
Setelah merasakan benih-benih cinta satu sama lain dan menciptakan momen setiap detiknya. Kini kedunya kembali menjauh karena kehadiran masa lalu Ricky dalam rumah tangga mereka. Sejak pertengkaran semalam, Keisha tidak lagi menunjukkan rasa ketertarikannya pada Ricky. Mungkin kesal dan marah sebab pria itu berpelukan dengan wanita lain tepat di hadapannya.
Pagi ini, Ricky sengaja bangun lebih awal dari biasanya demi membuat sarapan untuk Keisha. Ricky berlari ke luar dari dapur ketika mendengar suara Keisha.
"Sarapan dulu, saya udah masak pancake buat kamu," ucap Rikcy. Pria itu masih berusaha membujuk istrinya agar tidak marah.
"Nggak lapar."
"Kalau gitu bawa aja, ntar di sekolah kamu bisa ...."
"Nggak butuh." Keisha berlalu begitu saja tanpa menggoda suaminya seperti dulu. Gadis itu berdiri di depan pagar rumah, menunggu Aurin menjemput dia ke sekolah. Sementara Ricky tengah menatap gadis itu dari dalam rumah, sambil menghela napas panjang.
"Jadi gini rasanya dicuekin? Nggak nyaman banget," gumam Ricky.
Setelah memastikan Keisha telah pergi bersama Aurin, Ricky pun akhirnya meninggalkan rumah. Di tangan pria itu ada dua lembar uang yang dia dapatkan di atas meja, dengan kata lain, Keisha tidak mengambil uang jajan yang dia berikan.
"Sepertinya dia benar-benar marah. Saya harus memikirkan cara untuk mengambil hatinya kembali," batin Ricky sambil melirik kiri dan kanan, ketika akan putar balik .
Setelah sampai di sekolah, Ricky tidak langsung masuk ke ruang guru, melainkan mencari keberadaan seseorang yang tidak dia temui di dalam kelas IPS 1. Entah kemana gadis berhijab itu saat dibutuhkan.
"Tommy, apa kau melihat Aurin?" tanya Ricky pada Tommy yang sedang berada di pinggir lapangan bersama Mahesa.
"Tadi saya liat dia masuk ke perpustakaan, Pak," jawab Tommy.
Ricky dengan sigap menlangkah ke perpustakaan setelah berterimakasih pada siswanya. Bertepan dia sampai di sana, gadis yang dia cari pun keluar dari perpustakaan.
"P-pak Ricky?" Aurin terkejut karena dihadang secara dadakan oleh guru olahraganya. Kening gadis itu mengerut ketika pak Ricky menyerahkan bekal dan uang sebanyak 3 lembar. "Buat saya, Pak?" tanyanya.
"Buat istri saya, dia lupa ambil di meja tadi," jawab Ricky dan berlalu pergi. Begitupun dengan Aurin yang langsung meninggalkan area perpustakaan. Menemui sahabatnya yang duduk di kantin padahal masih pagi sekali.
Di atas meja gadis itu, ada minuman dingin dan makanan pedas penghilang kekesalan. Keisha mendongak ketika Aurin meletakkan uang dan kotak bekal.
"Dari suami lo, katanya buat istrinya," ucap Aurin.
"Lo aja yang makan, gue ogah."
"Uangnya?" tanya Aurin.
"Semunyaa buat lo, gue udah dapat dari pak Wilson," sahutnya tanpa minat, membuat Aurin semakin curiga dengan tingkah Keisha yang aneh sejak pagi.
"Kalian ada masalah lagi?" tanya Aurin.
"Taulah, gue kesal sama pak Iky. Bisa-bianya dia pelukan sama cewek di depan gue langsung. Mana kata mamahnya tuh cewek mantan pak Iky," gerutu Keisha.
"Cantik 'kan mana dia sama lo?"
"Canti 'kan gue di mana-mana lah. Dia catik karena make up aja yang tebal."
Aurin seketika tertawa melihat wajah kesal sahabatnya. Baru kali ini Keisha uring-uringkan karena seorang pria. Dulu saat suka dengan Mahesa, Keisha tidak pernah sekesal itu ketika ada yang memeluk pria yang dia sukai. Sepertinya sahabatnya benar-benar telah jatuh cinta.
Namun, beberapa manit kemudian, Aurin terdiam sejenak karena memikirkan sesuatu. Dia mengelus dagunya, mencari cara agar Keisha bicara jujur. "Btw, kata pak Iky, kemarin lo nggak enak badan, makanya nggak masuk sekolah. Lo beneran sakit apa pura-pura? Lo jarang banget sakit Kei, bahkan selama kita temenan lo nggak pernah tuh demam. Jangan-jangan ini alibi lo aja biar nggak masuk ulangan kemarin!" todong Aurin.
