
Seperti permintaan Keisha, pak Wilson langsung menghubungi menantunya, tanpa tahu bahwa hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya Keisha tidak tahu kenapa suaminya tiba- tiba cuek, itulah kenapa memanfaatkan keadaan agar bisa berduaan dengan pak Ricky tanpa menghindar lagi.
Jika boleh jujur, Keisha ingin berbaikan dengan suaminya, menggingat pria itu membantunya keluar dari jeratan Mahesa. Namun, saat ingin melakukan hal tersebut, pak Ricky malah menjauh darinya. Gadis itu sedang berdiri di teras rumahnya, menunggu kedatangan sang suami. Diam-diam dia tersenyum melihat motor suaminya berhenti di depan rumah.
"Akhinya datang juga, saya udah nunggu lama loh, Pak."
"Macet." Hanya itulah jawaban yang Ricky keluarkan tanpa minat. Membuat suasana canggung seketika.
"Bapak marah ya sama saya?" tanya Keisha, menerima helm dari sang suami. Akan tetapi lagi-lagi Ricky tidak merespon. Bahkan saat perjalanan menuju rumah, Keisha sudah memaksimalkan gerakan mulumutnya, tetapi tidak membuahkan hasil apapun.
Mulai lelah dan kesal sendiri, Keisha pun memilih diam dan memutuskan tidak akan mengajak pak Ricky bicara sebelum diajak lebih dulu.
***
Hari ini adalah tepat hari ketiga Keisha diacuhkan oleh Ricky, dan selama itu pula Keisha merasa sangat kesepian. Tinggal berdua di rumah tapi seakan sendirian, terlebih Ricky akan pulang setiap kali dia tertidur. Uang jajan yang biasanya Keisha dapatkan dari tangan suaminya langsung, kini hanya dia dapatkan di meja makan setiap harinya.
"Mikirin apasih?" tanya Aurin menepuk pundak Keisha. Gadis itu baru saja dari kantin membeli cemilan, karena Keisha malas keluar kelas.
"Dicuekin pak Ricky ternyata lebih sakit daripada dimanfaatin sama Mahesa," gumam Keisha, menumpu dagunya di atas meja. "Sampai sekarang gue nggak tau salah gue di mana anjir."
Aurin tampak berpikir sambill memperhatikan wajah lesuh sahabatnya. "Mungkin nggak sih masih masalah Mahesa? Dia kecewa sama lo, karena lo pacaran sama tuh cowok nggak modal. Padahal udah punya suami." Aurin mengelus dagunya sambil berpikir. Gayanya sudah seperti bapak-bapak yang sedang memikirkan keuangan keluarga.
"Atau jangan-jangan ...."
Tatapan Keisha semakin intens memperhatikan sahabatnya, menunggu kalimat yang mungkin saja bisa membantu dia menyelesaikan rumah tangga sahabatnya yang tidak serius.
"Buruan njir!" desak Keisah tidak sabaran.
"Jangan-jangan pak Ricky marah karena merasa nggak dihargai sama lo."
"Masa sih?"
"Serius. Saran gue nih ya, kalau lo nggak mau kehilangan pak Ricky, lo harus pepet dia. Lakuin sesuatu yang bisa buat dia luluh."
"Caranya?" Kening Keisha mengerut.
"Lo harus ...."
Pembicaraan keduanya harus berhenti karena yang dibicarakan tiba-tiba datang dan menyuruh mereka berkumpul di lapangan padahal tidak ada pelajaran olahraga hari ini. Meski begitu, Keisha dan Aurin lantas berjalan ke tengah lapangan tanpa membantah.
"Kira-kira kalau gue ngedrama sekarang, pak Iky bakal percaya nggak ya?" bisik Keisha pada Aurin. Kali ini Keisha ingin melakukan drama bukan karena malas berdiri di lapangan, tetapi ingin mengambil perhatian pak Ricky.
"Jangan sekarang bodoh! Ntar kalau ketahuan, pak Iky bakal tambah marah sama lo. Terlebih sekarang kayaknya di serius banget." Aurin balik berbisik, untung saja kali ini Keisha mau mendengarkannya.
