Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 21 ~ Mulai Menggoda


Sepanjang koridor sekolah, Keisha terus bersenandung kecil, gadis itu sangat bahagia karena sudah berbaikan dengan suaminya. Terlebih sekarang pernikahan yang mereka jalani bukan sebuah paksaan lagi, melainkan penerimaan satu sama lain dan berusaha untuk memperbaikinya. Meski dalam hati Keisha, nama Mahesa belum tergantikan, setidaknya gadis itu merasa nyaman berada di dekat sang suami. Tidak seperti dulu, setiap kali melihat Ricky, maka rasa kesalnya berada di ubun-ubun.


Keisha terkejut bukan main, saat seseorang merangkulnya dari belakang. Dia merotasikan bola mata malas, ketika menyadari orang itu adalah sahabatnya sendiri.


"Napa lo senyum-senyum gitu? Ada kabar baik?" tanya Aurin.


Keisha menganggukkan kepalanya antusias. "Gue berhasil baikan sama pak Iky. Ih lo nggak tau senangnya gue kayak gimana. Mana semalam dapat ciuman di bibir lagi!" seru Keisha tanpa ada rasa malu.


Aurin seketika membulatkan matanya, tetapi hanya sebentar sebab ada yang lebih membahagiakan. Gadis itu mencak-mencak sambil memeluk sahabatnya.


"Yey rencana gue berhasil. Selama sebulan dapat makanan gratis!" seru Aurin, membuat Keisha terdiam seketika.


Mampus, Keisha baru ingat ada perjanjian antara dirinya dan Aurin. Gadis itu menghela nafas panjang. Dia kesal bukan karena pelit, melainkan memikirkan uang jajannya yang harus dikuras oleh Aurin, padahal sedang mendapatkan pembatasan uang saku.


***


Seluruh siswa kelas XI IPS 1 berlarian keluar kelas setelah bunyi peluit dari arah lapangan terdengar nyaring. Di barisan itu, ada Keisha yang berlari dengan semangatnya. Semangat olahraga yang baru kali ini muncul di hati, mungkin karena tidak lagi membenci pak Ricky, melainkan ada percikan-pecikan cinta yang harus dikembangkan menjadi api asmara agar semakin panas.


"Kalian siap?" tanya pak Ricky.


"Siap, Pak!" seru siswa yang berada di lapangan.


Satu persatu dari mereka mulai berlari mengitari lapangan untuk melakukan pemanasan. Selama itu pula perhatian Ricky tidak luput dari istri kecilnya yang terlihat berbeda hari ini. Untuk pertama kalinya, gadis itu mengikat rambutnya dengan rapi dan penuh semangat yang membara.


"Nggak mau drama sakit lagi?" tanya Ricky ketika Keisha melintas di hadapannya.


Lantas saja Keisha menghentikan langkahnya, tersenyum penuh pesona pada Ricky yang menjadi tergetnya beberapa hari ke depan. "Nggak, saya mau jadi istri yang baik," jawabnya dan kembali melangkah. "Biar dapat uang jajan lebih," batinnya, tersenyum penuh kemenangan.


Pelajaran olahraga berlangsung kurang lebih dua jam dengan dua sesi. Pertama praktek di lapangan dan memberikan penilaian di bawah pohon yang rindang.


"Ah lelah banget njir. Ternyata jadi siswa teladan nggak semudah yang gue pikirin." Keluh Keisha. Gadis itu meneguk air hingga setengah botol.


"Semangat demi uang jajan," sahut Aurin, sibuk menyantap mie ayamnya. Mie ayam yang dia dapatkan secara cuma-cuma karena menang taruhan dari Keisha.


Keduanya terus saja bersenda gurau satu sama lain, sambil memperhatikan siswa teladan SMA Angkasa yang berada di kantin tersebut.


"Kalau lo berhasil ngalahin dia, gue yakin pak Ricky langsung jatuh cinta," ucap Aurin menunjuk gadis cantik tanpa sungkan.


Seketika Keisha memutar bola matanya malas. "Keknya gue milih jadi janda dari pada harus nyaingin tuh cewek njir. Otaknya udah kayak mesin."


