
Keisha dan Ricky sampai di rumah sakit setelah pak Wilson dan bu Ratna selesai mengemas barang bawaan yang akan di bawa pulang.
Keisha begitu antusias menyambut kepulangan papahnya yang terlihat jauh lebih baik, dibandingkan saat dia menikah.
Gadis itu memeluk lengan papahnya sambil tersenyum.
"Kei senang papah udah boleh pulang. Nanti Kei nggak sendirian lagi di rumah," ucapnya.
Kening pak Wilson mengerut mendengar penuturan putrinya. "Sendiri? Bukannya udah nikah ya? Sekarang ada Ricky yang nemenin kamu tidur."
"Ish papah!" Mengembungkan pipinya.
Terus berjalan di koridor rumah sakit, masih memeluk lengan papahnya dengan mesra, sementara Ricky dan mamahnya sudah berada di mobil, sebab pergi lebih dulu tadi.
Bu Ratna ada sedikit kesibukan, sehingga harus pergi dan bisa mengantar besannya kembali ke rumah. Lagi pula Wilson dan Ratna tidak terlalu dekat, keduanya pesaing bisnis cukup ketat.
Mungkin jika dengan cara baik-baik, Ratna tidak mungkin menikahkan putranya dengan putri Wilson.
"Mamah kamu udah pergi?" tanya Wilson setelah sampai di depan rumah sakit. Memperhatikan menantunya yang sedang menyusun barang di dalam mobil.
"Udah, Pak. Ayo masuk!" ucapnya membuka pintu.
Ayolah, meski sedikit brandal saat muda, Ricky juga mempunyai sopan santun, tidak seperti Keisha.
"Kei sama papah."
"Di depan aja, sama suami kamu," ucap Wilson, langsung menutup pintu jok belakang agar putrinya tidak masuk.
Berbeda dengan Ratna, Wilson dengan senang hati menikahkan putrinya bersama Ricky ada atau tidaknya kecelakaan tersebut.
Sebab, keluarga Reynaldhi adalah keluarga baik-baik. Keisha akan aman jika bersama Ricky. Itulah yang Wilson tahu tentang keluarga pria yang kini menjadi menantunya.
Lagi pula Wilson senang putrinya menikah dengan pria yang lebih dewasa, agar sikapnya berubah. Tidak seenaknya, tidak banyak drama dan keras kepala.
Wilson tidak tega jika membentak putrinya, jadi dia akan menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada Ricky.
"Gimana malam pertama kalian?" cetus Wilson setelah mobil melaju perlahan.
"Menyenangkan Pak, Keisha sangat bar-bar," celetuk Ricky.
Keisha sontak membulatkan matanya, menatap tajam Ricky yang bicara sembarangan.
Apa-apaan malam pertama? Mereka saja tidak tidur bersama, bahkan saling membuat perjanjian.
"Kau menyukainya?"
"Tentu, saya suka gadis yang kasar."
Ricky tertawa dalam hati, akhirnya bisa membuat istri kecilnya kesal setelah dibuat kesal saat di sekolah.
Pria itu memutar setir kemudi setelah sampai di depan rumah. Menghentikan mobil secara perlahan dan membantu pak Wilson keluar dari mobil.
Mengambil barang di dalam mobil, sementara Keisha membawa papahnya masuk ke rumah.
Setelah di rasa semuanya telah beres, Ricky meninggalkan rumah tanpa pamit pada siapapun, sementara di sisi lain Keisha mencari keberadaan suaminya karena perintah sang papah.
"Lah kemana om-om tua itu? Hobi banget ngilang tiba-tiba," gumam Keisha.
Di depan rumah, hanya ada bekas parkiran mobil saja. Keisha kembali menemui papahnya.
"Pak Ricky ada urusan penting Pah, jadinya pergi buru-buru. Nanti kalau datang, Kei sampaikan," ucapnya kemudian berlalu.
Karena merasa gerah, Keisha mandi dan mengganti baju seragamnya. Tidur tengkurap di atas ranjang tanpa ada niatan makan lebih dulu.
Pipi gadis itu kembali bersemu ketika melihat foto yang dikirimkan Aurin padanya.
