dengan kaca mata di wajahnya.
"Kenapa? Mau jajan lagi?" tanya Ricky. Sebenarnya itu bukan sebuah pertanyaan yang bagus, melainkan sindiran untuk Keisha yang baru saja menguras isi dompet Ricky saat pulang dari rumah sakit, tadi.
Gadis itu mengelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Udah puas untuk hari ini. Gimana kalau kita ke rumah mamah pak Ricky? Udah lama loh kita nggak pernah ke sana, saya juga belum pernah bermalam sebelumnya," ajak Keisha.
Ricky mengerutkan keningnya, kali ini Keisha benar-benar aneh, sikapnya hampir berubah 180 derajat. "Sepertinya kamu nggak betah di rumah sendiri. Kita bahkan baru pulang dari rumah papah kamu," sahutnya.
"Ya ka-karena kalau di rumah sendiri kita pisah kamar. Saya kan mau dipeluk pak Ricky sebelum tidur," ucapnya tanpa ada rasa malu sedikitpun. Berbeda dengan Ricky yang menganga lebar mendengar ucapan istrinya, meski begitu dia menyukainya.
Ricky menjawil hidung mancung Keisha. "Di rumah juga bisa, Kei. Mau tidur di mana? Kamar saya atau kamar kamu?" tanyanya.
"Kamar pak Ricky aja. Besok saya bakal mindahin semua barang ke kamar Bapak, malam ini kita kerumah mamah pak Ricky dulu." Keisha beranjak dari duduknya tanpa ingin mendengarkan jawaban Ricky lagi.
Entah apa isi pikiran Keisha untuk saat ini, hanya gadis itu yang tahu. Tetapi berkat sifatnya yang tidak tahu malu, hubungan keduanya mengalami kemajuan cukup pesat dalam waktu singkat. Itu juga memudahkan Ricky jatuh dalam pesona istrinya dan perlahan-lahan melupakan kesalahan Amelia.
***
Mungkin sore hari adalah waktu istirahat bagi sebagian orang yang baru pulang dari pekerjaan masing-masing, tetapi berbeda untuk wanita cantik yang baru saja turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobil mewah itu di depan rumah wanita paruh baya yang dulunya nyaris menjadi mertuanya.
Senyuman wanita berambut panjang itu mengembang ketika melihat pemilik rumah menyiram bunga di halaman depan.
"Tante Ratna?" panggil Amelia, melangkah mendekati mamah Ricky.
Wanita paruh baya itu lantas bebalik, matanya membulat dengan bibir melengkung melihat wanita bermata besar yang menghilang beberapa bulan tanpa kabar.
"Amel? Ya ampun, kamu dari mana aja, Nak? Tante tuh kangen banget sama kamu, tapi Iky nggak mau beritahu kamu di mana, setiap kali tante nanya." Ratna langsung memeluk Amelia, kedunya cukup dekat sebelum akhirnya wanita itu menghilang. Apalagi Ricky tidak pernah menceritakan tentang pengkhianatan Amelia pada Ratna.
"Amel juga kangen sama, Tante. Maaf baru muncul sekarang, Amel sibuk beberapa bulan ini," alibinya.
Senyuman Amel semakin lebar ketika diajak masuk oleh mamah Ricky. Dari perlakuan Ratna, dia dapat menebak bahwa wanita paruh baya itu tidak tahu apa-apa. Bukankah ini hal yang bagus? Dia bisa meracuni otak tante Ratna.
"Entah kalian punya masalah apa, tapi tante sedih banget pas kamu nggak pernah kerumah lagi. Tante nggak punya teman masak, nggak punya teman curhat dan jalan-jalan," ucap Ratna tulus.
"Sekarang Tante nggak perlu sedih lagi, Amel udah balik. Oh iya, Iky belum pulang?" tanya Amelia sambil menatap pintu kamar yang dulunya sering dia kunjungi. Dia bertanya bukan karena tidak tahu, melainkan mencari informasi tentang Ricky dan istrinya.
