
Keisha bernapas lega setelah pak Adnan mengakhiri sesi pelajaran untuk hari ini. Tetapi gadis itu tidak kunjung keluar kelas, sebab tadi tidak sengaja melihat pak Ricky berdiri di depan. Dia ingin membalas Ricky dan membuktikan bahwa dia bukanlah gadis murahan, tetapi hatinya terlalu lemah jika berada di dekat pria itu. Pria yang telah berhasil menanam luka di hatinya selain Mahesa.
"Kei, ayo! Jodha Akbar udah main ini," ajak Aurin, usai membereskan bukunya.
"Duluan aja deh, gue masih mau di sini," jawab Keisha.
Aurin menghela napas panjang, gadis itu kembali duduk karena tidak ingin meninggalkan sahabatnya sendirian di sekolah. Terakhir kali Aurin meninggalkan Keisha, gadis itu diculik oleh Mahesa.
"Kalau gitu gue juga nggak bakal pulang," ucap Aurin.
Keduanya benar-benar tidak beranjak, bahkan ketika semua siswa telah meninggalkan lingkungan sekolah. Hal itu membuat dua pria yang sejak tadi menunggu di luar lantas menyusul ke kelas.
"Kalian nggak mau pulang? Lo kira aman di sekolah? Sekolah tuh tempatnya kuntilanak dan suster ngesot," celetuk Tommy.
"Bukannya suster ngesot ada di rumah sakit ya?" tanya Aurin dengan tampang polosnya, membuat Tommy gemas sendiri. Berbeda dengan Keisha yang langsung berdiri ketika pak Ricky mendekatinya.
"Udah setengah 3, takut tokonya tutup," ucap Ricky, meraih tangan Keisha untuk dia genggam, tetapi pemiliknya menepis dan berjalan lebih dulu.
"Makanya pak, jadi cowok mulutnya nggak usah pedas-pedas banget," celetuk Aurin dan berlalu pergi bersama Tommy.
Ricky ikut meninggalkan kelas, berjalan menuju parkiran yang ternyata Keisha sudah berada di dalam mobil. Tidak ingin membuang waktu lama, pria itu melajukan benda besi bergerak tersebut. Keheningan kembali menemani mereka seperti berangkat tadi dan itu sungguh tidak disukai oleh Ricky.
"Setelah beli ponsel, kita ke rumah mamah ya? Mamah pengen ketemu katanya. Bermalam boleh?" tanya Ricky.
"Apa jawaban saya penting buat, Bapak?"
"Penting banget Keisha, karena kamu istri saya ...."
"Harusnya kalau pak Ricky anggap saya istri, bukan gini caranya. Istri itu di mana-mana kalau pulang lama ditanyain habis dari mana apa baik-baik aja. Ini malah dimaki habis-habisan."
"Kei?"
"Pantas nggak sih pak Ricky diberi maaf? Tau nggak? Kadang orang lain melempar batu seenaknya ke lautan, tanpa pernah berpikir sedalam apa batu itu tenggelam, apakah menyakiti makhluk hidup di dalam sana atau nggak." Keisha mulai berbicara panjang lebar dan itu berhasil membuat Ricky diam seketika.
***
Usai membeli ponsel baru berserta power bank, Ricky dan Keisha akhirnya menuju rumah bu Ratna. Kedatangan keduanya disambut senyuman oleh wanita paruh baya itu, terlebih sudah tahu apa yang terjadi.
"Kenapa baru datang sekarang hah? Kalian sibuk banget sampai nggak bisa nemuin mamah bentar aja?" omel bu Ratna.
"Tiga hari ini Iky sama Keisha tinggal di rumah pak Wilson, Mah. Kalau istri Iky nggak keberatan, kita bakal tinggal mungkin selama seminggu," jawab Ricky.
"Kamu nggak keberatan, Nak?" tanya bu Ratna pada Keisha dan dijawab anggukan oleh gadis itu, meski dalam hatinya tengah mengumpat Ricky habis-habisan karena berlaku seenaknya. Bertingkah seolah-olah pria itu tidak pernah berbuat salah.
