Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 28 - Malam yang panjang


Ratna yang mendapatkan kesan baik secara tiba-tiba dari Keisah, lantas manatap putranya yang sedang mengulum senyum. Salah satu alis wanita paruh baya itu naik, seakan bertanya pada Ricky, tetapi yang ditanya hanya mengedikkan bahu tidak peduli.


"Mamah udah masak buat makan malam? Kalau belum, ayo kita masak! Kei bantu sampai selesai," ucap Keisha antusias. Sikapnya yang tiba-tiba berubah tentu mengundang tanya untuk bu Ratna yang tidak tahu apapun.


"Kalian istirahat aja dulu, nanti biar mamah yang ...."


"Iya, pak Iky istirahat aja dulu, pasti capek habis nyetir. Saya sama mamah mau masak buat makan malam," ucap Keisha dengan pedenya.


"Ikut saya!" Ricky menarik tangan istrinya menuju kamar, menutup pintu agar pembicaraan mereka tidak di dengar oleh mamahnya. "Kamu kesurupan? Kenapa tiba-tiba baik sama mamah?" tanyanya.


"Saya nggak kesurupan pak. Ya kali sama-sama setan dirasukin." Keisha berdecak sambil menarik tangannya yang masih dipegang oleh pak Ricky. "Pak Iky sendiri yang nyuruh saya buat jadi istri yang baik, jadi saya laksanain. Dahlah, saya mau masak sama mamah Pak Ricky dulu," lanjutnya.


Mata Keisha membulat sempurna, jantungnya berpacu sangat hebat saat Ricky mendaratkan kecupan di pipinya "Semangat buat usahanya jadi istri yang baik, Sayang," ucap Ricky, berhasil melemahkan seluruh tulang-tulang Keisha.


Tanpa mengatakan apapun lagi, gadis itu lantas meningalkan kamar dan menemui mertunya, sedangkan Ricky tertawa puas mendapati wajah memerah istrinya.


"Sial, wajah salah tingkahnya sangat mengemaskan," gumam Ricky. Pria itu menanggalkan pakaiannya satu persatu dan masuk ke kamar mandi. Melakukan perjalanan cukup jauh dan terkena macet membuatnya sedikit kegerahan.


***


"Kata pak Ricky, mamah nggak suka sama orang cerewet, itu benar?" tanya Keisha. Gadis itu tengah mencuci sayuran sesuai perintah bu Ratna.


"Kadang nggak, kadang iya. Mamah suka semua orang kalau dia sopan dan bisa menghargai yang lebih tua," sahut Ratna dengan senyuman.


"Umm, Mamah suka nggak sama saya?" tanya Keisha memberanikan diri. Dia tiba-tiba menjadi gugup.


"Kenapa nggak? Kamu itu menantu mamah. Selama nggak buat kesalahan, mamah nggak ada alasan buat benci kamu. Lagi pula sampai saat ini Ricky belum pernah mengeluh tentang kamu sama mamah."


Ratna membalik tubuhnya, menatap Keisha yang tampak kaku berada di sekitarnya, dia sadar itu. "Anggap mamah itu mamah kamu. Jangan merasa terbebani," ucap Ratna dan dijawab anggukan oleh Keisha.


Di saat mereka sedang sibuk di dapur, tiba-tiba Ricky datang dengan kunci mobil dan jaket di tangannya. "Sayang, Mamah, Iky pergi dulu ya. Ada urusan bentar sama teman-teman," ucapnya.


Ratna tersenyum mendengar panggilan sayang putranya. Sepertinya apa yang dia khawatirkan dalam rumah tangga putranya tidak terjadi. Berbeda dengan Keisha yang belum juga membalik tubuhnya, mungkin malu karena panggilan Ricky.


"Saya pulang sebelum makan malam. Tenang aja, mamah nggak bakal makan kamu kok," bisik Ricky tepat di telinga Keisha, membuat gadis itu tidak bisa melakukan sesuatu selain mengangguk.


Sungguh, bagaimana bisa Keisha tidak jatuh cinta dan menganggap Ricky mencintainya, sementara perlakuan pria itu seperti orang yang sedang jatuh cinta.