Keisha menepuk pipinya yang memanas. Tadi adalah momen yang tidak akan pernah Keisha lupakan seumur hidupnya. Momen sangat indah, mengalahkan hari pernikahannya yang secepat angin kentut yang keluar tanpa di duga, tapi baunya menyebar kemana-mana.
"Gimana caranya ya biar bisa nikah sama kak Mahesa? Kira-kira pak Ricky mau dimadu nggak ya?" gumamnya, mulai berpikir konyol.
"Ah bodoh amat, toh perjanjiannya nggak boleh saling jatuh cinta. Love you kak Mehesa, tunggu gue. Gue bakal perjuangin cinta kita," ucapnya penuh angan, padahal belum tentu Mehesa menyukainya.
***
Sore hari dengan matahari cukup terik, tampak seorang pria sedang duduk di cafe outdor sedang menikmati sebatang rokok juga kopi yang berada di atas meja.
Pria itu tidak lain adalah Ricky, melarikan diri dari rumah mertuanya dan mendarat di Cafe setelah menemui sang mamah di rumah.
Dia sedang menunggu kedatangan seseorang, bukan hanya satu tapi 5 orang sekaligus.
"Cie elah pengantin baru dadakan," ledek Rayhan-sahabat masa muda Ricky. Pria itu duduk di hadapan Ricky.
"Gimana malam pertamanya? Mantap dong, gadis kecil itu pasti rapat banget." Goda Rayhan, membuatnya mendapatkan geplakan dari Ricky.
"Apaan njir, gue belum dapat jatah. Lagian gue nggak mau berurusan sama cewek lagi. Semua perempuan sama aja, kecuali mamah gue!"
"Kecuali istri dan mamah gue lah," sahut Keenan, mantan wakil ketua di geng motor bernama Avegas.
"Iya dah, iya." Pasrah Ricky.
Tinggal tiga orang yang belum datang, dan Ricky tidak yakin ketiganya bisa datang cepat. Secara tiga sahabatnya yang lain sedikit sibuk di usianya yang terbilang masih muda.
"Eh-eh ada yang ingat ini nggak sih?" Tiba-tiba Rayhan berseru. "Gue mau jadi guru, biar kayak pak Alvi, nikah sama siswanya."
"Wkwkekwk, baru ingat njir! Sekarang jadi kenyataan!" Tawa Keenan dan Rayhan terdengar, meledek pengantin baru yang sama sekali tidak bahagia dengan statusnya.
Sangat berbeda dengan pengantin baru pada umumnya. Apalagi Keenan dan Azka yang menikah karena cinta.
"Tapi nggak dadakan juga anjir!" Memutar bola mata malas.
Ketiganya larut dalam pembicaraan sambil menunggu kedatangan Azkan, Dito dan Samuel.
Hingga pada akhirnya mereka bubar saat magrib tiba. Ricky melajukan motor miliknya yang dia ambil di rumah mamahnya, di punggung pria itu ada tas cukup besar berisi beberapa pakaian karena akan menginap beberapa hari di rumah Keisha.
Tidak mendapati siapapun di lantai dasar, Ricky langsung menuju kamar istrinya. Membuka pintu dan mendapati Keisha tidur di ranjang dengan kepala menjuntai ke lantai.
Bukan, bukan itu yang menjadi fokus Ricky, melainkan Kimono abu-abu yang melekat di tubuh Keisha.
Kimono itu sedikit tersingkap karena cara tidur gadis itu yang cukup bar-bar. Ricky refleks menyentuh tonjolan-tonjolan halus di lehernya yang terus bergerak.
"Sialan, bisa-bisanya dia goda saya dengan cara seperti ini," umpatnya tidak suka.
Sepertinya Keisha akan membangkitkan jiawa buaya di dalam diri Ricky. Jiwa buaya yang telah padam setelah bertemu perempuan yang benar-benar dia cintai, sayangnya perempuan itu mengkhianatinya dan pergi bersama pria lain.
Tidak ingin tergoda lebih dalam lagi, Ricky segera masuk ke kamar mandi usai meletakkan tasnya di sofa. Lagi pula Ricky belum mandi sejak pulang mengajar
*
*
*
*
*
Hati-hati Kei, buaya datangš¤