***
Ricky merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan mata, tetapi kembali terbuka karena tepukan seseorang di pahanya.
"Woilah pak Ketua!" seru Ricky sedikit terkejut. "Gue kira lo nggak bakal nginjak markas lagi," ucapnya.
Yang diajak bicara hanya tersenyum tipis, memang sahabat Ricky ini sangat jarang berkunjung ke markas, apalagi harus berurusan dengan geng motor seperti saat muda dulu. Tetapi Ricky dan yang lainnya memaklumi, sebab istri Azka mempunyai trauma cukup dalam.
"Gimana rumah tangga lo? Gue harap baik-baik aja. Jangan nyusul Samuel dan Dito yang harus kehilangan perempuan karena egonya."
Ricky mengangguk layaknya anak kecil. Memang Azka adalah pria cukup dewasa jika menyangkut rumah tangga, bahkan sampai sekarang dia belum pernah mendengar Azka dan istrinya bertengkar. Itu semua karena Azka selalu mengalah dalam segala hal. Bukan karena tidak punya harga diri sebagai lelaki, hanya saja mempertahankan rumah tangga adalah hal yang paling utama.
"Salah nggak sih gue nyuekin Keisha? Gue kesal njir, dia bebal banget. Mana nggak menghargai lagi, gue kan suaaminya. Ya meski suami paksaaan sih, tapi nggak gini juga kali."
"Ada rencana pisah?" tanya Azka.
"Nggak sih, kecuali dia yang mau."
"Kalau gitu gue mau ngasi saran nih ... Pertahanin apa yang lo punya, kalau nggak ngehargai lo coba ajariin dia. Gimanapun lo lebih dewasa dari dia. Sekeras-kerasnya batu kalau terkikis hujan terus menerus, lama-lama batu itu akan hancur. Begitupun sama hati, Ky."
"Ck, emang paling benar dah curhat sama lo. Gue curhat sama Rayhan malah di kasih saran buat diemin Keisha," ucap Ricky menepuk jas Azka.
"Wah-wah pantesan dari tadi gue bersin mulu njir! Ternyata ada yang ngomongin," seru Rayhan yang baru saja datang bersama Dito.
"Hay Bro!" sapa Ricky tanpa rasa bersalah, membuatnya mendapatkan gamparan di kepala oleh Rayhan.
"Yakin rencana gue nggak berhasil? Sejauh ini respon istri lo gimana pas lo cuekin?"
"Cuek balik anjir."
"Wkwkkwkw mampus lo. Gue juga bilang apa. Istri lo tuh tipe cewek bodo amat, lo cuek dia cuek, lo care dia bakal Care. Udah paling mending ikutin saran gue. Kasih dia perhatian lebih, keluarin jiwa buaya lo dan ikat dia dalam pesona lo!" ucap Dito mengebu-ngebu.
Ricky menghela nafas panjang, semua saran sahabatnya berguna dan ada benarnya. Hanya saja Ricky yang bingung menerapkan karena tingkah Keisha susah di tebak.
Lama Ricky dan teman-temannya saling bertukar cerita, hingga akhirnnya pulang setelah tahu hati dan pkirannya sejalan dengan ide yang diberikan teman-temannya. Pria itu sampai ke rumah setelah jarum jam menunjukkan angka 8 malam. Rumah telah sepi sebab Keisha tidak berkeliaran jika sedang di rumah.
Merasa sangat gerah, Ricky memutuskan untuk mandi lebih dulu sebelum menyiapkan makan malamnya sendiri. Dia menuju dapur hanya memakai celana panjang tanpa atasan apapun, karena mengira tidak akan ada orang yang memperhatikannya. Namun, pada kenyataanya mata seorang gadis yang mengintip dari kamarnya sedikit ternodai sebab melihat sesuatu yang dulunya hanya bisa dia nikmati dari layar ponsel.
"Pak Ricky sialan! Keknya dia sengaja mau goda gue. Enak aja, gua nggak bakal tergoda," gumamnya, tapi tetap saja turun untuk menemui Ricky.
Jika boleh jujur dia rindu suasana pertengkaran dengan sang suami.