***


Usia mengobrol dengan sang mertua, Keisha berlari ke kamar suaminya dengan senyuman cerah. Tanpa malu langsung memeluk leher Ricky lalu mengecup pipinya. "Pak Iky, saya senang banget malam ini. Mamah pak Iky ngajak Saya jalan-jalan pas hari libur. Ternyata mamah Bapak baik banget," ucapnya masih dengan posisi yang sama.


"Syukuralah kalau kalian bisa akur, saya senang dengarnya," sahut Ricky. Dia memegang lengan Keisha yang terlalu erat mencekik lehernya.


"Bapak juga senang?"


"Hm." Ricky melepaskan kacamata bacanya ketika Keisha beralih duduk di sampingnya. Dia mengenggam tangan mungil gadis itu. "Senyum kamu cantik, jangan pernah cemberut lagi kayak pas kita baru nikah."


"Kunci senyum saya ada di Bapak. Selama nggak dibuat kesal, saya bakal tersenyum setiap saat. Oh iya, tadi pak Ricky habis ketemu teman-teman tampan Bapak? Harusnya ngajak saya."


"Kenapa hm. Kamu mau cuci mata gitu? Apa ketampanan saya kurang buat kamu?" tanya Ricky mulai mengintimidasi. Memajukan tubuhnya sehingga jarak di antara mereka semakin menipis.


"Ng-nggak, i-iya. Aduh jaga jarak, Pak! Pipi saya panas soalnya," lirih Keisha.


Bukannya menjaga jarak, Ricky malah semakin memepetkan tubuhnya, detik berikutnya, bibir mereka saling bersentuhan satu sama lain. Keisha reflesk memejamkan matanya, meremas kaos bagian depan Ricky. Menikmati setiap sensasi yang diberikan sang suami. Nafasnya terangah-engah, dia menatap sayu pria itu setelah pangutanya terlepas.


"Kita pindah ke kamar," bisik Ricky. Bagai dihipnotis, Keisha menganggukkan kepalanya. Mengalungkan tangan di leher sang suami saat digendong memasuki kamar.


Darah Keisha berdesir tatkala kecupan mendarat di keningnya disertai bisikan yang sangat memabukka di telinga gadis itu.


"Izinin saya mengambil tanggung jawab kamu sepenuhnya. Percayakan hidup kamu pada saya, saya berjanji nggak akan mengecewakan kamu." Itulah bisikan Ricky sebelum akhirnya melakukan sesutu pada tubuh Keisah, Tidak lupa pria itu membaca doa agar berjodoh dunia akhirat dengan istrinya.


***


Tidur larut malam setelah bertempur habis-habisan dan mengeluarkan keringat di tengah-tengah dinginnya malam, membuat tubuh Keisha terasa sangat remuk. Kelopak mata gadis itu enggan untuk terbuka, padahal matahari telah menampakkan sinarnya.


"Gila, saya nggak pernah harapin ini sebelumnya," gumam Ricky, memandangi wajah terlelap Keisha yang memeluk lehernya. "Ternyata kamu nggak senakal yang saya bayangkan. Kamu masih bisa menjaga sesuatu yang sangat berharga, padahal pergaulan kamu bisa dibilang cukup bebas," guamanya.


Dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Setelah hari ini, Ricky benar-benar harus tegas mengambil keputusan. Jangan sampai istrinya kecewa karena masa lalu yang tidak kunjung usai.


Merasa matahari mulai meninggi, Ricky lantas bersiap-siap tanpa membangunkan Keisha yang tampak ke lelahan. Hari ini dia memberi toleransi pada istrinya, karena sadar apa yang dia lakukan semalam sangat brutal. Apa lagi Ricky sudah lama tidak melakukannya sejak papahnya meninggal dunia.


"Tidurlah yang nyenyak, saya berangkat dulu," bisik Ricky di telinga Keisha dan hanya dibalas gumaman semata. Pria itu berangkat ke sekolah setelah menitipkan istrinya pada bu Ratna dengan alasan Keisha kurang enak badan.


"Jangan khawatirkan istrimu, Iky. Dia aman sama mamah," ucap wanita paruh baya itu.


"Jangan diajak jalan-jalan dulu sebelum Iky pulang!"