Ratna menghela nafas panjang. "Iky nggak beritahu kalau dia udah nikah, Nak?" tanya balik bu Ratna dengan wajah lesuhnya.
"Ricky nikah? Kapan dan sama siapa, Tante? Kok Amel nggak tau? Jadi ini alasan dia mutusun Amel hari itu? Karena dia punya gadis lain?" ucapnya di akhir kalimat, membuat bu Ratna bersimpati melihat raut wajah sedih Amelia.
"Andai aja kamu yang nikah sama Iky, pasti sekarang tante bahagia banget. Tetapi sekarang mustahil terjadi," lanjut Ratna.
"Mustahil? Nggak ada yang mustahil bagi aku, apalagi memiliki Ricky yang dulunya memang milik aku," batin Amelia.
"Jadi sekarang Tante tinggal sendiri? Iky sama istrinya di mana?"
"Iya tante sendiri, setelah nikah Iky beli rumah yang cukup jauh dari rumah Tante dan sekolah. Dia tinggal di bagian selatan, dekat pantai yang sering kalian kunjungi setiap kali merayakan anniversary atau hari lahir masing-masing."
Amelia mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, wanita itu tersenyum, senang tahu di mana rumah Ricky dan Keisha. Mungkin ini saatnya dia bergerak lebih cepat.
Setelah mengorek infomasi cukup banyak dari bu Ratna, dia pamit pulang. Terlebih matahari hampir tenggelam.
"Tante, jangan beritahu Iky ya kalau aku datang. Aku nggak mau rumah tangga mereka berantakan karena keberadaan aku. Takutnya Ricky belum bisa lupain aku," ucap Amelia dan dijawab anggukan oleh bu Ratna.
Tepat saat mobil Amelia meninggalkan pekarangan rumah bu Ratna, Ricky dan Keisha datang dari arah berlawanan. Seperti permintaan gadis itu tadi, kali ini mereka akan bermalam di rumah bu Ratna.
"Ayo!" ajak Ricky, membuka pintu mobil untuk Keisha yang bergeming di samping kemudi.
"Pak Iky duluan aja, saya mau telpon Aurin dulu," sahut Keisha dan dijawab anggukan oleh Ricky. Sepeninggalan pria itu, Keisha lantas membuka ponselnya dan membaca sesuatu yang dia dapatkan dari google.
"Cara meluluhkan mertua," gumam Keisha. Bola matanya terus bergerak membaca poin demi poin yang ada di layar ponselnya.
Cari tahu apa yang di sukai dan tidak di sukainya.
"Udah, mamah pak Ricky nggak suka gadis malas dan petakilan. Dia suka didengarkan pas ngobrol," gumam Keisha. Informasi itu dia dapatkan dari pak Ricky langsung.
Meski poin pertama sangat sulit untuk Keisha, dia akan melakukannya demi mendapatkan hati mertua. Keisha berusaha mengambil hati bu Ratna, karena Aurin pernah mengatakan .... Cara gampang buat dapatin hati suami, ya dapatin hati mertua. Entah ajaran Aurin benar atau sesat, Keisha tetap akan melakukannya.
"Bersikap sopan dan ajak bicara lebih dulu." Keisha kembali membawa poin-poinnya. Gadis itu terkesiap saat pintu tempatnya bersandar dibuka oleh seseorang.
"Hiyaaaa .... Pintunya copot!" pekik Keisha, membuat Ricky tertawa kecil.
"Ngapain sih? Mamah udah nungguin kamu loh. Tadi yang mau datang kamu sendiri, giliran sampai malah tinggal di mobil," ucap Ricky.
Keisha hanya cengegesan, turun dari mobil dan mengikuti langkah pak Ricky masuk kerumah. Dia yang biasanya tidak mengucapkan salam, lantas mengucapkan salam ketika melewati pintu. Menunduk lalu mencium punggung tangan bu Ratna.
"Kabar Ma-mamah baik? Ini Kei bawa sesuatu buat Mamah," ucapnya sedikit pencitraan.