Aurin seketika tertawa terbahak-bahak sambil menepuk meja pelan. Tawa itu perlahan memudar ketika dua pria yang dulunya pernah menarik perhatian mereka mendekat. Pria itu adalah Tommy dan Mahesa. Duduk tepat di samping Aurin dan Keisha tanpa izin lebih dulu.


"Aduh-aduh gue tiba-tiba gatel nih. Keknya alergi sama cowok yang nggak modal," cibir Aurin.


"Kei, dengerin gue dulu! Beri gue waktu buat jelasin semuanya," ucap Mahesa, menarik tangan Keisha agar tidak pergi dari hadapannya. "Gue ngaku salah, maaf. Tapi bisa kan kita balik kayak ...."


"Nggak ada, enak aja!" sela Aurin.


Gadis berhijab itu sangat tahu tabiat sahabatnya, Keisha jika dibujuk dengan rayuan dan tutur kata lembut, akan luluh dan melupakan kesalahan di masa lalu. Aurin menarik tangan temannya untuk benar-benar meninggalkan kantin, bertepat dengan itu, pak Ricky melintasi pintu kantin.


"Bapak mau ke mana?" tanya Keisha.


"Ke perpustakaan, kenapa?"


"Hati-hati pak, jangan sampai ke jedot pintu," cengir Keisha dan berlalu pergi.


Ricky mengelengkan kepalanya, tidak percaya mendapatkan sapaan dari siswanya yang terkenal jutek dan ketus. "Dia benar-benar aneh akhir-akhir ini, tapi saya menyukai tingkahnya," gumam Ricky. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.


Sebenarnya pria itu sedikit bingung dan pusing menghadapi Amelia yang terus menghubunginya tanpa henti. Dia telah memblokir mantan kekasihnya, tapi wanita itu malah menggunakan nomor baru. Mengganti kartu? Oh ayolah, bagi Ricky, kartu adalah hal yang sangat penting. Dia rela kehilangan mobil, dibandingkan kartu berharganya.


"Sepertinya saya harus buka hati pada Keisha, sebelum luluh dari godaan Amel," gumamnya.


Dia memasang kacamata bacanya, duduk di kursi perpustakaan dan meneliti beberapa buku. Jika dulu Ricky adalah siswa yang anti memasuki perpustakaan, maka kali ini sangat berbeda. Sejak kematian papahnya, dia berubah menjadi pria ambisius akan pekerjaan. Perihal Ricky sering kali meninggalkan rumah dengan pakaian rapi saat hari libur, itu karena dia sedang bekerja di perusahaan papahnya.


"Pak Ricky?"


"Kei? Ngapain kamu ke sini?" tanya Ricky.


"Ternyata Bapak kalau pakai kacamata tampan banget," cengir Keisha. Duduk di hadapan Ricky dengan membawa buku di tangannya. "Pulang sekolah nanti tunggu saya di perpatan jalan ya, Pak! Saya nggak mau ngurangin uang jajan buat ongkos pulang."


"Cuma itu? Bisa lewat telpon loh, nggak harus nemuin langsung. Gimana kalau ada siswa yang ...."


"Sssttttt!" Keisha dengan sigap meletakkan jari telunjuknya di bibir Ricky. "Jangan buat saya kesal, Pak! Ntar kita nginap di rumah papah lagi ya, saya mau tidur sama, Bapak. Dah." Gadis itu berlari keluar dari perpustakaan tanpa pamit. Sementara telinga Ricky memerah mendengar ucapan nakal istri kecilnya.


"Dasar nggak punya malu," gerutunya dan kembali membaca, berusaha mengalihkan perhatian dari ponsel yang terus berdering. Namun, lama kelamaan Ricky mulai muak memerasakan getaran di ponselnya. Dia menjawab panggilan dari nomor tidak di kenal tersebut.


"Siapapun kamu dan apapun masalah kamu, tolong jangan pernah hubungin saya! Saya sudah menikah dan sebentar lagi akan jadi ayah!" ucap Ricky dengan satu tarikan nafas.


"Serius njir? Sejak kapan lo anu-an*uan sama istri lo? Wah-wah yang lain harus tau sih. Anjir bentar lagi gua bakal punya ponakan lagi!" seru Dito di seberang telpo.


Ricky mendengus kesal. "Lo ngapain pakai no baru, njir? Gue kira tadi si ...."


"Si?"


"Ah bukan siapa-siapa." Menutup telpon secara sepihak.