Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 15 ~ Menguji kebenaran


"Kak Mahesa!" panggil Keisha yang mengunjungi kelas mantan kekasihnya. Gadis itu ingin membicarakan hal serius.


"Kenapa?" tanya Mahesa tampak acuh.


Keisha mengigit bibirnya, sampai sekarang dia belum rela jika diputuskan begitu saja oleh Mahesa. Keisha belum puas, dia masih ingin menikmati momen-momen menjadi pacar pria kapten basket yang terkenal di sekolah.


"Kak Mahesa beneran mutusin gue? Nggak ada kesempatan kedua gitu? Saya suka loh sama kakak," ucap Keisha.


Mahesa senyum simpul sambil memperhatikan Keisha dari atas sampai bawah. Rasa kesal pria itu belum hilang karena harus membayar tagihan teman-temannya yang cukup banyak. Ini semua sebab Keisha dua kali ingkar janji.


"Nggak ada kesempatan kedua!" Mahesa berlalu begitu saja. Menyisakan Keisha dengan raut wajah tidak terbaca.


Sejak tadi, di ujung koridor ada Ricky yang sedang memperhatikan keduanya. Melihat dengan jelas bagaimana Keisha mengemis cinta dari pria brengsek seperti Mahesa. Sumpah, Ricky membenci gadis seperti itu.


Dia melangkahkan kakinya, mengikuti Keisha yang entah akan kemana. Saat ada kesempatan, Ricky menarik tangan istrinya sehingga dia dan Keisha bersembunyi di antara bangunan perpustakaan dan UKS. Tatapan tajam Ricky menukik, tapi itu tidak membuat rasa takut Keisha muncul di permukaan.


"Apasih, Pak? Nggak jelas banget dah. Main narik gitu aja sampai mepet-mepet. Bapak kalau ***** ke toilet aja, jangan godain saya!" gerutu Keisha, berusaha lepas dari kungkungan Ricky. Namun, usaha gadis itu sia-sia saja.


"Kamu bodoh?"


"Bukan bodoh, Pak. Tapi kurang pintar!" Ralat Keisha.


"Entah kamu bakal percaya perkataan saya atau nggak. Tapi cowok yang kamu idam-idamakan itu brengsek Kei! Berhenti ngemis cinta sama dia, saya nggak suka!" ucap Ricky penuh ketegasan.


Seketika tatapan Keisha yang semula santai berubah menjadi kesal. Tidak terima jika Ricky menjelek-jelekkan Mahesa.


"Bapak punya bukti?"


"Saya nggak punya bukti, tapi saya dengar sendiri Keisha! Mahesa selama ini cuma manfaatin kamu! Dia nggak suka sama kamu, dia cuma suka sama uang yang kamu miliki." Ricky semakin merapatkan tubuhnya, guna mengintimidasi Keisha. Pergerakan itu berhasil, terbukti Keisha menundukkan kepalanya.


"Setelah uang saku kamu dibatasi, apa dia baik sama kamu? Jawabannya nggak!"


"Cukup Pak!" sentak Keisha, mendorong tubuh kekar Ricky setelah berhasil mengumpulkan tenanganya. "Bapak kalau nggak tau apa-apa nggak usah sok! Percuma umur 27, kalau hobinya ngejelek-jelekin orang lain. Dahlah saya makin malas sama Bapak!"


***


Matahari telah terbenam beberapa menit yang lalu, tapi suasana hati Keisha belum juga kembali membaik karena perkataan Ricky saat di sekolah. Gadis itu uring-uringan sendiri, masih tidak rela pak Ricky berkata demikian tentang Mahesa. Terlebih selama ini Keisha tidak merasa dimanfaatkan oleh kapten basket tersebut.


"Dahlah, malas gue lama-lama kalau gini. Mending jalan-jalam nyari angin segar," gumam Keisha.


Dengan sigap Keisha menghubungi Aurin untuk menemaninya malam ini. Dia sangat bersyukur sebab Aurin mengiyakan ajakannya tanpa banyak bertanya. Keisha lantas bersiap-siap, mengambil cardingan kebesaran di lemari lalu keluar dari kamar. Tatapan gadis itu tertutuju pada pintu kamar suaminya yang tertutup rapat.


Sejak pembicaraan di sekolah, dia dan Ricky tidak bertemu lagi, terlebih Keisha pulang cepat karena ada pertemuan penting antar guru di sekolah.


