
Bapak mau tinggal latihan sampai sore ya? Kalau gitu saya pulang naik taksi aja. Sampai jumpa di rumah pak guru mesum.
Ricky senyum-senyum sendiri setelah membaca sederet pesan dari istri kecilnya. Pria itu memasukkan benda pipih tersebut tanpa membalas pesan dari Keisha. Setelahnya dia menghampiri anak-anak basket yang sibuk mematulkan bola di lapangan.
"Sekarang kita bagi dua tim. Tommy tim satu dan Mahesa tim dua," ucap Ricky.
Para anggota basket yang berjumlah 12 orang segera mencari posisi masing-masing seperti yang telah Ricky bagi sebelumnya.
"Kali ini kita bakal namain pola kita adalah pola Fish. Mahesa akan memegang kendali bola, dan kamu." Menunjuk anggota tertinggi dengan badan cukup besar. "Jadi Guard di bawah ring. Tim 1 menyerang dan tim dua bertahan. Mulai!" teriak Ricky.
Para anak basket segera melaksanakan perintah. Bermain basket sesuai pola yang telah dijelaskan Ricky saat berada di dalam kelas tadi. Sementara pria itu mulai memperhatikan gerak-gerik Mahesa dan Tommy. Dia memilih posisi yang tepat, yaitu meneliti punggung keduanya dengan tatapan serius.
Latihan basket berlangsung cukup lama, hingga akhirnya mereka bubar setelah jarum jam telah menunjukkan angka empat sore. Ricky meninggalkann sekolah dengan keringat di tubuhnya, pria itu tampak lelah meski tidak ikut latihan. Namun, tetap saja Ricky berlari di pinggir lapangan untuk memantau semua anggotanya.
Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, guna sampai di rumah tanpa memakan waktu lama. Senyuman pria itu mengembang ketika turun dari mobil, melihat Keisha membuka pintu lebar-lebar.
"Andai aja bisa disambut gini tiap hari," ucap Ricky menghampiri Keisha. Pria itu mengecup kening sang istri. Mengambil tangan gadis itu lalu mengecup telapak tangannya.
"Kok telapak tangan yang dicium, harusnya juga yang cium saya, bukan, Pak Iky," protes Keisha.
"Nggak ada bedanya, lagian cium tangan nggak bakal ngubah kodrat saya sebagai pria," sahut Ricky tampak santai. Pria itu mengamit pinggang Keisha berjalan memasuki rumah.
Duduk di sofa dengan gadis itu berada di sampingnya. "Ngapain natap terus? Kamu buat kesalahan?"
Keisha segera mengelengkan kepalanya. "Gimana sama tiket konser saya? Berhasil nggak?"
"Berhasil dong, tapi kamu bisa dapat struknya kalau berhasil nyenengin saya malam ini," Ricky menyeringai licik. Mata pria itu membola ketika Keisha secara tiba-tiba duduk di pangkuannya.
"Ayo ke kamar! Saya bakal nyenengin hati, Bapak."
"Ide bagus."
Ricky segera mengendong tubuh mungil Keisha menuju kamar, menurunkannya secara perlahan-lahan di ranjang. Namun, ketika berhasil mendarat, gadis itu malah kembali berdiri. Menarik Ricky memasuki kamar mandi masih dengan senyuman. Sungguh, kali ini Ricky tidak dapat menebak apa isi kepala Keisha, tetapi yang pria itu harapkan semuanya berjalan sesuai rencana.
"Duduk!" perintah Keisha, menunjuk kloset.
"Kamu mau lakuin semuanya di kamar mandi? Sungguh sangat menggoda." Ricky lantas duduk di kloset sesuai perintahkan istrinya. Menganga tidak percaya ketika Keisha malah meningalkan kamar mandi. Tetapi gadis itu kembali membawa sesuatu di tangannya.
"Kamu mau apa?"
"Bulu-bulu halus bapak harus dibersihin dulu. Soalnya geli kalau cium-cium," ucap Keisha.
Gadis itu kembali duduk di pangkuan Ricky. Mengoleskan lotion foam khusus untuk pencukur bulu-bulu halus. Dengan telaten Keisha mengerakkan alat pencukur di wajah suaminya. Meniup-niup perlahan sehingga Ricky memejamkan mata untuk menikmat aroma bayi yang berasal dari mulut sang istri.
