
Keisha mengerjapkan-erjapkan matanya, kepala gadis itu terasa pusing ketika membuka mata. Dia mengedarkan pandangannya ke segala perjuru ruangan. Kening Keisha mengerut ketika tidak mengenali ruangan tersebut.
"Akhirnya lo bangun juga," ucap seseorang yang berhasil mengambil atensi Keisha. Gadis itu menatap Mahesa yang berada di ambang pintu. Dia buru-buru turun dari ranjang ketika melihat pria itu mendekat. Tetapi pergerakan Keisha dicegah oleh Mahesa.
Pria itu menumpu kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Keisha, sehingga gadis itu tidak bisa melarikan diri.
"Mahesa, apa yang lo lakuin? Minggir! Gue harus nemuin pak Ricky!" bentak Keisha, tetapi Mahesa hanya menyeringai.
"Ternyata lo secinta itu sama pak Ricky, hm? Dengar dia kecelakaan, lo langsung panik dan nggak bisa berpikir jernih." Mahesa menelusuri rahang mulus Keisha, berhenti di belakang telinga lalu mencengkramnya cukup kuat sehingga menimbulkan ringisan pelan dari pemiliknya. "Dari kelas satu lo ngejar-ngejar gue dan lo lupain gitu aja? Dasar cewek gampangan." Mahesa menghempaskan wajah Keisha ke samping.
"Kenapa? Lo ngerasa terhina gitu? Andai gue bisa mutar waktu, gue bakal putar buat nebus kesahalan gue yang pernah kagum sama cowok breng*sek kayak lo!" bentak Keisha dengan tatapan menukik tajam. "Lepasin gue atau lo bakal nyesal!" Keisha mendorong tubuh Mahesa yang semakin mengikis jarak di antara mereka.
Gadis itu memundurkan tubuhnya saat Mahesa hendak mecium. "Gue nggak sudi disentuh sama pria pengecut kayak lo!" betak Keisha.
Bentakan dan penolakan itu semakin membuat darah Mahesa mendidih, pria itu merobek paksa seragam sekolah Keisha, sehingga yang tersisa tanktop saja. Mata gadis itu memerah, ikut marah karena Mahesa telah berani melecehkannya.
"Mahesa anj*ing, lepasin gue!" Keisha terus memberontak. Berusaha lepas dari cengkraman Mahesa meski sangat sulit. Mulut gadis itu mengeluarkan kata-kata sampah, mengumpat tiada henti dan mengabsen semua jenis binatan yang ada dalam pikirannya.
Air mata Keisha mulai berjatuhan ketika tenaganya mulai habis dan Mahesa semakin gencar mengincar tubuhnya.
***
"Kenapa lo keliatan gelisah gitu? Sana pulang nggak usah sok-sokan mau jagain gue. Gue sehat kali," celetuk Aurin yang duduk di teras rumahnya. Kali ini dia tidak mengusir Tommy, sebab pria itu mengatakan sedang menunggu motornya akan diantarkan oleh sopir sang mamah.
"Ponsel Mahesa nggak aktif, Keisha juga. Gue takut Mahes ngapa-ngapain sahabat lo," sahut Tommy dengan raut wajah seriusnya.
"Maksud lo?"
"Udalah, lagian lo nggak bakal percaya meski gue ngomong yang sebenarnya." Tommy segera berdiri ketika motornya telah datang. Pria itu akan mencari keberadaan Mahesa, terlebih hari mulai gelap.
Aurin yang melihat Tommy beranjak, ikut berdiri. "Tentang Keisha yang lo omongin seminggu yang lalu?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Tommy.
"Makasih, Pak. Bilangin sama mamah, saya pulang agak malam," ucap Tommy pada sopir pribadi mamahnya. Segera naik ke motor dan hendak melajukannya, tetapi Aurin menarik kaki seragam pria itu.
"Lo mau kemana? Gue ikut, ponsel Keisha beneran nggak aktif, gue takut," ucap Aurin.
Tommy terdiam sejenak hingga akhirnya mengangguk. Aurin berlari masuk ke rumahnya untuk mengambil jaket dan helm. Naik ke motor Tommy dan memasrahkan diri akan dibawa kemana pun.
"Lo punya tujuan?"
"Nggak," sahut Tommy.
