Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 20 - Bibit Pelakor


Ricky membalik tubuhnya ketika merasakan jentikan Keisha di lengannya. Mata pria itu membulat sempurna, dia menelan salivanya kasar melihat sesuatu yang sangat indah di balik selimut tebal istrinya. Tidak ingin melakukan sesuatu yang mungkin akan dia sesali seumur hidupnya, Ricky kembali pada posisi semula. Membelakangi sang istri.


"Kamu ngapain, Kei? Saya itu pria normal," ucap Ricky memperingatkan.


"Saya tau, Pak. Makanya saya lakuin ini biar Pak Ricky nggak nyuekin saya lagi. Harusnya kalau saya punya salah, ditegur! Bukan malah dicuekiin kayak yang Pak Ricky lakuin hampir satu minggu ini," ucap Keisha dengan nada mengerutu, padahal Aurin telah mewanti-wanti agar Keisha berucap dengan nada selembut mungkin.


Namun, bukan Keisha namanya jika berbicara dengan nada lembut dan tidak memancing keributan. "Ini juga karena kesalahan Pak Ricky, harusnya pak Ricky nggak buat peraturan yang buat kita nggak bisa suka satu sama lain." Keisha menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang tadi sudah dilihat oleh pak Ricky.


Sementara Ricky yang terkejut berusaha menjernihkan pikirannya dari hal-hal yang menjurus pada pemersatuan bangsa. Bagaimanapun, dia pernah muda dan masa mudanya jauh dari kata suci.


"Harusnya kalau mau ngomong sesuatu, nggak usah pakkai baju gitu! Kalau saya terkam nangis kamu," gerutu Ricky, masih belum berani membalik tubuhnya.


"Habisnya Pak Ricky kalau diajak bicara kayak orang bisu," jawab Keisha. "Jadi gimana? Di maafin nggak? Kita baikan ini? Bapak nggak bakal nyuekin saya lagi kan? Bapak tuh nggak tau rasanya dicuekin sakitnya kayak apa, belum lagi kalau kita nggak tau apa kesalahan kita. Saya cuma ... hhhhmmmmppppp."


Mata Keisha membulat sempurna, tetapi hanya sesaat sebelum akhirnya memejamkan mata karena, menikmati sesuatu yang terus bergerak di dalam mulutnya. Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, tetapi dia sering melihatnya di Tv. Keisha tidak tahu bahwa rasanya akan semenyangkan ini.


Napas gadis itu terengah-engah setelah Ricky melepaskan pangu*tannya. Dia membeku mendapatkan tatapan teduh dari sang suami. "Maaf, seharusnya saya nggak ngelakuin ini tanpa izin kamu," ucap Ricky, mengelus bibir Keisha yang basah. Sementara yang diajak bicara masih sibuk mengatur nafasnya. Pipi gadis itu merona layaknya kepiting rebus.


"Kamu mau nerima pernikah kita dan menjalaninnya dengan serius?" tanya Ricky, atensi pria itu sama sekali tidak teralihkan pada wajah Keisha yang ternyata sangat cantik. Dia tersenyum ketika melihat istri kecilnya mengangguk malu-malu.


"Tapi Pak Ricky harus hapus perjanjian kita dulu, dan pak Ricky nggak boleh nyuekin saya lagi," sahut Keisha setelah berhasil mengendalikan napas dan jantungnya.


Keisha terkesiap saat tubuhnya didorong oleh sang suami hingga terjerambah dan pria itu menindihnya. Dia refleks memejamkan mata, menunggu sesuatu terjadi pada tubuhnya. Namun, dia tidak merasakan apapun pada tubuhnya, yang Keisha dengar hanya grasak-grusuk di sekitar kepala. Lama menungggu, akhirnya dia membuka mata dan mendapati pak Ricky sedang membuka laci nakas satu persatu seperti mencari sesuatu.


Dia mendengus kesal, dengan sigap mendorong tubuh kekar pak Ricky hingga membentur kepala dipan.


"Lah, kamu mau ke mana?" tanya Ricky.


Keisha menutup pintu kamar mandi tanpa menjawab pertanyaan Ricky, sementara yang bertanya tidak lagi menunggu jawaban, melainkan sibuk merobek perjanjian yang telah dibubuhi tanda tangan oleh kedua belah pihak. Sungguh, Ricky sudah melupakan perjanjian mereka yang satu ini. Terlebih dia membuatnya dalam keadaan marah malam itu.


