Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 11 ~ Rumah Baru


Hari ini adalah hari yang sebenarnya Keisha tunggu-tunggu, karena dia dan Ricky akan pindah kerumah baru mereka. Namun, di sisi lain Keisha merasa sedih sebab Mahesa seakan menghindarinya. Gadis itu ingin menangis saat di sekolah tadi, untungnya dia mempunyai gengsi sangat besar sehingga memendamnya sedikit lagi.


Keisha terus melamun dan tidak menyadari tatapan suaminya yang sejak tadi memperhatikan. Terus menghela nafas panjang untuk melegakan rasa sedih di hati. Sedangkan Ricky hanya diam seribu bahasa.


"Rumahnya di mana sih, Pak?" tanya Keisha yang mulai bosan.


"Bentar lagi sampai. Sabar napa?" sahut Ricky.


Pria itu membanting setir kemudi memasuki kompleks perumahan elit yang cukup jauh dari sekolah. Rumah itu terpaksa Ricky setujui karena tidak menemukan rumah yang lebih dekat lagi. Dia menghentikan mobil di rumah bercat putih.


"Ini rumah baru kita?" tanya Keisha. Langsung turun dari mobil tanpa menunggu jawaban dari sang suami.


Jika boleh jujur, Keisha sedikit takjub dengan penampilan rumah tersebut. Nuansanya terlihat sangat modern tapi tidak membosankan. Dia mengerjapkan matanya perlahan untuk meneliti lebih dalam lagi.


"Rumah Saya," sahut Ricky, berjalan menuju pintu dan membukanya lebar-lebar. Sedangkan Keisha mendengus kesal mendengar jawaban suaminya.


Tidak bisakah Ricky menjawab iya? Kenapa harus menjawab "Rumah saya?"


"Kamar utamanya ada dua dan masing-masing di lantai atas. Semua perlengkapan kecuali pakaian dan skincare udah ada di kamar masing-masing." Ricky terus melangkah tanpa memperdulikan apakah Keisha mengikutinya dari belakang.


"Karena jarak pintu kamar kita kurang lebih lima meter, jadi saya mengubah perjanjian tertulis kita." Ricky berhenti tepat di tengah-tengah jarak antara pintu kamarnya dan Keisha.


"Kamu liat ini?" tanya Ricky, menunjuk garis merah yang terbentang.


"Iyalah, memangnya Bapak kira saya buta?" sahut Keisha dengan nada sedikit tinggi.


"Mungkin iya soalnya nggak tau mana yang benar-benar tampan," gumam Ricky.


"Bapak ngomong apa?"


"Saya tampan," sahut Ricky. "Dengerin Saya!"


"Memangnya Bapak kira, saya ngapain aja?"


Ricky mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Jika Keisha berbicara sekali lagi, maka emosi pria itu akan meledak. Ricky ingin menjelaskan sesuatu tapi Keisha selalu menyela di setiap saat.


"Garis ini berfungsi buat ...."


"Pak, kok ada celengan bentuk kotak?" tanya Keisha. Perhatian gadis itu tertuju pada kotak yang berada di tengah-tengah tangga yang membentuk U.


"Bisa nggak kamu dengerin saya dulu!" Cecar Ricky yang kesabarannya telah hilang, membuat Keisha seketika terdiam.


Tanpa disuruh dua kali, Keisha mendengarkan semua penjelasan Ricky tanpa berucap apapun lagi. Hanya mengangguk saat ditanya padahal Ricky membelakanginya.


"Paham, kan? Setiap lewatin garis merah, kita bayar denda 50 ribu dan masukkan ke dalam kotak!"


Keisha mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


"Keisha, kamu dengar?"


Lagi, Keisha hanya menganggukkan kepalanya, membuat Ricky yang kembali emosi lantas berbalik.


"Dih, Bapak kok marah-marah? Tadi Bapak sendiri yang suruh saya dengerin tanpa menyela. Aneh banget dah om-om tua ini," gerutu Keisha.


Gadis itu melangkah menuju kamarnya, untuk memeriksa apa saja yang ada di dalam sana. Sedangkan Ricky meremas rambutnya frustasi, seakan ingin mencabut rambut itu hingga akar-akarnya.


"Lama-lama saya botak kalau bicara sama dia!" gerutu Ricky, dia pun masuk ke kamarnya.