Tommy lagi-lagi mengangguk, segera menambah laju motornya agar bisa sampai dengan cepat. Sakin seriusnya, pria itu sampai tidak sadar kalau sejak tadi Aurin memeluk pinggangnya. Entah gadis itu sadar atau takut jatuh. Keduanya menghela napas panjang ketika sampai di rumah baru Keisha. Rumah itu tampak sepi, bahkan lampunya tidak menyala pertanda tidak ada seorangpun di dalam sana.
"Nggak ada, Tom. Gimana dong? Gue takut kalau Kei beneran kenapa-napa. Dia tuh bodoh kalau lagi panik, gue takut dia ngelakuin sesuatu," lirih Aurin. Rasanya gadis itu ingin menangis jika megingat perkataan Tommy seminggu yang lalu.
"Kei baik-baik aja gue yakin."
Tommy kembali melajukan motor miliknya. Membelah padatnya jalan raya, mengunjungi beberapa tempat yang sering kali dia dan Mahesa datangi sebelumnya. Namun, selama itu pula tidak ada tanda-tanda keberadaan Mahesa.
***
Jika Aurin dan Tommy sedang panik mencari keberadaan Keisha dan Mahesan, maka berbeda dengan Ricky yang tampak tersenyum lega setelah berhasil menyelesaikan pekerjaan kantor dengan cepat. Pria itu memeriksa ponselnya, berharap ada pesan dari sang istri, tetapi yang dia harapkan tidak terjadi. Jangankan mengirim pesan, pesannya yang dia kirim saja belum dibaca oleh gadis itu.
"Apa jangan-jangan dia marah saya nggak jemput?" gumam Ricky.
Pria itu meninggalkan perusahaan papahnya setelah jarum jam menunjukkan angka 10 malam. Tangan kanan pria itu sedang menempelkan benda pipih di telinga, sementara tangan kiri menenteng jas yang dia kenakan tadi pagi. Beberapa kali Ricky menghubungi Keisha, tetapi selalu diluar jangkauan.
"Beli apa ya bagusnya?" gumam Ricky.
Sepanjang perjalanan pulang dengan mengendarai motornya, pria itu memikirkan makanan apa yang dia beli untuk Keisha. Terlebih Ricky belum makan malam karena sibuk bekerja sejak tadi. Tidak kunjung mendapatkan menu makanan yang membuatnya berselera, Ricky hanya membeli dua cup es krim untuk istri kecilnya.
Kening Ricky mengerut ketika motornya melintasi pagar rumah. Tempat tinggal yang biasanya terang kini tampak gelap, pertanda tidak ada penghuninya. Meski begitu Ricky tetap memeriksa seluruh rumah tidak lupa menyalakan semua lampu.
"Dia belum pulang? Kemana dia tengah malah kayak gini," batin Ricky bertanya-tanya.
Pria itu bergerak gusar, mulai mengkhawatirkan Keisha yang tidak ada di rumah. Sejak memutuskan untuk hidup bersama, setiap meninggalkan rumah, gadis itu akan berpamitan padanya, tetapi hari ini tidak. Tanpa istirahat lebih dulu Ricky meninggalkan rumah.
Menyusuri jalanan menuju sekolah dan sesekali menelpon bu Ratna dan pak Wilson, tetapi jawaban mereka tetap sama. Tidak tahu di mana keberadaa Keisha, lebih parahnya lagi, kedua manusia paruh baya itu ikut khawatir.
Ricky mengusap wajahnya kasar ketika sampai di sekolah dan tidak menemukan siapun di sana. "Aaaakkhhh, kamu kemana sih Kei?" teriak Ricky. Pria itu duduk di depan gerbang sekolah, menghubungi Aurin, orang terakhir yang mungkin mengetahui keberadaan Keisha. Pria itu mengeram kesal karena Aurin tidak menjawab satu pun panggilannya.
Saat akan meninggalkan sekolah, Ricky mendapatkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Ini istri yang kamu bangga-banggain? Bedanya sama aku dulu apa?
Itulah isi pesan yang dikirimkan Amelia berserta foto saat Keisha masuk ke mobil yang Mahesa buka di depan sekolah. Rahang Ricky mengeras, pria itu meremas benda pipih di tangannya.
"Bang*sat!" geram Ricky.