Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 30 - Nenek Lampir


"Amel?" Bu Ratna sangat terkejut melihat kedatangan Amelia yang sangat tiba-tiba. Terlebih ada Keisha di rumah ini.


"Tante Ratna, Amel minta maaf karena datang tanpa ngabarin dulu," ucapnya. Wanita itu langsung memeluk bu Ratna seakan ingin memperlihatkan pada Keisha bahwa mereka sangat dekat.


"Nggak papa, udah terjadi juga," sahut Ratna. Wanita paruh baya itu melerai pelukannya dan berjalan ke arah Keisha yang tangannya masih penuh busa. Ratna sangat kagum pada Keisha yang ingin belajar sesuatu dan tidak malu bertanya padanya.


"Amel, ini istrinya Ricky yang tante ceritain," ucap wanita paruh baya itu.


"Ah jadi dia istrinya Iky?" Amelia menampilkan senyum ramahnya. Mendekati Keisha lalu mengulurkan tangan untuk salaman. "Salam kenal, saya Amelia," ucap wanita itu.


Tanpa mencuci tangannya, Keisha lantas meraih uluran tangan Amelia. "Saya istri yang paling pak Ricky cintai," jawab Keisha dengan senyum jenakanya. "Dasar wanita muka dua. Tadi sinis banget, giliran ada bu Ratna senyumannya jadi manis," gerutunya dalam hati.


Sementara di sisi lain, Amelia sangat kesal sebab tangannya kotor akibat ulah Keisha.


"Kebetulan kalian berdua ada di sini. Mamah mau ngasih tahu sesuatu biar kalian nggak salah paham. Mamah mulai dari ...."


"Sayang, maaf banget. Suamimu ingkar janji lagi!" seru ricky dari arah ruang tamu, suara itu berhasil menghentikan ucapan bu Ratna.


Semu mata lantas tertuju pada Ricky yang datang-datang langsung mengecup kening Keisha, tidak lupa mengamit pinggang gadis itu.


"Iky? Aku ...."


"Mah, Iky sama Kei pulang dulu ya. Takut kemalaman sampai rumah," ucap Ricky cepat, guna memotong ucapan Amelia. "Sayang, ayo beresin barang bawaan kamu, aku tunggu di sini," lanjutnya.


Keisha lantas mengangguk dan segera meninggalkan dapur. Lagi pula otak gadis itu tidak sampai untuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Sepeninggalan gadis itu, terjadi keheningan beberapa saat sebelum akhirnya Ricky buka suara.


"Ikut saya!" tegas Ricky, menarik tangan Amel keluar dari rumah mamahnya. "Apa yang kau lakukan, hm? Saya sudah peringatkan ini sebelumnya. Jangan usik rumah tangga saya, apalagi datang ke rumah yang tidak lagi menjadi tempat tujuanmu!" lanjut Ricky. Dia menghempaskan tangan Ameli, tetapi wanita itu dengan sigap memeluk Ricky.


"Iky, tolong beri aku kesempatan satu kali aja. Aku nyesel pernah khianatin kamu. Aku khilaf, Ky," lirih Amelia. Dia semakin mengeratkan pelukannya ketika Ricky berusaha melerai.


"Jangan bersandiwara lagi. Kamu nggak mau ajak aku ngomong aja rasanya udah sakit, Ky. Ini kamu malah perlakuin istri kamu seoalah-olah kamu menyukainya. Aku tahu semuanya tentang pernikahan kalian. Hati kamu masih milik aku, hanya saja tertutupi oleh kecewa, iyakan, Ky??" tanya Amelia sambil mendongakkan kepalanya saat Ricky tidak lagi memberontak.


Pria itu bergeming sehingga tidak menyadari kehadiran perempuan yang berdiri di ambang pintu sambil menenteng tas sekolahnya. Dada Keisha bergemuruh hebat, matanya memerah tetapi tidak kunjung mengeluarkan air mata.


"Kei, jangan cemburu ya Nak!" pinta bu Ratna yang baru menyusul.


Keisha lantas mengelengkan kepalannya. "Nggak lah Ma, ngapain Kei cemburu. Pak Iky cuma pelukan doang, hal yang wajar sama teman," jawab Keisha yang berbeda dengan isi hatinya.


"Mamah nggak tau pernikahan kalian seperti apa untuk saat ini. Tapi mamah harap rumah tangga kalian baik-baik saja. Setelah ini, jangan biarkan mereka ketemu lagi kalau kamu cintai sama suami kamu, Nak."


