
"Ricky cukup!" bentak Azka yang baru saja datang. Mata pria itu terbelalak melihat bagaimana Ricky menyiksa Mahesa habis-habisan. Merasa tegurannya tidak didengarkan, Azka lantas melayangkan bogeman mentah di wajah Ricky.
"Sakit anj*ing!" keluh Ricky, menghempaskan tubuh Mahesa yang tidak berdaya. Darah di mulut pria bajingan itu telah mengotori bajunya akibat pukulan Ricky yang membabi buta.
"Lo bunuh dia nggak ada gunanya! Yang ada nambah dosa lo."
"Ka? Lo belain dia hm? Dia udah berani menyentuh Keisha! Dia udah buat rumah tangga gue berantakan. Dia buat ...."
"Bukannya lo yang nambah semuanya makin kacau?"
"G-gue ...."
"Inilah pentingnya saat marah lebih baik diam, karena lidah nggak bertulang jauh lebih tajam dari sebilah pisau," ucap Azka tepat menghunus hati kecil Ricky.
"Andai lo ada di posisi gue ...."
"Kalau gue ada di posisi lo, gue bakal bunuh bajingan itu karena udah berani nyentuh milik gue." Azka lagi-lagi memotong ucapan sahabatnya. "Tapi nggak sekarang, mati terlalu mudah adalah surga untuk pria yang selalu merendahkan harga diri perempuan." Azka membalik tubuhnya, meninggalkan ruang bawah tanah yang gelap tersebut.
Pria itu datang ke markas karena mendapatkan informasi dari salah satu anggot Avegas, bahwa Ricky menemui Mahesa.
"Papah kenapa bawa Kara ke sini?" tanya bocah 9 tahun yang duduk di sofa tempat biasanya inti Avegas berkumpul.
"Nyari teman papah. Bentar lagi kita pulang," jawab Azka. Ikut duduk di samping putranya, bertepatan Ricky keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
"Hay bro!" sapa Ricky, tetapi Angkara hanya mendelik.
"Kara mau pulang! Mamah bilang Kara nggak boleh nakal!"
"Lah, yang ngajarin kamu nakal siapa?" tanya Azka dengan kening mengerut.
"Ish papah jawab mulu! Ntar Kara aduin sama mamah!" Bocah berusia 9 tahun itu berjalan keluar dari rumah berlantai dua tersebut.
"Ingat kata-kata gue, jangan bunuh dia!" peringatan Azka sebelum menyusul putranya.
Ricky mengangguk, mengambil benda pipih di atas meja lalu meneliti wajahnya yang memerah karena bogemen Azka.
"Harusnya di sini ada darah," gumam Ricky. Pria itu memanggil salah satu anggota Avegas yang kebetulan melintas hendak ke dapur.
"Kenapa, Bang?"
"Tonjok gue sekeras mungkin! Di sini!" menunjuk pipinya.
"Bang Ricky bisa aja candaannya, saya mau ke ...."
"Gue serius, tonjok aja sampai berdarah."
Ricky berdiri tegap, menunggu anggota Avegas segera memberinya bogemen. Dia memejamkan mata ketika tangan keras menghantam pipinya cukup kuat, bukannya marah Ricky malah tersenyum, sebab mendapatkan darah di sudut bibirnya.
"Thanks, gue cabut dulu!" Ricky berlari keluar dari rumah berlantai dua tersebut. Melajukan motor miliknya di atas kecepatan rata-rata agar bisa sampai di rumah dengan cepat.
Langkah Ricky berhenti di ambang pintu ketika melihat mamahnya menonton Tv seorang diri, pria itu menutup mulutnya dengan tangan dan berlari ke kamar, guna bu Ratna tidak melihat luka dibibirnya. Setelah sampai di kamar, barulah pria itu melepaskan penutup dimulutnya. Langsung berbaring di pangkuan Keisha yang kebetulan tengah menonton Tv.
"Pak Ricky!" bentak Keisha.
"Sakit banget, Kei. Tadi habis ketemu Mahesa," keluh Ricky, meringis seakan-akan luka di wajahnya sangatlah sakit.
"Ma-mahesa?"
"Ya udah sih, kompres sendiri aja. Lagian salah bapak juga kenapa nggak bisa bela diri." Keisha langsung berdiri, sehingga kepala Ricky terbentur sandaran sofa. Peduli? Tidak, gadis itu malah meninggalkan kamar dan tidak kembali lagi.
