Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 24 - Malam pertama yang gagal


Hembusan angin yang cukup kencang di luar sana, tidak membuat keringat di pelipis Keisha mengering, yang ada bagian tubuh yang lainnya semakin basah oleh keringat, karena tingkah Ricky yang di luar prediksinya. Keisha memejamkan matanya, mencoba mengatur ritme jantung yang berdetak tidak semestinya. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. Gadis itu melakukannya berulang kali agar dapat menguasai diri dan tidak gugup.


Bagaimanapun Keisha bukanlah gadis bodoh yang tidak mengetahui arti kalimatnya yang baru saja suaminya ucapkan. Kelopak mata gadis itu terbuka saat merasakan pergerakan di atas tubuhnya, berbarengan dengan panggilan masuk di ponsel Ricky.


Refleks Keisha menarik baju kaos bagian depan suaminya saat akan berdiri tegak. "Ke-kenapa nggak dilanjut?" tanya Keisha sedikit terbata.


Sontak Ricky mengulum senyum, tetap berdiri tegak meski Keisha menarik bajunya dengan jari telujuk dan ibu jari.


"Saya cuma bercanda tadi, lagian kita nggak punya kesepakatan tentang hal itu. Melakukan lebih jauh dari sekedar membangun hubugan baik, maka kita berdua harus menanggung resikonya. Lagi pula saya nggak mau memaksa kamu melakukan hal yang nggak mau kamu lakukan," cetus Ricky masih dengan senyumnya.


Pria itu hendak berlalu untuk menjawab pangggilan dari Keenan, tetapi langkahnya berhenti sebab pelukan Keisha yang tiba-tiba.


"S-saya nggak siap dan saya takut, tapi saya mau jadi istri yang baik buat, Pak Ricky. K-kalau ngelakuin itu bisa buat saya ...."


Keisha mengerjapkan matanya saat Ricky melerai pelukan dan mengelus pipinya yang telah memerah dengan mudahnya. "Jadi istri yang baik nggak harus yang satu itu kok, tapi kalau mau, hayuk gas!" seru Ricky tanpa malu.


Pria itu langsung menolak panggilan Keenan dan melempar tubuhnya ke ranjang, bertopang kepala dan menepuk tempat di sampingnya dengan seringai menggoda. Melihat hal tersebut, Keisha menelan ludahnya kasar. Sepertinya gadis itu menyelesal telah mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Ini semua karena mulut dan pikirannya tidak bisa bekerjasama dengan baik.


"G-gimana kalau di rumah aja, Pak? Atau seengaknya kita saling jatuh cinta dulu," ucap Keisha memberikan penawaran, tetapi sepertinya itu sudah tidak berarti untuk Ricky.


"Ayo mendekatlah!"


"A-anu, Pak. Saya tadi bercanda kok." Mengaruk lehernya yang terasa kering. Dia berjalan menuju sisi ranjang untuk mengambil air minum. Tepat setelah air itu melewati kerongkongan, tangannya ditarik hingga terjerambah di atas tubuh sang suami.


Kali ini Keisha benar-benar tidak bisa melarikan diri, terlebih tangan kekar Ricky telah melingkar di pinggangnya.


"Jangan gugup, kita nggak lagi buat dosa kok." Ricky mendaratkan bibirnya tepat di kening Keisha. Ricky adalah tipe pria yang sangat ahli meluluhkan hati seorang gadis, itulah mengapa sering kali menjadi selingkuhan, sebab Ricky mengggoda mereka agar berpaling dari pacarnya.


Saat bibir Ricky bergerak turun turun menyusuri hidung, suara deringan ponsel kembali terdengar.


"Angkat dulu telponnya, Pak! Saya nggak mungkin kabur kok," lirih Keisha.


Ricky mendengus kesal, dengan sigap menjawab panggilan dari Keenan. "Lo ngapain njiir, telpon gue jam segini? Lo tuh udah nikah, tau dong jam segini tuh rawan banget buat pasangan suami istri," omel Ricky setelah menjawab panggil dari sahabatnya, dan itu semua tidak luput dari perhatian Keisha, Gadis itu tidak pernah menyangka suaminya juga bisa berbicara kasar jika bersama teman-temannya.


