Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 17 - Tidur Bersama


Tanpa berpikir panjang, Kisha berlari keluar kamar dan menuju kamar pak Ricky yang kebetulan belum di kunci. Gadis itu memeluk pemilik kamar setelah berhasil membukanya, membuat Ricky yang baru keluar dari kamar mandi tentu sangat terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari istri kecilnya.


"Kamu kenapa?" tanya Ricky, membalas pelukan Keisha.


"Lampunya mati, saya takut gelap, Pak. Ta-tadi juga pegang sesuatu yang kenyal-kenyal dan dingin," jawabnya.


Karena ketakutannya, Keisha sampai lupa yang dia pegang adalah kue lapis yang diberikan oleh mertuanya saat berkunjung sore tadi.


Ricky mengulum senyum, ternyata suara ketakutan Keisha jauh lebih mengemaskan dibandingkan teriakannya. Sementara Keisha sibuk memeluk Ricky, tanpa memperdulikan pria itu setengah telan*jang.


"Lepasin! Saya mau pakai baju dulu." pinta Ricky, mencoba melepaskan pelukan Keisha. Namun, gadis itu enggan untuk melerai.


"Nggak mau." Mengelengkan kepalanya. "Kalau lampunya nggak nyala saya nggak bakalan keluar dari kamar bapak"


"Ya sudah, tidur!" perintah Ricky dan dijawab anggukan oleh Keisha. Namun, tetap saja dia tidak bisa bergerak bebas sebab gadis itu memeluk lengannya.


"Jangan pergi, saya beneran takut, Pak."


Kali ini Keisha sedang tidak membuat drama, gadis bar-bar itu memang sejak kecil takut akan kegelapan. Setiap kali mati lampu, Keisha akan tidur bersama papahnya. Namun, karena di sini sang papah sedang tidak ada, jalan satu-satunya hanya meminta tolong kepada pak Ricky.


Dalam kegelapan, Ricky menatap wajah ketakutan Keisha yang sedang memejamkan mata, entah gadis itu sudah tidur atau tidak, sebab sejak tadi Keisha tidak lagi mengeluarkan suara.


Satu bulan lebih menikah, Ricky mulai terbiasa dengan tingkah bar-bar istrinya. Dia mulai nyaman dan beradaptasi pada keadaan, sayangnya masih belum bisa melupakan masa lalu yang pernah mengacaukan hidupnya setengah tahun yang lalu.


Lengan yang dipeluk oleh Keisha membuat Ricky mau tidak mau harus tidur dalam keadaan duduk hanya dengan handuk membalut bagian bawahnya. Siapa suruh Kisha menerobos masuk ke kamar padahal dia sedang mandi tadi.


***


Matahari mulai menyapa malu-malu masuk ke kamar Ricky, menganggu sepasang suami istri yang masih tidur saling memberi kehangatan satu sama lain. Keisha yang terlalu sensitif akan cahaya matahari mulai membuka matanya secara perlahan. Mengerjap pelan dan mendapati pak Ricky tertidur di sampingnya.


Kali ini tidak ada teriakan keluar dari mulut Keisha, karena sadar dia yang mengunjungi kamar suaminya sebab ketakutan semalam. Terlebih Keisha merasa bersalah karena tidak mendengarkan peringatan pak Ricky tentang Mahesa.


"Kalau diliat-liat pak Iky tampan juga," batin Keisha. Masih meperhatikan bibir suaminya yang cukup menggoda.


Keisha dengan sigap mengelengkan kepalanya saat teringat dengan perjanjian yang dia buat bersama pak Ricky. Di mana dia tidak boleh jatuh cinta satu sama lain.


"No gue nggak mungkin kalah dari pak Ricky. Gua yakin dia yang bakal jatuh cinta duluan," lirihnya.


Dia buru-buru bangun saat menyadari kelopak mata Ricky berkedut. Pertanda suaminya sebentar lagi akan bangun. Tanpa menimbulkan suara, Keisha meniggalkan kamar Ricky dan kembali ke kamarnya sendiri. Tidak ada drama berangkat sekolah hari ini, karena sedang hari libur.


Setelah mandi dan mamasukkan uang ke dalam kotak denda yang mereka sediakan. Keisha berjalan menuju dapur untuk mencari makanan yang mungkin bisa mengisi perutnya, tetapi tidak menemukan apapun seperti hari-hari sebelumnya. Terlebih Ricky tidak menyewa asisten rumah tangga.