Siapa sih yang tidak marah jika berada di posisi Ricky hari itu? Tiba-tiba dinikahkan hanya karena perkara tabrakan, terlebih dia baru saja menyembuhkan hatinya dari rasa sakit karena mantan kekasihnya. Puncak kemarahan Ricky saat Keisha tidak kujung pulang kerumah, dan membiarkannya menunggu seperti orang bodoh di rumah yang baru pertama kali dia datangi. Itulah alasan mengapa Ricky membuat perjanjian tersebut.


Pria itu turun dari ranjang untuk membuang kertas yang telah dirobek ke tempat sampah. Bertetapan dengan itu, Keisha keluar dari kamar mandi memakai baju tidur lumayang tertutup. Ricky mengulum senyum melihat gerak-gerik Keisha yang sangat kentara bahwa sedang salah tingkah.


"Udah saya robek. Sekarang nggak ada yang buat kamu merasa nggak nyaman, 'kan?" tanya Ricky.


Keisha hanya menganggukkan kepalanya. Tidur membelakangi Ricky yang masih berdiri di dekat tempat sampah.


"Karena kita mutusin buat jalanin pernikahan pada umumnya, boleh dong kalau saya minta kamu ...."


"Ja-jangan malam ini, Pak. Saya belum siap," cicit Keisha yang benar-benar salah tingkah, berbeda dengan Ricky yang tampak biasa saja sebab tidak suka pada istrinya. Dia mencium Keisha tadi karena, menggikuti naluri ke lelakiannya, untung saja dia bisa mengendalikan diri sebelum berbuat lebih jauh lagi.


Keisha mengangguk samar dalam balutan selimut tebal miliknya.


***


Untuk pertama kalinya setelah menikah, Keisha dan Ricky sarapan bersama tanpa adanya pertengkaran. Bahkan sejak tadi Keisha senyum-senyum sendiri membayangkan ciuma pertamanya bersama pak Ricky.


Ayolah, meski Keisha terbilang nakal dan sering menonton hal yang tidak seharusnya, bukan berarti tubuhnya bebas disentuh oleh pria.


"Kok pagi ini aura wajah putri papah beda ya? Kayak ada manis-manisnya gitu," celetuk pak Wilson.


"Memangnya air lemineral, ada manis-manisnya," cibir Keisha sambil mengunyah, membuat pipinya semakin membesar dan bibirnya mengecil.


"Ternyata dia punya sisi imut juga," batin Ricky memperhatikan pipi Keisha yang terlihat seperti ikan buntal.


"Ngapain natap saya, Pak? Cantik ya? Udah nggak diragukan lagi kalau tentang fakta satu ini." Keisha menyibak rambutnya ke belakang, membuat pak Ricky dan Pak Wilson seketika tertawa.


Setelah sesi sarapan usai, Ricky dan Keisha akhirnya berangkat ke sekolah dengan hati berbunga-buunga untuk Keisha dan ketenangan buat Ricky yang tidak harus mendengar gerutuan tidak penting istrinya.


"Stop!" pekik Keisha saat mobil akan melintasi perpatan jalan. Hal tersebut membuat Ricky menoleh.


"Kenapa?" tanya Ricky.


"Bapak lupa ya? Kita kan nggak boleh datang barengan ke sekolah, ntar ada yang gosipin yang nggak-nggak. Lagian saya masih mau sekolah dengan tenang."


"Untung kamu ingatkan." Ricky tersenyum, memperhatikan Keisha yang baru saja turun dari mobilnya. Atensi pria itu baru teralihkan saat ponselnya berdering, Ricky mendengus kesal saat tahu panggilan itu dari orang yang sama.


Amelia. Itulah sang penelpon yang tidak pernah Ricky jawab panggilannya. Selain kesal dan sakit hati, dia tidak ingin lagi berurusan dengan mantan kekasihnya.


Aku tahu kamu kecewa sama sikap aku, Ky. Tapi plis, jawab telpon aku! Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, aku butuh bantuan kamu.


Sekali ini aja, temui aku meski hanya lima menit. Aku tahu, sampai sekarang kamu nggak pernah lupain aku.


*


*


*


Bibit pelakor🄓