Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 26 - Bertemu Amelia


"Pak Ricky, ada yang manggil itu," ucap Keisha, mengoyang-goyangkan tangannya yang sedang digenggam oleh Ricky.


Ricky lantas membalik tubuhnya, tidak lupa menampilkan wajah sedatar mungkin. Manatap wanita yang sedang memakai kemeja merah dan rok span di atas lutut. Penampilannya terlihat sangat berkelas, berbeda dengan Keisha yang selalu tampil sederhana.


"Teman bapak ya?" bisik Keisha, tetapi Ricky bergeming di tempatnya.


"Lama nggak ketemu, Ky. Udah aku duga kamu pasti ke rumah sakit buat jenguk Glora," ucap Amelia, wanita yang beberapa menit lalu memanggil nama Ricky. Tatapan wanita itu tertuju pada Keisha yang terlihat sangat mungil berada di samping Ricky.


"Harusnya tangan aku yang digenggam, bukan tangan bocah ingusan ini," batin Amelia.


"Sepertinya kalian cukup dekat, sampai panggilannya aku-kamu."


"Tentu saja," sinis Amelia.


"Kalau begitu kenalin, saya Keisha. Siswa pak Ricky, hari ini dia minta saya buat ...."


"Namanya Keisha, dia istri saya. Mari," ucap Ricky. Menarik tangan kanan Keisha yang hendak terulur untuk menjabat tangan Amelia.


Di dalam lift terjadi keheningan di antara Keisha dan Ricky. Suasana hati pria itu sedang buruk karena bertemu Amelia secara tiba-tiba. Berbeda dengan Keisha yang merasa bahagia sebab diakui oleh sang suami. Padahal perjanjian mereka, tidak ada yang boleh mengetahui pernikahan mereka hingga lulus nanti.


Keisha mengerjapkan matanya pelan ketika pak Ricky membuka ruang rawat seseorang. Gadis itu terkesiap melihat pria yang jauh lebih menarik dari suaminya. Sayangnya tangan pria itu mengenggam tangan wanita yang tampak cantik apalagi saat tersenyum.


"Tampan banget, njir," gumam Keisha.


Ricky berdecak kesal, langsung menutup mata Keisha agar tidak terpesona pada ketuanya.


"Bisa nggak sih, Ka. Lo simpan ketampanan lo di rumah! Istri gue kalau liat yang bening suka khilaf," gerutu Ricky. Duduk di samping Keanan yang tengah menyuapi istrinya.


"Nah akhirnya guru kita datang," sambut Dito.


"Sorry, kadar ketampanan gue terlalu tinggi jadi nggak bisa disembunyikan," sahut Azka dengan pedenya, membuat semua orang termasuk Keisha tertawa.


"Istrinya, Ricky ya? Saya Salsa," ucap Salsa, istri Azka.


"Nama saya Keisha kak. Salam kenal." Keisha tiba-tiba menjadi orang pendiam berada di sekitar teman-teman suaminya, meski begitu dia senang bisa berada di antara mereka.


"Kenapa diam?" bisik Ricky terkesan meledek, membuatnya mendapatkan cubitan diperut oleh sang istri. Aksi Keisha tidak luput dari perhatian Dito yang kebetulan ada di hadapannnya.


"Bisa nggak sih, kalian bertiga nggak bucin di depan gue? Hargai jomblo napa," celetuk Dito.


"Ralat, duda kalau lo lupa," sindir Ricky.


"Du-duda?" Mata Keisha terbebelak, jika melihat Dito di luar sana, dia tidak akan percaya jika pria tampan itu adalah seorang duda.


"Kenapa?" tanya Glora yang kondisinya jauh lebih baik.


"Um saya kaget aja, kak. Soalnya kak Dito tampan banget," cengir Keisha.


"Oh ya, saya tampan? Lebih tampan mana dibandingin sama suami kamu itu?" tanya Dito.


Sepertinya sahabat Ricky sangat welcome pada tingkah Keisha yang rada-rada polos menyebalkan. Mungkin karena mereka juga sudah mendengar tentang Keisha dari Ricky.


"Lebih tanpan pak Ricky lah, tapi kalau sama kak Azka kalah jauh."


"Aduh jangan sampai kamu jatuh cinta sama suami saya, dia udah punya dua anak," canda Salsa dan itu berhasil membuat pipi Keisha memerah.


