
Merasa tidurnya sudah cukup, Keisha akhirnya membuka mata sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku. Dia sedikit meringis saat bergerak, karena bagian intinya terasa perih seakan pernah tergesek oleh sesuatu.
"Anjir sakit banget, padahal semalam enak-enak aja," gumam Keisha.
Gadis itu menunduk untuk melihat inti tubuhnya yang terhalang selimut. "Bengkak nggak ya?" tanya Keisha entah pada siapa.
Merasa nyawanya telah terkumpul semunya, Keisha mengeser kakinya agar menyentuh lantai. Keningnya mengerut melihat matahari yang telah tinggi, setinggi harapan Keisha yang ingin menikahi Aryan Khan agar bisa menjadi menantu Shah Rukh Khan.
"Hiiyaaaa kok nggak ada yang bangunin gue?!" pekik Keisha ketika melihat jarum jam telah menunjukkan angka sebelah pagi. Pantas saja beberapa jam yang lalu perutnya terus berbunyi.
"Gu-gue harus apa sekarang? Mamah Ratna nggak suka anak cewek bangun siang." Keisha seketika panik setelah menyadari sedang berada di rumah mertunya. Dia takut dan malu untuk bertemu dengan bu Ratna saat ini.
Keisha masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, kemudian duduk di meja kerja pak Ricky sambil memandangi laptop yang telah mati. Gadis itu mengigit bibir bawahnya, mencari cara agar bisa keluar dari rumah tanpa bertemu dengan bu Ratna.
"Pak Ricky sialan! Bisa-bisanya dia ninggalin gue sendirian," gerutunya.
Tidak tahu harus melakukan apa dan merasa sangat lapar, Keisha memutuskan untuk menghubungi sang suami. Untung saja panggilannya langsung dijawab tanpa banyak drama.
"Bapak kok ninggalin saya? Enak banget setelah anu, ditinggal gitu aja. Saya nggak mu tau, Bapak pulang sekarang! Saya lapar tapi malu sama mamah," ucapnya tanpa membiarkan Ricky bicara di seberang telpon. Bahkan Keisha langsung memutuskan sambungan begitu saja.
"Kei, kamu udah bangun Nak? Ayo makan dulu terus minum obat," ucap seseorang di balik pintu.
"I-iya, Mah," sahut Keisha gugup.
Gadis itu meletakkan ponselnya di atas meja dan menemui bu Ratna yang masih berdiri di ambang pintu. Dia senyum kikuk karena tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kata Iky, semalam kamu nggak enak badan, Nak."
"I-iya, Mah. Kei nggak enak badan, maaf ya karena bangun kesiangan padahal ini kali pertama saya bermalam."
"Nggak masalah, kan lagi sakit. Kecuali memang malas, baru mamah marahin kamu." Ratna tersenyum sambil mengelus rambut setengah basa menantunya. Entahlah tapi wanita paruh baya itu tampak berseri-seri, terlebih ketika melihat kemerahan di leher Keisha dan cara jalan gadis itu yang sangat aneh. "Makanlah dulu, mamah mau kedepan bentar." Ratna beranjak, membuat hati Keisha melega.
Gadis itu dengan sigap melahap hidangan yang ada di atas meja makan. Tenaganya telah terkuras habis semalam, itulah mengapa dia butuh asupan energi.
"Lah udah selesai makan aja. Tadi katanya malu keluar kamar," celetuk Ricky yang baru saja datang. Pria itu meletakkan kresek berisi makanan untuk Keisha. Dia langsung pulang setelah mendapatkan telpon dari sang istri.
"Dah telat. Dasar om-om mau enaknya aja. Bukannya dibangunin malah ditinggal. Kayaknya Bapak sengaja buat citra saya jelek di depan mamah," gerutu Keisha.
Bukannya kesal, Ricky malah mengulum senyum. Mengusap sudut bibir Keisha yang terdapat noda makanan. "Maaf, saya nggak bangunin kamu karena kasian. Lagian mamah tahunya kamu sakit kok." Ricky sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu berbisik sesuatu ditelinga Keisha. "Semalam kamu keren banget, saya sepertinya jatuh cinta."
