
Sejak mendengar bahwa Mahesa sedang merencanakan sesuatu yang sama sekali tidak dia ketahui. Tommy selalu mengikuti kemanapun sahabatnya pergi, bahkan ke kamar mandi, tetapi tidak sampai ikut masuk. Pria itu tidak ingin Mahesa melakukan kejahatan yang akan disesali esok harinya, kedua Tommy belum siap untuk kehilangan Aurin untuk selama-lamanya.
Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa menit yang lalu, semua siswa mulai meninggalkann sekolah. Begitupun dengan Tommy dan Mahesa yang berjalan di koridor sekolah menuju parkiran.
"Gue ikut ya? Bosan njir di rumah mulu," ucap Tommy pada Mahesa.
"Ikut kemana? Gue mau pulang ke rumah."
"Katanya tadi mau jalanin misi, aelah."
"Nggak jadi, mood gue buruk hari ini." Mahesa memasang helmnya dan bersiap untuk meninggalkan sekolah, tetapi urung ketika melihat dua gadis bar-bar mendekat kearahnya.
"Tommy, anterin Aurin pulang ya! Perutnya sakit, takutnya kalau naik motor sendiri dia jatuh di jalan," ucap Keisha. Gadis itu mengenggam tangan Aurin agar tidak pergi kemana-mana.
"Gue masih bisa naik motor," sahut Aurin.
"Gu-gue ...."
"Gue duluan ya," ucap Mahesa dan melajukan motornnya meningalkan sekolah SMA Angkasa. Melihat hal itu, Tommy segera mengiyakan permintaan Keisha. Toh Mahesa telah pergi yang artinya Keisha akan baik-bak saja untuk hari ini.
"Ayo! Biar gue anter lo pulang. Motor gue biar dititip sama satpam," ucap Tommy. Menengadahkan tangannya, meminta kunci motor dari Aurin, karena sudah tidak kuat, akhirnya gadis itu menyerah. Membiarkan Tommy mengantarnya pulang seperti malam konser itu. Bedanya sekarang mereka berada di motor yang sama, sementara malam itu Tommy mengikuti dari belakang karena kekeras kepalaan Aurin.
Keisha melambaikan tangan penuh senyuman mengantar kepergian Aurin dan Tommy. Gadis itu memutuskan duduk di pos jaga untuk menunggu pak Ricky yang katanya akan tiba beberapa menit lagi. Hari ini pak Ricky tidak datang ke sekolah sebab ada urusan penting di perusahaan yang harus diselesaikan secepat mungkin.
***
Di sebuah gedung yang cukup tinggi, seorang pria tengah fokus pada berkas yang ada di hadapannya. Sesekali melepas kacamata baca jika dirasa kurang nyaman. Pria itu adalah pria yang sedang Keisha tunggu kedatangannya, tetapi malah sibuk tanpa mengingat waktu.
"Sekarang jam berapa?" tanya Ricky setelah menyelesaikan berkas pertamanya.
"Jam dua siang, Pak. Sepuluh menit lagi ada meeting dengan investor besar perusahaan," sahut sang asisten.
"Apa tidak bisa diundur beberapa jam lagi? Saya harus menjemput seseorang di sekolah."
"Tidak bisa, Pak. Jam empat sore investornya akan pulang ke negara asalnya."
"Baiklah." Ricky menghela nafas panjang. Dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Keisha, tetapi ponsel gadis itu tidak aktif. Karena tidak punya waktu lama, dia hanya mengirimkan pesan, agar dibaca oleh sang istri.
"Jika pak Ricky mau libur di hari minggu, bapak bisa menyelesaikan semua berkas hari ini. Tetapi kalau pak Ricky melakukannya, itu artinya bapak harus lembur hingga tengah malam," ucap sang asisten.
