
Langkah kaki seorang gadis terus terdengar hingga di teras rumah, pemilik langkah itu tidak lain adalah Keisha. Dia sedang mengendap-endap menuju garasi untuk mengambil sesuatu di dalam mobil sang suami. Tadi saat jalan-jalan bersama, Keisha melupakan sesuatu di sana.
Gadis itu mengigit bibirnya ketika akan menutup pintu mobil, lantaran tidak ingin Ricky mengetahui bahwa dia keluar rumah jam 12 malam. Keisha langsung mengeledah di bawah jok bagian depan, untuk menemukan cincin pernikahan yang tidak sengaja dia jatuhkan.
"Akhirnya dapat, nggak jadi dimarahin sama pak, Iky!" seru Keisha memandangi cincin berlian itu, tetapi tidak berlangsung lama lantaran benda lain mengambil atensinya.
"Benda apa ini? Kok nggak asing ya?" gumam Keisha meneliti benda persegi panjang berwarna biru dengan garis dua merah yang samar di dalamnya. "Tespek bukan sih?" tanyanya entah pada siapa.
Tidak ingin salah menyangka, Keisha langsung memeriksa di google apakah benda itu bener tespek atau termometer. Tangan gadis itu bergetar hebat, dadanya bergemuruh disertai jantung berdetak tidak beraturan mengetahui benda tersebut.
"Te-tespek siapa? Ak-aku belum ngasih tau mas Iky kalau hamil," lirihnya. Menatap nanar benda persegi tersebut.
Tidak ingin membuang waktu lama, Keisha langsung menemui suaminya yang sudah tertidur di kamar. Dia membuka pintu secara brutal lalu melempar benda persegi itu tepat di wajah sang suami. Hal tersebut membuat Ricky terbangun, lantaran merasakan sakit di area kening.
"Bub, kok lempar barang sembarangan sih? Nggak tau apa aku lagi ...."
Kalimat protesan Ricky terhenti dengan sendirinya lantaran tangan lentik mendarat di wajah pria tampan itu.
"Keisha!" bentak Ricky. "Aku bisa maklumin semua mood buruk kamu, tapi nggak dengan nampar ...."
"Tespek siapa yang ada di dalam mobil pak Ricky? Apa jangan-jangan pak Ricky nggak pulang semalam karena sibuk ngurus selingkuhan yang lagi hamil?" tanya Keisha dengan napas memburu.
Mata Ricky terbelakak, dengan cepat turun dari ranjang lalu menghampiri Keisha yang berada di dekat pintu. "Sayang?"
"Nggak usah sentuh aku! Jelasin aja perkara tespek itu!"
"Itu-itu, maaf. Aku nggak bermaksud bohongin kamu, Kei. Tapi ...."
"Udahlah, nggak ada gunanya juga minta penjesalan sama pak Iky!" Keisha mendengus. Gadis itu beralih menuju lemari. Menurunkan koper besar lalu mengemas barang-barangnya secepat mungkin. Air mata berjatuhan tanpa diminta di manik indah Keisha. Istri mana saja tidak akan sanggup jika mendapatkan tespek di mobil suaminya yang tidak pulang semalaman.
Lebih menyakitkannya lagi, karena Keisha sedang menyiapkan kejutan pada sang suami tentang kehamilannya yang masih samar.
"Bub? Kamu mau kemana, hm? Ngapain ngemas barang gitu?" tanya Ricky. Berusaha mencegah Keisha memasukkan barang ke koper, tetapi tangannya selalu ditepis berulang kali.
"Yang kamu pikirin nggak gitu kok. Ak-aku semalam ...."
"Nggak usah, kalau pak Ricky mau jujur, udah dari pagi pas aku nanya. Tapi apa? Mau jelasin setelah aku tau semuanya? Basi!" sentak Keisha.
Dia beralih mengambil tespek yang masih tergeletak di ranjang setelah mendarat di kening Ricky. Gadis itu menarik tangan suaminya lalu memberikan tespek entah dari perempuan mana.
"Dia mungkin jauh lebih cantik, lebih menggoda, lebih segalanya dan menarik di mata kamu! Temui dia dan beri dia ucapan selamat atas kehamilannya."