"Telpon atau langsung ke kamarnya aja?" tanya Keisha pada dirinya sendiri. "Nggak deh, ntar uang gue kurang 50 ribu lagi." Keisha kembali melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga secara cepat.


Senyumnya mengembang melihat pria yang rencana dia temui duduk di depan Tv sambil menonton pertandagin basket. Dia melangkah mendekat dan duduk tepat di samping Ricky.


"Pak Ricky, saya izin keluar jalan-jalan ya!" ucap Keisha.


"Uangnya? Bapak, 'kan janji bakal ngasih uang kalau saya mau jalan sama teman-teman." Keisha menengadahkan tangan.


Tanpa menjawab apapun, Ricky beranjak dari duduknya. Meninggalkan Keisha di depan Tv. Beberapa menit setelah kepergian Ricky, notifikasi masuk ke ponsel gadis itu. Dengan sigap Keisha mengeceknya dan terkejut melihat nominal yang masuk ke rekeningnya.


Dia menyipitkan matanya, menghitung nol dibelakang angka 1. "Enam apa tujuh sih nolnya?" gumam Keisha, kembali menghitung dan terkejut dengan jumlah yang dia terima.


"Njir, ini pak Ricky nggak salah kirim? 10 jt?"


Tanpa pikir panjang, Keisha berlari menuju kamar suaminya, mengetuk pintu berulang kali, hingga pemilik kamar membukanya.


"Pak Ricky nggak salah kirim?"


"Mau jalan kan? Jangan lupa telpon Mahesa, dia pasti mau balikan tahu kamu bawa uang segitu!" ucap Ricky dengan wajah datarnya. Langsung menutup pintu tanpa menunggu Keisha mengucapkan kalimat bantahan ataupun terimakasih.


Jika boleh jujur, Ricky kesal dengan respon Keisha yang sama sekali tidak memikirkan apa yang dia katakan. Padahal dia hanya ingin yang terbaik untuk gadis itu.


Sedangkan yang dikhawatirkan tampak tidak peduli. Keisha benar-benar menghubungi Mahesa untuk membuktikan apa yang dikatakan Ricky benar atau tidak.


Siapa yang menyangka, ajakan Keisha disambut begitu baik oleh Mahesa. Terlebih Keisha mengatakan mendapatkan uang jajan yang banyak dari papahnya. Namun, itu belum membuat Keisha percaya sepenuhnya dengan perkataan sang suami.


Dia memutuskan untuk menemui Mahesa bersama Aurin. Dia tidak memberi kabar apapun pada Mahesa setelah sampai di parkiran warung kopi, tempat Mahesa dan teman-temannya nongkrong.


"Ngapain kesini? Katanya mau jalan-jalan cari angin!" protes Aurin.


Dengan sigap Keisha membekap mulut Aurin agar tidak bicara dengan suara lantang. Gadis itu menunjuk segerombolan anak muda yang tengah tertawa dan membicarakan banyak hal, sayangnya Keisha tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Kak Mahesa dan Tommy? Oh ayolah Kei, dia udah mantan lo. Sejak kapan sih Keisha ngemis-ngemis ke mantan?" Aurin merotasikan bola matanya.


"Ck, nurut aja napa sih? Gue mau buktiin perkataan pak Ricky benar atau nggak." Keisha berdecak. Meminta kain panjang yang sengaja dia beli saat berkunjung ke warung kopi tersebut.


Keisha melilitkan kain itu di kepalanya dan berjalan memasuki warung kopi sambil menutup setengah wajahnya. Duduk membelakangi para rombongan Mahesa.


"Memangnya pak Iky ngomong apa sih?" bisik Aurin.


Namun, yang ditanya sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Tidak lama kemudian terdengar notifikasi di ponsel Mahesa yang berada di belakangnya. Pria itu tampak menunduk, sepertinya membaca pesan yang dikirimkan Keisha.


"Senyum nggak dia?" tanya Keisha pada Aurin.


"Hooh, dia senyum-senyum terus natap temannya satu persatu," sahut Aurin. Gadis itu kebetulan duduk menghadap Mahesa dan teman-temannya, untung saja pria itu tidak menyadari keberadaan dua gadis cantik.


"Memangnya lo ngirim pesan apa sampai dia sesenang itu?" tanya Aurin lagi.


"Cuma ngomong ... bentar lagi sampai."


"Lah? Sebenarnya lo rencanain apa sih njir?"


"Heh mulut lo, udah hijrah juga!" tegur Keisha, sementara Aurin hanya menyengir sambil menutup mulutnya.