"Tidak masalah," sahut Ricky. Memang tadi pria itu mengajukan cuti setiap, minggunya demi bisa berdua dengan Keisha di rumah dan inilah bayaran yang harus dia bayar. Mengobarkan waktu tidurnya untuk malam ini saja. Pria itu segera mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Maaf ya, saya nggak bisa jemput kamu. Saya ada meeting dadakan. Oh iya, mungkin saya bakal lembur, nggak perlu tunggu saya. Tidurlah, saya pasti pulang.
"Ck, pakai drama kehabisan cas pula," desak Keisha memasukkan benda pipihnya ke tas. Gadis itu memutuskan meninggalkan lingkungan SMA Angkasa, akan menunggu taksi atau pun bis di halte depan dekat perpatan jalan.
Suara klakson mobil berhasil menghentikan langkah Keisha. Kening gadis itu mengerut ketika pemilik mobil hitam turun dan menghampirinya. Tidak ada senyuman di wajah Mahesa, yang ada hanya kekhawatiran.
"Kei, akhirnya gue ketemu lo di sini," ucap Mahesa.
"Memangnya kenapa?" tanya Keisha, kembali melanjutkan langkahnya karena cahaya matahari terlalu panas.
"Pak Ricky kecelakaan, mobilnya hilang kendali dan terjun dari jembatan. Polisi ada di TKP, semantara pak Ricky dilarikan ke rumah saki."
Detak jantung yang tadinya baik-baik saja seketika ingin melompat dari tempatnya setelah mendengar ucapan Mahesa. Gadis itu mendongak untuk menatap mantannya, tanpa memperdulikan panasnya matahari.
"Bohong!" bentak Keisha.
"Ngapain gue bohongin lo? Nggak ada kerjaan banget. Kalau lo nggak percaya ya udah. Gue pergi."
Mahesa melangkah menjauhi Keisha yang terpaku di pinggir jalan, senyuman pria itu mengembang ketika suara Keisha terdengar. Suara bergetar seakan menahan tangis.
"Lo-lo tau pak Ricky dibawa ke rumah sakit mana? Anter gue ke sana sekarang!" pinta Keisha dengan mata memerah. Melihat Mahesa mengangguk dan membuk pintu mobil, dia langsung masuk dan duduk dengan perasaan berkecamuk.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil mewah tersebut. Hanya ada keheningan yang menemani keduanya. Untuk pertama kalinya Mahesa melihat Keisah setenang ini, biasanya gadis itu sanglah cerewet jika bersamanya.
"Pak Ricky baik-baik aja?" tanya Keisha
"Gue kurang tau, gue cuma liat sepintas aja tadi pas lewat. Gue buru-buru nemuin lo karena tahu lo istrinya," jawab Mahesa.
Keisha terkesiap, tetapi tidak menyangkal atau pun membenarkan ucapan Mahesa. Gadis itu terlalu kalut memikirkan suaminya.
"Jadi ini alasan pak Iky telat jemput gue?" batin Keisha.
"Minum dulu gih! Keknya lo shock berat." Mahesa memberikan sebotol air minum pada Keisha. Gadis itu menerimanya, tetapi tidak kunjung meminum karena di pikirannya hanya ada sang suami.
"Minum juga salah-satu cara buat nenangin diri."
Keisha melirik Mahesa sekilas bergantin dengan air minum di tangannya. Karena merasa haus, gadis itu meneguknya hingga setengah botol, lalu meletakkan di dasbor mobil. Benar kata Mahesa, perasaan Keisha sedikit tenang setelah meminum air itu, tetapi kenapa mata Keisha seakan ditiup? Gadis itu mengerjap-erjapkan matanya, berusaha agar tidak tertutup, tetapi kelopak mata tersebut memaksa untuk terpejam.
"Harusnya gini dari tadi," gumam Mahesa. Pria itu putar balik, menuju tempat yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari. Kali ini Mahesa yakin Keisha akan menyesal karena pernah mempermalukannya di depan umum dan mempermainkan perasaanya.
"Ternyata lo bukan cuma nggak tau diri, tapi lo juga murah karena ngerebut sesuatu yang bukan milik lo. Setelah ini gue yakin nggak ada yang bakal nerima lo lagi, termasuk pak Ricky."