Semakin lama berada di ruangan itu, semakin mengalir pula candaan-candaan di antara mereka meski inti Avegas tidak lengkap. Saat jarum jam telah menunjukkan angka 4 sore, barulah mereka semua pulang dalam keadaan hati senang. Kebersamaan mereka membuat Ricky lupa akan kekesalannya.


"Kei?" panggil Dito saat mereka hampir berpisah di depan rumah sakit.


Keisha yang dipanggil lantas membalik tubuhnya, kebetulan Keisha sendiri, karena Ricky berada di basemen mengambil mobil.


"Kenapa?"


"Jangan lepasin Ricky, dia tuh banyak uang. Lo plor*otin eh porotin habis-habisan. Caranya gampang, dia kalau bucin jadi bego," bisik Dito, memberikan ajaran sesat pada istri sahabatnya.


"Ntar deh sampai di rumah saya plo*rotin kak," canda Keisha menutup mulutnya.


"Lucu banget sih." Mengacak-acak rambut Keisha sakin gemasnya. "Kalau lo punya teman yang mau punya anak tanpa hamil, kabarin gue." Dito mengedipkan matanya sebelum masuk ke taksi yang telah dia pesan, bertepatan dengan itu, Ricky pun datang dengan wajah datarnya.


Alasan Ricky lama mengambil mobil, karena Amelia ada di basemen.


"Kenapa lama? Untung tadi ada kak Dito jadi saya nggak bosan nunggu," celetuk Keisha, memasang sabuk pengamannya. Sementara yang diajak bicara tampak melamun, menginggat pembicaraanya dengan Amelia.


"Aku tahu kamu masih cinta sama aku, Ky. Lalu kenapa kita nggak bisa bersama? Apa karena istri bocil kamu itu?" tanya Amelia.


"Kau pede sekali, Amel. Sejak kau memutuskan untuk meninggalkan saya, maka sejak itu pula kau siap kehilangan. Harusnya kamu nggak balik membawa muka tebal kamu itu ke hadapan saya!" bentak Ricky.


"Ak-aku khilaf, Ky. Kali ini aku janji bakal setia sama kamu."


"Simpan setiamu itu buat pria bodoh yang mau menerima kamu! Saya sudah dapat perempuan yang jauh lebih baik dari kamu. Namanya Keisha, istri saya untuk selamanya."


"Nggak, kamu harus jadi milik aku, Ky. Kamu cuma milik aku, bukan Keisha ataupun orang lain." Amelia terus merancau di dalam mobil Ricky tanpa ada keinginan untuk turun. Bahkan tanpa malu Amelia memeluk lengan pria itu meski dihempashkan berkali-kali.


"Turun goblok, saya harus pergi!" bentak Ricky dengan sisa kesabaran yang ada. Karena amarah yang menyelimuti, Ricky dapat mengeluarkan Amelia dengan cara menyeretnya.


"Jangan ganggu saya!"


"Kalau kamu nggak mau balikan sama aku, maka aku bakal nyakitin Keisha!"


Pekikan terakhir Amelia sebelum mereka berpisah membuat Ricky terganggu. Pria itu tidak ingin Keisha terluka hanya karena masa lalunya.


"Pak Ricky mikirin apa sih? Saya ngomong sejak tadi nggak ditanggappin," gerutu Keisha yang mulai kesal diabaikan. Namun Ricky yang tidak menyadari itu hanya fokus menyetir.


"Berhenti!" pekik Keisha tepat di telingga sang suami. Sepertinnya kali ini berhasil, terbukti Ricky langsungg menoleh dan menurunkan kecepatan mobil.


"Kenapa?"


"Kinipi?" cibir Keisha. "Bisa-bisanya nanya tanpa dosa padahal udah nyuekin sejak niggalin rumah sakit. Ada ya pria kayak Bapak? Nyebelin pakai banget," gerutu Keisha dengan bibir manyunnya.


Ricky yang merasa bersalah lantas mengengam tangan mungil istrinya yang mengepal. "Maaf saya nggak dengar tadi. Lain kali kalau kamu ngomong dan saya nggak dengar, jewer aja telinga saya," ucap Ricky.


"Serius?" Wajah Keisha yang tadinya kesal seketika berbinar. "Ide bagus, Pak," ucapnya penuh senyuman.