"Bacot lo an*jing! Kerumah gue sekarang! Bawa mantan pacar lo pergi, dia nyakitin istri gue!" bentak Keenan, lalu memutuskan telpon begitu saja.


"Anj*ing!" Maki Ricky tanpa sadar, Pria itu turun dari ranjang tanpa memperdulikan keberadaan Keisha. Meninggalkan kamar begitu saja, bahkan lupa menitip pesan bahwa akan kemana dan pulang kapan, membuat Keisha bingung.


Gadis itu mengejar suaminya hingga di depan pintu.


"Saya pulang kurang dari 2 jam, masuklah!" ucapnya dan berlalu pergi.


Keisha menghela nafas panjang, untung saja ini bukan di rumah mereka, atau dia akan ketakutan.


"Neng Kei, kenapa teriak-teriak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya bibi yang selalu bermalam di rumah papahnya.


"Kebetulan bibi datang, temenin saya duduk di sofa itu." Menunjuk sofa ruang tamu. "Saya takut kalau misalnya tiba-tiba mati lampu, papah sama pak Ricky ngggak ada di rumah."


Keisha dan bibi itu berjalan menuju sofa. Keisha berbaring di sofa panjang, sementara bibi duduk di karpet, padahal sudah diperintahkan untuk duduk di sofa seperti yang Keisha lakukan.


***


Langkah kaki Ricky terus begerak menuju sebuah ruangan yang berada di rumah sakit tersebut. Dia memutar handel pintu dan memasuki ruang perawatan Glora. Di dalam sana hanya ada Keenan yang tampak frustasi melihat luka di kening istrinya.


"Sorry, karena masa lalu gue, istri lo jadi sasarannya," ucap Ricky.


"Gue juga minta maaf udah marah-marah sama lo tadi. Gue kesal sama Amel yang tiba-tiba datang dan sengaja nyenggol Glora sampai jatuh dari tangga, untung aja janinnya nggak kenapa-napa," imbuh Keenan. Sebagai seorang pria yang sedang menantikan anak keduanya, dia tentu sangat marah.


"Sekarang dia di mana?"


"Apartemennya, temui dia dan bicarakan masalah kalian baik-baik! Salah gue juga karena nggak pernah naggappin dia setiap kali minta tolong buat pertemuin kalian berdua."


"Bukan salah lo. Gue tau lo nggak mau gue ketemu dia karena Kei kan?" tanya Ricky dan dijawab anggukan samar oleh Keenan.


Istri Keenan dan Amelia berteman baik, hanya saja Glora ataupun Keenan tidak pernah menanggapi permintaaan Amelia yang selalu memohon agar memberitahukan di mana Ricky dan istrinya tinggal. Itu jugalah alasan kenapa Keenan tidak melaporkan Amelia ke kantor polisi, takut Glora marah.


Ricky meninggalkan rumah sakit setelah berbasa-basi dengan sahabatnya. Pria itu tidak berkunjung ke apartemen Amelia karena sudah larut malam. Terlebih pikiran Ricky sedang tertuju pada istrinya yang penakut.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Ricky sampai di rumah, terlebih dia menyetir mobil, seakan mementang malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Senyuman pria itu langsung mengembang saat membuka pintu, mendapat Keisha tidur di sofa ruang tamu bersama bibi.


"Padahal saya pulang kurang dari sejam, malah ditinggal tidur. Gagal dah malam pertamanya," gumam Ricky. Dia mengendong isrinya menuju kamar dan membaringkannya secara perlahan. Ternyata menjalain hubungan baik dengan Keisha membuat Ricky waspada jika mengambil tindakan, terlebih kalau harus menemui Amelia malam ini.


Mungkin pria itu akan bertemu dengan mantan kekasihnya, tetapi setelah hatinya jatuh kepada Keisha, istri yang tidak mungkin dia sakiti hatinya begitu saja. Kecuali hal-hal yang tidak diiinginkan terjadi, itu diluar kendalinya.