"Beneran nggak ada yang bisa dimakamn gitu?" Bersedekap dada tanpa menyadari suaminya sudah berdiri di ambang pintu. Keisha baru membalikkan tubuhnya setelah mendengar deheman pak Ricky.


"Bapak bisa masak?" tanya Keisha, tapi yang ditanya tidak menjawab sama sekali.


Ricky hanya bergerak mengambil bahan-bahan yang di perlukan dan memasak seadanya saja. Pria itu membuat bubur ayam dua porsi untuknya dan Keisha. Seteah selesai dia menyajikannya di meja pantri.


"Tentang semalam saya mau terimaksih sama Bapak karena udah mau bantu saya ...." Keisha mendongak tanpa menyelesaikan kalimatnya, itu semua karena pak Ricky berdiri.


Pagi ini Keisha merasa aneh dengan tingkah suaminya, terlebih saat menyadari penampilan Ricky sangat rapi padahal hari libur.


"Pak Ricky mau ke mana?"


"Bukan urusan kamu," sahut Ricky dan berlalu pergi.


"Dih dasar om-om. Udah mulai main rahasia-rahasiaan," cibir Keisha. Gadis itu membereskan bekas makanannya dan ikut meninggalkan rumah, kali ini Keisha tidak ingin kemana-mana selain menemui papahnya. Dia sangat merindukan pria yang sangat sabar membesarkannya tanpa pernah ada kata mengeluh, padahal Keisha sadar dia sangat nakal dibandingkan perempuan pada umumnya.


Sementrara di belahan dunia lainnya, Seorang gadis dengan pakain lumayan tertutup sedang berdiri di depan rumahnya, menyambut pria yang merupakan mantan kekasihnya. Dia adalah Aurin, menatap Tommy malas, bahkan tidak mempersilahkan pria itu masuk ke rumahnya.


"Rin, kok temannya nggak diajak masuk, Nak?" tanya mama gadis itu.


"Nggak usah, Mah. Bentar lagi dia pergi," cetus Aurin, seakan mengusir Tommy secara halus. Akan tetepi yang diusir tampak tidak mengerti.


"Ngapain sih lo masih aja datang ke rumah gue? Kita itu udah nggak punya hubungan apa-apa"


"Rin, kali ini aja, tolong beri gue kesempatan satu kali lagi. Gua janji nggak bakal selingkuh," pinta Tommy berusaha meraih tangan Aurin, tapi dengan sigap gadis itu menjauhkannya.


"Gimana ya jelasinnya? Pertama, jiwa pengkhianat nggak bakal berubah meski, diberi kesempatan buat perbaiki semuanya. Terlebih lo udah dua kali selingkuhin gue dengan alasan khilaf."


"Kali ini gue benar-benat serius mau berubah."


"Nggak dulu deh, soalnya lo temannya Mahesa. Gue nggak mau pacaran sama teman pria yang sukanya rendahin martabat perempuan," ucap Aurin penuh tekanan. Sebaiknya lo pergi sebelum abang gue datang!" perintahnya dan langsung menutup pintu.


"Aurin!" panggil Tommy, tetapi terlambat, Aurin telah menutup rumahnya dan tidak ada lagi kesempatan untuk Tommy. "Sialan, kalau aja Mahesa nggak buat ulah semalam, mungkin gue masih punya kesempatan buat dapatin hati Aurin," gumamnya.


***


Tampak dua manusia berbedaa generasi sedang duduk di taman belakang rumah, keduanya saling berpelukan dan tampak bahagia seperti tidak ada beban yang menyelimuti hati masing-masing. Kedua orang itu tidak lain adalah Keisha dan pak Wilson. Sedang membicarakan banyak hal tentang putrinya di masa kecil saat sang istri masih hidup.


"Mamah tuh sayang banget sama Keisha. Kalau Kei luka, yang lebih dulu nangis adalah mamah."


"Beneran?" tanya Keisha dengan mata bebinar indah. Pak Wilson lantas menganggukkan kepalanya.


"Benar banget, jadi sekarang dan di masa mendatang, Kei nggak boleh terluka apapun yang terjadi, nanti mamah nangis di surga."


Keisa menganggukkan kepalanya cepat, tersenyum menatap wajah tampan papahnya.


"Udah sore, kamu harus pulang. Ntar dicariin sama Ricky lagi"


"Telpon pak Ikynya, Pah. Suruh jemput Kei di sini!"