Keisha melirik mertunya. "Kenapa, Mah?" tanyanya.


"Masa lalu selalu menjadi pemenangnya. Kalau kamu nggak mau kehilangan Iky, ubah kalimat pepatah yang mamah ucapkan," jawab Ratna.


Kali ini wanita paruh baya itu tidak tahu harus mendukung siapa. Memaksa Ricky tetap bersama Keisha, dia takut putranya tidak bahagia karena hubungan mereka dipaksakan. Mendukung Amelia dan Ricky, dia tidak mau ikatan suci dipermainkan.


"Iky, antar istri kamu pulang, Nak!" panggil Ratna.


Yang dipanggil lantas tersadar, mendorong tubuh Amel lalu menghampiri Keisha yang tengah menunduk sambil memainkan garis lantai.


"Udah? Ayo kita pulang!" ajak Ricky, meraih tangan Keisha, tetapi gadis itu menghempaskannya dan berjalan lebih dulu masuk ke mobil. Gadis itu lupa bahwa tidak punya uang, sebab jika diberi uang jajan, uangnya akan habis hari itu juga.


Sepanjang perjalana terjadi keheningan, bukan karena Ricky tidak bicara, melainkan Keisha yang menolak untuk menyahuti setiap perkataan suaminya.


"Cape nggak? Jalan-jalan sebelum pulang mau?" tanya Ricky entah yang keberapa kalinya, tetapi Keisha tetap diam. Gadis itu sibuk bermain onet di ponselnya.


"Kei, kok diam?"


"Bisa nggak sih pak Iky berhenti bicara? Mulut bapak bau sampah!" ketus Keisha.


"Kamu liat saya tadi?"


Keisha tertawa, pertanyaan itu sangat tidak berbobot untuk ukuran pria seperti pak Ricky. "Iyalah liat, memangnya saya buta. Habis ngambil keperawanan anak orang, eh malah pelukan sama kuntilanak jadi-jadian. Enak banget bawaanya. Nyeri di inti saya aja belum hilang, udah otw selingkuh." Sindir Keisha.


"Maaf."


"Maafnya diterima setelah saya meluk cowok lain," jawab Keisha.


Itulah akhir pembicaraan mereka sebelum akhirnya sampai di rumah. Keisha langsung masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat. Berbeda dengan Ricky yang mampir ke dapur untuk meredakan rasa kering di kerongkongannya.


"Ah sial, harusnya saya nggak kebawa suasana tadi." Ricky mengacak-acak rambutnya frustasi. Mendengar kalimat-kalimat Keisha saat di mobil tadi membuatnya merasa sangat bersalah.


Ternyata benar, hatinya tidak sekuat itu untuk lepas dari bayang-bayang Amelia dengan mudah. Terlebih hubungan mereka telah terjalin hampir 3 tahun.


Setelah merasa lebih baik, Rikcy menyusul Keisha ke kamarnya. Berdecak kesal mendapati pintu itu dikunci dari dalam. "Kei, buka pintunya! Saya minta maaf," ucap Ricky.


Hening, tidak ada sahutan di dalam kamar, hal itu membuat hati Ricky semakin tidak tenang.


"Keisha Angelina Wilson!"


"Cukup Pak! Saya kesal dengar mulut sampah Bapak ngoceh mulu. Mending diam dan selesaikan masa lalu bapak. Saya beri waktu sampai satu minggu, kalau wewe gombel itu masih ada di sekitar Bapak ...." Keisha menjeda kalimatnya sejenak, membuat jantung Ricky semakin berpacu cukup hebat. "Ceraikan saya! Lagian saya belum cinta sama, Bapak. Saya nggak butuh apapun dari pak Ricky."


Ricky menghela nafas panjang, akan sangat sulit untuk meluluhkan Keisha yang keras kapala, terlebih emosi gadis itu sangat labil. Ricky memejamkan matanya, sebelum akhirnya menendang pintu kamar Keisha. Dia melakukannya berulang kali hingga percobaan ke lima barulah kunci pintu itu rusak.


"Jadi sejak tadi kamu tiduran sambil teriak?" tanya Ricky tidak percaya. Bagaimana tidak, Ricky mengira Keisha sedang menangis seperti gadis pada umunya jika sedang atau sakit hati, ternyata Keisha malah tidur tengkurap sambil menonton drama india Laksmi.


"Bagus Laksmi, tinggalin aja tuh di Rishi! Biarin dia nikah sama nenek lampir," gerutu Keisha yang sama sekali tidak terganggu dengan keberadaan Ricky di dalam kamarnya.