Guruku Suami Idaman

Guruku Suami Idaman
Part 59 ~ Kebohongan?


"Sayang? Kok datang sendiri? Suami kamu mana?" tanya bu Ratna yang menyambut kedatangan menantunya di depan pintu.


Bukannya menjawab, Keisha malah langsung memeluk ibu mertua yang telah dianggap sebagai ibunya, terlebih kasih sayang bu Ratna membuat Keisha nyaman.


"Eh? Kalian bertengkar?"


"Nggak," jawab Keisha disertai gelengan kepala.


"Terus?"


"Aku kesal sama mas Iky, Mah. Mas Iky nyebelin ih." Adunya.


"Kok bisa? Ricky bentak-bentak kamu?"


"Nggak, mas Iky baik sama Keisha. Tapi Kei nya yang selalu kesal kalau pak Iky ngomong. Kayak ada yang bisikin nyuruh Kei marah-marah sama anak mamah."


Ratna tertawa mendengar suara Keisha yang terkesan manja. Jarang sekali gadis itu akan bersikap manja padanya, bahkan terhitung tidak pernah setelah menikah, tetapi hari ini pengecualian. Ratna sampai curiga akan sesuatu.


"Kalau jauhan sama Iky, gimana?"


"Tenang, takut dan kangen."


Bu Ratna lagi-lagi tertawa mendapati jawaban menantunya. Wanita itu melirik pria yang baru saja datang entah naik apa, yang pastinya Ricky berjalan dari arah pagar. Ratna meletakkan telunjuk di bibir, seakan meminta agar Ricky tidak bersuara.


"Kalau gitu untuk sementara tinggal sama mamah aja! Mamah sendirian di rumah."


"Mau, tapi jangan ajak Mas Iky."


"Tentu saja." Ratna mengulum senyum, mendelik pada putranya yang ingin mengajukan protes. Bagaimana bisa Keisha akan tinggal di rumah bu Ratna tanpa kehadiran Ricky? Sungguh Ricky tidak akan setuju akan pembicaraan dua wanita di hadapannya.


Tidak ingin pembicaraan itu benar-benar terjadi, Ricky mengintili Keisha sampai di pinggir kolam. Tempat gadis itu pernah ternggelam bersama Amelia, tiga minggu yang lalu.


"Keisha?"


"Nggak dengar!"


"Memangnya aku sejelek itu ya, sampai kamu nggak mau noleh? Kalau marah aku nggak pulang semalam, kan udah minta maaf," ucap Ricky dengan jarak kurang dari dua meter.


"Nggak jelek, tapi agak nyebelin dikit. Aku mau tinggal di rumah mamah beberapa hari, tapi Mas Iky nggak boleh ikut. Mas Iky di rumah aja sendirian!"


"Bub?" Ricky melangkah semakin dekat.


"Ke dokter yuk? Keknya aku gila deh mas," celetuk Keisha.


"Kayaknya iya."


"Tuh kan, Mas ngatain aku gila!"


"Sabar, keknya dia bakal datang bulan lagi," batin Ricky. Tanpa menyahuti tuduhan sang istri, Ricky lantas meninggalkan pinggir kolam.


***


"Rin! Aurin!" pekik wanita paruh baya yang berada di anak tangga.


Rumah yang dulunya sepi karena pemiliknya sering kali tidak ada di rumah. Kini mulai ramai, setelah rencana pernikahan putri mereka satu-satunya sudah dibicarakan.


"Apa sih, Mah? Aurin baru juga mau keluar rumah. Aurin tuh mau jalan-jalan sama Keisha!" sahut Aurin yang baru saja melewati ambang pintu rumahnya.


Gadis itu telah menghubungi Keisha dan mengajaknya jalan-jalan sore, sebelum sibuk mengurus pernikahan dan dilarang keluar rumah.


"Ponsel kamu jangan lupa diaktifin, tadi Tommy nelpon mamah. Katanya kamu nggak bisa dihibungi."


"Udah, Aurin bisa pergi sekarang?" tanyanya lagi.


"Tunggu bentar, Tommy udah mau nyampai rumah." Setelah suara itu, mamah Aurin sudah menghilang entah kemana, bertepatan mobil putih terpakir di depan rumah Aurin. Pemilik mobil turun dengan senyuman yang menyebalkan di mata gadis itu.


"Gue tau Rin. Gue cuma mau ganter lo kok. Gue tinggal di mobil, lo jalan-jalan sepuasnya," jawab Tommy.


