
Di saat Mahesa hampir mendapatkan bibir Keisha untuk dikecup, tubuh pria itu langsung terhempas ke sisi ranjang lalu terguling hingga lantai lantara tidak bisa mengendalikan serangan tiba-tiba dari seseorang di belakangnya.
Melihat kesempatan yang ada, Keisha segera menjauhkan diri, menyingkir hingga ke sudut ruangan sambil memeluk tubuhnya yang bergetar hebat. Memperhatikan bagaimana aksi pria tampan tengah menghajar Mahesa habis-habisan. Tidak memberi ampun meski sedikit saja.
"Harusnya saya nggak lepasin kamu malam itu!" ucap pria itu geram. Mencekik leher Mahesa sangat kuat, sehingga pria itu tidak mampu bahkan hanya untuk bernafas sejenak. Siapapun akan murka melihat bagaimana Mahesa berusaha menjamah tubuh Keisha yang terus memberontak dalam kungkungan pria itu.
Setelah berhasil membuat Mahesa tidak sadarkan diri. Pria itu menghampiri Keisha yang meringkuk di sudut ruangan. Dia mengulurkan tangannya tetapi enggan disambut oleh Keisha.
"Maaf saya datang terlambat," ucap Azka. Sebenarnya pria itu melihat Keisha naik ke mobil seseorang yang dia curigai bersama Ricky, hanya saja dia mendapatkan kabar bahwa purtanya jatuh dari tangga, sehingga menyuruh orang lain untuk mengikuti Keisha. Sialnya orang tersebut malah kehilangan jejak Mahesa dan Azka baru bisa mendapatkannya sekarang.
"Keisha!" teriak Aurin, langsung memeluk sahabat yang bersimbah keringat dan penampilan acak-acakan. Gadis itu melepas jaket yang dia kenakan untuk membungkus tubuh Keisha. "Maaf, harusnya waktu itu gue percaya perkataan Tommy," lirih Aurin masih memeluk sahabatnya.
Gadis itu dan Tommy baru tiba setelah mendapatkan informasi dari teman sekolah yang tidak sengaja melihat Mahesa melintas di sekitar jalan menuju rumah tersembunyi yang sering kali Tommy tuju jika hari libur.
Sementara Azka dan Tommy berdiri dalam keheningan. "Bawa Keisha ke bawah setelah tenang," ucap Azka dan berlalu pergi, berbeda dengan Tommy yang menghampiri Mahesa. Pria itu telah dibawa oleh seseorang yang tidak Tommy kenali.
"Saya bakal lapor polisi ...."
"Nggak perlu, Avegas bakalan nanganin semuanya."
Tommy menelan salivanya kasar mendenggar nama Avegas disebut. Geng motor yang selalu mereka hindari ketika balapan, tetapi malah bertemu dikasus yang cukup serius. Pria itu mengikuti Mahesa yang diseret oleh dua pemuda, sementara Aurin berusaha menenangkan Keisha yang tampak diam.
"Ayo kita pulang, pasti pak Ricky nungguin lo," ucap Aurin.
Keisha menganggukkan kepalanya, melangkah perlahan meninggalkan ruangan yang sangat gadis itu benci. Di parkiran dia bertemu dengan Azka dan Tommy yang menunggu sejak tadi.
"Kamu bisa pastikan mereka pulang dengan aman?" tanya Azka dan dijawab angukan oleh Tommy.
"Kalau begitu saya percayakan dia sama kamu." Azka lantas meninggalkan rumah terpencil itu, buru-buru pulang karena putranya sedang sakit dan istrinya pastilah khawatir sebab dia pulang malam tanpa memberikan kabar yang jelas saat meninggalkan rumah.
***
Jarum jam terus berdetak tiada henti, selama itu pula Ricky duduk di teras rumahnya dengan kepala menunduk. Pria itu meremas benda pipihnya karena sangat geram Keisha tidak kunjung kembali. Ricky mendongakkan kepalanya saat suara derap langkah terdengar buru-buru. Dia langsung berdiri melihat kedatangan gadis yang membuat darahnya mendidih.
"Pak Iky," lirih Keisha langsung memeluk Ricky. Namun, yang pria itu lakukan malah mendorong tubuh Keisha kasar. Melayangkan tatapan penuh intimidasi.
"P-pak Iky, saya ...."
"Puas kamu buat saya khawatr, hm? Kamu pergi sama Mahesa dan sengaja menonaktifkan ponsel biar saya nggak ganggu, benar bukan? Ini yang katanya setia? Kau bahkan terlihat sangat murah Kesha!" bentak Ricky dengan rahan mengeras. Keisha sampai tersentak mendengar bentakan keras dan ucapan kasar Ricky.