Wanita paruh baya itu mengenggam kedua tangan menantunya, menatap Keisha dalam-dalam.
"Maafin Iky ya, Nak? Iky khwatir sama kamu, dia takut kehilangan kamu, makanya dia ngomong gitu. Dia takut sakit hati yang pernah dia alami kembali terulang lagi," ucap bu Ratna.
"Mamah nyuruh Kei ke rumah ini, cuma buat minta Kei maafin pak Ricky? Mamah tau gimana kecewanya Kei pas pak Ricky bentak-bentak Kei di depan rumah? Dia-dia ngatain Keisha mur-murahan. Padahal malam itu Keisha butuh pelukan pak Ricky, Kei takut dan marah sama diri karena terledor. Benar kata pak Iky, Kei murahan, tapi nggak harus dikatain kan? Kei udah berusaha jadi lebih baik biar nggak malu-maluin pak Iky." Keisha menunduk.
"Mamah ngerti, Sayang." Bu Ratna langsung memeluk Keisha untuk meredakan rasa sakit yang mungkin dialami gadis itu. Tanpa sadar sejak tadi Ricky memperhatikan di balik pintu.
***
Ingin memberi waktu Keisha dan mamahnya, Ricky memutuskan untuk pergi dari rumah. Bukan untuk selamanya, melainkan akan mengurus sesuatu yang lebih penting. Pria itu melajukan motornya menuju markas demi menemui Mahesa yang tengah dikurung di sana.
Pria itu memarkirkan motornya tepat di pekarangan rumah berlantai dua. Rumah yang sejak dulu tidak pernah berubah, bahkan kenangan masa SMA nya bersama Avegas masih membekas dan terasa setiap kali melewati ambang pintu. Ricky merentangkan tangan demi menerima pelukan ala laki-laki dari anggota Avegas generasi sekarang.
"Di mana dia?" tanya Ricky pada ketua Avegas.
"Ruang bawah tanah, Bang!"
Ricky mengangguk mengerti, berjalan menuju halaman samping lalu memutari ayunan, barulah dia mengetikkan 6 digit angka hingga pintu berbentuk dinding itu terbuka lebar. Ruangan bahwa tanah yang diciptakan 3 tahun lalu kini akhirnya dihuni oleh satu pria banjingan yang tidak akan mendapatkan pengampunan dari Ricky.
Bisa dibilang, Avegas menganggap ruangan itu adalah penjara bagi orang-orang yang berani mengusik mereka.
"Kamu masih hidup?" tanya Ricky, menendang kaki Mahesa yang kebetulan berada di dekat jeruji besi. Pemilik kaki yang tadinya tertidur karena menahan lapar, akhirnya bangun.
Mehesa menyesuaikan retinanya dengan cahaya temarang yang ada di dalam ruangan bawah tanah yang sangat panas tersebut. Pria itu bringsut mendekati Ricky, memeluk kaki guru yang selama ini selalu memujinya karena ahli bermain basket.
"Pak Ricky, tolong lepasin saya! Saya janji nggak bakal ngulangin kesalahan lagi. Ora-orang tua saya pasti ...."
"Nggak akan, orang tua kamu tahu, kamu sedang liburan ke luar negeri. Apa tadi? Nggak bakal ngulangin kesalahan yang sama? Itupun kalau kamu bisa keluar dari sini hidup-hidup," sahut Ricky dengan suara dinginnya.
Pria itu menyentak kakinya sehingga tubuh Mahesa terhempas ke dinding besi. Di wajah Mahesa, ada beberapa lebam, sepertinya ada yang memukul pria itu selain dirinya.
"Beri saya kesempatan, Pak! Saya menyesal."
"Sebelum bertindak harusnya kamu memikirkan apa yang bakal kamu alami bang*sat!" Melayangkan satu bogeman mentah dihidung Mahesa. "Kamu harusnya menyelidiki istri siapa yang sedang kamu usik!" Ricky menarik baju kaos yang Mahesa kenakan agar pria itu berdiri.
"Kamu lakuin semuanya sendiri, atau ada orang di belakang kamu, hm? Apa motif kamu ngelecehin istri saya, anj*ing!"