Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 45 ~ Luka tanpa Penawar


Menyesal? Tentu hal itu Ricky rasakan sekarang, terlebih Keisha seakan enggan untuk berbaikan atau sekedar mengajaknya bercanda seperti waktu lalu. Yang lebih menyakitkan lagi, keceriaan di wajah gadis itu seakan sirna. Keisha bisa menghabiskan waktunya selama berjam-jam hanya melamun tanpa melakukan apapun. Entah di balkon kamar, atau di pinggir kolam.


Ricky yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, menghela nafas panjang melihat Keisha yang duduk layaknya patung. Andai malam itu dia tidak tersulut emosi, maka keadaanya tidak akan seperti ini. Dia bisa menenangkan Keisha yang sedang hancur-hancurnya, tetapi emosi menguasai Ricky. Rasa cemburu dan takut diselingkuhi seperti yang dilakukan Amelia menghantui pria itu semalam.


Tidak ingin menganggu istri kecilnya, Ricky memutuskan untuk menuju dapur. Membuat sesuatu yang mungkin bisa dinikmati berdua. Keduanya masih ada di rumah pak Wilson, Ricky pun belum mengurus Mahesa yang telah disekap oleh anggota Avegas atas perintah Azka.


Setelah selesai membuat dua gelas jus segar, Ricky membawanya ke pinggir kolam. Meletakkan dua gelas tersebut di atas meja tanpa menimbulkan suara. Menatap wajah Keisha dalam-dalam. Sebenarnya yang ditatap menyadari hal itu, hanya saja tidak punya tenaga untuk merespon setiap perlakuan Ricky. Dia benci suaminya. Menyalahkan apa yang terjadi pada dirinya karena dia terlalu cinta pada pria yang tidak pernah mempercayainya meski sekali saja.


Keisha berdiri tanpa mengajak Ricky bicara, bahkan tidak menyentuh jus yang dibawa oleh pria itu.


"Makanlah sesuatu Keisha! Kamu bisa sakit kalau terus diam kayak gini. Nggak papa kalau kamu cuekin saya. Saya sadar salah dan kasar memperlakukan kamu semalam. Tapi jangan nyiksa sendiri dan ...."


"Nggak usah sok peduli, Pak! Sebaiknya bapak pergi dari rumah papah Saya!" balas Keisha dan berlalu pergi. Gadis itu kembali ke kamarnya, berbeda dengan Ricky yang mulai frustasi akan tingkah cuek Keisha. Apalagi wajah gadis itu pucat, tetapi tidak ingin memakan apapun.


Ricky ikut beranjak, bukan untuk menyusul Keisha. Melainkan kembali menuju dapur. Berniat membuat sesuatu yang mungkin disukai oleh istrinya. Tidak apa-apa jika dia tidak mendapatkan maaf, toh memang kesalahannya terlalu fatal. Tetapi Ricky tidak akan rela jika Keisha sakit karena dirinya.


"Pak Ricky? Biar saya aja yang ...."


"Nggak papa, saya mau membuat sesuatu untuk istri saya," jawab Ricky pada pelayan di rumah pak Wilson.


***


Selalu ada timbal balik kejadian di dunia ini. Kadang kala di belahan dunia lainnya sepasang kekasih bersedih, dan dibelahan lainnya pula sedang berbahagia karena mendapatkan kesempatan yang tidak pernah terpikirkan oleh Tommy sebelumnya.


Senyuman pria itu mengembang ketika kehadirannya di rumah Aurin tidak lagi disambut dingin, melainkan senyuman yang pemilik rumah berikan secara mendadak.


"Makasih udah nolongin Keisha dan berusaha buat beri tahu gue yang sebenarnya," ucap Aurin.


"Bukan gue yang nolongin, tapi pak Azka."


"Andai pak Azka nggak datang, mungkin kita berdua yang sampai di sana. Seenggaknya, lo udah berusaha lindungin sahabat gue, Tom. Gue nggak tau apa yang bakal Keisha lakuin kalau aja benar-benar di ...." Aurin menghela napas panjang. Gadis itu tidak sanggup jika harus meneruskan kalimatnya.


"Jangan sedih gitu dong, kan sekarang Kei baik-baik aja. Gue juga salah karena nggak bisa cegah Mahesa bertindak." Tommy tersenyum, maju beberapa langkah hendak memeluk Aurin, tetapi dia mengurungkan niatnya ketika sadar tidak seharusnya dia melakukan hal itu.