"Ya, gue beneran sakit goblok! Gue nggak bisa jalan karena pak Iky ganas banget, lo nggak tau sakitnya kayak gimana!" balas Keisha dengan suara yang lebih tinggi, membuat Aurin tertawa puas. Tadi gadis itu hanya memancing Keisha agar berkata jujur, sebab gadis itu melihat kemeran di leher sahabatnya, belum lagi cara jalan Keisha sedikit aneh.
"Pantesan uring-uringan, ternyata udah dibobol," ledek Aurin, membuat wajah Keisha seketika memerah.
***
Keisha, gadis itu berjalan seorang diri di pinggir lapangan. Sesekali dia menghembuskan nafas perlahan untuk mengusir rasa kesal yang tidak kunjung hilang. Dia tidak akan puas dan tenang sebelum membalas perbutan pak Ricky terhadapnya. Jika tidak dosa, Keisha mungkin akan membunuh Ricky dan Amelia sakin kesalnya.
"Kei, temenin gue main basket yok!" ajak Mahesa.. Pria itu sedang berada di tengah lapangan.
Keisha yang dipanggil tampak terdiam, melirik kiri dan kanan seperti mencari seseorang. Senyuman gadis itu mengembang ketika melihat pak Ricky baru saja keluar dari ipa 2. Tanpa berpikir panjang, Keisha berlari ke tengah lapangan lalu memeluk Mahesa.
"Maaf karena udah nyuekin kak Mahesa selama ini. Ternyata gue beneran nggak bisa lepas dari kak Mahes gitu aja," ucap Keisha dengan nada sedikit keras.
Mahesa tersenyum lebar, membalas pelukan Keisha, berbeda dengan pria yang yang berada di depan kelas ipa 2. Pria itu tampak mengepalkan kedua tangannya. Entahlah, tetapi Ricky kesal melihat Keisha memeluk Mahesa dan disaksikan semua orang.
"Gue juga kangen sama lo, kita balikan ya? Gue janji nggak bakal nyakitin lo lagi," balas Mahesa dan dijawab anggukan oleh Keisha.
***
"Keisha!"
Pangilan itu terus terdengar beberapa kali, tetapi pemilik nama seakan tuli. Terus melangkah memasuki rumah tanpa memperdulikan pria yang berjalan di belakangnya.
Langkah gadis itu baru berhenti saat tangannya ditarik dan dihempasnya ke dinding yang cukup kokoh.
"Berhenti bersikap acuh Keisha! Sikap kamu terlalu ke kanak-kanakan!" ucap Ricky penuh ketegasan. Memepetkan tubuhnya agar jarak di antara mereka terkikis.
Keisha tertawa sinis. "Sikap saya memang kekanak-kanakan, Pak! Tapi wajar karena saya masih sekolah. Daripada Bapak, udah dewasa, beberapa tahun lagi masuk ke pala tiga, tapi nggak bisa mikir dengan benar. Bapak nggak pernah miikirin gimana rasanya dibuat terbang dan dihempas detik itu juga. Mulut pak Ricky manis banget pas di rumah mamah, saya sampai baper. Saya ngira Bapak beneran anggap saya istri, ehh ternyata cuma akting aja biar keliatan bahagia di depan mantan!"
Keisha menepis tangan Ricky yang melingkar di pinggangnya. "Di suruh jadi istri yang penurut dan baik, tapi suaminya sendiri nggak jelas!"
"Keisha, dengerin saya dulu! Bukan saya yang meluk Amel, tapi dia yang meluk. Beda sama kamu yang langsung masuk Mahesa tadi."
"Alasan banget, kan bisa didorong atau ditepis. Bilang aja nyaman."
"Saya minta maaf. Kita baikan lagi dan nggak usah ungkin tentang kejadian kemarin dan hari ini ya? Kita impas, kamu meluk Mahesa dan saya dipeluk Amel," bujuk Ricky. Pria itu kembali meraih pinggang Keisha. Menempelkan keningnya dengan kening sang istri. "Saya cuma milik kamu, kamu istri sah saya di mata hukum dan agama. Daripada bertengkar, ada baiknya kita saling percaya dan berusaha memperkuat pondasi pernikahan biar nggak roboh," ucap Ricky dengan suara lirih. Seakan dihipnotis, Keisha lantas menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu Bapak harus cerita siapa kuntilanak itu. Pak Ricky juga harus ngomong, kalau bapak suka sama saya! Bapak nggak mau kehilangan saya," pinta Keisha.
"Keisha Angeline Wilson, saya suka sama kamu. Saya milik kamu. Jangan marah-marah apalagi cuekin saya! Soalnya saya takut kehilangan kamu," ucap Ricky, membuat senyuman di bibir Keisha merekah.
"Karena Bapak yang minta nggak mau ditinggalin, saya nggak bakal ninggalin." Keisha mengalungkan tangannya di leher Ricky. Untung saja mereka hanya tinggal berdua di rumah.