Saat membuka mata, bibir Keisha tepat berada di depan matanya. Pikirin waras Ricky seakan hilang tiba-tiba. Yang ada di kepal pria itu adalah menerkam istri kecilnya. Tanpa abah-abah, Ricky meraup bibir yang menggoda tersebut. Tidak membiarkan Keisha mengambil alih semuanya. Tangan pria itu mulai meraba-raba bagian pinggang Keisha, menelusup memasuki piyama rumahan gadis itu.
"Kenapa kamu kesal?" tanya Ricky setelah pangutan mereka terlerai.
"Kalau gitu, silahkan serang saya Keisha. Lakukan apapun pada tubuh suamimu ini." Ricky merentangkan tangannya lebar-lebar.
Siapa yang menyangka, Keisha benar-benar menyerang tubuh Ricky. Mulai dari leher lalu naik ke bibir, gadis itu melakukan semuanya yang pernah Ricky lakukan pada tubuhnya.
***
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, hari ini adalah tepat konser akan diadakan. Sejak tadi Keisha telah rapi dengan setelannya yang lumayan feminim, tetapi Ricky malah menatap gadis itu tidak suka.
"Ganti! Konser adalah tempat anak muda berkumpul, apa kamu mau memperlihatkan kaki panjang kurus itu? Bahkan paha kamu nggak menarik, tapi sok-sokan mau pamer," omel Ricky panjang lebar.
"Ya udah sih, mau tertarik atau nggak itu bukan urusan saya," sahut Keisha yang tampak tidak peduli. Gadis itu hendak keluar kamar, tetapi tangannya malah ditarik oleh Ricky.
"Ganti baju kamu, atau saya nggak bakal antar ke lokasi!" ancam Ricky dengan tatapan penuh intimidasi.
Keisha memutar bola mata malas, mendorong tubuh Ricky lalu berjalan menuju lemari. Dia benar-benar mengganti pakaiannya demi melihat pria tampan yang akan tampil di atas panggung. Setelah dirasa semuanya sudah siap. Keisha dan Ricky lantas menuju lokasi, karena di sana Aurin telah menunggu setengah jam yang lalu.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Rikcy untuk sampai ke lokasi konser, terlebih dia mengendarai motor tanpa memperdulikan teriakan Keisha yang memintanya untuk menurunkan kecepatan. Pria itu mengulum senyum saat Keisha membuka helmnya.
"Ish nyebelin banget, saya tadi udah bilang kita naik mobil. Liat, rambut saya berantakan, pak Iky," omel Keisha.
"Masih cantik kok, ayo masuk! Lagian kalau naik mobil kita nggak mungkin sampai tepat waktu."
"Iya dah, emang yang paling benar tuh cuma pak Iky doang," celetuk Keisha, meski begitu tidak berusaha melepaskan tautan tangan Ricky yang sejak tadi mengenggam tangannya.
"Pak Ricky.
"Kei."
Dua panggilan berbeda dari orang berbeda pula, berhasil menghentikan langkah Keisha dan Ricky yang akan memasuki gedung di mana konser tengah berlangsung.
"To-tommy?" Keisha reflesk menarik tangannya dari pak Ricky, tetapi telat karena Tommy telah melihatnya.
Pria itu datang menonton konser karena ingin bertemu dengan Aurin, siapa yang menyangka dia juga bertemu dengan guru dan musuh dalam hal hubungan bersama Aurin.
"Santai, gue tau kok kalau lo sama pak Ricky udah nikah dan gue nggak peduli itu. Gue datang cuma mau senang-senang aja," ucap Tommy tersenyum tulus, tetapi baik Keisha, Aurin dan Ricky tidak ada yang mempercayai senyuman tersebut.
"Boleh gabung sama kalian nggak? Eh tapi gue dapat tiket bagian tribun, kebetulan gue punya dua." Tommy kembali berucap, berusaha mengakrabkan diri meski tidak dianggap karena kesalahannya sendiri. "Rin, biar nggak desak-desakan lo ikut gue ke ...."
"Pak Iky juga dapat bagian tribun kok, tapi karena lo punya dua tiket, ya udah kasih ke Aurin aja, soalnya pak Iky ...."
"Saya ada tiga, jadi nggak perlu sumbangan tiket dari siapapun," ucap Ricky dan beralu pergi.
"Gila tiga tiket bagian tribun dong," bisik Aurin yang tidak bisa membayangkan bagaimana banyaknya uang Ricky. Hanya demi menemani Keisha nonton, pria itu rela mengeluarkan uang puluhan juta.