Aurin yang sekarang dan dulu sangat berbeda. Sekarang gadis itu telah memutuskan untuk berdiri dijalan yang benar, berusaha memperbaiki diri. Bukankah sebagai pria yang benar-benar mencintai, dia harus mendukung apa yang sudah menjadi keputusan Aurin? Tommy hanya mengusap kepala Aurin yang dilapisi kain.


"Makasih udah nggak jutek lagi. Gue cuma mau ngembaliin ini." Tommy menyerahkan sesuatu pada Aurin.


"Kalung gue? Kok sama lo ...."


"Jatuh pas lo lari masuk ke rumah Mahesa," jawab Tommy.


Ternyata dibalik sebuah kejadian, ada beberapa hikmah yang didapat oleh sebagian orang. Termasuk Tommy dan Ricky. Pentingnya sebuah kejujuran dan kepercayaan satu sama lain. Komunikasi yang baik, tidak akan menimbulkan kesalahpaham yang berujung penyesalan.


***


Matahari mulai tenggelam, menghadirkan langit malam dan sedikit cahaya dari bulan yang berada jauh di atas sana. Selama itu pula, Ricky dengan setia duduk di teras rumah pak Wilson. Menunggu entah sampai kapan diberi kesempatan untuk berbicara pada istri yang telah dia buat kecewa.


Pria itu lantas berdiri tatkala melihat mobil papah mertuanya memasuki pekarangan rumah. Tersenyum ketika pria paruh baya itu turun dari mobil.


"Loh kenapa duduk di luar Nak? Ini rumah kamu juga," ucap pak Wilson.


"Cari angin, Pak."


"Benarkah?" Pak Wilson menatap penuh selidik pada menantunya. "Keisha datang ke rumah pagi-pagi sekali dan suhu tubuhnya cukup tinggi, kalau kalian nggak ada masalah, besar kemungkinan kamu nggak biarin dia keluar rumah," lanjutnya.


Pria paruh baya itu menepuk pundak Ricky. "Apapun masalah kalian, bereskan sendiri. Papah nggak bisa bantu, apalagi jika menyangkut keras kepala Keisha."


"Bukan masalah besar kok, Pak. Keisha mungkin kangen sama pak Wilson, makanya pergi pagi-pagi tanpa bangunin saya."


"Perkara semalam? Keisha berulah lagi? Dia keluyuran tanpa ...."


"Bukan kesalahan Keisha, Pak." Ricky segera memotong ucapan pak Wilson, takut kalau saja Keisha mendengarnya dan semakin sedih karena semua orang mencurigai dirinya.


Dirasa malam mulai larut, Ricky memutuskan untuk mengunjungi kamar istrinya. Ternyata pemilik kamar sudah tertidur dengan posisi membelakangi pintu. Ricky berjalan perlahan, mendekati sang istri. Berbaring di belakang gadis itu. Menelusupkan lengannya tepat di bawah leher Keisha, lalu menarik sang istri secara pelan masuk ke pelukannya.


Dia menatap wajah terlelap itu cukup lama, memar di bibir masih terlihat jelas di sana. Ricky menyentuh sudut bibir yang membiru tersebut.


"Maaf, harusnya saya mengobati lukamu, bukan malah menambahnya," gumam Ricky.


Pria itu meraih tangan Keisha, mengecup telapak tangannya berulang kali. "Jangan lama-lama ya marahnya, hidup saya sepi tanpa omelan dari kamu."


"Pak Ricky jahat," guman Keisha di alam bawah sadarnya.


"Benar, saya jahat dan nggak bakal mudah dimaafin, tapi boleh nggak saya egois? Maafin saya dan beri saya kesempatan buat perbaiki semuanya."


"Pak Ricky jahat, Mah." Sudut mata Keisha berair, mengalir sehingga membasahi lengan kekar Ricky.


"Maaf." Ricky mengecup kedua mata Keisha, tidak lupa menghapus bulir-bulir bening yang terus berjatuhan, padahal pemiliknya sedang tidur. Andai bisa memutar waktu, Ricky tidak akan ke kantor dan membiarkan istrinya menunggu di sekolah seorang diri.


Lihat saja apa yang akan Ricky lakukan pada Mahesa. Pria itu belum memberi pelajaran pada pria breng*sek tersebut, sebab fokus pada hubungannya dengan Keisha.