Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 3 ~ Tidak boleh jatuh cinta


Keisha sampai di rumahnya setelah jarum jam telah menunjukkan angka 10 malam. Kalian harus tahu apa yang dilakukan gadis nakal itu malam-malam di luar rumah setelah diusir oleh Aurin.


Keisha nongkrong seorang diri di cafe dan menghabiskan beberapa gelas kopi hanya untuk menghindari pertemuan dengan pak Ricky, guru menyebalkan yang sayangnya sudah menjadi suaminya.


Gadis itu mengendap-endap menapaki anak tangga agar tidak menimbulkan suara apapun. Karena sepengetahuan Keisha, Ricky ada di rumahnya.


"Anjir!" pekik Keisha ketika tiba di kamarnya dan mendapati Ricky tengah bersedekap dada di sisi ranjang menghadap pintu.


Gadis itu menyengir tanpa dosa.


"Ehe pak Ricky, belum tidur ya pak?" Basa-basi mulai dilayangkan.


Namun, tatapan guru muda nan tampan tersebut seakan ingin menguliti Keisha hidup-hidup. Entah kenapa Keisha menjadi gugup seketika.


Ayolah, siapa saja akan kicep jika tatapan elang pak Ricky sudah mengintai, terlebih keduanya hanya berdua di dalam kamar.


Keisha meletakkan tas selempangnya di atas meja, hendak berlalu ke kamar mandi tanpa memperdulikan Ricky. Namun, langkahnya dihadang oleh pria tersebut.


Kening Keisha mengerut ketika Ricky memberikan sebuah kertas dengan tulisan tangan yang indah. Ah ya selain tampan, pak Ricky mempunyai tulisan yang sangat rapi meski menulis di atas kertas HVS. Tidak seperti Keisha.


"Ini apa?" tanyanya dengan kening mengkerut setelah menerima kertas itu.


"Nggak buta huruf kan?"


"Hilih sok cuek! Padahal ramah sama cewek cantik," ledek Keisha.


Gadis itu mengurungkan niatnya ke kamar mandi, duduk pada pembatas sofa dan membaca baris demi baris tulisan tangan sang suami.


"Nggak ada yang boleh jatuh cinta satu sama lain. Jika terjadi sakit hati sendirian," guman Keisha membaca aturan pertama dalam pernikahan mereka.


Gadis itu mengangguk-angguk penuh senyuman. "Bapak pintar juga. Lagian saya nggak bakal jatuh cinta, ya nggak tau kalau bapak," ledeknya penuh percaya diri.


Keisha terus saja membaca aturan-aturan terulis yang sama sekali tidak memberatkan dirinya. Terlebih pisah kamar setelah mempunyai rumah sendiri.


Itu artinya tidak akan ada tidur bersama seperti yang ada di bayangan Keisha.


"Gimana?" tanya Ricky.


"Kurang beberapa lagi."


"Apa?" Kening Ricky mengerut.


"Nggak boleh mengusik privasi masing-masing. Jarak ke pintu kamar masing-masing 10 meter, kalau lebih bayar uang iyuran!" tegas Keisha penuh percaya diri.


Menyerahkan kembali kertas pada Ricky tanpa beban.


"Oh iya, jangan sampai ada yang tahu status kita di sekolah! Saya nggak mau ada yang ledekin," ujarnya kemudian berlalu.


"Memangnya saya se narsis itu?" gumam Ricky.


Karena mengantuk dan sedikit lelah dengan kejadian tidak tertuga hari ini. Pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang Keisha. Memejamkan mata tanpa rasa bersalah bahwa itu bukan kamarnya.


Tidak heran, sejak muda Ricky sangat mudah tertidur di mana saja. Bahkan saat dia menjadi anggota geng motor, pria itu bisa terlelap di sofa, karpet ataupun duduk sambil memegang ponsel.


Di mana dia merasa mengantuk maka disanalah Ricky akan tertidur.


***


Tidur di kamar tamu yang jauh dari kriteria Keisha, membuat gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ini semua karena semalam pak Ricky tidur di kamarnya.


Gadis itu keluar di kamar tamu dengan penampilan acak-acakan dan rambut seperti singa. Berjalan sambil menguap.


"Om-omnya masih tidur?" tanya Keisha pada bibi yang melintas di hadapannya.