"Sial, kirain bakal dapat perhatian!" gerutu Ricky.
"Nak, katanya wajah kamu luka? Sini mamah kompres," ucap Ratna yang membawa alat kompres di tangannya.
"Kei mana?"
"Lagi nonton di bawah, dia ngomong kamu luka karena habis berkelahi. Harusnya kamu tuh nggak usah banyak gaya, pakai acara tawuran segala! Kamu udah tua, punya istri dan bentar lagi punya anak kalau misal Keisha hamil," omel bu Ratna.
Tetapi Ricky tidak mendengarkan, pria itu kesal karena bukan Keisha yang mengobati luka sengaja dia ciptakan. Sampai kapan Keisha tidak peduli padanya? Tidur saling peluk dan memberi sapaan di pagi hari.
***
Jika Ricky di dalam kamar mendapatkan omelan dari mamahnya, maka berbeda dengan Keisha yang tatapannya fokus ke layar Tv. Atensi gadis itu akan teralihkan jika series Imli iklan. Jika boleh jujur, Keisha lah yang menyuruh bu Ratna agar mengobati luka Ricky, karena dia tidak ingin suaminya kesakitan.
Hanya saja Keisha tidak ingin melakukannya sendiri, sebab masih kesal dan benci pada suaminya.
"Pak Ricky udah tidur, Mah? Sakitan banget ya?" tanya Keisha setelah bu Ratna kembali.
"Baik-baik aja kok. Kamu nggak usah maksain buat maafin dia. Mamah dukung, asal nggak ke tahap berpisah. Tapi jangan lama-lama ya ngambek sama anak mamah?"
"Nggak kok, Mah. Kei cuma mau tau perjuangan pak Ricky gimana."
"Aduh gemes banget sih menantu mamah." Ranta memeluk Keisha. Wanita paruh baya itu senang sebab Keisha selalu mengatakan apa yang ada dalam hatinya, sehingga dia tidak perlu khawatir gadis itu memendam sesuatu yang tidak seharusnya.
"Sayang, kok nonton di sini sih? Di kamar juga ada Tv kok," celetuk Ricky yang datang dengan rambut setengah basah, pertanda pria itu baru selesai mandi.
"Nggak nyaman, ada pak Iky!"
"Kok gitu?" Ricky duduk di antara Keisha dan mamahnya. Melingkarkan tangan di pinggang sang istri, tetapi tatapannya tertuju pada wanita cantik yang melahirkannya ke dunia. "Mamah nggak ada niatan gitu buat tidur? Ini udah jam 10 loh."
"Kamu ngusir mamah?" Mata Ratna terbelalak.
"Bukan ngusir, Mah. Tapi peduli sama kesehatan Mamah. Tidur larut malam nggak baik buat kulit halus mamah, apalagi udah tua," ralat Ricky, membuat Keisha diam-diam tersenyum.
Sepeninggalan bu Ratna di ruang keluarga, Ricky kembali membaringkan tubuhnya, menumpu kepala tepat di paha sang istri.
"Beri saya misi dan hadiah. Saya nggak sanggup dicuekin terus Keisha. Saya udah ngaku salah," pinta Ricky, memainkan rambut lurus Keisha. "Misal, harus manjat pohon kelapa, kalau berhasil hubungan kita balik kayak dulu," lanjutnya.
"Balik ke parjanjian nggak boleh saling suka?"
"Ish, bukan itu, Sayang! Tapi hubungan romantis kita. Ngadon bayi tiap malam, sapaan di pagi hari dan banyak lagi. Intinya nggak ada masalah dalam rumah tangga kita. Kei? Ayolah!"
"Tangannya dikondisikan!" peringatan Keisha saat tangan Ricky mulai merayap di bagian belakang.
"Cantik banget sih istri kecil saya. Beruntung banget bisa nikah sama bidadari cantik kayak Keisha."
"Nggak mempang!"
"Dek, maafin mas ya? Mas janji nggak bakal buat adek sedih lagi."
"Pak Ricky, apa sih." Keisha memalingkan wajahnya, tidak ingin Ricky melihat pipinya yang bersemu merah. "Gaje banget dah. Saya ngantuk!"