"Dih."


"Gue nggak mau pernikahan batal karena calon istri gue lecet, itu aja." Tommy bergegas masuk ke mobil setelah menbukakan pintu untuk calon istrinya. Melirik gadis itu sesekali sambil mengulum senyum.


"Posesif!" sindir Aurin.


"Harus, soalnya calon istri gue cantik pakai banget."


"Hilih, kalau cantik nggak bakal diselingkuhin sampai dua kali."


"It-itu kan cuma khilaf, Rin. Lagian gue ...."


"Nggak percaya," cibir Aurin, memutar bola matanya malas. Ketika mobil itu perlahan-lahan meninggalkan rumah, Aurin beralih menatap Tommy dengan wajah seriusnya.


"Tom?"


"Hm."


"Bentar lagi kita kan nikah. Gue mau lo pikirin baik-baik dari sekarang. Lo pernah nyelingkuhin gue dua kali, alasannya gue nggak tau kenapa. Intinya lo selingkuh karena dua kemungkinan. Kurang nyaman atau ada sesuatu yang lo nggak suka sama gue. Lo bisa mundur kalau dua kemungkinan itu masih ada sama gue."


"Ngomong apa sih?"


"Jangan bercanda, gue serius ini!" desak Aurin.


Tommy menghela napas panjang lantaran pertanyaan Aurin yang sangat menganggunya. "Lo nggak punya kekurangan dan gue selalu nyaman sama lo. Gue aja yang bodoh soalnya nggak bersyukur punya lo." Tommy menjeda kalimatnya beberapa saat. "Gue janji nggak bakal ngulangin kesalahan apapun lagi, termasuk nyakitin perasaan lo." Dia tersenyum, di mana membuat hati Aurin sedikit tenang dibuatnya.


"Semoga aja iya," guman Aurin. Dia mulai fokus ke jalanan, sambil mengirim pesan pada Keisha agar segera bersiap-siap, lantaran dia hampir sampai di rumah bu Ratna.


"Recananya kalian mau jalan-jalan ke mana?"


"Mall aja kayaknya, soalnya udah sore. Mau nitip sesuatu? Intinya jangan ngintilin gue sama Keisha."


"Nitip ini." Tommy mengeluarkan kartu ATM di dompetnya menggunakan sebelah tangan.


"Dih, lo kira gue nggak punya uang?"


"Nggak tuh, gue cuma pengen belajar nafkahin biar nanti pas udah nikah nggak kaku."


Blush, pipi Aurin seketika memerah lantaran ucapan manis Tommy. Gadis itu buru-buru turun dari mobil setelah Tommy menghentikannya di depan rumah bu Rata, dia tidak ingin Tommy menyadari pipinya yang merah layaknya kepiting rebus.


"Nggak diambil?" tanya Tommy yang menyembulkan kepalanya di jendela mobil.


"Nggak butuh," sahut Aurin. Padahal dalam hatinya dia sangat ingin mengambil ATM tersebut dan menguras isinya habis-habisan, tetapi kali ini Aurin ingin menjaga imagenya sampai kalimat sah terucap dari mulut para saksi.


Gadis itu mendorong pagar besar setinggi dua meter untuk masuk ke rumah mertua Keisha. Gadis itu melihat sepasang suami istri tengah berdiri cukup berjarak.


"Ayo!" ajak Aurin tanpa menyapa pak Ricky.


"Kalian sebenarnya mau ke mana? Kenapa saya nggak boleh ikut?" tanya Ricky.


"Ada deh, pak Ricky nggak boleh tau. Ini urusan perempuan," sahut Aurin.


"Kei?" Ricky menatap istrinya, tetapi yang ditatap hanya mencium punggung tangan sang suami kemudian berlalu. "Beneran nggak bisa ikut?" tanyanya sekali lagi, tetapi hanya dibalas lambaian tangan.


"Ck, aku harus ngikutin," gumam Ricky. Dia berlari masuk ke rumah hanya sekedar meminta izin pada bu Ratna. Ricky mengikuti mobil Tommy menggunakan motor miliknya.


"Maaf, karena harus bohongin kamu, Bub. Aku cuma nggak mau kita bertengkar karena Amelia," batinnya terus menatap mobil putih yang tidak jauh di depan sana.


Jika boleh jujur, Ricky sebenarnya terbebani karena fakta yang dia sembunyikan, tetapi jujur di saat mood Keisha buruk sama saja melompat ke kandang harimau.