Meski tidak terlalu kaya, setidaknya Keisha masih berada dalam masyarat kalangan atas. Mempunyai rumah cukup luas, dua mobil dan satu motor. Belum lagi satu hotel yang tengah di kelolah papahnya.


Bisa dibilang hidup Keisha pas-pas-an, tidak terlalu kaya tidak terlalu miskin.


"Hah?"


"Pak Ricky udah berangkat satu jam yang lalu naik taksi. Katanya Neng Kei jangan telat masuk sekolah, soalnya jam pertama olahraga," ucap sang bibi dan berlalu pergi.


Keisha menghembuskan nafas kasar, segera menuju kamarnya. Terkejut melihat kamarnya rapi seperti tidak ditiduri oleh siapapun.


"Rapi juga ternyata," gumamnya dengan senyum miring.


***


Jam 7 lewat beberapa menit, barulah Keisha sampai di sekolahnya bersama Aurin yang sering menjemput di setiap saat.


Kedua gadis itu berjalan santai meninggalkan parkiran sekolah. Menebar senyuman pada teman sekolahnya yang lain.


Terkait kondisi pak Wilson, Keisha tidak begitu khawatir karena ada asisten dan ekhem ... Ibu mertuanya yang bersedia menjaga selama di rumah sakit. Tapi, meski begitu. Keisha tetap akan berkunjung ke rumah sakit sepulang sekolah nanti.


Gadis berlesung pipi itu melambaikan tangannya ketika melewati lapangan outdor. Di tengah lapangan basket ada Mehesa dan teman-temannya sedang bermain besket.


Mehesa sendiri adalah cowok idaman Keisha. Cowok yang Keisha incar sejak kelas satu dulu, meski terbilang dekat keduanya tidak mempunyai hubungan apapun untuk saat ini.


Entah hari-hari berikutnya.


"Semangat kak Mahesa!" pekik Keisha tanpa memperdulikan sekitar.


Pekikan gadis itu berhasil menghentikan pria tampan yang sedang melintas di depan perpustakaan.


Pria dengan celana training dan baju kaos oblong di tubuhnya. Pria itu tengah bersiap-siap untuk mengajar IPS 1, kelas Keisha.


Karena kapasitas otak yang dibawah rata-rata juga malas berpikir, Keisha sejak awal memilih jurusan IPS untuk dirinya sendiri.


"Oh kenal Mahesa tertanya," gumam Ricky kemudian melanjutkan langkahnya.


Sementara di sisi lain, tepatnya di kelas XI IPS 1, terjadi keributan karena pertengkaran antara perempuan dan laki-laki karena drama ganti baju.


Padahal bisa saja mereka ke toilet secara bergantian.


"Batu banget sih! Sana pergi!" usir Keisha melayangkan tinjunya di udara.


"Lo keras kepala, hari ini giliran kita!" ucap ketua kelas mewakili kaum adam.


Perlu kalian tahu, ketua IPS 1 tidak waras sama sekali. Bisa dibilang 11, 12 dengan Keisha.


"Bodo amat!" Keisha melempar tasnya di atas meja. Lalu melepas satu persatu kancing kemeja sekolahnya, bersiap untuk berganti baju.


Semua tatapan tertuju pada Keisha, termasuk kaum adam, sementara Aurin sedikit shok melihat tingkah Keisha yang sedikit bar-bar.


"Kei, sadar woy! Gue nafs*uan njir!" teriak sang ketua. Tapi Keisha seakan acuh, terus melepas kancing seragamnya.


"Kelas Ips 1 kumpul di lapangan, kecuali parempuannya!" teriak Ricky di ambang pintu, membuat kaum adam yang menunggu detik-detik Keisha membuka baju, menghela nafas panjang.


Mengikuti intruksi pak Ricky untuk berkumpul di lapangan, sementara pak Ricky sendiri masih setia berdiri di ambang pintu.


"Kok bapak belum pergi?" tanya Aurin, hanya keduanya yang tersisa di dalam kelas, karena memang hanya keduanya penghuni kelas XI IPS 1.


"Kalian jangan lupa menyusul!" ucap Ricky dan segera pergi. Sejak tadi tatapan guru muda itu tertuju pada istri kecilnya yang sangat bar-bar.


*


*


*


Babang Iky harus nahan emosi tiap saat keknya👀