***


Matahari telah tenggelam beberapa menit yang lalu, bertepatan Keisha selesai mengemas barang-barangnya dengan rapi sesuai urutan. Gadis itu membaringkan tubuhnya diranjang untuk merilekskan otot-otot yang terasa pegal setelah bergerak cukup lama. Dia menghela nafas panjang ketika teringat dengan respon Mahesa saat di sekolah tadi.


Keisha berusaha untuk mengajak pacarnya bicara, tapi pria itu tidak merepon dan malah sibuk bermain basket dengan teman-temannya. Dia mengigit bibir bawahnya, memikirkan cara agar bisa berbaikan lagi dengan Mahesa. Gadis itu sadar bahwa ini semua karena kesalahannya yang tidak menepati janji kemarin malam.


Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Keisha lantas mengambil ponselnya dan berencana untuk menghubungi Mahesa. Namun, sebelum itu terjadi, panggil Ricky lebih dulu masuk ke ponselnya. Dia mendengus, akan tetapi menerima telpon tersebut.


"Ngapain lagi sih, Pak?" tanya Keisha.


"Turun gih, mamah nyariin kamu!" perintah Ricky di seberang telpon.


"Y." Keisha memutuskan telpon sepihak. Segera keluar dari kamar untuk menemui ibu mertuanya yang tiba-tiba berkunjung tanpa pemberitahuan.


Keisha tersenyum lebar untuk menyapa ibu mertuanya yang ternyata berada di dapur bersama Ricky. Memandang pria itu yang menatapnya dengan mata sedikit membola, memiringkan kepala seakan memerintahkan sesuatu.


"Leher Bapak sakit?" tanya Keisha.


"Sstt!" Ricky mendesis kesal, tanpa berbicara langsung mencium punggung tangan mamahnya. Barulah setelah itu Keisha mengerti apa yang diinginkan Ricky.


"Oh, harusnya bilang sejak tadi." Keisha melangkah mendekati mertuanya, mengecup punggung tangan Ratna. "Tante udah lama? Maaf Kei nggak tau kalau tante mau mampir. Tau gitu Kei pesan makanan biar bisa makan malam sama-sama," ucapnya.


"Nggak perlu, Nak. Mamah udah bawa makan malam buat kalian. Ayo makan dulu!"


"Makasih tante!" seru Keisha. Dia langsung duduk di samping Ricky, menyajikan makanan untuknya sendiri, dan itu tidak luput dari perhatian Ratna.


"Keisha, mamah boleh tanya sesuatu?" tanya Ratna.


Sontak Keisha dan Ricky langsung fokus pada wanita paruh baya yang terlihat sangat serius itu. Terutama Keisha yang dipanggil. "Boleh, Tante."


"Sebelumnya mama minta maaf ya." Keisha mengangguk dengan cepat. "Kamu kalau makan sama orang tua kamu, pernah liat nggak mamah kamu ngapain?"


Keisha mengelengkan kepalanya, raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah masam. "Nggak tau dan nggak ingat, Tante. Soalnya mamah Kei meninggal saat Kei kelas 6 Sd. Kalau sedikit nggak suka sama sikap Kei, tegur aja! Soalnya Kei selalu ngelakuin apapun yang Kei mau, dan papah sibuk kerja." Tersenyum tanpa ada beban di hatinya.


Berbeda dengan Ratna dan Ricky yang seakan tertohok dengan ucapan Keisha. Dulu Ricky pernah berpikir, bahwa dia adalah manusia tidak beruntung karena ditinggalkan oleh papahnya saat berusia 25 tahun, ternyata Keisha jauh lebih menyedihkan.


Besar tanpa dampingan dan bimbingan seorang ibu. Papah sibuk bekerja, berusaha memenuhi setiap kebutuhan putri tunggalnya. Tanpa sadar, tangan Ricky mengerak, mengenggam tangan mungil Keisha yang tengah meremas celana pendek yang gadis itu kenakan.


"Masakan Mamah enak banget. Sering-sering berkunjung ya, Mah," ucap Ricky memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi di meja makan.


Sebenarnya Keisha tidak terbebani dengan pertanyaan mertuanya, hanya saja Ratna dan Ricky lah yang tidak enak, karena membahas sesuatu yang tidak seharusnya.