Gadis itu mengira pulang ke rumah dan bertemu suaminya bisa menghilangkan rasa takut, tetapi dia salah. Bukannya pelukan hangat yang dia dapatkan, Keisha kembali merasakan luka di hatinya. Pipi memerah bekas tamparan, bibir berdarah tidak mampu menandingi rasa sakit di hati Keisha malam ini.
"Sa-saya murahan?"
"Kau memang murahan bukan? Kau pergi dengan mantan kekasihmu padahal sudah jadi istri orang lain. Kamu berjanji bakal beda dari yang lain, tapi kamu sama aja dengan Amelia!"
"Udah?" tanya Keisha dengan nafas yang mulai berat. "Saya memang murahan, Pak. Saya gadis yang nggak tau diri dan nggak bakal bisa berubah jadi lebih baik kayak yang bapak mau. Saya pendosa yang nggak berhak bahagia dan hidup sama manusia yang suci kayak pak Ricky!" pekik Keisha bertepatan guntur dan kilat menyambangi langit, menghadirkan rintik hujan yang mampu menyamarkan air mata Keisha.
"Kau mau kemana?" tanya Ricky tetapi yang ditanya telah menghilang dari hadapannya. Baru saja akan mengejar, ponsel yang ada di tangan pria itu berdering.
"Kenapa?" tanya Ricky setelah menjawab pangggilan dari Azka.
"Keisha udah sampai? Tadi dia hampir saja diper*kosa sama siswa lo."
"Di-diperk*osa?"
"Hm, sorry baru ngabarin sekarang. Gue ...."
Ricky tidak dapat mendengar apa yang dikatakan Azka selanjutnya, ponsel pria itu terjatuh dari genggaman. Dia berlari untuk menyusul Keisha yang ternyata telah pergi jauh entah kemana.
***
Hujan yang begitu deras di sertai kilat dan guntur, membuat siapapun takut termasuk Aurin yang berusaha menutup telinganya dengan bantal agar tidak mendengar suara menakutkan tersebut. Terlebih dia hanya bersama pelayan di rumah. Orang tuanya lagi-lagi pergi dengan alasan bisnis.
Suara bel yang terus berbunyi berulang kali membuat Aurin semakin merapatkan selimutnya.
"Neng, ada Neng Keisha mau ketemu," ucap pelayan.
Aurin lantas bangun dan membuka pintu kamarnya. Terkejut melihat Keisha berdiri di depan pintu. Mata dan hidung memerah, tubuh basah kuyup.
"Kei?"
"Aurin." Keisha lansung memeluk tubuh sahabatnya. Menangis dan meluapkan semua kesedihan yang dia rasakan selama ini. Menceritakan bagaimana respon Ricky sampai dia harus berakhir di rumah Aurin.
"Pa-pak Iky," ucap Keisha sesegukan.
"Udah, jangan pikirin suami bego lo itu. Malam ini lo nginap di rumah gue. Kebetulan gue tidur sendiri," ucap Aurin dengan senyumnya. Mengusap air mata Keisha yang terus berjatuhan tanpa bisa dicegah.
"Kan gue ikut basah. Lo sih pakai drama meluk-meluk segala," celetuk Aurin. "Kuy kita ganti baju terus bobo bareng!" Ajaknya, menarik Keisha ke kamar mandi, menyerahkan satu setelan baju tidur untuk sahabat terbaiknya.
Sambil menunggu Keisha berganti baju, Aurin pun ikut mengganti bajunya. Tidak lupa menyuruh pelayan untuk membuatkan teh hangat yang akan dia nikmati sebelum benar-benar terjun ke alam mimpi. Aurin tidak akan memperlihatkan rasa sedihnya pada sang sahabat, karena itu hanya akan menambah luka Keisha.
"Minum teh sambil nonton kuy!" ajak Aurin ketika Keisha keluar dari kamar mandi, tetapi yang diajak bicara mengeleng.
"Gue ngantuk," ucap Keisha, membaringkan tubuhnya membelakangi Aurin, membuat gadis itu memudarkan senyum palsu yang dia perlihatkan.
Aurin ikut berbaring di samping sahabatnya. "Kei?"
"Hm."
"Besok bolos yuk, kita jalan-jalan. Tadi gue dapat uang lebih dari papah."
"Lo berusaha ngehibur gue?" tanya Keisha, membalik tubuhnya menghadap Aurin. "Nggak udah repot-repot, besok suasan hati gue balik kok."