Deg
Selain jantung yang tidak terkendali, Kesha rasanya tengah terbang bersama awan mendengar bisikan menggoda sang suami. Gadis itu lantas menutup wajahnya. "Pak Iky gila!" pekiknya tertahan, membuat dia mendapatkan kecupan di rahang mulusnya.
Usai sarapan di siang hari, Keisha dan Ricky menemui bu Ratna yang sedang maskeran di sofa sambil membaca majalah.
"Mamah mau ditemani maskeran nggak? Saya suka maskeran juga," ucap Keisha berusaha mengakrabkan diri.
"Mau banget dong, kapan lagi coba bisa maskeran sama menantu sendiri," sahut Ratna. Wanita itu adalah salah satu mertua gaul layaknya anak muda.
"Kalau begitu Iky berangkat ya. Masih ada mapel terakhir," pamit Ricky, tetapi tanganya malah ditarik oleh Keisha secara diam-diam.
Entah apa tujuan pria itu sehingga selalu meninggalkan Keisha jika bersama bu Ratna, tetapi sungguh Keisha tidak nyaman. Dia merasa terbebani berada di dekat mertunya, dia takut melakukan kesalahan yang berakhir dibenci. Tidak lucu rasanya jika dia jadi janda hanya karena tidak disukai oleh mamah suaminya.
"Bentar aja, Sayang. Nanti saya jemput setelah pulang sekolah." Mengacak-acak rambut Keisha.
"Benar kata Iky, kamu sama mamah aja. Mamah kesepian kalau lagi siang gini. Kalau perlu kalian tinggal di sini aja, biar kita makin akrab," celetuk Ratna.
***
Matahari yang tadinya berada di tengah-tengah langit, kini mulai turun secara perlahan, tetapi Ricky tidak kunjung datang untuk menjemput Keisha. Sangat diuntungkan gadis itu tegah sibuk di dapur bersama bu Ratna tanpa sadar akan waktu sakin asiknya.
"Yey, kue keringnya udah ada yang masak, Mah. Kei boleh cobain?" seru Keisha. Gadis itu baru saja mengeluarkan kue dari oven seperti yang telah diajarkan oleh bu Ratna.
"Boleh dong. Sekalian isiin di piring biar cepat dinggin. Iky suka banget kue kering, apalagi pas minum kopi. Mungkin karena dia nggak ngerokok jadi bawaanya pengen ngemil mulu."
Ternyata tidak sia-sia Keisha tinggal seharian di rumah. Berkat bersama bu Ratna, dia banyak tahu tentang Ricky. Mulai dari makanan kesukaan, hobi, hal-hal yang tidak disukai dan informasi kecil lainnya. Ternyata benar, infoman paling akurat jika ingin mengetaui tentang pasangan masing-masing adalah ibu mertua.
"Nanti setelah kuenya selesai, mamah kasih Kei resep kuenya ya? Kei mau buatin pak Iky kalau ada waktu."
"Harus, biar suami kamu makin cinta. Ricky tuh mudah banget didapetin hatinya. Puasin perut dan baik-baikin mamah, udah itu aja."
Keisha mengangguk dengan tawa kecil. Hari ini, dia sepertinya menemukan tujuan hidupnya. Dia akan berubah untuk mencapai sesutu yang menjadi impiannya. Dulu dia nakal karena tidak tahu akan kemana jika merasa kesepian, sekarang dia tahu dan punya tempat jika merasa sedang sepi.
"Wangi banget kuenya. Amel jadi lapar."
Celetukan seseorang, membuat Keisha yang tadinya sibuk mencuci bekas adonan lantas membalik tubuhnya. Netra indah itu mengerjap perlahan, berusaha mengenali wanita yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kamu? Kenpa kamu ada di sini?" tanya Amel dengan nada ketusnya.
"Seharusnya saya yang bertanya kayak gitu. Kamu ngapain ada di sini? Ini rumah mertua saya, nggak aneh kalau saya berkunjung. Yang aneh kamu, ngapain nanya-nanya gitu, padahal pak Iky udah perkenalin saya sebagai istrinya," jawab Keisha dengan tenang, meski tersinggunng akan pertanyaan wanita yang tidak punya hubungan keluarga dari suaminya.
*
*
*
Kue buat pak Iky tercinta