"Kei? Dengerin dulu kenapa sih?" Wajah Ricky tampak frustasi.
"Bub, maafin aku. Ak-aku nggak sengaja ngelakuin itu semua. Semalam memang benar aku ketemu Amel, karena ...."
"Aku tunggu surat dari pengadilan." Keisha mengusap air matanya, memberontak lalu berlari keluar dari kamar.
Langkah kecil itu terus bergerak meninggalkan rumah yang semestinya menjadi saksi bisu kebahagian dia dan Ricky. Namun, kisah mereka harus berakhir karena Ricky memilih untuk mengganti ratu di istananya yang indah.
"Keisha berhenti!" teriak Ricky, terus mengejar istrinya hingga sampai di jalan raya, tetapi yang dipanggil tampak acuh, terus berlari kecil tanpa memperdulikan sekitar.
"Keisha, mas bilang berhenti! Kamu mau mas hukum karena nggak mau dengar? Keisha Angelian Wilson!" Pekikan Ricky terus terdengar sepanjang jalan. Teriakan itu semakin menambah semangat Keisha untuk terus berlari.
"Bubu!"
"Aaaaakkkkkhhhhhh!"
Ricky memejamkan matanya mendengar teriakan serta tubuh yang terpental pada mobil taksi yang baru saja berbelok.
"Keisha!" pekik Ricky dengan suara bergetar. Tulang-tulang pria itu seakan melunak melihat darah berceceran di pinggir jalan. Koper yang semula ada di tangan Keisha, kini berada di tengah jalan ditindah oleh sopir taksi yang menambrak tubuh gadis itu.
"Sayang? Kenapa kamu ngelakuin ini, hm? Kenapa!" bentak Ricky dengan mata berkaca-kaca. Dia memangku kepala istrinya yang berlumuran darah.
Jika diteliti lebih baik lagi, bukan sopir taksi yang menabrak tubuh Keisha, melainkan gadis itulah yang nekat menghampiri mobil agar tubuhnya ditabrak.
"Pak Iky senang kan?" tanya Keisha terbata, dia tersenyum meski sesekali meringis lantaran rasa sakit yang tidak tertahankan. Tangan lentik bergetar itu terangkat untuk mengusap pipi Ricky yang terus dibasahi air mata. "Ini kan yang pak Iky mau? Ak-aku pergi dan pak Iku bahagia sama keluarga barunya. Aku udah nebak dari awal, kalau aku nggak bisa jadi istri idaman versi pak Iky. Kamu terlalu sempurna untuk aku gapai," ucap Keisha tidak jelas.
"Nggak, Bub." Ricky mengelengkan kepalanya. Mengenggam tangan Keisha yang berlumuran darah di pipinya. "Kenapa nekat, hm? Aku nggak mungkin selingkuhin kamu, semuanya cuma salah paham. Aku cinta sama kamu, Bub. Aku nggak bakal .... Bub jangan pejamin mata!"
"Ma-mau dengar kabar bahagia?" tanya Keisha mulai terbatuk karena dadanya terasa sesak, tengorokannya seakan didesak untuk mengeluarkan sesuatu.
"Apa, Sayang?"
"Ak-aku hamil, tapi kabar buruknya ... mungkin sekarang aku keguguran dan bentar lagi aku nyusul calon anak kita." Keisha masih bisa tertawa di tengah ketegangan yang ada di antara keduanya.
Kerumunan orang mulai terbentuk, bahkan ada yang telah menelpon ambulance. Hanya saja mereka tidak ingin mengangkat korban secara gamblang, lantaran itu beresiko bagi korban.
"Kalian pasti bertahan. Aku nggak mau kalian pergi."
"Ak-aku mau pergi. Suami kayak kamu nggak bisa dipertahanin." Keisha kembali terbatuk sebelum akhirnya memejamkan mata. Hal itu membuat Ricky semakin histeri. Memeluk tubuh tidak berdaya istrinya sangat erat, air mata semakin berjatuhan. Menyentuhkan keningnya dan kening sang istri sehingga tetesan air mata mengenai pipi gadis bar-bar itu.
"Nggak! Bubu aku nggak mungkin ninggalin aku secepat ini!" teriak Ricky, sampai urat-urat lehernya terlihat membentang.